
"Jangan berantem sama temen disekolah, jangan nakal, dengar kata bu guru dan..."
"Jangan main di jalan laya"
Peringatan yang sama tak pernah absen dari mulutnya setiap dua anak itu berangkat sekolah, sampai-sampai mereka hafal perkataan bunda mereka selanjutnya
"Nah, pinter"
Aqila sedikit memeriksa perlengkapan kembali tas mereka, buku gambar, pensil dan krayon, menjadi hal wajib yang tak pernah tertinggal
"Jadi pergi?" Naufal tiba-tiba muncul dari belakang dan menyerahkan dasinya untuk dipasangkan
"Diizinin nggak?" Aqila balik bertanya dengan tangan yang sibuk membuat simpul di dasi suaminya
Naufal menarik nafasnya panjang
"Sebenarnya enggak, tapi kasian juga"
"Kenapa enggak diizinin?" Tanya Aqila, ia menatap kearah suaminya yang lebih tinggi
"Karena dia pernah suka sama kamu"
"Kak Naufal, kan udah dibilangin dia udah nikah, nggak mungkin suka lagi sama aku" beberapa kali Aqila harus mengucapkan itu dari sejak ia izin menjemput Reynald dibandara, laki-laki itu ingin istrinya ada teman baru karena rencana mereka akan pergi liburan ke pulau lombok. Reynald juga mengatakan mungkin akan memilih menetap di Indonesia dan menjalani profesinya disini, namun tetap saja tak akan semudah itu mengurus surat pindah
"Bisa aja, kamu makin cantik sekarang" sepertinya kehilangan selama lima tahun membuat Naufal takut untuk merasakan kehilangan lagi
"Dia bisa suka tapi aku nggak kan? Lagiankan udah jelas kalau kita itu beda, aku juga nggak sendiri ada Kirana yang ikut"
"Iya deh, aku percaya sama istriku" Naufal hendak mendaratkan kecupan dikening istrinya tapi suara Bilal membuat mereka terbatuk
"Kak Nofal cepetan, nanti kita telat"
"Uhuukkk"
Itu adalah kata-kata yang sering Aqila ucapkan saat mereka akan keluar dan Naufal pasti harus kembali lagi untuk mengambil barang yang tertinggal, entah dompet, handphone, kunci mobil atau benda lainnya
"Bilal, udah bunda bilang kan kalau manggilnya ayah" Aqila berjongko untuk menyamakan tinggi pada anaknya, ia harus menjelaskan kembali pada anak laki-laki itu
"Tapi bunda seling manggil Kak Naufal" Layla ikut masuk kedalam percakapan mereka
"Karena ayah suami bunda, dan dia berdua ayah kalian, jadi jelas panggilannya harus beda. Contoh Kak Yusuf manggil bunda Aunty Qila, karena bunda bibinya, kalau Ilal dan Ila kan manggil bunda, paham?"
Dua balita itu memangguk dan mengacungkan jempol mereka
"Paham"
"Sekarang salim dulu sebelum berangkat" Aqila mengulurkan tangannya disambut dua anak itu tak lupa Aqila mencium kepala mereka, hal yang sudah menjadi rutinitas sehari-hari
__ADS_1
"Hati-hati nyetirnya, jangan ngebut" ucapnya saat ia bersalaman pada Naufal
"Seharusnya aku yang bilang gitu, hati-hati nanti"
"Assalamu'alaikum bunda"
"Wa'alaikumussalam" Aqila membalas lambaian tangan tiga orang yang membuat warna indah dalam hidupnya
Ia selalu yakin kalau dibalik semua ujian ada hikmahnya, dulu mereka diuji dengan banyak air mata, sekarang mereka berjanji hanya senyum dan tawa bahagia
Drettt Drettt
Aqila meraih ponselnya saat merasakan getaran disaku gamis yang ia kenakan, nama Kirana tertera sebagai pemanggil
"Halo, Assalamu'alaikum Kir"
"Wa'alaikumussalam, Aqila aku minta maaf ya nggak bisa ikut nganterin" terdengar nada bersalah dari Kirana dibelakang sana
"Kenapa?" Aqila menaikkan sebelah alisnya, padahal kemarin Kirana sudah janji akan menemani menjemput Reynald, ia juga yang akan menyetir
"Badan Gabril panas, giginya tumbuh, dia nggak berhenti rewel" Aqila mengangguk mengerti, anak memang harus menjadi prioritas orang tua
Gabril, anak Kirana yang memasuki usia dua setengah tahun. Kirana dan Regan akhirnya memutuskan menikah dua tahun lalu saat sikembar baru berusia dua tahun, itupun karena kesalahpahaman, hampir sama dengan kasus Galang dan Renata
Dimalam itu, Kirana menangis sendirian di pojok ruangan, hatinya perih dan tak menyangka Regan memiliki perempuan lain, Kirana lihat sendiri, Regan membantu perempuan itu belanja disuper market dengan penuh perhatian, tanpa berkata apapun lagi Kirana mengirimkan pesan putus malam harinya dan membuang cincin pertunangan mereka yang sudah tersemat dijari manisnya, tanpa mau mendengar apapun penjelasan laki-laki itu
Tak menunggu lagi, dia menekan panggilan ke nomor perempuan itu, panggilan pertama tak dijawab, panggilan kedua ditolak dan saat panggilan ketiga barulah Kirana mengangkat panggilan, terdengar ia sesenggukan diluar sana
"Kiran, apa maksudnya ini?!" Regan mengusap rambutnya ke belakang, pusing dengan kejadian yang tiba-tiba mendadak seperti ini
"Apalagi? Aku mau kita mengakhiri hubungan ini, aku udah liat kamu sama perempuan lain?"
"Kapan? Kirana jangan percaya kata orang"
"Aku tak akan mungkin percaya kalau aku tak melihat sendiri!" suara tangisnya bahkan terdengar sedikit histeris. Regan mengingat-ingat kapan ia bertemu perempuan, sesaat kemudian ia mengusap wajahnya saat berpikir Kirana melihatnya bersama sepupunya
"Kir, dia..."
"Nggak usah cari pembelaan, aku mau putus"
Panggilan terputus begitu saja, Regan mencoba menghubungi namun nomor gadis itu sudah tak aktif lagi
"Astagfirulloh kenapa perempuan seribet ini?"
Ia benar-benar tak mengerti dengan isi hati perempuan di dunia ini, terlalu ribet, rumit dan sulit, mengalahkan sulitnya trigonometri, salah satu materi matematika yang dibencinya saat masih sekolah dulu
Untunglah ia sudah sampai dirumah, dengan segera ia berlari menuruni tangga, mengabaikan pertanyaan ibunya yang heran melihat dirinya seperti panik, hanya butuh tiga meter saja ia sudah sampai didepan rumah Kirana, definisi pacar lima langkah dari rumah
__ADS_1
Satpam menutup pintu tak membiarkan dirinya masuk, ia mendengus kesal tak kehabisan ide, ia memanjat tembok di belakang rumah Kirana dengan bantuan pohon kelapa yang tak terlalu tinggi
Ia sering kesini, dan tau dimana kamar gadis itu, ia melihat kamar itu sudah gelap, artinya sang pemilik kamar tak ingin diganggu
Kecepatan dan kelihaiannya memanjat dinding dendang berpegangan pada sudut-sudut jendela patut diacungi jempol, benar kata orang, cinta membuat orang bisa melakukan sesuatu yang mustahil
"Hahhh hahhh" Regan mengatur nafasnya yang ngos ngosan saat sampai di balkon kamar, dilihatnya jendela balkon tak terkunci memudahkan ia masuk
Pandangannya langsung tertuju pada Kirana yang menangis di pojok ruangan dengan lembaran tisu berantakan
"Kir" sapanya pelan
Kirana terlonjak kaget, sempat mengira laki-laki itu hantu karena kamarnya yang gelap dan cahaya rembulan yang tepat sekali mengenai wajahnya
"Ini aku Regan"
"Mau apa kamu kesini? Kita udah nggak ada hubungan lagi"
"Kir dengerin dulu, dia itu..."
"Kamu nggak usah ngebela, aku liat sendiri kamu sama dia"
"Dia..."
"Kalian terlihat harmonis dan bahagia"
"Dia..."
"Aku nggak mau denger apapun lagi!" Kirana menutup telinganya membuat Regan kesal, tapi juga tak bisa marah
"DIA SEPUPU AKU" teriakannya berhasil membuat Kirana yang sedari tadi berkilah akhirnya diam
"Dia sepupu aku, dia udah nikah dan punya anak, aku hanya bantuin ke supermarket karena suaminya jaga anaknya yang sakit dirumah, aku nggak mau milih jaga dia karena sering rewel jadi aku milih nemenin sepupu aku belanja"
"Udah ya, jangan nangis lagi"
"Hiks maaf" Kirana meminta maaf dengan sesenggukan
"Iya aku maafin ini cuma salah paham aja, aku mohon lain kali jangan ambil kesimpulan sendiri"
"Cincinnya udah aku buang, nggak tau jatuh dimana"
Regan hampir berteriak saking kesalnya tapi terkejut saat tiba-tiba ada yang membuka pintu dan menyalakan lampu
"Kir, Regan kata pak satpam Regan dat..." Papa Radit menutup mulutnya tak percaya melihat laki-laki itu ada dikamar putrinya, terlebih kamar Kirana yang berantakan, entah kenapa ia langsung berkesimpulan negatif
"Kalian harus nikah!"
__ADS_1
Dan begitulah kisah akhirnya mereka menikah mendadak dan disusul resepsi satu minggu kemudian, sempat pada malam itu ada drama mencari cincin hilang hingga akhirnya berhasil ditemukan dibawah lemari setelah pencarian hampir setengah jam yang melibatkan semua orang didalam rumah