Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Siapa Dia?


__ADS_3

Cahaya rembulan menelisik masuk melalui celah gorden, suara detak jam dinding menghiasi suara malam itu, suara kendaraan masih terdengar berlalu lalang, tapi tak sepdata pagi harinya


Aqila masih enggan memejamkan matanya, ia melirik ponselnya jam setengah satu dini hari, sedang Reyna disebelahnya sudah tertidur lelap masuk ke alam mimpi


Aqila meraih cincin yang ia sembunyikan dibawah buku atas nakas, tunangan? Apa iya dia sudah bertunangan? Sekeras apapun ia mengingat tentang itu kepalanya akan semakin terasa berdentum sakit


Ia bangun dari tidurnya daripada tidak bisa tidur sama sekali karena penasaran, lebih baik ia bertanya dan orang yang tepat adalah Rian. Aqila menuruni tangga perlahan, kakaknya tidur sendiri di sofa, mau bagaimana lagi? Kamarnya tak cukup


"Kak"


"Kak Rian" Aqila berbisik ditelinga kakaknya, takut membangunkan yang lain. Rian hanya menepuk-nepuk telinganya mungkin mengira nyamuk


"Kak Rian" Aqila mulai mengguncang tubuh Rian, namun tak ada pergerakan sama sekali, Aqila kadang heran dengan kakaknya yang satu ini, tidur atau pingsan?, pantas Zara yang bahkan mendudukinya ia tak sadar


"Kak Rian" guncangan Aqila semakin kuat, tapi Rian hanya melenguh pelan dan kembali tidur


"Kak Rian" Aqila menarik sebelah telinga kakaknya itu, barulah Rian terbangun dari tidurnya


"Kenapa sih? Mengganggu saja orang tidur"


"Kak Rian bukan tidur namanya, tapi mati suri" balas Aqila kesal


"Kenapa sih?" Entahlah tapi ketika waktu sepi seperti ini bahkan bisikan pun terdengar begitu keras


"Aku mau nanya sesuatu sama kakak, ini penting" ucap Aqila


"Apasih yang penting?" Balas Rian, laki-laki itu menutup mulutnya menguap dan berniat kembali merebahkan kepalanya, tapi langsung dicegah oleh Aqila


"Kita bicara diluar, ini benar-benar penting"


"Diluar? Kamu gila! Ini sudah jam setengah satu" balas Rian, ia tak mungkin mengaku takut hantu


"Kenapa? Kak Rian takut?" Balas Aqila bersedekap dada sudah bisa membaca ekspresi Rian walau tak terlihat begitu jelas, karena pencahayaan hanya berasal dari lampu di halaman rumah


"Bukan, tapi kamu tau kan Aqila seperti kebanyakan kata orang di jam-jam seperti ini, banyak makhluk tak kasat mata berkeliaran" balas Rian membela dirinya


"Hantu apa yang kakak takutin disini? Hantu luar negri itu tak semengerikan hantu Indonesia, valak, zombie, badut atau apalah itu masih kalah seram dengan hantu Indo" ucap Aqila


"Memang tentang apasih? Nggak bisa besok aja?" Tanya Rian

__ADS_1


"Nggak bisa, karena pertanyaan ini menentukan masa depan Aqila" jawab Aqila dengan pandangan lurus kedepan


"Yaudah ayo, tapi cuma sebentar" Aqila mengangguk, mereka membuka pintu dan sejuknya angin langsung menusuk menembus pakaian yang mereka kenakan


Dua orang itu duduk di kursi taman dengan pandangan lurus kearah jalan, memperhatikan mobil yang berjalan ugal-ugalan, sudah jelas itu pasti orang mabuk


"Kenapa?"


"Apa ini?" Aqila mengeluarkan cincin itu dari saku piyamanya, cahaya rembulan mengenai berlian kecil yang ada diatas cincin hingga terlihat lebih bersinar


"Apasih? Cincin?" Rian belum mengerti arah pembicaraan, jiwanya masih tertinggal di sofa ruang tamu


"Cincin pertunangan Aqila kan?" Tanya Aqila pelan, Rian yang menguap seketika langsung menegakkan tubuhnya, menatap kearah Aqila dan benda melingkar yang digenggam adiknya


"Pertunangan apa?" Balas Rian pura-pura tak tau


"Kak Rian Aqila mohon jangan berbohong sekarang, Aqila ingin mengetahui kebenaran tentang ini, tolong beritau Aqila siapa dia?, karena Aqila sering memimpikkan bertemu seorang yang tak asing tapi wajahnya tak pernah terlihat jelas hanya saja ia terasa begitu dekat" jawab Aqila


"Tolong katakan siapa dia?" Aqila mengenggam tangan kakaknya menatapnya penuh permohonan


"Kakak akan memberitahumu, tapi tolong jangan paksakan ingatanmu, kakak tak ingin kau tersakiti karena berusaha mengingatnya" ucap Rian memegang kepala Aqila dengan kedua tangannya. Aqila mengangguk tanda setuju


"Takdir memisah kalian, mungkin karena belum saat yang tepat atau kalian memang belum ditakdirkan bersama, entahlah hanya tuhan yang tau" ucap Rian, ia memandang rembulan yang bersinar indah di langit malam


"Kenapa? Apa kami semula akan segera menikah?" Tanya Aqila, Rian mengangguk


"Tinggal dua hari lagi kalian menikah, tapi ia justru terbaring koma karena mengalami kecelakaan" Aqila menutup mulutnya tak percaya, apa benar seperti itu? Tapi kenapa ia tak pernah bisa mengingat dengan jelas wajah laki-laki itu?


"Dan kau harus terbang kesini, ke kota ini, berpisah dengan dirinya, untuk melakukan kemoterapi agar sembuh dari penyakit kanker itu"


"Siapa, siapa namanya?" Tanya Aqila, ia menatap kearah Rian yang sekarang balik menatap dirinya


"Naufal Pradana Al-Ghazali" jawab Rian


"Naufal" nama itu sungguh tak asing di telinga Aqila. Hah iya ingat Reyna juga pernah menyebut nama laki-laki itu, tapi kenapa ingatannya belum juga bisa melihat dengan jelas wajah laki-laki itu?


"Lalu bagaimana dia sekarang?" Tanya Aqila


"Kakak tak bermaksud mengatakan ini Aqila, tapi apapun yang terjadi kakak berjanji akan selalu menjadi sandaranmu"

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Dia kenapa?" Tanya Aqila beruntun


"Abi nya menelpon papa kemarin, katanya Naufal ingin dijodohkan dengan anak teman abi nya"


"Dia anak ponpes? Lalu bagaimana aku kenal?" Tanya Aqila, ia punya banyak pertanyaan yang bersarang dikepalanya, bagaimana ia akan meluruskan benang kusut ini sampai mencapai akarnya


"Abi nya adalah seorang pemilik pondok pesantren cukup terkenal, tapi kelakuannya justru seperti anak nakal, ia dikenal sebagai badboy nya kampus kita, Felis Catus itu nama geng mereka" jelas Rian, ia berusaha memberitahu intinya saja


"Lalu bagaimana aku bertemu dengan dia?" Tanya Aqila


"Kalau itu tentu hanya Aqila dan dia yang tau, kisah kalian berdua, takdir kalian berdua, dan bagaimana selanjutnya hidup kalian berdua hanya tuhan yang tau"


"Apa aku boleh melihat fotonya?" Tanya Aqila, kepalanya sebenarnya sudah mulai pusing, seperti ada sesuatu yang sangat besar dipaksakan masuk, gambar-gambar buram bagai film yang tak jelas alur dan tokohnya


Rian mengeluarkan handphone dari saku celananya, ia mencoba mencari sosial media laki-laki itu tapi kebanyakan disana hanya tentang bisnis saja, tak ada foto Naufal yang sendirian, ada begitu banyak orang yang bersamanya. Rian mencoba mencari foto paling jelas menurutnya, hingga ia menemukan foto Naufal dengan tiga sahabat baiknya, Vian, Panil dan Gempano


"Ini Naufal" Aqila memperbesar gambar itu, benar bentuk tubuh dan wajahnya mirip dengan mimpi yang sering hadir dalam tidurnya


"Naufal, pelangi" gumam Aqila pelan


"Kenapa Kak Rian baru memberitahuku sekarang? Kenapa kalian tidak memberitahuku semuanya dari dulu?" Tanya Aqila, ia berusaha menahan air matanya, ia pun tak mengerti tapi hatinya terasa sakit mendengar laki-laki itu ingin dijodohkan


"Karena kami tak ingin kau merasakan sakit, kami tak ingin kau memaksakan ingatanmu karena itu akan mempengaruhi penyembuhanmu saat itu" jawab Rian


"Tapi tidak bisakah memberitahuku pelan-pelan? Setidaknya namanya?" Rian memegang pundak Aqila dan menghapus air yang keluar dari sudut mata adiknya


"Walaupun kami bersikap asing dan terlalu jauh dari Aqila, tapi kita juga pernah begitu dekat sejak kecil, Aqila pasti akan memaksakan diri untuk itu" jawab Rian pelan


"Lalu bagaimana dia disana? Apa dia merindukanku?" Tanya Aqila lirih


"Sangat, dia sangat merindukan Aqila, Aqila mungkin lupa saat wisuda Kak Rian, saat itu kami semua berfikir Aqila bisa datang karena kita tak ada yang tak tau tentang operasi besar itu, ia pun berharap besar Aqila juga datang, karena pagi-pagi setelah ia mengingat semuanya, ia datang menemui kakak untuk menanyakan kondisi Aqila"


"Mengingat semuanya? Dia hilang ingatan?" Tanya Aqila, Rian mengangguk


"Setelah kecelakaan itu dia koma dan kehilangan ingatan, karena itu kakak berfikir kisah cinta kalian berdua memang benar-benar diuji dan akan berbuah manis jika kalian memang ditakdirkan bersama setelah rentetan permainan takdir ini berakhir" jawab Rian, ia sedikit mengusap air matanya menagatakan itu, tapi sungguh kalau ia mengalami ia tak akan sanggup dan setegar Aqila


.


Yang mau liat visual Aqila dan Naufal di ig author ya, @mukarromatul28, biar halunya makin lancar... 🙏😌

__ADS_1


Banyak Typo...🙏🙏🙏


__ADS_2