
Matahari bersinar dengan cerahnya hari ini, secerah senyuman yang terbit dari bibir Naufal Pradana Al-Ghazali, hari yang menegangkan. Bukan, tapi hari yang paling menegangkan selama perjalanan hidupnya dua puluh delapan tahun ini, ia rasanya lebih memilih menghadapi musuh di jalanan daripada menghadapi hari ini. Ya, walau ia juga yang tak sabar menunggu datangnya hari ini.
"Jangan tegang, santai" bisik Hasan ditelinganya
Naufal menarik nafasnya panjang dan mengangguk, hari ini adalah hari yang tak akan pernah ia lupakan, setelah perjuangan panjang lima tahun lebih, akhirnya tuhan mempersatukan mereka
Naufal memakai baju putih, celana putih dengan dibalut kain batik berwarna hitam setengah paha juga peci putih payet
Ia mulai menegang saat pembukaan acara mulai berlangsung satu persatu-satu, hingga tiba saatnya dirinya akan mengambil tanggung jawab besar dalam hidupnya, memulai ikatan halal dan melakukan ibadah terpanjang dalam hidup
.
"Masyaallah Aqila, lo cantik banget" Kirana menutup mulutnya tak percaya melihat penampilan Aqila saat ini, sepupunya yang biasanya tampil tanpa makeup itu kini terlihat begitu menawan dalam balutan gaun putih lebar dengan hiasan payet dibeberapa bagian, hijabnya berwarna senada terpasang menutup dada, dengan tambahan selendang dan mahkota diatas kepalanya
"Iya, Kak Aqila cantik banget" ucap Reyna
"Sini aku liat dulu sahabatku, aku tak pernah menyangka bisa melihat seorang Aqila yang paling anti dengan makeup sekarang terlihat begitu cantik"
"Kalian mengatakan ini malah membuatku semakin malu dan tidak percaya diri" Aqila menatap pantulan dirinya dicermin
"Apa ini tidak terlalu menor?" Reyna, Kirana dan Renata memutar bola mata mereka malas, padahal itu sudah sangat tipis menurut mereka
"Tidak sayang, itu cocok untuk Aqila" Mama Intan masuk kedalam dan memegang pundak putrinya. Ia menghapus setitik air diujung matanya, tak pernah menyangka ia akan melihat Aqila menikah hari ini
"Kenapa mama nangis?" Tanya Aqila, padahal matanya juga sudah berkaca-kaca
"Ini namanya tangis kebahagiaan, bukan lagi tangis kesedihan seperti beberapa tahun lalu. Mama nangis karena ternyata baru sadar kalau putri mama sekarang udah besar ya? Dan sudah siap pergi dari rumah"
__ADS_1
"Ma, jangan bilang gitu. Memangnya Aqila kemana? Kalian jangan ngusir Aqila" Mama Intan terkekeh dan menghapus air mata yang berhasil lolos dari mata putrinya
"Nggak ada yang ngusir Aqila. Tapi ingat nak, hakikat perempuan yang sudah menikah, suaminya adalah rumah untuknya pulang. Dia laki-laki yang memiliki tanggung jawab sepenuhnya atas dirimu, bukan lagi papa atau mama, tanggung jawab kami sebagai orang tua sudah berpindah ketangannya"
Para perempuan yang ada disana tersentuh mendengar hal itu, membayangkan betapa beratnya tanggung jawab seorang laki-laki sebagai imam dan bagaimana beratnya mereka sebagai perempuan untuk memilih laki-laki yang tepat menjadi pemimpin mereka
Ceklek
Diana masuk kedalam menggendong Zara, balita itu pasti mulai rewel lagi karena lapar
"Ini kenapa semuanya nangis?" tanyanya bingung melihat semua perempuan yang ada disana mengusap mata mereka masing-masing
"Biasalah drama perpisahan" ucap Mama Intan dan Diana tertawa mendengar itu
Tangan Naufal sudah dingin saat menjabat tangan Papa Arya, inilah detik-detik dalam hidupnya yang tak akan ia lupakan saat ia mengucapkan
Naufal mengusap kedua telapak tangannya kewajah saat kata 'sah' keluar dari para saksi yang ada disana. Naufal merasa bahagia seperti apa yang kurang sudah lengkap, tapi ia juga merasa semakin berat, karena tugasnya sebagai pemimpin akan dimulai detik ini juga
"Selamat bro, nggak nyangka udah nikah aja" ucap Regan, ia menepuk pundak Naufal dari belakang
Naufal tersenyum, ia senang teman-temannya bisa hadir menjadi saksi janji suci yang ia ucapkan hari ini
Abi Umar dan Umi Sarah saling pandang, mereka tersenyum, akhirnya setelah penantian cukup lama mereka bisa melihat sosok Naufal Pradana Al-Ghazali tersenyum lebar sangat tulus
"Alhamdulillah" Devano, Darren dan Rian mengucap hamdalah, walaupun hati mereka sedih karena harus berpisah dengan Aqila dan hanya mampu menikmati momen kebersamaan lima tahun terakhir, tapi mereka juga bahagia karena yakin kalau Aqila sudah memilih pemimpin yang tepat untuk membimbingnya
Tak lama setelah itu, sosok yang ditunggu datang, Aqila datang dengan tiga orang perempuan yang tak kalah cantiknya dalam balutan hijab putih mereka
__ADS_1
Naufal sampai tak mampu berkata-kata, ia memegang dadanya yang tiba-tiba bergemuruh hebat, perasaan ini tak bisa ia bahasakan lewat kata-kata, hanya saja rasanya seperti campur aduk, antara bahagia, kagum, terharu, sekaligus sedih karena teringat ujian takdir mereka
"Salim dulu nak" ucap Papa Arya, Naufal menjulurkan tangannya walau terlihat agak sedikit gemetar, Aqila yang hendak meraihnya tak kalah gemetar, suasana justru tercipta canggung
Saat tangan mereka bersentuhan seperti tercipta sensasi aneh dalam diri mereka, rasa bahagia Naufal benar-benar tak bisa ia ucapkan terlebih saat Aqila mencium punggung tangannya pertama kali. Naufal meletakkan tangannya yang lain diatas ubun-ubun istrinya dan membaca do'a yang disunahkan Rasullulah SAW
"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."
"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya"
"Assalamu'alaikum ya zawjati" ucap Naufal, ia mengecup pelan puncak kepala istrinya, pipi Aqila merona mendapat perlakuan seperti ini, rasanya malu sekali
"Udah woy, gue udah nggak sanggup, tolong hargai kami disini" suara Gempano membuat Aqila semakin malu, ia memukul pelan lengan Naufal
"Ya Allah pukul lagi dong" Abi Umar dan Umi Sarah yang berdiri dibelakang Naufal sampai pura-pura menghadap kearah lain, putranya itu kenapa jadi seperti ini. Ia jadi malu sendiri karena ada beberapa Kyai dari ponpes lain juga yang hadir disana
"So sweet" Renata dan Kirana bahkan tanpa sadar saling bergenggaman tangan melihat itu
Selanjutnya suasana kembali tenang, dilanjutkan dengan pembacaan khutbah nikah yang dibacakan langsung Abi Umar
"Pernikahan itu adalah sebagai penyempurna ibadah, dan merupakan ibadah terpanjang yang kita lakukan dalam hidup. Menikah membuat kesempatan untuk meraih pahala yang berlipat ganda"
"Jangan asal menikah dengan orang yang berjanji dengan kata cinta, karena percayalah kalau hati ini bukan milik kita dan ia bisa berubah kapan saja"
Potongan terakhir khutbah yang diungkapkan Abi Umar membuat Renata menoleh kearah Gempano, jangan asal menikah dengan orang yang berjanji kata cinta
.
__ADS_1
Author nggak tau lagi nulisnya gimana, jadi tolong maklumi kalau agak-agak gini...😭😂🙏🙏🙏