
Perputaran bumi pada porosnya yang berdampak pada pergantian siang dan malam memberi banyak pelajaran untuk manusia, entah tentang arti sebuah perjuangan, arti kehilangan atau arti penyesalan, tapi tujuan dari semua itu hanya satu untuk membuat manusia menjadi jauh lebih kuat kedepannya dan bisa menyadari kalau didunia hanya pencipta tempat berharap
"Bunda, kak Ilal nih ganggu telus" seorang anak berusia sekitar empat tahun menarik gamis ibunya yang sedang memasang peniti pada jilbab yang ia kenakan
"Diganggu kenapa?" Aqila mencoba menyamakan tinggi dengan putri kecilnya
"Cabut bunga-bunga sandal" anak perempuan itu menunjukkan sandal yang telah dicopot hiasannya
"Nanti bunda perbaiki lagi, ini masih bisa dipasang, nanti bunda juga kasih tau Kak Illal biar nggak kayak gitu lagi, Ila jangan nangis" Aqila mencoba menghapus air disudut mata putrinya, ia menggendong anak itu dan tak lupa menyampirkan tasnya disamping pundak
"Ila kenapa nangis?" Naufal yang hendak menyusul keatas menghentikan langkahnya saat melihat istri dan anak perempuannya sudah menuruni tangga
"Kak Ilal nakal" anak itu menunjuk saudara kembarnya yang masih sibuk dengan mainannya diruang tamu
Aqila memberikan putrinya pada Naufal, dan berjalan menghampiri putranya yang masih sibuk bermain mobil-mobilan, padahal mereka akan segera pergi
"Ilal, kenapa sandal adiknya dirusakin?" Aqila berusaha bicara setenang mungkin menghadapi putranya, ia tak boleh meninggikan suara bagaimanapun nakalnya anak itu
"Bial tayo makin cantik" anak itu mengangkat mobil-mobilan berwarna biru yang sudah ia pasangi bunga dari hiasan sandal milik adiknya
"Tayo itu laki-laki, kalau laki-laki tampan bukan cantik" Aqila merapikan rambut putranya yang terlihat berantakan, padahal sudah ia sisir tadi. Anak itu memang aktif sekali
"Kata Kak Yusuf, tayo itu pelempuan" Aqila hanya bisa tersenyum paksa mendengar jawaban putranya, tangannya sudah gatal ingin menjewer kuping keponakannya itu. Yusuf kadang selalu mengajari hal yang aneh, karena itu kadang Aqila sedikit waspada kalau laki-laki itu mengajak Bilal atau Layla bermain karena mereka kadang mendapat pemahaman atau kata-kata baru yang aneh
"Tidak penting sekarang dia laki-laki atau perempuan, kita tetap tidak boleh merusak sesuatu apalagi kalau itu milik orang lain. Kalau teman Ilal rusakin tasnya ilal, ilal marahkan?" Anak itu terdiam sejenak dan kemudia mengangguk
__ADS_1
"Sekarang minta maaf ya sama adek Ila, janji jangan diulangi lagi kayak gini" anak laki-laki itu terdiam sejenak, memandang kearah adiknya yang sedang dipangku sang ayah
"Maaf" suaranya begitu pelan, ia mengulurkan tangannya pada saudara kembarnya
"Maafin Kak Ilal, dia udah janji nggak ngulangi lagi" Naufal berbisik ditelinga putrinya yang masih diam tak membalas uluran tangan saudaranya
"Iya, Ila maafin"
"Sekarang ayo cepat siap-siap, kita sudah terlambat ini" Aqila membantu putrinya memasang jilbab yang senada dengan baju yang ia pakai, mereka memakai pakaian dengan warna yang sama, biru yang seindah langit hari ini
Setelah menempuh perjalanan hampir tiga puluh lima menit mereka akhirnya sampai di lokasi acara. Terop terpasang rapi, dan didepan sana pelaminan sudah dihias sedemikian indahnya untuk menyambut hari bahagia pasangan yang akhirnya memutuskan untuk menikah ini, Renata dan Gempano
Setelah lima tahun berlalu, akhirnya Reyna bisa menemukan pendamping hidupnya. Butuh waktu yang cukup panjang rupanya sampai akhirnya ia bisa membuka hati kembali, banyak hal yang harus ia pertimbangkan, tiga tahun setelah kematian Panil ia lebih memilih fokus pada karirnya dengan bermaksud untuk melupakan banyak kenangan bersama sang kekasih yang telah pergi
Saat orang tuanya mempertanyakan ia yang tak kunjung menikah, takdir seolah mengatur dirinya sering bertemu dengan Gempano. Entah di kafe, restoran, dijalan bahkan di supermarket. Pertemuan yang sering kali terjadi, namun tanpa rencana apapun. Hingga akhirnya Gempano memberanikan diri mendekati putri bungsu Bramadja itu, setelah berhasil move on dari Renata yang ternyata cukup membutuhkan waktu
"Bilal!" Aqila sudah siap menggandeng tangan putranya saat melihat Yusuf mendekat, keponakannya itu benar-benar kadang tak bisa dipercaya
"Main yuk"
"Acaranya udah mulai, anak kecil nggak boleh main-main di acara kayak gini" Aqila memberikan peringatan terutama untuk Yusuf, anak berusia sembilan tahun itu benar-benar menyebalkan
"Aunty Qilla nggak seru" Yusuf melipat tangannya, anak itu benar-benar kekanakan
"Percayalah Qil, ini karena kelakuanmu dulu yang mengajarinya hal-hal seperti itu" Devano menepuk pundak adiknya dan menggelengkan kepala melihat Aqila yang hanya bisa menarik nafasnya panjang
__ADS_1
"Cucu nenek cantik sekali" Mama Intan merapikan jilbab Layla yang sedikit maju kedepan, anak itu sedang fokus melihat banyaknya bunga-bunga indah yang ada didepan
"Jadi, Zara nggak cantik" Zara, anak itu sekarang sudah berusia tujuh tahun, baru memasuki sekolah dasar
"Semuanya cucu nenek cantik"
"Ilal juga cantik ya?"
"Kalau laki-laki itu tampan" Darren mengacak-acak rambut keponakannya gemas
"Kalau tayo juga tampan belalti?" Ternyata pembahasan bus berwarna biru itu masih ia ingat karena belum dijawab tuntas oleh ibunya
"Tayo siapa?" Darren malah mengernyitkan alis tak mengerti
"Tayo itu bus, kendaraan umum yang digunakan untuk berpergian, bukan manusia seperti kita. Cantik dan tampan itu untuk manusia" Naufal mencoba memberi pengertian agar Bilal mengerti dan tak bertanya lagi
"Semua manusia cantik dan tampan ya?" tanyanya polos
"Semua makhluk ciptaan Allah itu sempurna, semuanya sama, cantik dan tampan didepan Allah"
"Allah..." belum sempat Layla menyelesaikan pertanyaanya, suara pembawa acara menarik perhatian saat pak penghulu sudah datang dan acara akad akan segera dimulai
"Akhirnya adik kamu bisa menemukan pendampingnya, tanggung jawab kami sebagai orang tua telah sampai untuk mengantarkan kalian semua" Mama Intan mengusap ujung matanya terharu saat melihat suaminya menjabat tangan Gempano, kini putri bungsunya juga akan pergi menuju rumah suaminya
"Tanggung jawab mama belum selesai, mama masih perlu mengajari banyak hal, Aqila masih banyak memerlukan bantuan mama" Aqila tak suka mendengar ucapan Mama intan, ia mengatakan itu seakan-akan ingin pergi jauh
__ADS_1
"Sebagai orang tua, tugas kami memang tak akan selesai sampai kematian yang datang menjemput, tapi tugas utama kami untuk mengantarkan kalian terutama kamu dan Reyna pada pendamping hidup telah selesai nak, selanjutnya tinggal tugas kalian mendoakan kami jika tuhan telah memanggil"
"Mama!" Aqila benar-benar tak suka mendengar kalimat ini, dulu saat melahirkan ibunya yang paling banyak membantu, paling repot, dan paling rewel untuk segalanya. Egois memang rasanya jika kita tak ingin kehilangan, padahal sudah jelas dalam firman-Nya kalau semua yang bernyawa pasti akan mengalami kematian