Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Fadila


__ADS_3

Awan mendung menyelimuti langit pagi itu, hukan rintik-rintik ringan turun menyapa bumi, angin ringan bertiup, membuat udara terasa cukup dingin


"Tumben ya kayaknya aku kesini" ucap Renata, ia berada didalam kamar Aqila, memperhatikan sekeliling ruangan itu


"Dulu pernah waktu SMA" ucap Aqila, ia meletakan secangkir coklat panas dan camilan diatas meja yang menghadap langsung ke arah jendela, memperlihatkan hujan yang mulai turun lebih deras


"Iyakah? Aku lupa"


"Waktu pelajaran kimia, kita disuruh buat tabel periodik unsur dan satu kelompok dengan teman sebangku, kamu udah lupa?"


"Owh iya, aku ingat waktu itu rumahmu sepi kan?" Aqila mengangguk membenarkan


"Pasti sulit ya ngalamin ujian itu" ucap Renata, ia ingat betul saat itu keluarga Aqila pergi entah kemana


"Namanya ujian pasti sulit, tapi takaran sulitnya itu hanya kita yang bisa mengaturnya. Jika kita kuat ujian yang terasa berat dan sulit sekalipun terasa lebih ringan, tapi jika kita lemah ujian ringan akan terasa sulit dan berat"


"Kamu benar, aku kayaknya nggak bakal bisa kayak kamu Qil, aku terlalu lemah untuk ujian ringan sekalipun" jawab Renata, ia menunduk menghela nafasnya panjang


"Kenapa ngomong kayak gitu Ren? Kamu kenapa? Ada masalah?" Renata menggeleng dan tersenyum


"Selamat ya kamu bakal nikah dua hari lagi, setelah ujian berat yang kalian berdua hadapi selama ini, akhirnya takdir mempertemukan kalian"


"Kamu sama Kak Gempano kan juga bentar lagi nyusul" Renata memaksakan senyumnya, ia mengangguk membenarkan


"Kalian ada masalah?" Aqila tau betul Renata itu seperti apa, dari sorot matanya perempuan itu seperti memendam sesuatu


"Bukan masalah besar, ini hanyalah masalah sepele biasa, hanya perbedaan pendapat kecil"


"Jangan sungkan cerita Ren, aku ini sahabat kamu, kalau ada masalah tolong cerita, jangan pendam semuanya sendiri"


"Pasti, aku bakal cerita" Aqila mengangguk menepuk pundak sahabatnya


.


Para santri Nurul Iman diliburkan untuk kegiatan sore mereka yang seperti biasa, karena apalagi kalau bukan persiapan pernikahan anak bungsu Abi Umar. Terop sudah terpasang di halaman pesantren yang luas, berbagai dekorasi sudah terpasang untuk mempercantik acara sakral itu, tak hanya para santri bahkan sahabat Naufal pun datang untuk ikut membantu


"Bunganya taruh disebelah sini saja dek" Gempano mengarahkan santri putra, menata bunga dalam pot untuk diletakkan di dekat panggung acara


"Agak sedikit kekiri"


"Nah, iya disana" karena terlalu fokus memperhatikan, ia sampai tak melihat dibelakangnya hingga hampir tersungkur karena menabrak seseorang

__ADS_1


"Aduh, maaf maaf" Gempano berbalik arah, ia meminta maaf dengan menangkupkan tangannya didepan dada saat melihat perempuan yang ia tabrak sepertinya salah satu ustadzah disini


"Aku yang salah, aku juga minta maaf" Fadila menundukkan sedikit kepalanya sebagai bentuk permintaan maaf


"Aku juga salah"


"Temannya Naufal ya?" Tanya Fadila, Gempano mengangguk


"Iya satu kampus, satu angkatan dan satu teman bisnis" Fadila sedikit tersenyum dan mengangguk


"Liat Naufal dimana?"


"Tadi dia sepertinya dirumah, masih berbincang dengan abinya untuk persiapan" Fadila mengucap terima kasih dan salam, setelah itu pergi dari sana


"Astagfirullohaladzim" Gempano menggelengkan kepalanya, apa yang ia pikirkan?


"Assalamu'alaikum" Fadila berdiri didepan pintu rumah Abi Umar, tak terlalu ramai, hanya ada beberapa santri yang membersihkan halaman disana


"Wa'alaikumussalam, loh Fadila? Ayo masuk" Fadila mengangguk saat Umi Sara membuka pintu lebih lebar dan mempersilahkannya masuk kedalam


Dapat ia lihat disana Naufal sedang memangku keponakannya yang baru berusia satu tahun, anak kedua dari kakaknya


"Ayub jangan jahil, nanti adik Yasmin nangis" ucapnya menyingkirkan tangan Ayub yang terus menoel-noel pipi adiknya yang tertidur


"Bagaimana keadaan abi mu nak?" Abi Umar bertanya pada Fadila


"Kedatangan Fadila kesini ingin mengatakan itu pak kyai, abi minta maaf karena tidak bisa datang besok, kondisi kesehatan beliau masih belum pulih"


"Sayang sekali kalau begitu, tapi memang lebih baik ia mengutamakan kesehatannya, kenapa harus minta maaf?, kesehatannya jaub lebih penting" balas Abi Umar


"Iya, pak kyai tau sendiri beliau bagaimana" jawab Fadila


"Assalamu'alaikum" semua sontak menoleh kearah pintu saat Gempano mengucap salam


"Maaf ya Naufal, aku pulang dulu, ibu sudah menelpon minta dijemput dari rumah sakit"


"Siapa yang sakit nak?" Tanya Ummi Sarah saat Gempano menangkupkan tangannya didepan dada dan mencium tangan Abi Umar untuk pamit


"Gempano juga kurang tau, dia hanya bilang menjenguk suami teman lamanya"


"Kalau begitu hati-hati dijalan dan terima kasih udah mau bantu" ucap Naufal saat mereka berjabat tangan seperti biasa

__ADS_1


"Assalamu'alaikum" Gempano juga sempat menangkupkan tangan didepan Fadila saat pamit


"Wa'alaikumussalam"


Dengan mengendarai motornya dalam kecepatan sedang, Gempano mengenyahkan berbagai pikiran yang tersemat dalam kepalanya dan mengucap istigfar berkali-kali, apa yang ia pikirkan? Ini tidak boleh terjadi


Ia segera memarkirkan motor di Rumah Sakit Bramadja setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit lamanya dan segera menuju ruang perawatan sesuai pesan ibunya


"Assalamu'alaikum" ia membuka pelan pintu ruangan itu, takut salah kamar


"Wa'alaikumussalam" jawab mereka semua yang ada didalam


"Nah, ini anak saya Wa, namanya Gempano" ucap Ibu Ratih memperkenalkan putranya


Gempano tersenyum sedikit membungkukkan kepala sebagai bentuk hormat


"Wah, wajahnya persis sepertimu" Ibu Ratih sedikit tertawa mendengar itu dan Gempano hanya tersenyum kecil


"Gempano, ini sahabat lama ibu waktu SMA, kita teman dekat, tapi harus pisah saat kuliah karena dia masuk ke pondok, panggil saja Umi Zahwa"


"Gempano kayaknya seumuran ya sama Naufal?" Tanya Kyai Utsman, ia ikut mendengar pembicaraan dua perempuan didepannya yang mengenang kisah putih abu mereka


"Pak kyai kenal sama Naufal?" Tanya Gempano


"Kenal, dia anak teman abi, dia nikah besok kan?" Gempano mengangguk menjawab pertanyaan itu


"Sayang sekali kami tidak bisa hadir"


"Naufal itu salah satu teman baik Gempano, dia juga sering main kerumah" ucap Bu Ratih


"Oh ya?, Gempano teman Naufal juga ternyata" ucap Umi Zahwa


"Berarti Gempano juga seumuran ya sama Fadila?" Tanya Bu Ratih, mereka membahas tentang Fadila dan Naufal sebelumnya


"Iya, berarti seumuran" balas Umi Zahwa


"Persiapannya disana bagaimana? Apa sudah selesai?" Tanya Bu Ratih, ia ingat Gempano memberitahunya tadi pagi untuk membantu persiapan pernikahan Naufal yang besok


"Hampir semuanya siap, tinggal penataan beberapa kursi dan alas saja"


"Kamu liat Fadila disana? Dia datang memberitau pada Abi Umar kalau kami tidak bisa datang" Gempano termenung, Fadila, artinya nama perempuan tadi Fadila. Ia ingat kalau Naufal dan Regan pernah menyebut namanya dulu. Karena kesalahpahaman tentang perasaan yang menyebabkan dua orang itu pernah menjadi musuh bebuyutan

__ADS_1


.


Banyak Typo...🙏🙏🙏


__ADS_2