Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Ujian


__ADS_3

Debur ombak pantai terdengar keras, menghempas terumbu karang yang berdiri dengan kokohnya, mengantarkan biota laut kecil ke tepi pantai, dan kembali tersapu saat ombak lebih besar membawanya


"Tiga hari lagi, apa yang akan kau lakukan?" Aqila tetap memandang lurus kearah laut lepas tanpa memandang seseorang berjarak satu meter darinya yang diajak berbicara


"Aku akan menjadikanmu pasangan halalku" jawab Naufal seraya tersenyum


"Apa kau bisa aku percaya?" tanya Aqila membuat Naufal mengalihkan pandangannya kearah Aqila


"Apa yang membuatmu ragu denganku?"


"Aku tidak meragukanmu, tapi terlalu banyak rahasia yang belum aku ketahui sebelumnya membuatku cukup ragu denganmu Naufal Pradana Al-Ghazali" ucap Aqila, pertama kalinya ia menyebut nama panjang Naufal


"Katakan apa yang ingin kau ketahui? Aku akan menjawabnya" jawab Naufal yakin


Aqila menoleh sejenak kearah laki-laki yang menjadi calon suaminya dan kembali menatap laut lepas


"Aku sudah mengetahuinya, aku sudah tahu siapa Fadila..."


"Dia hanya teman" ucap Naufal memotong perkataan Aqila


"Aku tau apa saja yang dilakukan Felis Catus..."


"Hanya kenakalan masa remaja untuk mengeskpresikan diri ingin bebas namun dengan cara yang salah"


"Aku tau hubunganmu dengan Kak Egan..."


"Dia dulu sahabatku di ponpes tapi kesalahpahaman terjadi dan membuat kami sempat berselisih tapi sekarang sudah tidak lagi"


"Apa ada hal yang lain?" tanya Aqila


"Tanyakan apa yang ingin kau tanyakan"


"Mungkin tak pantas rasanya menanyakan ini, apalagi kita belum memiliki ikatan yang sah"


"Apa itu?"


"Apa kau pernah mempunyai perasaan antara laki-laki dan perempuan dengan Fadila?" tanya Aqila

__ADS_1


"Tidak..."Naufal menjawab dengan tegas dan menjeda ucapannya sejenak


"Tidak pernah, ia hanya kuanggap sebagai anak dari teman abi, dan teman bermain yang tak terlalu dekat"


"Ada lagi?" Aqila menggeleng pelan menanggapi pertanyaan Naufal


"Apa kau ingin dengar kisah cinta pertamaku?"


"Ibumu?" tebak Aqila langsung


"Ibuku memang cinta pertamaku, dan tak ada perempuan yang bisa menggantikan dirinya, karena ia mempunyai ruang khusus dalam hatiku, tapi yang kumaksud adalah cinta laki-laki kepada perempuan" tanpa menunggu jawaban dari Aqila Naufal langsung melanjutkan perkataannya


"Menurutku dia gadis aneh tapi baik, dia perempuan yang menyodorkan satu kotak tisu untuk laki-laki yang bahkan tak dikenalnya. Dia aneh karena membeli barang yang entah dibutuhkan kapan, tapi dia juga baik karena memberi seseorang yang membutuhkan tanpa mengenalnya dulu" Aqila sontak mengalihkan pandangannya kearah Naufal mendengar itu


"Kak Naufal..."


"Ya, aku orang itu dan kau adalah gadis yang merebut posisi setelah ibuku disini" ucap Naufal menunjuk dadanya


"Jadi apalagi yang membuatmu ragu?" tanyanya


"RENATA!" Naufal tiba-tiba memanggil Renata yang sendirian duduk disalah satu pohon kelapa yang tumbang, karena menjelang waktu magrib maka lokasi pantai pun mulai sepi hingga orang yang ada disana bisa dihitung jari


"Apa?" tanyanya galak dengan melipat tangan didepan dada


"Kau akan menjadi saksi disini, air laut yang pasang, cahaya senja yang berubah menjadi jingga kemerahan, dan sang surya yang akan segera terganti rembulan, menjadi saksi aku mengatakan ini..."


"Ana Uhibbukafilah Aqila, calon makmumku, calon pendamping hidupku dan calon bidadari surgaku didunia" teriak Naufal membuat Aqila dan Renata menutup mulut tak percaya


"Apa kau sudah percaya?"


"Selanjutnya tunggu tiga hari lagi, aku akan menyebut namamu dihadapan Allah dan disaksikan banyak orang"


Aqila menunduk tersenyum kemudian mengangguk


"Jadi nyamuk lagi gue" keluh Renata


"Ren, tolong foto kita bedua membelakangi senja" Naufal menyerahkan hp dari saku jaketnya

__ADS_1


"Sekarang jarak diantara kita satu meter tapi nanti lebih dekat dari satu centi meter" ucap Naufal kemudian mereka berdua tersenyum menghadap kamera, membelakangi senja dengan semburat jingganya yang indah


.


Nyatanya, sebaik-baik manusia menyiapkan rencana tetap Allah yang menentukan, tetap diri-Nya yang menjadi pemilik skenario kehidupan


Sang laki-laki yang berjanji pada dirinya menjadi pelangi yang datang setelah hujan sekarang terbaring di brankar rumah sakit dan dinyatakan koma oleh dokter setelah mengalami kecelakaan hebat beberapa saat lalu


Semua terjadi begitu cepat, padahal sore kemarin laki-laki itu berjanji dan menyuruh dirinya percaya, sekarang tubuh lemah itu sudah terbaring di brankar rumah sakit dengan alat penunjang kehidupan yang terpasang ditubuhnya


Kecelakaan terjadi saat Naufal yang baru pulang dari rumah Gempano, berkumpul bersama anggota inti Felis Catus yang lain, untuk mengucapkan selamat dan meminta tolong teman-temannya menyebarkan undangan kepada beberapa teman kampus juga dosen


Dalam perjalanan pulang Naufal dikejutkan saat truk yang oleng melaju kencang di persimpangan, hingga kecelakaan tak dapat dielakkan lagi, tubuh Naufal terpelanting jauh, bersamaan dengan helm yang terlepas dari kepalanya, mungkin sang ketua Felis Catus itu tak mengikat dengan benar tali helmnya karena tak pernah mengira semuanya akan terjadi


Kebetulan saat itu Aqila baru keluar dari rumah sakit Bramadja dan penasaran melihat korban kecelakaan yang baru keluar dari ambulans, jaket hitam dengan lambang kucing yang menjadi kebanggan anggota Felis Catus nampak dilengan kiri korban, membuat perasaan Aqila semakin tak menentu karena seingatnya hanya anggota inti yang memakai dua lambang kucing itu, di belakang dan lengan bagian kiri


Namun keyakinan yang berusaha ditepis Aqila luntur saat melihat cincin perak tertaut dijari manis sebelah kiri


"Naufal"


Air mata luruh begitu saja, bayangan demi bayangan kenangan berputar dalam otak layaknya sebuah film, cobaan apa lagi sekarang? Saat dirinya mulai percaya, datang cobaan baru yang akan membuat kisah mereka kembali diuji, seberapa teguh seorang hamba mempertahankan hatinya


Aqila tumbang saat rasa sakit yang luar biasa menggerogoti kepalanya muncul, Darren yang baru saja keluar setelah menemani adiknya konsultasi terkejut, padahal beberapa saat yang lalu gadis itu baik-baik saja dan masih bisa menggoda dirinya


"DOKTER DARREN!, ADA KORBAN KECELAKAAN YANG MEMBUTUHKAN OPERASI SEGERA" Seorang perawat tergesa-gesa menghampiri Darren yang membopong tubuh Aqila masuk kesalah satu ruang perawatan


"Apa keluarga korban sudah dihubungi?"


"Sudah, mereka bilang akan tiba beberapa saat lagi" Darren mengangguk dan memanggil suster untuk merawat adiknya, padahal jam kerjanya sudah selesai dan ia berniat mengantar adiknya pulang, tapi keadaan darurat seperti ini tetap harus diutamakan diatas kepentingan lain, karena menyangkut nyawa seseorang


Saat sampai didepan ruang operasi, Darren terkejut melihat keluarga Naufal, Ummi Sarah yang menangis berusaha ditenangkan oleh Abi Umar yang berusaha tegar demi istrinya


"Dokternya sudah datang"


"Nak Darren" Abi Umar berdiri dan menggenggam tangan Darren erat


"Tolong berikan yang terbaik untuk kesembuhan Naufal"

__ADS_1


Darren mengangguk tanpa berbicara sepatah katapun, cobaan apalagi yang diterima adiknya sekarang? Padahal pernikahan mereka akan berlangsung dua hari lagi


__ADS_2