Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Datang


__ADS_3

Malam yang gelap dihias jutaan bintang, planet, asteroid dan benda luar angkasa lainnya, tapi yang paling terlihat tetaplah satelit alami bumi, sang rembulan


Didalam kamarnya, Aqila menatap bulan yang tertutup sebagian oleh awan, air matanya menetes begitu saja, apa benar Naufal telah membatalkan pertunangannya?


Papa Arya memberitaunya setelah mereka selesai makan malam, Aqila disana berusaha tersenyum dan mengangguk saja, tapi hatinya terluka, laki-laki itu mengingkari janjinya lima tahun lalu. Pelangi apanya? Mana ada pelangi selamanya? Semua hanya sementara


Siapa yang salah diantara mereka? Ia yang pergi terlalu lama? Atau Naufal yang ingkar janji? Entahlah diantara dua orang itu tak ada yang tau


Diseberang sana hal yang sama terjadi, Naufal uring-uringan sendiri, ia berusaha beberapa kali mengucapkan bagaimana kalimat yang tepat untuk meyakinkan Papa Arya kalau ini hanya sebuah kesalah pahaman belaka


Naufal sudah membuat tekad kuat dalam dirinya, besok ia akan pergi ke rumah Aqila jam tujuh, menemui Papa Arya dan keluarga Aqila yang lain, menjelaskan semua kesalahpahaman itu dan semua selesai


Hahhh tidak, ia harus memberitau Abi Umar terlebih dahulu, agar abinya tak lagi membuat keputusan sepihak, baru berangkat ke rumah Aqila dan menjelaskan semuanya


Nyatanya keesokan paginya ia masih berdiri di depan gerbang besar itu, memilih masuk atau tidak, matanya hampir tak terpejam semalaman karena berusaha memikirkan kalimat apa yang tepat ia gunakan


"Mau cari siapa den?" Pak Udin yang bertugas sebagai satpam bingung melihat tingkah pemuda yang mondar-mandir didepan rumah majikannya, yang pasti ia bukan maling tapi harus tetap diwaspadai takutnya penguntit, begitu pikir Pak Udin


"Saya mau nikah, eh maksudnya saya mau cari Papa Arya, apa beliau ada didalam?" Tanya Naufal, ia menutup mulutnya karena salah ucapan


"Ooowh iya ada, ayo silahkan masuk kedalam, jangan diluar seperti itu" Pak Udin membuka kunci gerbangnya, Naufal melangkahkan kakinya yang sedikit gemetar untuk masuk kedalam, beruntung ia menggunakan sarung jadi tak begitu terlihat kalau ia gemetar


Kamu berani Naufal! Perjuangan selama lima tahun tidak boleh berakhir sia-sia begitu saja, pikirnya. Ia mulai melangkahkan kakinya masuk dengan semangat, tapi baru sampai di pintu depan, ia mendengar suara orang bercengkrama di ruang tamu, apa dia tidak bertamu terlalu pagi? Ini sudah jam tujuh artinya bolehkan?, ia berbicara pada dirinya sendiri


Akhirnya setelah menarik nafas panjang dan mengumpulkan tekad kuat, ia berniat melangkahkan kakinya masuk, tapi seorang anak kecil yang baru saja keluar dari pintu mengagetkannya

__ADS_1


Yah dia ingat, itu anak laki-laki yang dibawa Aqila kemarin. Yusuf menatap kearah Naufal cukup lama seperti memperjelas penglihatannya, kemudian berlari masuk rumah


"AUNTY QILA, ORANG KEMARIN MAU DATANG NAGIH UTANG!" Teriakannya menggema di rumah mewah itu, Naufal yang mendengarnya ikut ketakutan tanpa alasan yang jelas


Aqila yang sedang membantu membersihkan piring kotor diatas meja dengan para perempuan yang lain cukup terkejut mendengar teriakan membahana Yusuf, untungnya piring itu tidak jatuh dan pecah


"Nak, kalau ngomong pelan-pelan dan hati-hati, jangan lari-lari seperti itu" ucap Diva, ia berusaha menasihati putranya yang sudah mengekor di belakang Aqila


"Aunty Qila gawat, orang kemalin datang nagih hutang" ucapnya panik, Aqila dan semua yang mendengarnya disana kebingungan


"Hutang? Hutang apa?" Aqila berfikir sejenak, ia tak pernah berhutang apapun pada siapapun kemarin


"Aqila maksud Yusuf apa? Hutang apa?" Papa Arya turut bertanya pada putrinya, Aqila hanya memberikan gelengan kepala sebagai jawaban


"Olangnya ada didepan"


"Ayo bayal hutang aunty, yusuf nggak mau dihukum nanti diakhilat" ucap Yusuf, ia menarik-narik tangan Aqila untuk keluar. Para keluarga yang berkumpul di ruang tamu itu menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Yusuf, bahkan Devano kadang kesal sendiri mendengarnya


"Siapa sih?" Rian ikut penasaran, ia mengikuti Yusuf dan Aqila dibelakang


Aqila mematung, ia menutup mulutnya tak percaya melihat Naufal ada disini, laki-laki itu menepati janjinya untuk datang hari ini seperti apa yang ia katakan kemarin di restoran. Rian bahkan sama terkejutnya melihat Naufal dengan berani datang kesini setelah memutus pertunanangan dengan adiknya tadi malam


"Kamu mau nyari cincinnya? Bentar aku ambilin" ucap Aqila, ia pikir Naufal datang ingin mengambil cincin yang lima tahun lalu mereka kenakan bersama


"Bukan!" ucap Naufal, ia sedikit mengeraskan suaranya

__ADS_1


"Terus? Mau apa lo? Setelah mutusin pertunangan gitu aja dan milih perempuan lain, lo datang pagi-pagi gini buat apa?" Tanya Rian, ia mencengkram kerah kemeja yang dikenakan Naufal. Rian si paling tempramen di keluarga Bramadja


"Kak Rian, udah!, jangan berantem" Aqila berusaha menarik Rian yang sudah menatap Naufal tajam, sedangkan Naufal sudah pasrah saja, ia tak ada niat untuk melawan


Bugh


"AAAA"


Rian tak segan-segan memberikan bogemannya pada laki-laki itu, tapi yang terkejut justru Aqila, ia juga menutup mata Yusuf agar tak melihat kejadian itu. Naufal memegang perutnya yang sakit, ini semua hanya kesalahpahaman kenapa berakhir riwet runyam seperti ini?


"Ada apa ini? Kenapa pagi-pagi ribut?" Akhirnya Papa Arya keluar, ia terkejut mendengar teriakan Aqila, apa putrinya memiliki hutang sebuah pukulan dari orang lain? Begitu pikirnya


"Naufal?" Papa Arya terkejut melihat laki-laki itu sudah terduduk memegang perutnya, sedangkan Rian sudah ngos-ngosan sepagi ini


"Ayo masuk, bicara didalam, Rian jangan kayak gitu lagi mukul orang sembrangan" ucap Papa Arya, ia sudah tau bagaimana tempramen anaknya yang satu itu


Disinilah Naufal sekarang, di ruang tamu yang cukup luas, ia duduk sendiri di sofa panjang, didepannya duduk Papa Arya, Devano, Darren yang memangku Zara dan Rian. Sedangkan, disebelah kiri duduk Mama Intan, Diva, Diana, Aqila, Yusuf dan Reyna. Tatapan mereka seperti ingin menelannya hidup-hidup


"Jadi ada urusan apa kamu datang kesini?" Tanya Papa Arya saat melihat Naufal seperti tercekat mengeluarkan suara dari tenggorokannya


"Kakek, dia kesini mau minta ganti uangnya, kemalin Yusuf pinjam kalenaa nggak mau cuci pi...mmmm" Aqila langsung membungkam mulut Yusuf, keponakannya itu benar-benar tak mengerti situasi terkini sekarang


"Reyna ajak Yusuf dan Zara main di taman belakang" titah Papa Arya, Reyna menganggukan kepalanya walau sempat ingin menolak, ia takut melihat tatapan Papa Arya padanya


"Baik, ayo Yusuf, Zara ikut aunty" melihat suasana yang cukup tegang Yusuf mengangguk, padahal ia semula ingin mengadukan Aqila pada kakeknya, sedangkan Zara, balita itu sempat rewel tak mau, tapi setelah diakali dengan sebotol susu ia pergi

__ADS_1


"Aunty Qila, jangan halap bisa lolos" ucap Yusuf, anak itu seperti memiliki dendam untuknya. Aqila mengangguk saja tersenyum kaku saat tatapan semua orang mengarah kepada dirinya


__ADS_2