
Tangisan pilu, derai air mata selalu menjadi bagian yang tak bisa dilepas dari kata perpisahan, namun yang paling menyakitkan saat orang tersebut pergi tanpa kata pamit untuk sekedar mengatakan kata selamat tinggal
Ruang kelas di salah satu fakultas seni itu seketika hening, hanya terdengar suara isakan ringan yang keluar dari sebagian besar mahasiswi dikelas itu
Laki-laki mungkin turut bersedih tapi dengan cara yang berbeda, mereka mungkin merasa kehilangan tapi tak sampai menitikkan air mata, cukup menguatkan hati
Renata sampai tak menyangka, ia hanya terdiam kaku di mejanya dengan mata yang memerah, kedatangannya pagi-pagi ke kampus sebenarnya berfikir untuk menenangkan sahabatnya, karena ia tau mengenai kecelakaan Naufal, ia bisa merasakan bagaimana terpukulnya Aqila saat itu, saat dimana ia mulai percaya dan dua hari lagi menjadi pasangan dengan ikatan suci yang halal, hal yang tak terduga justru terjadi
Mengguncang hati dan mental, dipaksa terus berjuang oleh keadaan, dipaksa selalu kuat dan tahan banting, seperti itulah sosok Aqila Valisha Bramadja di mata Renata
Namun, kenyataan lain justru ia terima saat Bu Maya yang terkenal sebagai dosen killer masuk dengan mata dan hidung memerah, bukan hanya Renata tapi juga menimbulkan tanda tanya besar dibenak para mahasiswa yang mengenal bagaimana dosen itu saat mengajar
Bu Maya menghampiri Renata, memberikan sebuah amplop berwarna biru muda dan mengingatkan untuk dibuka nanti. Setelah itu, justru keluar berita menyedihkan dari mulut sang dosen saat mengatakan Aqila sudah tidak lagi bisa ikut dikelas ini. Tidak mengatakan cuti, tidak mengatakan pindah kampus tapi mengatakan sedang berjuang dengan rasa sakit yang menggerogoti hati dan tubuhnya
Bu Maya sampai tak menyangka, malam-malam Aqila mendatangi rumahnya seorang diri, mengatakan secara pribadi tak bisa lagi masuk ke kampus karena harus pergi untuk mengobati penyakitnya padahal sang papa sudah mengirim surat ke rektor, menitipkan amplop biru muda dan hanya berpesan untuk diberi pada Renata, ia meminta maaf kalau dalam kelas pernah menyakiti perasaan sang dosen
Berobat, hanya untuk berobat, Bu Maya cukup paham, megobati penyakit yang menggerogoti tubuh dan berobat untuk luka hati yang kesekian kalinya
Bu Maya hanya bisa mengangguk dan mendekap salah satu mahasiswi kebangaannya itu, memberikan kata-kata motivasi dan semangat yang mungkin basi bagi Aqila karena terlalu sering didengar
"Jodoh pasti bertemu, sekalipun kalian terpisah jarak yang membentang jauh, jika kalian terpisah karena satu alasan maka Allah masih punya seribu alasan untuk membuat kalian bertemu"
Kalimat yang keluar dari mulut Bu Maya saat melihat kertas biru yang masih terlipat dengan bungkus plastik mengkilat, ia pikir Naufal hanya bercanda saat mengatakan undangan ini pertama diberikan untuk dirinya dan belum disebarkan pada orang, tapi itu justru nyata, ia mendapat undangan pertama dan undangan terakhir karena dua insan yang masih dipermainkan takdir, menguji seberapa besar perjuangan mereka
__ADS_1
.
"Assalamu'alaikum Ren" ucapan salam pada bagian paling atas surat sudah cukup membuat air mata Renata jatuh apalagi melanjutkan membaca kalimat selanjutnya
"Maaf aku pergi, pergi tanpa pamit dan kalimat selamat tinggal, pergi tanpa bertemu dan memberi pelukan hangat perpisahan, karena itu justru hal yang berat untukku"
"Saat membuat keputusan ini, aku yakin memang ini yang terbaik, maaf sahabat, kita harus berpisah tapi aku yakin ini hanya sementara, hanya beda negara dan benua bukan berbeda alam kehidupan"
"Aku pergi untuk berobat bukan lari dari kenyataan pahit atau luka ini, belum saatnya bahagia sekarang, aku harus berjuang lebih keras dulu seperti sebelumnya, selamat tinggal sahabatku you are my best friend, saat aku lupa dirimu dimasa depan tolong ingatkan aku jangan menjauh atau lari"
"Jangan bersedih okay? Jangan menangis terlalu lama, perpisahan ini bukan untuk meregangkan hubungan kita tapi menguji seberapa kuat kita bisa mempertahankan hubungan luar biasa ini"
"Satu lagi, terima saja cinta Kak Gempano, aku lihat dia laki-laki yang serius denganmu, jangan takut karena melihatku gagal dalam hubungan itu, karena takdir kita memang berbeda sahabat"
"Takdir seperti mempermainkan mereka berdua, padahal tinggal menghitung hari lagi mereka menjalin ikatan halal dihadapan sang pencipta"
"Jangan bersedih lagi, Aqila melakukan ini untuk kebaikan kalian berdua" Renata kembali menatap orang disampingnya untuk meyakinkan diri apakah benar-benar Gempano yang sering punya otak bergeser atau orang lain
"Kebaikan apanya? Kalau begini aku bisa saja membencinya dan tak ingin bertemu lagi" ucap Renata dengan nada kecewa menahan amarah namun tetap air matanya tak bisa berbohong
"Benarkah? Aku pikir kau bukan sosok seperti itu" jawab Gempano
"Aku kecewa, kecewa karena ia pergi tanpa memberitahuku langsung tentang semua ini, aku kecewa karena kami belum mengucapkan salam perpisahan terakhir, dan aku kecewa karena ia selalu tersenyum dan baik-baik saja didepanku, tanpa berniat bercerita masalahnya" Renata menunduk, meremas surat berwarna biru yang baru saja selesai dibacanya
__ADS_1
"Kau yakin? Aku justru tak yakin mendengar itu, kau kecewa karena ia tak memberitahumumu langsung dan belum sempat mengucap salam perpisahan. Tapi bagiku itu lebih baik, karena aku yakin semua tak sesederhana itu, jika Aqila bertemu denganmu dan mengucap salam, kalian berdua akan semakin sulit untuk berpisah" Gempano menjeda kalimatnya sejenak, menatap langit biru dengan awan putih bersih yang membentuk berbagai gambar
"Kau mengatakan kecewa padanya karena tak bercerita apa-apa dan selalu tersenyum baik-baik saja?, Percayalah jika ia sebenarnya tak ingin kau khawatir atau terus memikirkan dirinya"
"Tapi dengan sikapnya yang seperti itu aku justru selalu memikirkannya" bantah Renata
"Terkadang sebagian orang beranggapan kalau mereka bisa baik-baik saja dengan memendam masalah sendiri tanpa bercerita pada orang lain, mereka cukup menguatkan hati dan mengadu pada tuhan, dan Aqila adalah salah satu diantara orang itu"
"Mereka membatasi dirinya atau mungkin bingung ingin mulai bercerita dari mana, karena mungkin mereka bahkan tak mengerti diri mereka sendiri dan apa yang mereka inginkan"
"Aku yakin Ren, Aqila melakukan ini untuk kebaikan kalian berdua" Renata menunduk dan membenarkan kata-kata Gempano dalam hati, seharusnya dari SMA ia sadar kalau sahabatnya orang seperti itu
"Kau cukup berdo'a untuknya, baginya kau adalah sahabat yang baik, tempat dimana ia bisa menjadi orang lain dari yang sebagian besar orang lihat dalam dirinya"
"Kau istimewa, jangan pernah berfikir kalau ia tak menganggapmu ada"
"Bagaimana kau tau?"
"Memahami seseorang bukan hanya melibatkan keputusan sepihak dan rasa pada yang kita alami, tapi kita berlu menggunakan otak untuk berfikir sederhana kenapa bisa seperti itu, karena kadang terlalu banyak melibatkan rasa tidak baik"
.
Insya Allah besok author up lagi di pagi ya... 🙏
__ADS_1
Maaf lama up, sekarang author mulai punya kesibukan tetap di dunia nyata... 🙏🙏🙏