
Aqila menggelengkan kepalanya, kakaknya itu benar-benar tidak bisa diandalkan. Justru Yusuf yang terlihat menemani Zara menggambar, dan mencoba menjelaskan tentang apa yang dibuatnya
"Yusuf, ayo makan" Yusuf segera melepas semua peralatan gambarnya, Zara juga mengikuti apa yang dilakukan kakak sepupunya
"Maem cokat"
"Cokelat" Yusuf berusaha memperbaiki kata-kata Zara yang salah
"Cokat"
"Nanti kalau Zara udah sebesar Yusuf, dia bisa ngomong benar" ucap Aqila menjelaskan Yusuf yang mulai terlihat lelah menjelaskan
"Yusuf bisa jaga Zara sebentar nggak? Aunty Qilla mau sholat isya dulu" Yusuf mengacungkan jempolnya tanda menyanggupi
"Anak pintar" sebelum benar-benar pergi, Aqila memastikan tidak ada benda tajam atau benda yang berpotensi berbahaya, ia juga mengunci pintu dapur agar dua anak itu tak masuk kesana. Zara juga terlihat anteng menggambar dari tadi, ia sudah dijelaskan kalau krayon itu bukan makanan saat anak itu sering kali menggigitnya, setelah dirasa aman barulah ia pergi sholat dengan tenang
"Jaga Zara baik-baik, Aunty Qilla cuma sebentar"
"Hmm"
Prang
Aqila yang baru menyelesaikan salam dengan terburu-buru tanpa melepas mukenahnya melihat kondisi keponakan yang ditinggalkannya
"Yusuf, Zara..." Aqila tak mampu berkata-kata, bukan karena melihat kondisi mereka berdua tapi kondisi Rian yang mengenaskan
Entah darimana mereka mendapatkan bedak bayi itu, tapi muka Rian sudah penuh dengan warna putih bahkan alis, bibir dan separuh rambut dibagian depan, anehnya laki-laki itu tak terganggu sedikitpun dengan tidurnya
"Yusuf dari mana Zara dapat bedak?" Yusuf menunjuk kearah kamar Darren yang terbuka, Aqila menepuk jidatnya, ia lupa memeriksa semua kamar
Dengan sedikit menarik nafas panjang, Aqila membersihkan mulut dua anak itu yang sudah kotor dengan tisu basah, selanjutnya membersihkan barang-barang yang berserakan disana, piring tempat roti dan gelas air minum tadi sudah terjatuh, untunglah terbuat dari aluminium jadi tidak pecah dan melukai dua anak itu. Ia mengambil bedak bayi yang ada ditangan Zara dan meletakannya ditempat yang lebih tinggi.
"Aunty Qilla mau naruh piring didapur sebentar, jaga Zara" peringat Aqila
"Iya" Yusuf menjawab tanpa menoleh, ia terlihat menyusun kembali krayon-krayon Zara yang sudah banyak patah
"Aaaa" Lagi-lagi Aqila terkejut, kali ini karena teriakan Yusuf, hampir saja ia tersandung dari sarung mukenah yang belum dilepasnya
__ADS_1
"Kenapa lagi?"
"Uncle Ian jadi hantu" ucapnya menutup mata dengan jari kecilnya yang menunjuk kearah Rian
Aqila membeku, tak tau ingin berkata apa pada Zara, keponakannya yang satu itu dengan santai memasukkan jari kecilnya pada lubang lipstick yang entah didapat dari mana, dan dengan santainya ia mengoleskannya pada kelopak mata, pipi dan bibir Rian, yang lebih anehnya lagi, laki-laki itu tak terbangun sama sekali
"Zara sayang, anak kecil nggak boleh main ini" Aqila dengan pelan mengambil lipstick yang sudah dikeruk isinya oleh Zara, ia membersihkan jari kecil anak itu dengan tisu basah
"Iii akit" ucapnya, seolah itu adalah darah
"Yusuf, darimana Zara dapat ini?" tanya Aqila mengangkat lipstick merah ditangannya, Yusuf menggeleng karena ia tak tau
"Siapapun itu, aku harap dia tidak marah"
Sekarang semuanya sudah kembali seperti semula, tidak ada krayon atau kertas yang berserakan, lantai dan meja sudah bersih kembali, dan Zara yang menjadi biang kerok segala permasalahan mulai nampak mengantuk dengan posisi masih diatas perut Rian yang terusik sama sekali
"Hachii" Balita itu bersin dan tanpa rasa bersalah sama sekali, ia mengelap ingusnya yang keluar pada kaos putih Rian. Aqila terdiam tak mampu berkata-kata, padahal ia sudah mengambil tisu diatas meja. Zara tak cerewet sama sekali saat mengantuk walau agak menyebalkan.
Aqila memindahkannya ke sofa lain, tempat Yusuf duduk dan meminta anak laki-laki itu sedikit bergeser. Aqila menidurkan Zara pada bantal kecil yang ada disana dan balita menggemaskan itu langsung terlelap
"Hmmm" anak laki-laki itu hanya bergumam tak jelas, karena kantuk juga mulai menyerangnya
Setelah memastikan dua anak itu aman, barulah Aqila kembali kekamar dan mengganti mukenahnya, tapi sebelum beranjak ia mendekati Rian, memastikan laki-laki itu masih bernafas karena anehnya setelah suara keras bahkan didandani sedemikian rupa berwarna merah putih tidak juga terbangun
"Kamu ngapain?" Aqila yang mendekatkan telinganya pada dada laki-laki itu terkejut, lebih terkejut lagi saat melihat wajah Rian yang terlihat mengerikan dalam posisi sedekat ini, kakaknya benar-benar terlihat sangat berbeda
"AAA...mmm" Aqila membungkam mulutnya sendiri, agar tak membangunkan dua keponakannya yang sudah terlelap
"Kenapa sih?" Aqila berkacak pinggang mendengar pertanyaan itu
"Kak Rian ini mati atau tidur, hah? disuruh jagain sebentar malah molor"
"Ngantuk" jawabnya tanpa rasa bersalah sama sekali
"Eh, mereka udah tidur?"
"Miriki idih tidir?" Aqila mendengus, ia masih kesal tapi juga ingin tertawa melihat laki-laki itu yang masih belum sadar dengan kondisi wajahnya
__ADS_1
tingtong
Aqila yang baru menaiki anak tangga mengganti mukenahnya segera berlari secepat kilat begitu melihat Rian mendekati pintu, bisa-bisa orang yang mengetuk pintu langsung mati ditempat
"Biar aku aja"
"Selamat malam Valisha"
"Reynald? Ayo masuk"
"Terima kasih"
Aqila membuka lebar pintunya, Reynald yang baru melangkahkan kakinya masuk, terdiam mematung melihat Rian berkacak pinggang dengan mata melotot
"AAA...shhh" Aqila menginjak kaki laki-laki itu cukup keras karena melihat Zara sedikit terkejut mendengar teriakan Reynald yang menggema
"Dia Kak Rian" bisik Aqila
"Maaf, hai bro" Reynald terbilang cukup dekat pada Rian, mungkin karena laki-laki itu seumuran
"Ngapain kesini? Nggak ada orang sakit gigi"
"Aku mau ketemu kamu, hai maniess" Rian hanya diam, memandang Reynald dengan tatapan datar, sedangkan Aqila agak geli mendengarnya, karena yang mengucapkan itu adalah Reynald si dokter gigi kaku
"Ayo masuk, duduk di ruang tamu" Aqila mengabaikan Rian yang masih terdiam mematung disana, ia mempersilahkan Reynald duduk di sofa yang tidak ditempati dua anak kecil itu
"Yang lain kemana? kok sepi banget"
"Mereka lagi pergi cari oleh-oleh" jawab Aqila, ia menuangkan segelas jus jeruk yang ia ambil dari kulkas
"Muka kamu kenapa? Nggak enak?" Tanya Rian sewot, ia tak sadar kalau Reynald menahan tawa melihat dirinya
"Nggak enak kok, tambah manis kalau liat adik kamu" Ucapnya mengedipkan mata ke arah Aqila
"Apaan sih" Aqila menutup wajah dengan mukenahnya, ia benar-benar tak terbiasa dengan Reynald yang seperti ini
"Heh Aligator Amazon, Aqila itu udah punya tunangan" Aqila maupun Reynald sama terkejutnya, sedangkan Rian yang tersadar dengan ucapannya menutup mulutnya
__ADS_1