Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Aku Memang Gila


__ADS_3

Hati ibu mana yang tak sakit saat mendengar kabar putrinya harus menjalani operasi besar untuk kesembuhannya, itupun dengan menanggung resiko yang begitu besar, tak main-main jika nyawa sudah menjadi taruhan, selanjutnya takdir tuhan yang akan berkehendak


Mama intan terdiam mematung, tak mendengar suara Papa Arya diseberang sana, padahal hatinya begitu bahagia kemarin saat mendengar kabar dari Devano yang mengatakan kondisi Aqila sudah membaik


Rian yang dibelakang mamanya mengambil alih handphone yang masih tersambung dari tangan Mama Intan yang terduduk lemas, ia melihat nama sang pemanggil dan mulai berbicara kepada papanya tentang apa yang membuat mamanya sampai seperti itu


"Papa bilang apa?" tanyanya langsung to the point


"Rian? Mama mana?"


"Karena itu Rian tanya sama papa, papa ngomong apa sampai mama jadi lemas kayak gini, ada masalah dengan pesawatnya sampai kalian belum bisa pulang? Atau belum dapet tiket? Kalian disana baik-baik aja kan?" tanya Rian beruntun. Sedang Papa Arya diseberang sana yang mendengarnya kembali menitikkan air mata


"Maaf" ucapnya lirih


"Kenapa papa sekarang minta maaf?" Tanya Rian bingung. Mama Intan yang mulai tersadar menarik tangan putranya dan menyuruh duduk disampingnya. Ia mengisyaratkan tangannya untuk mengambil alih handphone dari genggaman Rian, namun Rian justru menggelengkan kepalanya


"Rian tanya kenapa papa minta maaf?" tanyanya sekali lagi


"Papa nggak bisa hadir di wisuda kamu"


"Kenapa? Papa ada kerjaan? Apa kerjaan papa lebih penting dari Rian?" Jujur ia sedikit kecewa tentang itu, harapannya dihari wisuda itu semua anggota keluarganya bisa hadir


"Bukan, adik kamu..." lidah Papa Arya seperti kelu untuk melanjutkan perkataannya


"Aqila? Kata Kak Devan dia udah lebih baik kan?" Cecar Rian tak puas dengan jawaban Papa Arya. Mama Intan yang duduk disebelah Rian segera mengambil alih handphone itu dan mematikan panggilan secara sepihak, tak sanggup mendengar hal itu lagi


"Kenapa ma? Kenapa dimatiin? Kenapa papa nggak bisa dateng? Ada apa memangnya dengan Aqila?"

__ADS_1


"Enam hari lagi..."


"Iya wisuda Rian enam hari lagi" Mama Intan menggelengkan kepalanya


"Enam hari lagi Aqila operasi" ucapnya dengan suara serak, tangisnya pecah begitu saja mengingat tentang Aqila, betapa berat ujian yang ditanggung anak seusia dirinya


"Operasi? Aqila udah kemo..."


"Kemoterapinya gagal, dokter harus segera melakukan operasi agar sel kanker tak semakin menyebar"


"APA?" Darren yang baru menuruni tangga sayup-sayup mendengar suara ibunya dan bertanya untuk memastikan pendengarannya


"Mama bilang apa? Bilang sama Darren kalau Darren cuma salah dengar tentang operasi" Mama Intan menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menggelengkan kepala


"Mama juga berharap kalau ini hanya mimpi semata, mimpi yang tak pernah hadir dalam kehidupan nyata, tapi ternyata tuhan telah menggarisnya menjadi nyata"


"Kapan operasinya?"


"Itu hari wisuda Rian" gumam Darren pelan


.


Sementara itu seseorang dengan hati secerah mentari nampak sedang memilih-milih pakaian yang akan ia kenakan di hari yang istimewa dan begitu dinantikan. Bukan karena berakhirnya masa kuliah dan ia akan segera mendapat gelar sarjananya, tapi lebih kepada menanti seseorang yang berhasil menjungkir balikkan dunianya


"Yang ini aja Naufal, motifnya bagus" Gempano menunjuk batik berwarna coklat dengan motif flora yang indah


"Kalau Aqila nggak suka gimana?"

__ADS_1


"Kalau orang sudah cinta, tak peduli lagi tentang motif pakaian seperti ini" Komentar Panil, tak ada yang menyangka bahwa empat sahabat yang dianggap badboy kampus itu kini telah menyelesaikan kuliah mereka, dan yang lebih mencengangkan lagi, Vian yang dianggap paling normal dan paling anti perempuan tiba-tiba menikah dengan adik tingkatnya yang satu jurusan. Ketiga sahabat itu tak ada yang percaya saat Vian hanya memberitahu mereka lewat pesan singkat, tanpa undangan atau kabar burung lainnya, mereka yang awalnya tak percaya akhirnya hadir, dan benar saja acara pernikahan sedang berlangsung dirumahnya


Panil yang dikenal paling playboy bahkan belum menemukan belahan jiwa yang sesuai, Naufal menyuruhnya bertaubat, selain karena gara-gara Panil pula dirinya dianggap playboy, ia takut kalau laki-laki itu mendapat karma karena suka mempermainkan hati perempuan. Sedangkan Gempano, jangan ditanya bagaimana bucinnya laki-laki itu pada Renata, walau sering dinasihati Naufal kalau pacaran itu haram, ia mengatakan akan menikah kalau Renata juga siap menikah


"Tapi bener kan Aqila besok juga dateng?" Tanya Renata, tak bisa dibohongi lagi kalau dirinya ikut bersemangat medengar ini


"Kata Rian seperti itu" jawab Naufal


"Aqila suka dengan warna biru" ucap Renata


"Langit yang membentang luas berwarna biru yang indah, samudra yang dalampun mempunyai ciri khas warna biru yang indah, begitu pula biru langit malam dengan hiasan bintang, biru adalah warna yang membuatku melihat dunia lebih indah, dan membuatku tau kalau dunia ini begitu luas dan punya banyak misteri yang belum bisa dipecahkan, itu adalah kalimat Aqila setiap kali kami akan melukis, warna biru tak pernah hilang dari detail karyanya" ungkap Renata


Naufal yang mendengarnya seketika juga terikat dengan buku bersampul biru yang ditemukan terjatuh dari tas Aqila


Ia meletakkan kembali baju batik berwarna coklat yang sempat diambilnya, pandangannya jatuh pada baju batik berwarna biru gelap persis seperti langit malam dengan motif batiknya yang berwarna sedikit keemasan, nampak begitu indah, ia mengambilnya dan tersenyum


"Pelangimu siap datang, badai ini akan segera berlalu, selanjutnya hanya langit biru dan cahaya mentari yang nampak diwajahmu" gumamnya tersenyum, tanpa tau tentang apa yang sebenarnya terjadi


.


Hari yang cerah dengan langit biru memang waktu yang indah untuk bersenang-senang, menikmati harumnya berbagai bunga musim panas yang mulai bermekaran dan berjemur merasakan teriknya pancaran sinar matahari


Siapa yang mengatakan Aqila tak menikmati hari ini? Ia menikmatinya, menikmati hangatnya sinar matahari pagi yang menembus kulit dengan duduk sendiri dibangku taman yang tak jauh dari rumah yang mereka sewa sebagai tempat tinggal selama disini, tangannya bermain dengan indah menggambar sesuatu diatas secarik kertas putih


"Aku pikir hanya orang gila yang melakukan cara itu untuk bunuh diri" Aqila membuka matanya, menoleh kesamping dan melihat laki-laki memakai kaos pendek dan celana selutut duduk di kursi sebelahnya yang kosong


"Aku memang gila" jawab Aqila singkat, ia kenal laki-laki dengan rambut coklat dan mata biru itu, laki-laki yang menariknya dari aksi gila yang ia lakukan kemarin. Aqila terdiam sejenak menyadari sesuatu

__ADS_1


"Kamu bisa bahasa indonesia?" tanyanya menatap kearah laki-laki itu


"Ibuku adalah orang indonesia asli, tapi kami ikut ayah tinggal disini" Aqila menutup mulut seperti tak percaya, ia memang sering berkenalan dengan anak tetangganya yang sebaya dengan dirinya, dan rata-rata dari mereka adalah penduduk asli sini


__ADS_2