Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Tentang Jodoh


__ADS_3

"Benturan pada kepala Naufal cukup keras, pasien mengalami pendarahan hingga membutuhkan banyak kantong darah, kami sudah berusaha semaksimal mungkin dan Naufal dinyatakan koma setelah operasi"


"Benturan itu mungkin membuat memori otaknya sedikit bermasalah, hingga melupakan beberapa kejadian atau orang tertentu, kita tak tau apa itu sementara atau permanen, tunggu sampai Naufal sadar baru kita bisa kembali memeriksanya"


Jelas Darren setelah berada dalam dinginnya ruangan operasi hampir lima jam, tubuhnya begitu letih tapi memang inilah tugasnya sebagai penolong banyak orang


"Berapa lama kira-kira Naufal bisa sadar kembali dari komanya?" tanya Abi Umar


"Hal itu sulit untuk dipastikan, tapi pendengaran manusia sangat tajam mulai dari dalam janin, karena itu walaupun Naufal koma dia masih bisa mendengar orang yang berbicara dengannya, jadi berikan semangat dan do'a agar ia bisa kembali pulih" jelas Darren


"Terima kasih Darren" Darren hanya mengangguk dan berniat kembali keruang adiknya, tapi suster yang ia mintai tolong menghampiri dan mengatakan kalau adiknya sudah diantar pulang oleh Davin, sepupunya


.


"Apa memang Aqila belum ditakdirkan bisa bahagia ya kak?" Aqila menatap langit malam namun malam ini jutaan bintang tertutup awan kelabu sama seperti suasana hatinya


"Kakak hanya bisa bilang sabar ya, ujian manusia itu terus datang selama mereka masih bernafas" Devano, sebagai kakak sulung membawa kepala Aqila bersender di dadanya untuk dijadikan sandaran


Jarak yang dulu terbentang jauh kini mulai terkikis perlahan, hubungan mereka semakin baik seiring berjalannya waktu, walau kadang terasa canggung karena terasa berbeda


"Ujian Aqila saat ini memang belum ada apa-apanya dari pada ujian para nabi atau para orang-orang shaleh, Nabi Ayyub yang diberi penyakit, kemiskinan, ditinggal anaknya, dan dijauhi semua orang atau seperti Nabi Muhammad yang sudah kehilangan kasih sayang sang ayah bahkan ketika masih dalam kandungan, ditinggal ibunya saat masih kecil, ditinggal kakek yang selalu mendidiknya dan ditinggal pamannya yang merawat dan mengajarinya berdagang kemudian tak lama ditinggal istrinya Siti Khadijah"


"Rasulullah banyak kehilangan, tapi bukan hanya itu ujian yang diberi Allah, beliau dicaci dimaki, dilempari kotoran unta, bahkan ingin dibunuh"

__ADS_1


"Aqila pahamkan maksud semua itu? Allah menguji seseorang sesuai batas kemampuan hambanya, Allah tau Rasulullah orang yang bersabar dan gigih berjuang demi tegaknya agama Allah, dan ia tak mudah menyerah melainkan berjuang dan terus berdo'a karena percaya akan ada buah manis dari hasil perjuangannya" Jelas Devano


Aqila mengangguk, ia sadar akhir-akhir ini ia sering melihat kakak sulungnya itu belajar agama, mungkin karena Devano ingin menjadi imam yang baik untuk istrinya


"Coklat panas sangat cocok untuk seseorang yang hatinya sedang bersedih" Reyna datang membawa nampan berisi lima gelas cokelat panas, setelah meletakkannya diatas meja kayu yang berbentuk melingkar disana, Darren dan Rian datang dan duduk dikursi yang tersisa


"Malam ini gerah banget, kayaknya mau turun ujan" Rian mengibas-ngibaskan kerah bajunya untuk memecah rasa canggung di antara mereka berlima dan melirik Aqila yang terdiam menatap uap yang mengepul dari coklat panas dalam gelas


"Kak Rian yang kemarin buat Galang babak belur ya?" Reyna menatap Rian dengan pandangan penuh tanya


"Iya, jangan deket-deket lagi sama laki-laki kayak gitu, kakak nggak suka" tegas Rian


"Lebih baik Reyna fokus kuliah aja ya, jangan pacaran dulu, biar nggak sakit hati" Darren ikut menasihati adik bungsunya itu


"Rumah sakit tidak menanggung pasien sakit hati" jelas Darren, membuat mereka tertawa kecuali Aqila yang hanya tersenyum tipis tanpa berniat menanggapi


Wajar saja sifat jahil dan usil adiknya sudah tak seperti dulu walau kadang terlihat, mereka akan egois jika meminta Aqila kembali bersikap seperti itu setelah apa yang mereka lakukan


"Papa senang melihat mereka dekat seperti itu" dari koridor belakang Papa Arya dan Mama Intan melihat interaksi lima saudara itu


"Mama kasian liat Aqila, hatinya pasti hancur sekarang, namun seperti ia selalu berusaha baik-baik saja" Seorang ibu memang yang paling peka dengan kondisi anaknya, namun Mama Intan juga sadar kalau ternyata selama ini ia bersikap kurang adil pada salah satu putrinya


"Aqila berbeda dari saudaranya yang lain, ia lebih pandai menyembunyikan segalanya, ia pandai membuat seseorang tertipu dengan wajahnya yang selalu tersenyum dan tingkah usilnya, nyatanya hatinya sedang terluka begitu dalam"

__ADS_1


"Aqila pasti sembuhkan Pa?"


"Papa akan berusaha lakukan yang terbaik, kalau perlu kita bawa dia berobat keluar negri"


"Bagaimana dengan Naufal?"


"Darren bilang kondisi Naufal saat ini sedang koma, dan kemungkinan besar sebagian ingatannya akan hilang" Papa Arya menarik nafas panjang, malang sekali nasib putrinya


"Dokter Diana juga menjelaskan kalau kanker dalam kepala Aqila bisa mempengaruhi ingatan, apalagi posisi kanker yang terletak didekat memori otak, cukup sulit untuk penanganannya, karena itu papa ingin membawanya keluar negri" Mama Intan mengangguk lemah, air mata yang turun segera dihapusnya


"Jika mereka berdua memang jodoh yang telah ditentukan Allah, mereka pasti bisa kembali bersama nanti, entah dua tahun, tiga tahun, atau lebih dari itu"


"Jodoh sudah menjadi ketetapan Allah saat manusia belum lahir didunia ini, jadi kita percaya kalau tidak ada jodoh yang tertukar"


Sementara itu Aqila yang sedari tadi terdiam bahkan tak menyadari saat darah sudah menetes turun dari lubang hidungnya


"Aqila" Devano yang berada didekatnya mengguncang pelan tubuh adiknya, dan membantu mengusap darah itu dengan tisu diatas meja


"Maaf" ucapnya sedikit linglung, Rian mengingat ucapan Bu Maya dikantor beberapa hari lalu, apa adiknya memang sering seperti ini?


"Kenapa harus minta maaf? Aqila nggak salah" Darren menggelengkan kepalanya dan memegang kepala Aqila agar menatap kearah dirinya


"Anak-anak masuk, sebentar lagi turun hujan" Teriak Mama Intan dari depan sana dan benar saja gerimis mulai turun dan semakin lama bertambah besar menjadi hujan deras

__ADS_1


Langit malam ini begitu mendukung suasana hati Aqila, hujan mewakili air matanya yang turun dan suara gemuruh turut mewakili guncangan hatinya yang bergemuruh hebat saat rentetan kejadian tak terduga dalam hidupnya


__ADS_2