
Renata datang lagi kerumah Aqila pagi itu, Aqila yang sedang menjemur pakaian sampai heran melihat tingkah Renata, gadis itu seperti orang bingung, linglung, putus asa, sedih dan seperti sedikit bahagia. Wajah itu memancarkan berbagai ekspresi
"Qil" ucapnya, ia bahkan lupa menstandar motornya saat baru masuk, sampai motor itu jatuh begitu saja
"Pelan-pelan Ren, kenapa sih?"
"Bentar" selesai menstandar motor itu, ia malah kembali menyalakannya. Aqila sampai bingung sekali melihatnya
"Kamu kenapa Ren?"
"Aku kenapa ya?" Akhirnya ia kembali mematikan motornya dan menubruk tubuh Aqila, hampir saja ia kehilangan keseimbangan
"Kenapa? Ada masalah? Tentang Gempano lagi?" Renata menggelengkan kepalanya tapi kemudian mengangguk dan kembali menggeleng
"Tentang Galang"
"Galang kenapa?" Tanya Aqila, ia membuang air sisa jemuran dan pergi kehalaman belakang rumahnya, Renata hanya mengikuti saja.
"Aqila aku udah tunangan sama Galang" ucapnya dengan nada cepat
"Oh kapan?" Aqila menyadari ucapan Renata, ia yang sedang merapikan ember bekas cucian langsung berbalik kearah Renata
"Tunangan? Kapan? Kenapa? Kok bisa?" Pertanyaan beruntun langsung diberikan Aqila untuk sahabatnya, ia menarik tangan Renata untuk duduk di kursi taman yang sudah disediakan disana
"Tadi malam"
"Bagaimana ceritanya?"
"Sepulang dari sini aku melihat ayahku, ternyata dia kehotel, aku sudah curiga dan memikirkan yang tidak-tidak, ternyata dia malah bertemu dengan ibuku, karena tidak ingin ketahuan mereka, aku masuk kamar hotel disebelahku tiba-tiba, itu kamar Galang, jadilah sepert ini"Renata menarik nafasnya, kejadian tadi malam juga salahnya, sekarang ia hanya bisa berandai. Andai ia tak curiga dan mengikuti ayahnya, andai ia tak sembunyi ditempat lain atau andai ia melihat sekeliling dulu baru keluar
"Orang tuaku berfikir yang tidak-tidak, jadilah dia menyeret kami menemui orang tua Galang"
"Galang nggak nolak? Atau ngelawan? Atau berusaha ngejelasin?" Aqila merasa agak heran kalau Galang menerima begitu saja
"Itulah masalahnya, dia hanya berusaha membela diri sekali dan langsung setuju untuk bertunangan tadi malam, TANPA PERLAWANAN" Renata menakan kata tanpa perlawanan untuk memperjelas keanehan yang terjadi pada Galang
"Tanpa perlawanan?" Aqila mengulangi pertanyaan Renata
__ADS_1
"Berarti mungkin dia suka sama kamu"
"Ngawur" balas Renata, nada bicaranya jelas tak suka. Menurutnya tak mungkin Galang menyukai dirinya, padahal kemarin di restoran laki-laki itu menyatakan menyukai Aqila
"Apa laki-laki memang seperti itu ya Qil? Suka mempermainkan hati perempuan" Renata menatap langit biru dengan awan putih diatasnya, apa kisah cintanya memang selalu seperti ini
"Ren, bukankah aku sudah bilang kemarin, jangan pernah menilai laki-laki itu sama. Laki-laki itu nggak semuanya kayak Kak Gempano" Aqila sebenarnya agak sulit mengerti tentang perasaan yang dialami Renata sekarang, ia tak pernah mengalami hal ini, walau sempat agak curiga pada Naufal di awal pertemuan mereka kemarin. Masalahnya mereka hanya terpisah jarak dan kemungkinan maut, sedangkan Renata tertahan restu orang tua Gempano, dan sekarang tiba-tiba bertunangan dengan Galang karena terciduk dihotel
"Aku juga nggak mau berfikiran seperti itu Qil, tapi aku juga nggak mau secepat itu percaya pada Galang"
"Karena takut dikecewakan lagi?" Renata mengangguk untuk pertanyaan itu. Semuanya terlalu mendadak, kemarin pagi ia dikecewakan Gempano hingga hilang malas lagi berurusan dengan hati, tapi malam harinya ia malah bertunangan dengan Galang. Apa tidak terlalu aneh?
"Begini saja Ren, ini sebenarnya tak baik, tapi kamu jangan jadikan ini untuk niat" Renata menggaruk kepalanya, Aqila malah menambah kebingungannya dengan maksud yang berbelit. Tak baik tapi jangan diniatkan?
"Maksudnya?"
"Kamu mikir aja gini, Kak Gempano pasti mikir kamu kecewa banget sama dia, jadi kamu menutup hati untuk laki-laki lain. Dia pasti mikir kamu gagal move on sama dia"
"Terus?"
"Terus kamu buktiin dong kalau kamu Renata yang nggak lemah cuma karena laki-laki kayak dia, kamu kasih dia undangan pernikahan kamu, jika mungkin pergi berdua dengan Galang, terus bilangin jangan lupa dateng. Artinya secara nggak langsung kamu ngomong 'Lo pikir gue gagal move on? Nih gue juga bisa kayak lo' ngerti nggak?" Renata yang sedari tadi lesu, bingung, dan terlihat menyedihkan langsung berseri-seri
"Tapi ingetloh jangan diniatin buat bales dendam" peringat Aqila
"Terus gimana?"
"Ya niatin nya cuma buat kasih undangan aja" Renata mengangguk, walau ia agak kurang yakin
"Terus kapan?"
"Delapan hari lagi"
"Kalian udah buat persiapan?"
"Galang bilang mau ngurus cuti dulu, setelah itu baru mulai persiapan lain, kayak beli cincin dan gaun pengantin, untuk dekorasi, undangan dan lainnya itu urusan para orang tua"
"Jangan sedih Ren, kamu hanya perlu ikhlas untuk menerima, insyaallah semuanya jadi lancar, kamu harus punya pikiran positif atas apa yang telah Allah berikan, karena dibalik semua ini ada hikmah yang ia siapkan untukmu"
__ADS_1
"Rencana Allah tidak ada yang tau, tapi kita tetap ingat, kalau ia tidak akan menguji seorang hamba diluar batas kemampuannya" Renata tersenyum mengangguk, ia memeluk Aqila erat, apa setelah pernikahannya ia masih bisa sering bertemu dengan Aqila?
.
Diruangan yang didominasi warna biru dan putih, seorang laki-laki fokus membaca deretan angka demi angka di layar komputernya, hingga suara ketukan pintu menyadarkannya
"Assaalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
"Sepertinya kau sedang sangat sibuk hari ini" Naufal berdiri dari kursinya, menjabat tangan laki-laki yang baru saja masuk ke ruangannya
"Kenapa tidak memberi kabar kalau kau akan datang?" Laki-laki dengan hidung mancung dan wajah khas timur tengah itu hanya tersenyum
"Aku bukan orang penting yang perlu disambut"
"Jangan katakan itu Maher, kau adalah teman bisnis kami, jelas adalah tamu penting" Naufal mempersilahkan laki-laki itu duduk disofa
"Kau repot sekali, aku hanya ingin bertanya tentang perkembangan proyek kerja sama kita"
"Aku sudah memutuskannya, aku yakin orang-orang pasti menyukainya" Naufal dan laki-laki itu, Maher Ahmed, melakukan kerja sama untuk pengembangan menu restoran mereka
Maher Ahmed sendiri adalah seoarang pengusaha kuliner asal negara yang dulunya dijuluki Konstatinopel sekarang dikenal dengan Turki. Negara yang berada diantara dua benua yakni eropa dan asia
Naufal bertemu dengan laki-laki itu yang kebetulan ingin membuka cabang di Indonesia, disinilah Naufal memanfaatkan peluang dan mengajak bekerja sama, dengan menambahkan makanan khas Turki di menu restoran mereka. Awalnya ia pikir mungkin agak sedikit sulit karen bahasa mereka berbeda, ternyata ayah laki-laki itu aslinya orang Indonesia dan Maher juga mempunyai bahasa Indonesia yang cukup lancar
"Maaf, aku tidak bisa hadir di pernikahanmu kemarin, cuaca sedang buruk saat itu hingga penerbangan ditutup"
"Aku mengerti, kalau begitu besok aku yang datang ke pernikahanmu" laki-laki itu tertawa mendengar ucapan Naufal
"Aku belum menemukan perempuan yang tepat"
"Benarkah? Aku pikir Turki dijuluki negara dengan perempuan tercantik di dunia"
"Tapi aku ingin perempuan Indonesia, mereka seperti berbeda"
"Sebentar, ada panggilan telepon" Naufal sedikit mengernyitkan dahi melihat nama Fadila di layar telpon
__ADS_1
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam Naufal, abi ingin bertemu denganmu"