
"Kamu akhirnya menemukan pendamping hidup yang tepat" Bu Tina mengelus kepala putrinya, ia ikut terharu saat mendengar berita kehamilan anaknya. Ia tak salah mempercayakan pada Rian, lelaki yang sabar dan menerima segala kekurangannya
"Terima kasih sudah percaya pada saya untuk menjaga Rani" ucap Rian, ia pun masih merasa hari ini seperti mimpi
"Kami yang harusnya berterima kasih karena kamu mau menerimanya" Pak Bayu sudah minta maaf karena pernah memukuli laki-laki itu
Rian hanya tertawa mengangguk menanggapi, rasa sakitnya mungkin sudah hilang tapi saat ia mengingat itu ia jadi malu sendiri
"Jangan terlalu dipikirkan, bisa saja kamu memang hanya kelelahan, maaf membuatmu takut" Diana mengenggam tangan Aqila, ia jadi merasa bersalah karena mengatakan hal tadi pada Aqila
"Aku mengerti kak, waspada memang tidak ada salahnya" Aqila berusaha tersenyum meski hatinya sudah menyiapkan kemungkinan terburuk, saat menatap anaknya yang bermain dengan ceria bersama sepupunya, ia ingin melihat tawa bahagia itu sampai mereka dewasa nanti, tapi apakah tuhan akan mengizinkan?
Aqila berusaha tersenyum saat mereka mengobrol dan tertawa bersama, bukan karena ia tak ingin memberitau, tapi surat dari dokter harus jelas
Ia sadar tak boleh menyembunyikan ini lagi seperti dulu karena semuanya sudah berbeda, sekarang ia punya keluarga bahagia, suami yang baik dan mencintainya, juga anak-anak yang masih membutuhkannya
Hampir jam setengah sepuluh malam barulah acara berakhir, obrolan mereka ketika sudah bertemu memang sepanjang itu, mulai dari urusan pekerjaan, anak-anak, kesehatan sampai membahas hal yang sedang populer di media sosial
"Kalian menginap saja disini, Ila dan Ilal sepertinya sudah mengantuk, lagipula besok minggukan?" Mama Intan memberikan saran saat Aqila dan Naufal pamit
"Kamar kamu masih sama, bibi selalu membersihkannya"
Naufal menoleh kearah Aqila, meminta saran pada istrinya, tak enak sebenarnya menolak
"Aqila nggak nyiapin baju ganti"
"Pakai baju Yusuf dan Zara, baju-baju saat mereka seusia Ilal dan Ila, masih bagus kok" ide dari Devano membuat mereka akhirnya memutuskan untuk menginap
Mungkin karena kelelahan dua anak itu langsung terlelap begitu tubuhnya menyentuh tempat tidur, Aqila menutup tubuh mereka dengan selimut setelah memastikan mereka nyaman dengan posisinya
"Kamu juga istirahat, jangan terlalu lelah" ucapan Naufal membuat Aqila kembali mengingat hal itu, ia ingin bercerita tapi belum pasti juga, ia janji akan bercerita besok setelah pulang dari rumah sakit
"Aku berharap kita bisa melihat mereka tumbuh besar bersama dengan bahagia, saat dimana kita bisa melihat mereka memakai toga wisuda dan menemukan pendamping mereka" Aqila mengelap sedikit sudut matanya saat mengatakan itu
"Tentu saja, kita akan menemani mereka sampai saat itu tiba"
"Kak Naufal" terdiam cukup lama, akhirnya Aqila berani memanggil nama Naufal yang sepertinya akan terlelap kealam mimpi
__ADS_1
"Hmmm" hanya gumaman yang terdengar dari jawaban laki-laki itu sepertinya ia memang akan tertidur
"Kak Diana nyuruh kerumah sakit besok, untuk pemeriksaan selanjutnya, dia nggak bilang apa-apa tapi cuma nyuruh aku buat waspada" suara Aqila sangat lirih saat mengatakan itu, tak ada jawaban dari Naufal, saat ia menoleh kearahnya, suaminya ternyata sudah lelap
Aqila menarik nafasnya panjang, ia akan bicarakan tentang hal ini besok saja, sulit sekali rasanya membayangkan ini, saat ia harus menjalani pengobatan lagi atau mungkin akan pergi meninggalkan dua anaknya yang masih membutuhkan dirinya
"Maafin bunda nak, tolong jadi kuat kalau bunda benar-benar pergi"
Aqila tak sanggup mengatakan apapun lagi kala merasakan cairan hangat menetes dari hidungnya, ia berlari kekamar mandi dengan menahan sesak didadanya, dulu mungkin tak akan sesakit ini rasanya, tapi mengingat bagaimana buah hatinya, semangat untuk hidup harus lebih besar jika benar penyakit itu kembali
"Tuhan, aku pikir hidupku sesederhana itu"
Menjelang pukul setengah tiga pagi, mata Aqila dipaksa terbuka saat mendengar suara ponsel berdering keras, tak hanya ia ternyata Naufal juga terbangun karena itu
"Siapa?" Gumamnya saat melihat ponsel Aqila berbunyi cukup keras diatas nakas
"Kak Hasan?" Aqila mengernyitkan alisnya, jarang sekali kakak iparnya menelpon dan sekarang tiba-tiba di waktu seperti ini
"Halo, Assalamu'alaikum kak"
"Wa'alaikumussalam Qil, Naufal ada?" Ia bertanya dengan suara seperti menahan sesuatu, Aqila langsung menyerahkan handphone itu pada Naufal
"Fal, abi abi.."
"Abi kenapa?" Nada Naufal langsung berubah panik
"Abi telah pergi" panggilan terputus begitu saja setelah Hasan mengatakan itu, Naufal masih terdiam mematung mencerna apa yang baru saja keluar dari mulut kakaknya
"Kak Naufal kenapa?" Aqila mengguncangkan lengan suaminya yang tiba-tiba terdiam
"Abi pergi Qil" lirihnya
"Per pergi" Aqila terbata mengucap kata itu, entah kenapa yang diotaknya saat mendengar itu langsung tertuju pada tiga kata 'tak akan kembali'
"Ayo kita ke ponpes sekarang" Aqila menyibak selimut mereka dengan pelan, takut membangunkan anaknya yang masih terlelap dengan posisi tidur yang sudah tak beraturan
"Anak-anak bagaimana?" Suara Naufal bergetar, tangan Aqila ikut gemetar, entah kenapa diwaktu sunyi seperti ini tubuh selalu gemetar saat terkejut, mungkin karena kesadarannya terpaksa ditarik
__ADS_1
"Aku akan memanggil mama dan papa, anak-anak bisa menyusul besok pagi" ia berjalan membuka pintu kamarnya, rumah masih terbilang gelap karena semuanya masih terlelap dialam mimpi
"Mah" bahkan suaranya yang kecil seperti berbisik terdengar jelas dikeheningan
Ia sebenarnya tak enak menganggu waktu istirahat orang tuanya, tapi ia juga tak mungkin membawa buah hatinya yang masih terlelap ikut ke ponpes
"Pah" ia memberanikan diri sedikit mengetuk pintu
Pintu didepannya akhirnya dibuka, Mama Intan muncul dengan menutup mulutnya yang sedikit menguap
"Maaf mengganggu waktu tidur mama dan papa, tapi abi"
"Abi Umar kenapa?" Kesadaran Mama Intan langsung kembali mendengar nama mertua putrinya
"Abi meninggal" lirihnya
"Apa?!"
"Kenapa?" Papa Arya ikut keluar saat mendengar suara Mama Intan sedikit keras, ia pikir putrinya hanya butuh sesuatu
"Abi Umar meninggal"
"Innalillahiwaina illaihi roji'un" Papa Arya sama terkejutnya
"Aqila sama Naufal mau pergi ke pesantren, Aqila bisa nitip anak-anak? Mereka masih tidur"
"Mereka pergi besok pagi menyusul bersama kami, maaf tidak bisa ikut sekarang" Aqila mengangguk mengerti
"Maaf merepotkan kalian"
"Kamu bicara apa? Dia cucu kami jadi sudah pasti kami tidak masalah" Mama Intan tak suka mendengar putrinya berucap seperti itu
"Hati-hati dijalan, bilangin Naufal jangan ngebut, tetap hati-hati keselamatan itu nomor satu" Aqila mengangguk dan pamit mencium tangan kedua orang tuanya, selanjutnya disusul Naufal yang baru keluar kamar dan berjalan kearah mereka
"Kuatkan hati kamu" Papa Arya menepuk pundak menantunya yang terlihat bagai orang linglung
"Pasti pah, maaf merepotkan untuk Ilal dan Ila"
__ADS_1
"Tidak sama sekali"
Ditengah malam, purnama bagaikan lampu untuk bumi, alunan gemersik dedaunan bagai bisikan halus, aktifitas yang padat pagi hari terlihat lenggang ditengah malam, tak banyak kendaraan yang melintas, mereka pastinya orang yang punya kepentingan atau mungkin memang sekedar ingin mengusir beban dunia dari pikiran mereka dengan menghirup segarnya udara sepagi ini