Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Cemburu?


__ADS_3

Hari ini adalah satu minggu tepatnya dari kedatangan Naufal ke rumahnya yang berarti sekarang bertepatan dengan pernikahan Hasan, Kakak Naufal


Pernikahan itu sederhana tak terkesan mewah, namun suasanya begitu ramai karena banyaknya santri-santri dengan pakaian putih dan sarung hijau tua yang senada, itu justru menjadi pemandangan yang indah dan menyejukkan mata terlebih suara sholawat terlantun merdu menyambut setiap tamu undangan yang hadir


"Masya Allah, kira-kira pulang dari sini gue bisa dapet jodoh santri atau ustadz nggak ya?" Bisik Renata pada Aqila disebelahnya


Pagi ini mereka berangkat pagi-pagi sekali karena takut terjebak kemacetan, Renata ikut satu mobil dengan Aqila dan kedua orang tuanya tentu saja itu karena permintaan Aqila dengan alasan agar dia punya teman yang bisa diajak mengobrol, sedangkan keluarga Papa Radit berada di mobil yang lain dengan Davin juga Naya, istrinya. Kirana dan semua saudaranya tak bisa ikut hari ini karena punya kesibukan masing-masing


"Inget Ren, jodoh itu cerminan diri kita, kalau lo kayaknya cocok jadi jodoh Galang atau Kak Gempano" Setelah mengatakan itu, sebuah pukulan cukup keras diterima Aqila di lengannya dari Renata yang menatapnya tajam


Membicarakan tentang Galang, Reyna sama sekali tidak mengadu kepada keluarganya, namun Aqila sempat melihat mata adiknya itu sembap di pagi hari, setibanya di kampus ia justru melihat Galang babak belur berjalan tertatih-tatih digandeng temannya menuju mobil, sudah Aqila tebak itu pasti ulah Rian, yang tak terima adik kesayangannya diperlakukan seperti itu


"Cuma bercanda Ren, jangan dimasukin ke hati" Renata hanya mengangguk malas, ia juga tau kalau Aqila memang sering bercanda seperti itu


"Lo inget nggak pas lo bilang Naufal sempat dijodohin?" Tanya Renata tiba-tiba membuat Aqila berfikir sejenak kemudian mengangguk


"Liat perempuan yang duduk disebelah Ummi Naufal?" Aqila mengikuti arah pandang Renata kemudian mengangguk kembali, ia memang sempat memberitahu Renata tentang orang tua Naufal karena sahabatnya itu yang tak berhenti bertanya seperti wartawan


"Dia Fadila, yang semula jadi calon Naufal" Renata mengubah suaranya menjadi serius


"Kok tau?" Aqila mengernyitkan dahi bingung, Renata sudah seperti detektif saja


"Gue nggak sengaja denger santriwati bisik-bisik tadi saat ke kamar mandi, mereka bilang kalau padahal Ustdadzah Fadila sama Ustadz Naufal itu cocok"


"Dari mana lo tau kalau dia Fadila?"


"Nggak sengaja denger santriwati tadi manggil dia Ustadzah Fadila" Aqila terdiam sejenak, kenapa suasana hatinya tiba-tiba berubah suram seperti ini

__ADS_1


"Cieee yang cemburu" Renata menggoda Aqila, saat menyadari raut wajah sahabatnya itu yang tiba-tiba murung


"Siapa yang cemburu? Itu masih rencana mantan calon kan?" Tanya Aqila dengan menyebut berbagai gelar yang ia sematkan untuk perempuan yang sempat ingin dijodohkan dengan Naufal


"Tapi menurut pandangan gue yang tak pernah salah, Fadila itu suka sama Naufal, lihat dari caranya akrab dengan keluarga Naufal"


"Ibu Nia bilang dia anak temennya Abi Umar, jadi wajarlah kalau akrab" Aqila sebenarnya berusaha menguatkan hati yang tiba-tiba mulai goyah


"Ya tapi menurut pandangan gue sebagai wanita yang pernah jatuh cinta tatapan mata itu tak bisa bohong"


Renata mungkin cuma bercanda atau berniat menggoda dirinya yang cemburu, tapi Aqila kembali melihat kearah Fadila, dia perempuan yang cantik, manis dan sudah pasti berasal dari keluarga yang punya ilmu agama tinggi. Senyumannya begitu indah, jilbab lebar menutupi kepalanya dan sebagian tubuh bagian atasnya dengan sempurna


Tiba-tiba Aqila merasa tak percaya diri melihat dirinya bila dibandingkan dengan Fadila, dari ilmu agama sampai hafalan qur'an ia jelas berada di bawah Fadila, kenapa Naufal memilih dirinya padahal jelas-jelas Aqila merasa Fadila lebih darinya


Fadila cantik, sholehah, paham agama, seorang hafidzoh, dari keluarga baik, dan tentu ia tak menderita penyakit seperti dirinya


Apa Naufal benar-benar bisa menepati janji karena hati Naufal memilih dirinya?, Apa Naufal bisa berjanji menjadi pelangi yang selamanya memberi warna indah atau justru kebahagiaan semu?


"Hey, kok ngelamun" Aqila tersentak saat tangan Renata tiba-tiba memegang pundaknya


"Nggak apa-apa Ren"


"Wah, jangan bilang lo beneran cemburu dan nggak percaya diri?" Tebak Renata


"Jangan cemburu karena masalah gitu aja dong, mana Aqila si anak seni yang selalu percaya diri menjelaskan makna dibalik lukisannya?"


"Nggak kok, mendadak kepala gue terasa sakit banget" Aqila tak bohong dengan itu, kepalanya yang tadi terasa baik-baik saja, mulai terasa berat dan sakit

__ADS_1


"Terus gimana?" Renata bingung sendiri, ia takut nanti Aqila akan pingsan disini, tak mungkin juga rasanya ia memanggil keluarga Aqila yang duduk di depan bersama dengan tamu istimewa yang hadir


"Gue anterin ke mobil ya?, gue takut lo pingsan disini" dengan mengangguk lemah, Aqila berdiri dibantu Renata yang merangkulnya


"Aqila kenapa?" Dengan jelas Aqila dapat mengenali suara itu walau pandangannya mulai samar


"Kak Regan?, kepala Aqila sakit"


"Ayo kakak antar ke UKS"


"Kakak tau jalan?" Tanya Renata penasaran


"Udah ikut aja" walau menyisakan pertanyaan di benak keduanya, Aqila dan Renata tetap berjalan mengikuti jalan yang dipimpin Regan


"Kak Regan hafal banget jalannya" ditengah rasa sakit yang mendera Aqila masih sempat menanyakan pertanyaan yang berputar dikepalanya kepada sosok sahabat dan kakak yang selalu menjaganya sejak kecil


"Kakak nggak pernah cerita ya? Kalau kakak dulu mondok disini"


"Hah? APA!" Aqila sampai setengah berteriak untuk memastikan pendengarannya, jika benar begitu bukankah artinya Regan dan Naufal itu satu pesantren atau mungkin lebih dekat dari itu


"Kamu nggak salah denger, kakak dulu mondok jadi santri disini, temen calon suami kamu"


Entah kenapa fakta yang baru didengarnya dari Regan semakin membuat sakit kepala itu menjadi, ia pikir pertemuan pertama Naufal dan Regan itu saat Naufal mengantarnya sampai rumah dan Naufal memperkenalkan diri sebagai Auf


Iyah, sekarang Aqila ingat saat Regan menemukannya didekat jembatan durian, mereka bertemu dengan Naufal dijalan dan saat Aqila bertanya darimana mereka bertemu dua orang itu menjawab pertanyaan berbeda, sampai sekarang Aqila belum sempat mempertanyakannya lagi


Rahasia apalagi yang belum ia ketahui? Sekarang Aqila merasa tidakkah keputusannya menerima khitbah Naufal itu salah? Ia belum kenal dekat dengan laki-laki itu tapi dengan yakinnya ia memilihnya sebagai imam yang membimbingnya

__ADS_1


Saat satu persatu rahasia Naufal terbuka, ia merasa menjadi sosok asing yang tak sedekat itu dengan laki-laki yang dikenal sebagai badboy kampus dan ketua geng Felis Catus itu


Pertemuannya dengan Naufal berawal dari kecelakaan Kenzo yang membuatnya semakin terjerat saat mereka sering bertemu di kampus dan Naufal yang selalu datang saat ia menangis seolah perkataan laki-laki itu benar, kalau ia akan datang sebagai pelangi saat hujan telah berlalu


__ADS_2