Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Gagal?


__ADS_3

Musim semi yang mendatangkan kebahagiaan dan disambut suka cita oleh semua orang, nyatanya tak seindah dan semenyenangkan itu untuk Aqila


Awal bulan Mei musim semi segera terganti musim panas, sebagian besar orang bahagia namun kebahagiaan itu bukan untuk dirinya


"Dari hasil kemoterapi selama ini, tak ada perubahan dengan kanker otak dalam kepala Aqila"


Kata-kata dokter yang terdengar begitu menyakitkan untuknya, salahkan ia yang tak sengaja lewat ingin menemui Papa Arya, namun justru mendengar sesuatu yang seperti mematahkan semua semangat dan keinginannya untuk hidup


Memandang langit musim semi yang berwarna biru cerah dan awan putih yang indah, Aqila melepas cincin yang tersemat pada jari manisnya


"Kau pembohong Naufal Pradana Al-Ghazali, dimana semua janji-janjimu?" lirihnya dengan suara parau, namun sesaat kemudian kembali menggelengkan kepalanya


"Tidak, aku yang terlalu percaya dengan semuanya"


" Kamu memang pelangi seperti apa yang sering kamu katakan, persis seperti pelangi yang pernuh warna dan hanya sementara, karena besok aku mungkin sudah pergi dan tak akan kembali lagi"


"Apa kabarmu disana pelangi? Kapan kau bisa mengingatku? Cahayamu mulai terlihat pudar disini, Apa sudah ada seseorang yang mengisi hatimu?" Menahan rindu dengan penantian panjang yang tak pasti, menahan rasa ingin bertemu di tengah jarak ribuan kilo yang membentang, dan menahan rasa ingin bercerita tentang segalanya disaat kenangan-kenangan itu sudah seperti kaset rusak dengan beberapa potong gambar yang hilang


"Aqila" Devano memanggil dengan sedikit berlari kearah adiknya


"Kenapa kak?" Aqila bertanya saat Devano sudah berdiri didekatnya


"Kakak minta maaf, harus pulang ke Indonesia lebih dulu, karena pekerjaan kantor yang mulai menumpuk dan Pagi ini Mama telpon katanya Kak Diva terpeleset di kamar mandi"


"Astagfirulloh terus keadaannya gimana?"


Aqila jelas mengkhawatirkan Diva, wanita yang resmi menjadi kakak iparnya empat bulan lalu, sayangnya karena kandungannya yang lemah membuat dokter melarangnya melakukan perjalanan jauh


"Alhamdulillah, kata dokter tidak ada masalah dengan kandungannya"

__ADS_1


"Kak Diva hamil?" Devano terdiam sejenak kemudian menjawab 'iya'. Padahal ia sudah memberitahu Aqila jauh-jauh hari


"Jaga diri disini baik-baik ya, Kak Rian seminggu lagi wisuda, kita semua harus datang, kemoterapi Aqila sekarang sudah selesai dan Papa bilang tadi malam, kalau kondisi Aqila pasti jauh lebih baik setelah kemo"


"Kakak bisa lega, kalau melihat Aqila juga lebih baik" Aqila tersenyum dan mengangguk, papanya pasti belum memberitahu siapapun tentang kondisinya


"Dimana papa sekarang?"


"Katanya tadi pagi bertemu dokter, tapi tidak tau sekarang ada dimana"


"Aqila juga pasti segera bisa pulang kerumah, kekampus, main bersama teman-teman yang lain, karena kemo udah selesai" kata-kata semangat yang dikeluarkan dari mulut Devano seperti kalimat mengejek untuk Aqila karena tentu semua itu tak semudah yang dibicarakan


"Jaga diri baik-baik ya, Kakak pergi dulu"


"Kak Devan" Aqila memanggil Devano yang sudah berbalik badan hendak pergi dari sana


"Ya? Kenapa?"


"Hanya melihat keadaannya saja" potong Aqila cepat saat Devano hendak kembali kearahnya


"Baiklah"


"Intinya Aqila harus percaya kalau memang jodoh manusia itu tak akan tertukar" Aqila tersenyum dan mengangguk lantas mendudukkan kembali dirinya dikursi saat bayangan Devano menjauh


"Lo tuh cuma bisa ngerepotin orang lain Aqila, Kak Devan ninggalin istri dan urusan kantor demi lo, Kak Darren sampai sempat dimarahi karena nggak dianggep profesional dalam bekerja, Kak Rian bahkan sempat dimarahi dosen, Mama sama Papa capek bolak-balik terus, Reyna kesepian karena mama atau papa kadang nggak ada, lo tuh cuma beban yang ngabisin duit banyak buat berobat, cuma jadi beban dan masalah buat orang lain, apa lagi yang lo tunggu disini?, Cinta? Memangnya siapa yang berani jamin tentang itu?" Hati kecil Aqila membisikkan perkataan-perkataan negatif, pikiran-pikiran kotor mulai merasuki kepalanya hingga saat melihat banyaknya kendaraan yang melintas didepan bayangan kotor itu terus seperti menghantui dirinya


"Nggak berguna"


"Cuma nyusahin"

__ADS_1


"Tak diharapkan"


Bisikan-bisikan itu seperti terus terngiang dalam kepalanya


Sementara itu disisi lain rumah sakit, Papa Arya memperhatikan putrinya yang termenung, ia sudah keluar dari ruangan dokter satu jam yang lalu, tapi untuk sekedar mendekati Aqila ia bahkan tak bisa menahan air matanya


"Dari hasil kemoterapi yang dilakukan selama ini, tak ada perubahan ukuran kanker otak dalam kepala Aqila"


"Ta tapi dokter ia selalu terlihat baik-baik saja, memang sempat beberapa kali lupa tapi sekarang ia sudah tidak mimisan sesering dulu"


"Pak Arya tentu tau kalau manusia punya banyak topeng untuk menyembuyikan wajah mereka sampai kita bingung mengenali mana wajah asli yang sebenarnya, tapi manusia tak pernah bingung ingin menggunakan topeng yang mana untuk ditunjukkan pada orang lain"


"Saya melihat Aqila memang memiliki semangat untuk sembuh yang besar, tapi dari sorot matanya seperti tersimpan luka dalam yang masih ragu ia ungkapkan" Papa Arya termenung sejenak dan kembali bertanya


"Apa masih ada jalan lain?"


"Operasi secepatnya"


"Lakukan itu, apapun dan berapapun biayanya saya tak peduli, yang penting putri saya bisa sembuh kembali"


"Operasi memiliki resiko yang cukup besar, kami tak berani menjamin ini berhasil, kemungkinannya hanya 50 dari 100, operasi ini sangat berbahaya karena bisa mempengaruhi fungsi bagian pada otak apalagi posisi kanker dalam kepala Aqila terletak dibagian yang cukup sulit untuk dijangkau" Papa Arya meremas dadanya yang berdetak kuat, kenapa bukan ia saja yang mengalami semua ini, kenapa harus putrinya? Kenapa harus Aqila? putrinya yang begitu ia banggakan, putrinya yang sudah banyak berkorban karena keegoisannya sebagai orang tua, putrinya yang sudah terlalu banyak merasakan sakit


"Saya sering menemui pasien seperti ini, sebagian dari mereka berhasil bertahan karena keinginan yang kuat untuk sembuh dan dorongan besar dari keluarga, tapi ada juga yang gagal sebagian dari mereka karena memang sudah pasrah dengan kehidupannya"


"Intinya berikan semangat penuh untuk Aqila, dia butuh dukungan dari orang-orang terdekatnya dan jangan lupa selalu berdo'a, karena tentang segala urusan dunia ini hanya tuhan yang tau"


"Jangan pernah merasa pasrah dan kehilangan harapan, kita hanya manusia biasa bukan tuhan yang tau segalanya, setelah semua usaha yang telah kita keluarkan selanjutnya biarkan campur tangan tuhan yang berkehendak"


"Papa gagal menjadi pahlawan yang selalu menjadi tempatmu bersandar nak, nyatanya senyum yang selalu kamu tunjukkan didepan papa bukan dari hatimu, kau terlalu banyak terluka dan menanggung semuanya sendirian dari dulu, kau pasti merasa asing dengan semua ini, karena itu kau selalu terlihat baik-baik saja dan bahagia didepan papa, padahal papa sendiri tidak tau seberapa seringnya kamu menahan tangis di malam hari"

__ADS_1


Lagi-lagi Papa Arya menitikkan air matanya, beruntung tak terlalu banyak orang yang berada disana, saat ia melihat lagi kedepan Aqila sudah tak ada disana, matanya melebar saat melihat Aqila seperti sengaja ingin menabrakkan dirinya ditengah ramainya kendaraan yang melintas


"AQILA" Tak peduli menjadi pusat perhatian, ia berlari sekencang-kencangnya terlebih saat sebuah mobil sedan hitam melaju kencang di belakangnya


__ADS_2