Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Rumah Sakit


__ADS_3

"Bunda!" Aqila langsung merentangkan tangannya tersenyum saat anak-anaknya berlari kearahnya


Aqila tersenyum saat anak-anaknya berlari masuk kedalam kamarnya, masih dengan menggunakan seragam sekolah mereka. Ia mencoba bangun dari tidurnya, dengan sigap Naufal yang baru masuk langsung membantu menata bantal dibelakang kepala istrinya


"Bagaimana sekolahnya nak?" Aqila mengelus kepala mereka dengan lembut


"Baik, tadi Ilal dapat nilai bagus dari bu guru"


"Ila juga"


"Hebat" Aqila tersenyum, anak-anaknya sekarang sudah bisa mengucap huruf 'R' dengan benar


Sudah hampir tiga bulan lebih sejak dirinya dinyatakan terkenal glioblastoma, sekarang tubuhnya cepat sekali letih, bahkan tak memiliki tenaga sama sekali. Rambutnya yang hitam panjang perlahan rontok akibat kemoterapi yang dijalani, tubuhnya kian kurus, erangan kesakitan kadang terdengar menyakitkan kala kepalanya merasakan sakit luar biasa. Namun, didepan anak-anaknya ia akan baik-baik saja


"Cepat sembuh bunda, biar kita bisa liburan bareng" Aqila mengangguk mengusap rambut putrinya


"Bunda pasti sembuh" suaranya tercekat, bibir pucatnya bergetar, kanker ini membuatnya merasakan sakit luar biasa


"Kalian mau liburan kemana?"


"Sebelumnya bunda bilang kita akan ke lombok kan? Pantainya bagus kata teman Ilal yang pernah kesana"


"Benarkah? Kalau begitu Ila juga mau"


"Kita akan pergi kesana saat bunda sudah sembuh" Naufal hanya bisa berusaha tersenyum


"Sekarang ganti baju dulu ya?, setelah itu makan siang, nenek sudah bawakan makanan tadi" Aqila jadi kadang merasa tak enak pada Mama Intan atau Ummi Sarah yang sering membawakan mereka makanan


"Aku akan menemani mereka dulu" Aqila mengangguk saat Naufal bangkit dari sebelahnya, setelah kepergian laki-laki itu, ia tak bisa menahan air matanya untuk tak tumpah

__ADS_1


"Akkhhh" sakit kepala karena kanker otak ini membuat dirinya kadang menangis, tapi lebih dari itu hati kecilnya menangis untuk keluarga kecil mereka


"Aku pasti bisa sembuhkan? Aku yakin bisa sembuh"


Glioblastoma, kanker ganas dengan penyebaran yang begitu cepat pada otaknya membuat kadang kala dirinya memilih menyerah, namun suara anak-anaknya yang meminta dirinya sembuh, suara Naufal yang memberikan semangat, menahan dirinya untuk pergi. Meski tubuh sudah tak mampu lagi, tapi hati tak menyerah secepat itu


"Tuhan, andaikan aku benar pergi, tolong jaga dan pastikan mereka selalu bahagia"


Ia menangis saat kadang melupakan Naufal, melupakan anak-anaknya, kanker ini benar-benar mempengaruhi memori ingatannya


"Bunda sakit karena itu nggak inget" Ucap Naufal menjelaskan saat anak-anaknya bertanya kenapa dirinya saat itu, tak bisa dijelaskan karena anak itu tak akan mengerti, kelak saat dewasa nanti mereka pasti mengerti


"Bunda sakit kepala, kepalanya sakit sampai buat dia lupa semuanya" kalimat yang bisa dicerna oleh anak yang hampir memasuki usia lima tahun


.


"Naufal" Darren langsung menghampiri Naufal yang baru saja keluar dari mobil menggendong istrinya


Para perawat sudah menyiapkan brankar di depan, secepat itu Naufal menghubungi Darren saat istrinya pingsan


"Kanker ini sudah menyebar kebagian otak yang lain, kemoterapi dan terapi radiasi yang dilakukan memang sedikit bisa mengendalikan mereka, kondisi tubuh karena pingsan ini adalah bentuk alami karena rasa sakit berlebih yang dialami pasien"


Naufal membuka ruangan istrinya setelah dokter memberitau bagaimana keadaan Aqila, lemah, pucat, kadang kesulitan berbicara dan lupa


"Kamu siapa?" Pertanyaan yang keluar pertama kali saat Naufal baru membuka pintu


"Suamimu"


"Suami ku?" Perempuan itu mengernyitkan sedikit alisnya, kemudia mengangkat tangan kirinya yang tertancap selang infus, melihat jari manisnya yang melingkar cincin emas, ia menolehkan kepalanya kearah lain, tak lama terdengar isakan dari sana

__ADS_1


"Maaf Kak Naufal, aku selalu merepotkan"


"Jangan bicara seperti itu lagi, kau tidak pernah merepotkan"


Aqila menatap kearah suaminya, ia genggam jemari tangan pria itu


"Jaga mereka dengan baik"


"Kita akan menjaganya bersama"


"Jadilah pahlawan yang kuat untuk mereka"


"Kita akan jadi pahlawan bersama"


"Jadilah tempat sandaran yang selalu ada untuk mereka, jadilah guru untuk mereka yang mengajarkan kebaikan, jadilah segalanya"


"Kita akan melakukan itu bersama-sama" Aqila mengangguk dan menutup matanya


"Jangan pergi"


"Aku hanya istirahat sebentar, kepalaku sakit" Aqila sedikit terkekeh dan Naufal hanya menatapnya, ia meletakkan jarinya didepan hidung istrinya memastikan perempuan yang berhasil mengobrak abrik dunianya itu tak pergi


"Aku belum ikhlas melepasmu pergi" laki-laki itu menjatuhkan kepalanya disisi brankar


Pulang sekolah, Naufal menjemput anak-anak dan membawanya pulang kerumah. Tak ada sambutan didepan pintu seperti biasanya, mereka lari naik tangga menuju kamar orang tuanya, karena biasanya bunda mereka sudah menunggu dengan tersenyum disana


Naufal yang melihat pemandangan itu meneteskan air mata, ia belum memberitau anak-anak, bunda mereka ada dirumah sakit. Ia berencana menitipkan pada mertuanya, kemudian akan ia bawa nanti malam. Kalau datang sekarang, anaknya tak akan mau pulang dan rumah sakit bukanlah tempat yang baik untuk anak-anak seperti mereka


"Bunda ada dirumah sakit, kalian kerumah kakek dan nenek dulu ya?, main sama Kak Yusuf dan Kak Zara disana" Ilal dan Ila hanya mengangguk, dua anak itu tau kalau rumah sakit selalu menjadi sesuatu yang tak pernah baik

__ADS_1


__ADS_2