Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
YES!


__ADS_3

"Saya akan datang nanti malam untuk melamar putri anda"


Tak ada yang bersuara, suasana tiba-tiba berubah hening, bahkan tetesan air infus yang jatuh bisa terdengar. Fadila terdiam kaku menutup mulutnya, makanan yang ia bawa di nampan bergetar sampai menimbulkan suara


Apa-apaan maher? Fadila memang mengatakan laki-laki itu boleh berjuang, tapi apa harus sekarang? Fadila bahkan masih belum menyiapkan hati, ini semua terlalu mendadak untuknya. Kepalanya masih pening, memikirkan kesehatan Kyai Utsman, di tambah tentang Gempano dan sekarang laki-laki yang sudah lama tak muncul tiba-tiba mengatakan hal seperti ini? Kepala Fadila sudah ingin meledak saking pusingnya


"Haha, maksudnya apa?" Kyai Utsman sedikit tertawa menanggapi, laki-laki itu tak mungkin serius kan?


"Saya serius, kebetulan orang tua saya sedang ada di Indonesia, jadi saya akan langsung menyampaikan niat baik saya malam ini" Kyai Utsman dan Umi Zahwa menatap kearah Fadila yang hanya berdiri seperti seperti kehilangan kesadaran, sedangkan Naufal, Abi Umar dan Umi Sarah masih berusaha mencerna situasi yang terjadi sekarang


"Fadila bisa dijelaskan maksudnya?" Fadila menunduk, ia tak berani menatap semuanya


"Biar saya saja yang menjelaskan" pandangan kini teralihkan kearah Maher, laki-laki itu menarik nafasnya sejenak sebelum mulai berbicara


"Saya bertemu dengan Fadila di kampus, sikapnya, tutur bahasanya dan wajahnya membuat saya jatuh cinta padanya, hati saya seperti merasakan sesuatu yang berbeda yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Tapi saat saya mengutarakan niat untuk memulai hubungan serius dalam ikatan halal, sekaligus untuk menghindari dosa, saya harus dibuat kecewa karena jawabannya, ia membuat saya berhenti padahal saya belum mulai berjuang"


"Benar begitu nak?" Umi Zahwa mengelus punggung putrinya, dengan terpaksa Fadila mengangguk, ia harus jujur


"Hari ini saya bertemu kembali dengannya, pertemuan yang tak pernah saya duga sebelumnya, saya pikir dia sudah menikah, tapi ternyata belum, karena itu saya meminta izin kali ini untuk mendekatinya lagi" Maher melanjutkan kalimatnya


"Bagaimana jawabanmu nak? Apa kau setuju?" Kyai Utsman bertanya pada putrinya


"Aku memang mengatakan setuju membiarkan dia berjuang abi, tapi tak harus langsung bertunangan malam ini kan, karena karena a aku..." Fadila sedikit terbata mengucapkan kalimat terakhirnya


"Karena kau masih belum mencintainya?" Tebak Naufal, Fadila mengangguk lemah

__ADS_1


"Karena itu aku menyampaikan niatku ini, aku akan berjuang mendapatkan hatimu setelah kita bersama, kali ini aku tak akan sendiri tapi meminta bantuan tuhan. Aku percaya seiring berjalalannya waktu, rasa itu bisa tumbuh" ucap Maher


Naufal menganggukkan kepalanya, pola pikirnya sedikit berbeda dengan Maher, dulu saat Kyai Utsman mengatakan hal yang sama, ia menolak karena hatinya sudah dimiliki orang lain. Konteksnya pun berbeda kali ini, jika dulu ia menganggap itu mustahil karena hatinya masih ada orang lain dan ia tak berniat atau berusaha menyingkirkan nama itu dari sana. Tapi untuk Fadila dan Maher, jika kedua orang itu berjuang bersama, maka semuanya lebih mudah


Kyai Utsman memijit pelipisnya pelan


"Naufal, bagaimana dia menurutmu?" Naufal sedikit tersentak saat tiba-tiba pertanyaan dilontarkan padanya


"Maher menurut yang saya kenal, laki-laki baik, bekerja keras, berjiwa pemimpin dan bisa bertanggung jawab dalam bisnis"


"Maaf pak kyai, kami baru bekerja sama delapan bulan, jadi belum mengenal jelas bagaimana dia, saya yakin Fadila pasti lebih mengenalnya" Naufal melanjutkan perkataannya


"Jadi kau setuju nak?" Fadila menatap kedepan, semua orang menunggu jawaban yang akan ia ucapkan, dengan pelan ia mengangguk


"YES!" Maher bahkan sampai tak sadar memeluk Abi Umar yang didekatnya sampai membuat mereka yang ada disana terkejut, tak terkecuali Naufal, padahal Maher selama yang ia kenal laki-laki yang kalem


"Alhamdulillah" peringatnya pada Maher, lebih baik bersyukur pada Allah terlebih dahulu


"Apa kau yakin nak? Tidak mempertimbangkan yang lain?" Fadila tau yang dimaksud abinya disini adalah Gempano, karena mereka pernah membahas ini. Mungkin abinya juga jadi berfikir dua kali karena melihat Maher yang tiba-tiba berubah menjadi seperti ini, padahal laki-laki itu tadi terlihat kalem, tegas, berwibawa dan penuh kharisma


"Maaf abi, saya refleks tadi, tapi tolong jangan ubah pikiran Fadila pada saya" Maher mencium tangan Kyai Utsman berkali-kali sampai membuat Naufal sedikit menahan tawa


"Jangan panggil abi, kamu bukan anak saya dan juga bukan santri saya" Fadila mengalihkan pandangannya kearah lain, ia takut tawanya meledak melihat ekspresi Maher yang memerah menahan malu


"Anak-anak zaman sekarang, apa kelakuannya memang seperti ini" ucap Abi Umar, ia juga turut bingung

__ADS_1


"Kau tidak ingin mempertimbangkan yang lain?" Umi Zahwa bertanya sekali lagi pada putrinya, ikatan ini bukan hal yang bisa dipermainkan dan disetujui begitu saja, terlebih bukankah ini terlalu mendadak? Baru bertemu kurang dari satu jam langsung bertunangan?


"Saya berjanji akan menjaga Fadila dengan sebaik-baiknya, memenuhi tanggung jawab dan kewajiban saya, dan akan berusaha menjadi imam yang baik dan ia idamkan"


"Kami perlu bukti dan bukan hanya omong kosong saja"


"Bagaimana saya akan membuktikannya? Apa perlu saya panggil orang tua saya dan menikahkan kami sekarang?" Naufal sampai memukul jidatnya, Maher ini benar-benar tak bisa ditebak


"Baiklah, bawa orang tuamu nanti malam, kita bicarakan hal ini baik-baik, yang akan menjalani ini adalah Fadila, tapi bukan berarti kami juga langsung setuju jika Fadila setuju, kami ingin mememilih laki-laki yang benar baik untuknya"


"Terima kasih pak kyai, saya yakin tidak akan mengecewakan" Maher mencium tangan Kyai Utsman, kesempatan ini tidak akan ia sia-siakan begitu saja


.


Danau yang hijau menimbulkan riak-riak air begitu terkena hujan, hujan deras mengguyur, angin bertiup menembus kulit dan pakaian yang basah hingga terasa begitu menusuk sampai tulang


Dari atas jembatan, Gempano memperhatikan itu semua, air hujan yang mengguyur tubuhnya tak ia pedulikan, sekarang ia benar-benar seperti orang hilang arah, sekuat apapun ia menguatkan dan meyakinkan diri, rasa bersalah semakin menyerebak sampai membuat rongga dadanya sesak dengan penyesalan


Apa ia bisa? Bisa membangun rumah tangga dengan perempuan lain tapi hatinya sekarang justru tertaut pada masa lalu, gadis yang ia sakiti, gadis yang ia tinggalkan dengan rasa kecewa, gadis yang pernah menghias harinya semakin berwarna sekarang pergi, pergi dalam sekejap karena satu langkahnya. Langkah yang merubah hidup, hati, dan mungkin masa depannya


Siapa yang ia salahkan? Ibunya? Ayahnya? Atau dirinya sendiri yang terlalu lemah untuk memperjuangkan pilihannya?


"AAAAKHHHH"


Air danau yang berwarna kehijauan, angin yang berhembus dengan udara dingin, hujan yang mengguyur deras dan daun pohon yang berterbangan tertiup angin menjadi saksi betapa putus asanya hati Gempano, ia benar-benar seperti manusia tak tau arah

__ADS_1


.


Banyak Typo...🙏


__ADS_2