Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Jangan Ditahan


__ADS_3

"Kullu nafsin dzaiqotul maut" sudah jelas sekali penggalan firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 185, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian


Siapa kita yang bisa menolak kematian? Siapa kita yang tau sedang apa kita saat malaikat Izrail yang selalu mengintai tujuh puluh kali sehari mencabut nyawa kita?, Tak peduli umur berapa dan siapa ajal akan datang, pertanyaan untuk diri kita hanya satu, apakah kita sudah siap?. Siap untuk meninggalkan dan siap untuk ditinggalkan


"Dia telah pergi menyusul sahabatnya" itu kata Umi Sarah saat Naufal dan Aqila datang kerumah. Yang dimaksud tak lain Kyai Utsman, ia meninggal hampir lima tahun lalu setelah pernikahan Fadila dengan Ahmed. Handphone Naufal tak aktif ternyata, itu alasan Hasan menelpon ke nomornya


Aqila hanya bisa melihat suaminya tanpa ekspresi saat itu, ia tak menangis didepan jenazah abi nya, ia hanya terdiam dan ikut mengaji disana


Tanah yang basah ditaburi bunga dengan ramainya orang yang hadir, para santri dan alumni ponpes Nurul Iman tentu berduka atas wafatnya guru mereka, sosok mulia yang telah mengajarkan mereka banyak hal. Awan mendung seakan ikut berkabung atas wafatnya salah satu hamba Allah dimuka bumi, tanah yang sedikit menggunung ini menjadi bukti, kalau manusia hanya tanah dan akan kembali menjadi tanah


"Kenapa kakek pelgi?" Pertanyaan polos dari anak berusia empat tahun meluncur begitu saja, melihat Kakeknya terbaring tak bergerak membuatnya ikut merasakan kesedihan


Biasanya setiap hari minggu mereka menghabiskan waktu diponpes, Abi Umar bahkan sering mengajak mereka bermain kejar-kejaran juga bersama sepupunya Yasmin dan Sholeh yang hanya berjarak beberapa tahun


"Karena dipanggil Allah" Aqila menjawab pertanyaan putrinya dengan memasukkan sedikit anak rambut yang keluar dari jilbabnya, tersisa keluarga saja disini, tamu dan para santri yang lain sudah kembali ke ponpes


"Kenapa Allah panggil?" Aqila menghela nafasnya sejenak memikirkan kalimat yang tepat untuk menjawab


"Ila ingatkan perkataan bunda kalau kita semua milik Allah, kita ada didunia karena Allah dan kita pergi dari sini juga karena Allah, kehidupan manusia dimulai saat ia lahir dari perut ibunya dan disebut kematian saat ajalnya datang, saat ia dipanggil lagi oleh Allah" anak kecil itu mengangguk, entah mengerti atau tidak dengan penjelasan ibunya


"Bunda juga dipanggil ya? Ila nggak mau kehilangan bunda" anak itu memeluk leher ibunya erat. Aqila hanya bisa tersenyum mengelus punggung putrinya dan mengalihkan pandangan kearah lain untuk menghapus air mata yang tiba-tiba menetes begitu saja


Diana yang berada di belakang mengelus pundak Aqila dan menggelengkan kepalanya, sebagai tanda untuk tidak memikirkan hal yang ia ucapkan semalam, ia jadi merasa agak bersalah karena mengatakan itu pada adik iparnya

__ADS_1


.


"Kalian nggak nginep dulu aja?" Aqila dan Naufal saling menatap, tak enak juga sebenarnya kalau pulang begitu saja, tapi rumah mereka juga telah satu hari ditinggalkan


"Si kembar besok masuk sekolah umi" Naufal mencium tangan Umi Sarah disusul Aqila dibelakang


"Kami usahakan kesini besok setelah mereka pulang" Umi Sarah tersenyum tapi matanya sama sekali tak bisa berbohong kalau hatinya masih bersedih, memang tak semudah itu untuk ikhlas


"Kalian hati-hati dijalan" ia mengelus kepala si kembar yang hampir terlelap dalam gendongan orang tuanya, anak itu pasti mengantuk karena belum tidur siang dan acara dzikir yang baru saja selesai


Benar saja, saat sampai dirumah daun-daun kering dari pohon mangga beterbangan tertiup angin dan berserakan di halaman, rumah terlihat sangat gelap, untungnya mereka sempat menyalakan lampu depan kemarin sebelum pergi, lampu itu pastinya menyala seharian


"Kalau mau nangis, nangis aja jangan ditahan" Aqila menghampiri suaminya yang terduduk ditepi diranjang dengan pandangan kedepan tapi pikiran entah terbang kemana


"Qil, abi pergi" Naufal menjatuhkan kepala di pundak istrinya, dari suara lirih perlahan terdengar isakan kecil dan Aqila merasakan pundaknya sedikit basah


"Abi pergi" lirihnya untuk kesekian kali


"Manusia pasti pergi kak, tidak ada yang kekal didunia ini, karena itu kita harus siap, siap untuk meninggalkan atau siap untuk ditinggalkan"


"Padahal kemarin kami saling bertukar kabar, ia mengatakan dirinya baik-baik saja, kenapa sekarang tiba-tiba pergi?" mengikhlaskan adalah sesuatu yang mudah sekali diucapkan tapi untuk menerapkannya adalah hal tersulit


"Jangan mengatakan itu..." Aqila tau pikiran Naufal sedang kacau sampai menanyakan sesuatu yang ia tau sendiri jawabannya

__ADS_1


"Hanya Allah yang tau tentang rahasia hidup kita, percaya kalau ada hikmah dibalik setiap kejadian membuat kita kadang merasa lebih baik"


"Menangis bukan berarti seseorang lemah, tapi ia sudah kuat terlalu lama" Aqila mengulangi perkataan yang Naufal pernah ucapkan padanya dulu


"Terima kasih" Naufal semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh ringkih istrinya


"Untuk apa?" Aqila menaikkan sebelah alisnya


"Terima kasih sudah mengerti aku dan ada disampingku" Aqila hanya tersenyum simpul, apa dimasa depan bisa terus seperti ini? Ataukah tempat ini akan terganti orang lain?


Bagaimana ia bisa memberitau Naufal jika keadaannya seperti ini? Baru saja ditinggalkan abi nya, apa ia sanggup mengatakan hal yang mungkin membuat Naufal semakin hancur? Aqila menggelengkan kepalanya menepis hal kotor yang belum pasti, tapi bagaimana jika itu nyata? Ia tak bisa bayangkan sehancur apa dirinya


"Kenapa?" Naufal bertanya saat merasakan istrinya menggelengkan kepala


"Apapun yang terjadi di masa depan, Kak Naufal harus kuat menghadapi, Ilal dan Ila membutuhkan pahlawan kuat untuk melindungi, membimbing dan menasihati mereka"


"Kita akan membimbing mereka bersama, mengajari mereka dan menuntun mereka menjadi lebih baik, kita akan melakukannya bersama sampai mereka mendapatkan pendamping hidup masing-masing"


"Jika Allah mengizinkan"


"Maksud..."


"Bunda, Adek Ila pipis" suara Bilal menginterupsi pembicaraan mereka

__ADS_1


"Sebentar" Naufal menatap kepergian istrinya yang menghilang dibalik pintu kamar, ia tak mengerti maksud perkataan Aqila atau lebih tepatnya menolak pikirannya yang menjerumus pada maksud lain


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2