Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Wisuda


__ADS_3

Diatas sajadah yang terbentang, seorang hamba mengangkat tangan, menitikkan air mata, mengungkapkan isi hati, karena ia tau hanya sang pencipta yang mengerti ia bahkan lebih dari dirinya sendiri


"Aqila, waktunya hampir tiba" Darren menyentuh kepala Aqila dan berjongkok mensejajarkan diri, menghapus air mata adiknya yang masih mengalir


"Yakinlah kalau Aqila pasti bisa sembuh" ucapnya pelan dan membawa adiknya kedalam pelukannya, mati-matian ia menahan air matanya agar tak terjatuh begitu saja, namun pada akhirnya pertahanannya runtuh


"Aqila takut" Aqila balas memeluk Darren erat, nyatanya seberapa sering dirinya mengatakan kalau ia berani, tetap saja terselip ketakutan dalam hatinya


"Jangan takut, tetap tenang oke?, ingat semuanya, semuanya menginginkan Aqila untuk kembali tertawa bersama" Aqila menganggukan kepalanya dan menghapus sisa air matanya, ia menatap cahaya mentari yang secara perlahan mulai bergerak ke ufuk barat, sekarang menunjukkan jam empat kurang lima sore, dan operasinya akan dimulai lima menit lagi, artinya di Indonesia sekarang menunjukkan jam empat kurang lima pagi


"Maaf, kalau Aqila punya salah sama Kak Darren"


Darren menggelengkan kepala, ia yang memilih tetap disini menemani Aqila selama operasi, sedangkan orang tua mereka, Rian dan Reyna kembali ke tanah air. Aqila berulang kali mengucap kata maaf saat kepergian mereka, takut dirinya takkan bisa berjumpa lagi. Semalam mereka telah melakukan sambungan video kepada semua keluarga besar Bramadja, mereka memberikan semangat yang besar agar dirinya bisa sembuh, Om Radit berulang kali meminta maaf tak bisa turut hadir menemani, karena jadwal operasi dirumah sakit benar-benar padat, sedangkan Darren sudah meminta cuti sejak kepergiannya empat hari yang lalu, lagipula masih banyak dokter yang bertugas disana menggantikannya. Devano ikut syok tak menyangka kondisi Aqila yang ia anggap mulai membaik sungguh berbanding terbalik dengan fakta yang ada, andaikan ia tau mungkin ia akan tetap disana, tapi ia juga tak boleh egois mengingat jika dirinya juga sudah mulai berkeluarga.


Darren terdiam saat merasakan cairan hangat membasahi pundaknya, ia mengangkat kepala Aqila dan terkejut melihat banyaknya darah yang keluar dari hidung Aqila


"Maaf baju Kak Darren kotor" ucapnya lemah melihat noda merah di kemeja biru yang dipakai kakaknya


"Aqila harus sembuh ya" isak tangis Darren semakin keras seberapa kuatpun ia menyembunyikannya


"Kak Darren jangan nangis, Aqila nggak mau ada orang yang sedih liat Aqila kayak gini"


"Kakak nggak bakal nangis lagi, janji" ucap Darren sungguh-sungguh membuat Aqila tersenyum begitu tulus namun justru membuat Darren semakin ingin menumpahkan air matanya, ia takut, begitu takut kalau ini adalah senyum terakhir yang ia lihat dari wajah Aqila


Aqila bersiap memasuki ruang operasi, dengan memakai pakaian yang telah disediakan, perlahan ia melepaskan tangan Darren yang masih mengenggamnya erat seolah takut kehilangan

__ADS_1


"Aqila" seorang laki-laki yang sudah tak asing lagi bagi Aqila berjalan mendekat


"Maaf kalau kata-kataku menyakiti hatimu kemarin"


"Tak apa, tapi darimana kau tau namaku?" Aqila bertanya dengan alis mengernyit bingung, Reynald mengeluarkan gambar pelangi diatas secarik kertas putih itu


Saat Aqila akan mengambilnya ia segera menyembunyikan


"Aku akan mengembalikan ini saat kau berhasil keluar dari ruangan dingin itu" Reynald menunjuk ruang operasi dengan salah satu pintu yang terbuka oleh perawat, tanda Aqila sudah dipersilahkan masuk


"Mulai sekarang kita berteman, tak peduli kalau kau menolak, tapi ingatlah sebagai seorang teman aku tak ingin kehilangan teman baru secepat itu, jadi kau harus sembuh" ucap Reynald, walaupun disampaikan dengan wajah tanpa ekspresi tapi kata laki-laki itu terdengar begitu tulus, Aqila menghela nafas sejenak dan menatap kearah Darren


"Aqila harus sembuh" gumam Darren yang dibalas anggukan kepala singkat oleh Aqila dan saat itu ia mulai melangkahkan kakinya memasuki ruangan dengan bau obat-obatan yang begitu pekat


Aqila merasa sedikit ngeri melihat benda-benda tajam dari gunting, silet, pinset dan entah apa yang ia tak tau namanya


Aqila mulai berbaring diatas brankar, pandangannya lurus keatas


"Maaf kalau aku tak bisa kembali lagi, kalau kita tak bisa lagi bersama artinya tuhan memang mentakdirkan kita bukan jodoh" gumamnya. Secara perlahan kesadarannya hilang akibat obat bius yang disuntikkan dokter padanya


Sementara itu jauh ribuan kilometer disana, seorang pemuda sudah siap dengan setelan batik biru yang indah, dipadukan dengan celana hitam yang melekat sempurna di tubuhnya, senyun tak luntur dari wajah tampannya


"Kita nungguin siapa sih disini? Masuk aja yuk acaranya mulai sebentar lagi" Panil melihat jam di pergelangan tangannya yang hampir menunjukkan pukul delapan


Gempano memukul kepala Panil cukup keras, dan memberi kode untuk diam, sahabatnya itu memang pelupa sekali, padahal dengan jelas Naufal sudah mengatakan kemarin kalau Aqila akan datang, sepertinya gelar playboy sangat tidak cocok ditetapkan untuk laki-laki pelupa seperti Panil

__ADS_1


Saat melihat mobil hitam memasuki area kampus, Naufal menajamkan penglihatannya, mobil itu sudah tak asing lagi dimatanya. Saat pintu mobil dibuka, jantungnya berdetak hebat, setelah sekian lama akhirnya ia bisa melihat kehadiran perempuan yang begitu ditunggunya


Namun, saat satu persatu mereka keluar, kenapa ia tak melihat Aqila bahkan pintu mobil sudah kembali tertutup rapat. Hanya ada dua orang tuanya, Devano dan istrinya Diva, Rian dan Reyna, tak ada Aqila disana. Naufal masih berusaha berfikir positif, Darren juga tak ada disana jadi kemungkinan besar Darren dan Aqila pasti datang bersama. Namun setelah lima menit menunggu, yang ditunggu tak kunjung menampakkan diri


"Ayo masuk, acaranya bentar lagi mulai, nanti kita tanya Rian didalam" Gempano menggandeng lengan Naufal masuk ke tempat acara


Dengan berat hati Naufal mengiyakan dan masuk kedalam, Ummi dan Abinyaa juga nampak sudah datang


Saat satu persatu nama mahasiwa dipanggil dan jumlah IPK mereka, nama Rian dipanggil dan naik keatas panggung, ia berhasil meraih predikat cumlaude, setelahnya disusul nama Naufal dengan perbandingan IPK yang beda tipis dari Rian, ada rasa bangga dihatinya saat menunjukkan dirinya berhasil meraih predikat cumlaude kepada ummi dan abinya, ia bisa membuktikan kalau dirinya tak senakal yang mereka pikirkan walau satu kampus dulu menyebut dirinya badboy


Saat seluruh rangkaian acara wisuda hampir selesai menjelang waktu dzuhur, Naufal masih tak melihat Aqila ada disana, ia berniat menghampiri Rian setelah ini, apakah laki-laki itu berbohong kepadanya?


Akhirnya menjelang jam setengah dua belas, prosesi wisuda berakhir, para mahasiwa yang telah mendapat gelar sarjana mereka menyempatkan diri berfoto untuk merayakan momen yang bahagia ini, karena perjuangan mereka terbayarkan setelah begitu banyaknya ujian selama masa perkuliahan


"Rian" Naufal menghampiri Rian yang hendak beranjak dari tempat duduknya. Rian yang sudah tau maksud dan kedatangan Naufal menghela nafasnya, ia tak tau harus mengatakan apa pada laki-laki didepannya, sampai sekarangpun belum ada informasi dari Darren disana tentang kondisi Aqila, ia mengatakan Aqila masih berjuang di ruangan operasi saat mengirim pesan satu jam yang lalu


"Maaf"


"Gue nggak butuh kata maaf, gue butuh jawaban, lo bilang dia bakal dateng tapi mana?"


"Dia..." Rian seperti tak sanggup mengucapkannya, dadanya seperti dihimpit beban yang begitu berat


"Dia kenapa?" Cecar Naufal, Rian menggelengkan kepalanya, ia meraih saku jasnya dan mengeluarkan kertas biru muda yang terlipat rapi


"Dia menitipkan ini untukmu, bacalah nanti saat kau sampai dirumah" setelah mengatakan itu Rian pergi meninggalkan Naufal yang masih termenung memegang kertas itu

__ADS_1


.


Banyak Typo...🙏


__ADS_2