
"Apalagi yang perlu disampaikan?" Tanya Papa Arya membuka pembicaraan, suasana begitu hening, Naufal juga terlihat canggung karena semua tatapan mengarah kepadanya
"Saya ingin menjelaskan tentang masalah kemarin" ucap Naufal, ia menegakkan tubuhnya, tidak boleh terlihat lemah, ia harus percaya diri
"Masalah? Masalah apa?" tanya Devano, menurutnya pembatalan pertunangan kemarin bukan masalah
"Tentang pembatalan pertunagan kemarin sebenarnya..."
"Sebenarnya apa? Mau minta maaf? Kesini mau jelasin doang?" Potong Rian, Darren langsung menepuk pahanya untuk memperingatkan tidak memotong pembicaraan
"Tentang pembatalan pertunangan kemarin sebenarnya hanya sebuah kesalahpahaman?"
"Salah paham?" Semua orang yang duduk disana berucap bersamaan
"Salah paham apanya? Jelas Abi Umar menelpon kami dan mengatakan itu" ucap Mama Intan
"Disanalah masalahnya, abi terlalu cepat mengira dan mengambil keputusan saat itu"
"Kemarin saya pergi ke rumah sakit dan menjelaskan pada orang tua Fadila kalau saya memang akan menjaga dan melindunginya..."
"Kamu mau menjadikan Aqila yang kedua?" Potong Rian, lagi-lagi ia memotong pembicaraan sampai Papa Arya sendiri yang menegurnya
"Saya memang mengatakan itu, tapi bukan berarti saya menikahinya"
"Saya hanya mengucapkan sebagian kalimat kemarin kepada Kyai Utsman, namun beliau salah memahami maksud saya dan terlebih dahulu memberitau abi kalau saya bersedia menikah dengan Fadila" ucap Naufal, ia mencoba menjelaskan sedetail dan sesingkat mungkin. Aqila menunduk, ia salah paham kemarin, sekarang ia merasa lebih baik dan ingin tersenyum tapi berusaha ditahannya
"Jadi?" Tanya Darren
"Jadi?" Naufal malah mengulangi perkataannya, ia linglung sendiri
"Jadi apa alasan kamu datang kesini untuk mengatakan itu saja?"
"Tentu bukan seperti itu, saya datang kesini untuk menyampaikan niat saya, ingin melamar Aqila" ucapnya dengan satu tarikan nafas. Jantung Aqila berdetak cepat, ia tak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaannya saat ini
"Apa kamu serius dengan ucapanmu itu?" Tanya Papa Arya, dengan cepat Naufal mengangguk dan menjawab "iya"
"Tapi sepertinya putriku sudah jatuu cinta dengan laki-laki lain" ucap Papa Arya, Aqila memelototkan matanya kearah Papa Arya yang justru memberikannya isyarat kedipan mata
__ADS_1
Naufal tersentak, apa ia terlambat? Apa ia sudah tak punya harapan lagi? Apa ia dan Aqila memang tak ditakdirkan bersama? Apa penantiannya selama ini berakhir begitu saja?. Ia menatap Aqila yang menunduk, benarkah perempuan yang ia tunggu selama ini sudah jatuh cinta pada laki-laki lain?
"Siapa?" tanyanya pelan, pandangannya lurus kearah Aqila
"Reynald" ucapan Papa Arya langsung membuat Rian dan Aqila terbatuk, sedangkan Naufal tersentak kaget. Aqila menatap Papa Arya, apa-apaan? Kenapa harus Reynald? Pikir Aqila, ia sama sekali tak mengerti arah pikiran papanya itu
"Hacchii" Sementara jauh ribuan kilometer disana, Reynald yang sedang mencabut gigi pasiennya bersin. Untunglah proses pencabutan sudah selesai
"Om doktel sakit ya?" tanya anak perempuan yang berusia sekitar empat tahun yang baru saja ia cabut giginya
Reynald menggeleng dan tersenyum
"Nggak kok, om dokter baik-baik saja" balasnya, ia mengusap lembut rambut anak itu yang dikucir dua, terlihat sangat menggemaskan
"Lain kali jangan makan permen lagi ya" mendengar ucapan Reynald, anak itu justru murung
"Kenapa sedih? Hmmm? Ini untuk kebaikan lala juga loh" ucapnya, ia membaca nama anak itu di daftar nama pasien
"Kata teman lala lasa manis bisa membuat kita lebih baik, makanya Lala banyak makan pelmen" jawab anak itu murung
"Memangnya Lala sedih kenapa?" tanya Reynald
Reynald terdiam, pertikaian orang tua yang terlihat oleh anak itu tentu tak baik, karena bisa menyebabkan trauma atau masalah pada perkembangannya
"Kau mungkin besok jatuh cinta pada ibu pasienmu"
Reynald menggelengkan kepalanya, apa-apaan? Kenapa justru ucapan Aqila saat itu yang terlintas dalam kepalanya
.
"Apa benar Aqila?" tanya Naufal, Aqila menunduk tak menjawab, tapi tindakannya itu justru membuat Naufal semakin yakin kalau Aqila mencintai laki-laki itu
"Dia sepertinya akan datang melamar besok malam" ucap Papa Arya semakin ngawur saja
"Apa saya masih punya kesempatan?" Tanya Naufal, ia tak mungkin menyerah begitu saja, setelah penantian panjang
"Tanyakan pada Aqila" ucap Papa Arya
__ADS_1
"Papa" Aqila justru malah memanggil papanya
"Kenapa? Kamu yang akan menikah dan menjalaninya bukan papa"
"Apa masih ada kesempatan Aqila?" tanya Naufal, Aqila justru merasa tak enak pada laki-laki itu. Terdengar jelas dari nada suaranya kalau ia berharap
"Apa kau bisa meyakinkanku?" tanya Aqila setelah cukup lama terdiam
"Tentu saja, aku akan datang kembali nanti malam membawa umi dan abi" jawab Naufal langsung. Semuanya berdehem pelan dan menyembunyikan tawa, Naufal terdengar buru-buru sekali
"Baiklah, buktikan padaku kalau pelangi memang bisa selamanya" ucapan Aqila seperti air dingin yang menyiram hati Naufal yang sempat panas
"Akan aku buktikan kalau pelangi yang aku ciptakan memang akan selamanya indah karena tak ada lagi badai yang datang" jawab Naufal dengan percaya dirinya
"Ayo minum tehnya dulu" ucap Mama Intan lembut, Naufal mengangguk dan meraih secangkir teh yang mungkin sudah dingin karena terlalu lama ia diamkan
"Bagaimana keadaan abi dan umi disana?" Tanya Diva, ia tentu tak lupa bagaimana kebaikan mereka yang mengajarnya dan telah membimbingnya dulu saat mengenal islam
"Ekheemmmm" Devano justru berdehem, ia tau kisah cinta Diva dan Kakak Naufal, Hasan. Diva pernah menceritakannya baginya itu hanya cinta monyet bertepuk sebelah tangan, tapi laki-laki itu masih saja cemburu
"Alhamdulillah baik" Diva tersenyum, ia malah merasa tak enak pada Devano, padahal kan hanya menanyakan Abi Umar dan Umi Sarah, yang sudah ia anggap orang tuanya
"Kak Devan, nggak jelas banget deh cemburunya" gumam Aqila yang terdengar oleh Diva, ia justru tersenyum
"Bagaimana caramu akan melindungi dan menjaga Fadila?" Tanya Papa Arya serius, ia tak mungkin menjadikan Fadila istri kedua kan? Itulah pikirannya
"Saya menganggap dia saudara perempuan karena mengingat hubungan Abi saya dan Kyai Utsman yang sudah seperti saudara juga"
"Saya akan menjaga dan melindunginya dengan cara memastikan ia mendapat laki-laki baik yang akan memimpinnya sebagai imam"
"Ayahnya sedang sakit parah, dan merasa tak lama lagi mungkin pergi, makanya ia mengatakan iti kepada saya karena mengkhwatirkan Fadila, anak satu-satunya yang ia miliki" Naufal melanjutkan ucapannya
"Kalau begitu Kak Rian aja" ucap Aqila spontan, Rian langsung memelototinya horor
"Kakakmu sudah punya seseorang, tapi masih takut untuk mengungkapnya" Ucap Mama Intan sedikit tersenyum
"Apa kau tidak tidur semalaman sampai datang kesini dengan penampilan itu?" tanya Rian melihat kearah Naufal
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" Naufal merasa tak ada yang salah dengan penampilannya, kemeja biru tua dan sarung hitam
"Sandalmu lain sebelah" sontak semua melihat kearah bawah dan menahan tawa mereka, Naufal sudah ingin mengubur diri saking malunya