Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Obrolan Fajar


__ADS_3

Apa mimpi itu nyata? Apa sesuatu yang terasa luar biasa itu selalu dikatakan mimpi? Aqila percaya dengan itu. Entah baik atau buruk tapi sesuatu yang luar biasa dan awalnya masih terbayang atau belum pernah terbayang itu adalah mimpi entah terwujud atau tidaknya


Seperti sekarang, mimpi yang pernah ia bayangkan, terwujud nyata, Naufal ada didepannya, memimpin sebagai imam sholat subuh mereka, pagi yang terasa jauh lebih indah dari waktu subuh biasanya


"Aamiin" keduanya mengusapkan telapak tangan kewajah saat do'a berakhir


Naufal membalikkan tubuhnya kearah belakang, mengulurkan tangannya, dan disambut Aqila dengan mencium tangan laki-laki yang sudah menjadi pasangan halalnya kemarin. Naufal lanjut mencium puncak kepalanya


"Fajar akan terlihat lebih indah dari bukit di belakang pesantren, apa kau mau melihatnya?"


Aqila melihat suasana masih nampak gelap dibalik jendela, suara santri yang membaca Al-Qur'an samar-samar masih terdengar dari masjid ponpes, rasanya sangat menyejukkan


"Boleh, aku juga ingin melihat daerah sekitar sini"


"Kalau begitu akan kuperkenalkan bagaimana indahnya kampung halaman dan masa kecil Naufal, sipelangi" Aqila sedikit terkekeh mendengarnya, tapi kemudian mengangguk


Hawa dingin yang menyegarkan langsung terasa begitu mereka membuka pintu rumah, Aqila menarik nafasnya, suasana ini benar-benar berbeda seperti apa yang dirasakannya setiap pagi


"Kalian mau kemana?" Umi Sarah yang masih memakai mukena putih sepertinya baru pulang dari ponpes bertanya, melihat pasangan baru itu keluar dari rumah padahal hari masih nampak gelap


"Kami mau jalan-jalan umi, liat-liat suasana sekitar" Aqila menjawab dengan mencium tangan ibu mertuanya


"Apa ini tidak terlalu pagi?" Umi Sara mengernyitkan dahinya bingung, ia melihat langit yang masih nampak gelap walau sudah muncul secercah cahaya di ufuk timur


"Kita liatnya dari bukit" jawab Naufal menunjuk belakang ponpes


"Kalau gitu hati-hati dijalan, karena musim hujan mungkin jalan disana agak licin" balas Umi Sarah mengingatkan, pasangan itu mengangguk tanda mengerti


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


Para petani berjalan dipematang sawah dengan membawa cangkul, sabit, dan peralatan lainnya yang akan mereka gunakan untuk menggarap sawah. Pemandangan itu merupakan hal yang baru untuk Aqila yang lebih sering mendengar klakson kendaraan berbunyi dipagi hari daripada ramainya kicauan burung yang menyambut hari


"Mereka memang berangkat kesawah sepagi ini ya?" Tanyanya pada Naufal saat petani-petani tadi menyapa mereka karena sempat berpapasan


"Iya, bahkan kadang ada yang lebih pagi dari ini"


"Baru liat ya?" Aqila mengusap tengkuknya dan mengangguk pelan. Naufal mengusap kepala istrinya pelan, menggemaskan sekali Aqila terlihat seoerti ini


"Mereka berangkat pagi untuk memeriksa kondisi ladang mereka, ada yang memeriksa air yang mengairi sawah atau melihat jejak hewan seperti tikus atau binatang lain yang kemungkinan merusak hasil panen dan bisa jadi hal lainnya juga" Aqila mengangguk mengerti mendengar penjelasan itu, pandangannya tertuju pada sawah yang membentang luas dengan padi hijau yang nampak baru tumbuh


Cahaya Fajar mulai terlihat diatas puncak pohon kelapa, masih terlihat berwarna orange kemerahan, sangat indah

__ADS_1


"Hati-hati, karena sering hujan jalannya seidikit agak licin" Naufal menggandeng tangan Aqila menaiki bukit dengan jalan tanah yang terlihat basah karena sering hujan, dan tetesan air embun dari ujung daun yang membasahinya


"Disini cukup banyak batu-batu tajam, jadi harus pakai sandal atau sepatu, biar kaki nggak lecet"


Dipinggir jalan, ditumbuhi rumput ilalang yang sudah mulai memanjang, Aqila bisa merasakan kakinya mulai basah akibat embun yang jatuh dari dedaunan


"Kita sampai" Aqila melebarkan matanya takjub melihat itu


"Masya Allah" semuanya terlihat begitu jelas dari atas sana, sawah padi yang membentang luas, pohon kelapa yang menjulang tinggi dengan hiasan semburat fajar yang menghias bagian atasnya, pohon-pohon hijau nan rimbun, dan burung-burung beterbangan yang keluar dari sarangnya. Aktivitas para petani juga terlihat jelas dari atas sana, ada yang mencangkul sawah, membuka lubang air dari selokan irigasi untuk masuk mengairi sawah mereka, ada yang menarik tali yang mereka ikatkan pada salah satu pohon atau tiang dengan digantung plastik dan kaleng yang berisi batu untuk mengusir burung-burung yang memakan buah padi, dan berbagai kegiatan lainnya yang jarang sekali Aqila lihat


"Lihatkan, fajarnya lebih indah dari atas sini" Naufal menunjuk mentari diufuk timur yang perlahan naik, hingga menciptakan warna orange pada cakrawala


"Iya indah sekali"


"Tapi aku lebih suka melihat matahari yang ada didekatku, indah sekali" Aqila yang masih terkagum melihat pemandangan itu, sedikit menoleh kearah Naufal yang ternyata sedang menatap dirinya


"Apaansih, malu tau" Aqila memukul pelan lengan laki-laki itu yang justru tertawa terbahak-bahak


"Aku sedang melihat ini seperti mimpi indah, hingga aku tak ingin bangun dari tidurku" Naufal menarik tangan Aqila untuk duduk di saung yang ada disana


"Aku juga tak menyangka kalau takdir kita bisa bersama seperti ini" balas Aqila


"Aku sudah membeli rumah yang tak jauh dari restoran tempat kita bertemu kemarin, kapan kau ingin kita pindah?" Aqila menoleh, sedikit mengernyitkan dahinya bingung


"Kita tidak tinggal disini?"


"Aku akan ikut kemanapun Kak Naufal pergi"


"Suasana disini memang lebih nyaman, tapi aku merasa kalau kita lebih banyak butuh waktu berdua, bagaimana kita menciptakan rumah tangga impian kita, dan belajar mandiri serta saling membantu sama lain" Aqila bisa menangkap maksud ucapan Naufal, mereka memang butuh lebih banyak waktu bersama, karena disini banyak anggota keluarga yang lain


"Aku mengerti maksudnya, jadi kapan kita mulai pindah?"


"Bagaimana kalau besok?"


"Apa yang lain sudah tau?"


"Aku sudah memberitau orang rumah seminggu sebelumnya, tinggal menunggu keputusanmu"


"Kata mama, kewajiban seorang istri adalah menaati dan berbakti pada suaminya, jadi aku akan mengikut keputusan Kak Naufal"


Naufal meraih tangan Aqila yang dingin, ia menatap kearah wanita yang ia nikahi kemarin


"Tugas istri memang seperti itu, tapi juga harus mengingatkan kalau suami melakukan salah, dan memberi pendapat kalau ia kurang setuju dengan pemikiran suaminya"

__ADS_1


"Aku setuju dengan itu, karen akupun merasa kita butuh lebih banyak waktu bersama" balas Aqila


"Terima kasih"


"Boleh aku bertanya sesuatu?"


"Apa?" Aqila sedikit merasa aneh, karena tunben Naufal meminta izin untuk bertanya


"Siapa laki-laki kemarin?" Aqila sedikit berfikir, laki-laki?


"Reynald?" Tebak Aqila, Naufal mengangguk walau ia sedikit tak suka mendengar Aqila menyebut nama laki-laki itu apalagi dengan wajah yang terlihat senang


"Dia adalah temanku sekaligus tetanggaku di Rochester, dia yang banyak membantuku selama aku tinggal disana. Dia juga bisa mengerti Bahasa Indonesia karena ibunya adalah orang Indonesia, karena itu aku bisa lebih mudah akrab dengannya" Naufal mengangguk mengerti, tapi jawaban Aqila belum cukup puas ia dengar


"Seberapa dekat?"


"Maksudnya?" Aqila menoleh dengan bingung


"Apa dalam kata teman itu pernah terlibat rasa cinta?" Aqila tertawa mendengar Naufal mengatakan itu, terlebih ekspresi pria itu yang terlihat sangat serius saat mengucapkannya


"Bagaimana ya?"


"Apanya yang bagaimana?" Nada bicara Naufal bahkan terdengar panik tanpa ia sadari


"Dari awal pertemuanku dengannya aku menyadari kami memiliki perbedaan begitu besar, jadi takkan pernah bisa bersama. Tapi ia pernah menyatakan perasaan hatinya padaku"


"Lalu?" Tanya Naufal, ia yang tadi sedikit lega menjadi tegang saat Aqila mengatakan itu


"Lalu aku menolaknya dan kukatakan kita tak pernah bisa bersama"


"Kenapa tidak bisa?" Tanya Naufal


"Karena tasbih dan rosario tak akan pernah bisa bersama" Naufal mengerjapkan matanya, cinta berbeda keyakinan memang menyakitkan sekali, karena jarak yang tercipta begitu jauh


"Lalu apa maksdunya anak? Dokter gigi?"


"Dia adalah seorang dokter gigi, aku pernah mengatakan padanya kalau kau mungkin jatuh cinta dengan pasienmu, dia menjawab kalau pasiennya hanya anak-anak, lalu aku mengatakan lagi kalau mungkin pada ibunya"


"Tapi aku tak menyangka kalau itu benar-benar terjadi" ucap Aqila sedangkan Naufal menarik nafasnya lega


"Syukurlah"


"Ehh? Apa?"

__ADS_1


.


Banyak Typo...🙏


__ADS_2