Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Dua Minggu


__ADS_3

"Cinta itu bukanlah sebuah kesalahan Reynald, kau tak perlu meminta maaf untuk itu, kita berdua memang berbeda dan itu tak bisa diubah, jangan sampai kau melakukan hal gila dengan meninggalkan agamamu hanya demi diriku, aku tidak menginginkan kau melakukannya jika itu hanya untukku" ucap Aqila tersenyum


"Seharusnya aku sadar dari awal kalau kita memang berbeda agar aku tak terjerat dalam rasa aneh ini"


"Jangan berfikir seperti itu Rey, Reynald yang kukenal adalah laki-laki pemarah tapi lembut hatinya, bukan laki-laki lemah yang hancur hanya karena rasa cinta" Reynald menganggukkan kepalanya dan menatap kearah langit biru yang cerah


"Bagaimana denganmu?"


"Apa?" Aqila menolehkan kepalanya


"Apa kau pernah menganggap aku sebagai lebih dari teman?" Aqila menoleh sebentar kemudian mengangguk


"Sebagai apa?"


"Aku pernah menganggapmu sebagai saudara saat kau melindungiku, aku pernah menganggapmu sebagai guruku saat kau mengajarkanku banyak hal, aku bahkan pernah menganggapmu sebagai dokter yang selalu mengingatkanku minum obat"


"Apa kau pernah berfikir lebih dari itu? Urusan hati misalnya?"


"Aku melihat kita berbeda dari awal jadi aku bisa mengendalikan hati untuk tak ikut terlibat didalamnya" jawab Aqila, ia sudah menganggap laki-laki itu bahkan seperti kakaknya, tak ada campur tangan hati karena ia tau mereka tak akan pernah bisa bersama


"Seharusnya aku juga menyadari dari awal, kenapa aku bisa sebodoh itu? Kau berhijab, merayakan idul fitri, sedangkan aku natal, aku hanya berfikir kita dekat karena aku bisa mengerti bahasa dari negrimu"


"Banyak gadis disini yang menyukaimu Reynald, kenapa kau seperti orang putus asa? Mana Reynald yang kukenal selalu menghibur dengan gaya kakunya, Reynald yang tak pernah kalah hanya dengan urusan cinta, Reynald yang kukenal adalah laki-laki kaku yang mematahkan hati ratusan gadis yang menyukainya"


"Mereka menyukaimu bahkan mereka lebih cantik dariku, apa kau tidak tertarik pada mereka?"


"Mereka terlalu bebas menurutku" Aqila sedikit tertawa mendengarnya, mungkin karena mereka sering bermain bersama, pandangan Reynald juga ikut berubah


"Aku ingatkan, mungkin kau lupa, ini Amerika bukan Indonesia" Reynald sedikit tertawa mendengarnya, ia lupa kalau ini sudah menjadi hal biasa di negaranya

__ADS_1


"Kapan kau akan pulang?" Tanya Reynald, nada bicaranya berubah


"Besok lusa" jawab Aqila


"Secepat itu?"


"Ini sudah begitu lama, aku menghabiskan lima tahun lebih dinegara orang, dan tak pernah pulang ke negaraku, aku lahir disana dan tumbuh besar disana selama sembilan belas tahun, aku sudah merindukan negeriku, aku merindukan wajah orang-orang disana yang kulupakan, aku ingin mengenal mereka lebih dekat"


"Apa kau punya pacar disana?"


"Aku tidak tau, keluargaku saja aku sempat lupa, aku tidak ingat temanku, atau mungkin pacar? Aku tidak tau" jawab Aqila menunduk


"Jangan sedih, kau pasti segera mengingatnya"


"Hatiku kadang seperti merasa ada orang yang begitu menungguku disana, seseorang yang seperti tak lelah menunggu diriku siang dan malam, tapi aku tak tau siapa? Atau apakah memang benar ada?"


"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?"


"Aku hanya menebaknya, mungkin ada seseorang disana yang sudah begitu lama menunggu, tapi aku dengan lancangnya ingin mengambil dirimu darinya"


"Kau membahas itu lagi, jangan katakan lagi Reynald, masih banyak gadis-gadis disini, atau kau bisa datang ke Indonesia dan akan kubantu kenalkan pada mereka disana"


"Aku akan mempertimbangkannya nanti, terima kasih untuk sarannya, sekarang aku harus berusaha menutup hatiku lagi yang berhasil kau buka, dan aku harus mencari dimana kau menyembunyikan kuncinya"


"Kata-katamu sudah seperti seorang penyair pak dokter, aku yakin kau pasti jatuh cinta pada pasienmu besok"


"Itu tidak mungkin terjadi, kau tau? Aku ini dokter gigi, dan yang pergi ke dokter gigi hanya anak-anak"


"Siapa bilang tidak ada?, lihat saja besok, kalau bukan pasiennya berarti ibu anak itu"

__ADS_1


"Kau memang keterlaluan"


.


Diatas sajadah, sujud panjang menjadi lambang berserah diri, menyerahkan segala urusan kepada pencipta, saat jiwa dan raga sudah ada dalam keputus asaan, saat hati bingung dan bimbang, sujud panjang menjadi pelampiasan seorang hamba untuk berkomunikasi meminta bantuan kepada rabb-Nya.


Air mata menjadi lambang ekspresi bagaimana suasana hati yang hancur, bibir yang bergetar mengucap do'a menjadi isyarat permohonan dan tangan yang menengadah keatas menjadi tanda permintaan seorang hamba yang dipenuhi rasa bimbang dengan jalan kehidupan


"Ya Allah, hatiku dalam kebimbangan yang besar, disatu sisi ada permintaan seorang ayah untuk anak perempuannya dan disisi lain aku punya janji pada gadis yang aku cintai"


"Kenapa jalannya begitu tidak mudah Ya Allah? Kenapa jatuh cinta harus sesulit itu?, Apa kami memang tidak ditakdirkan bersama? Tapi untuk apa engkau hadirkan rasa yang dalam padanya?"


"Ya Allah, jika dia memang jodohku dekatkanlah aku padanya, tapi jika dia memang bukan yang engkau takdirkan ikhlaskan hatiku untuk melepasnya, bantu aku melepas belenggu yang mengikat erat namanya dalam hatiku, hingga saat aku melepaskan rasanya tidak sesakit itu"


Berapa kali lagi mereka harus diuji? Jika memang ditakdirkan bersama maka ujian yang selalu menguji mereka saat ini, akan menjadi buah manis setelah pernikahan mereka, membuat mereka jadi lebih dewasa dan lebih dekat, membuat mereka belajar lebih bersabar dan bersyukur terhadap kehidupan yang nanti akan mereka jalani bersama


"Bagaimana keputusanmu nak?" Abi Umar mengetuk pintu, mengucap salam dan duduk disebelah Naufal yang masih berada diatas sajadahnya


"Semua ini bukanlah hal yang mudah abi, Naufal tidak bisa mengambil keputusan secepat itu" Laki-laki itu memandang pada tirai jendelanya yang sengaja ia buka, membiarkan cahaya rembulan masuk dan membuatnya mampu melihat jutaan bintang di langit sepertiga malam yang entah kenapa terlihat lebih indah


"Abi serahkan semuanya ditanganmu, hidup kedepannya kau yang akan menjalani, abi tidak bisa menyalahkan Kyai Utsman karena ia menginginkan yang menurutnya pantas untuk Fadila, dan abi juga tidak bisa menyalahkan Aqila yang sedang sakit"


"Hati Naufal saat ini masih untuk Aqila abi, jika Naufal menikah dengan Fadila, maka Fadila yang akan tersakiti karena dihati Naufal masih ada nama perempuan lain"


"Lalu, bagaimana sekarang?"


"Naufal akan meminta waktu dua minggu untuk membuat keputusan, Naufal perlu memikirkan banyak hal agar tak menyakiti diantara keduanya"


"Yakinlah nak, siapapun dia yang menikah denganmu, dialah jodoh terbaik yang dikirimkan Allah padamu"

__ADS_1


__ADS_2