
"Ayah, kenapa kakek sedih?" Yusuf dan Devan yang sedari tadi memperhatikan mereka dibelakang bertanya pada ayahnya
Devan menghapus ujung matanya yang berair, dan tersenyum kearah putra yang digendongnya
"Kakek bukan sedih dia bahagia, karena Aunty Qilla sudah sembuh, dan bisa kembali pulang kerumah di Indonesia"
"Sekarang kita masuk ya?"
"Katanya keluar manggil kakek dan Aunty Qilla makan, kenapa masuk lagi?"
"Nanti aja, mereka belum selesai bicara" Yusuf hanya mengangguk saja, tak banyak bertanya seperti biasa
"Apa pendapat Aqila tentang pelangi?" Aqila mengernyitkan alisnya sebentar
"Pelangi itu sesuatu yang indah, penuh warna tapi hanya sementara, ia datang setelah hujan dan badai berlalu"
"Kenapa papa bertanya?"
"Apa Aqila tak ingat sesuatu apapun tentang pelangi?"
Pelangi
Kata-kata itu tak asing untuk Aqila, saat ia mencoba mengingatnya lebih keras lagi, rasa sakit menyerang kepalanya
"Shhhh"
"Jangan dipaksakan" Papa Arya mengelus pelan kepala putrinya
"Sebentar ya papa dapat panggilan telepon" Aqila mengangguk pelan, dan memandang kearah langit yang dipenuhi jutaan bintang
Ia menoleh kedepan dan melihat Reynald melambaikan tangan dari seberang jalan
"Papa, Aqila izin kerumah Reynald sebentar!" Papa Arya yang berada tak jauh dari sana mengangguk, sepertinya ia mendapat telepon penting
"Kenapa?"
"Ayo liat Orion lebih jelas" Reynald menunjuk langit dan salah satu rasi bintang yang terbentuk disana
"Ayo!" jawab Aqila semangat, dua orang itu berlari kearah rumah Reynald, dan langsung naik keatas rooftop rumah, disana sudah terpasang teleskop lengkap, Aqila tak menyangka ternyata Reynald begitu suka dengan luar angkasa
Ia sering mengajak Aqila melihat bintang dan mengajarkan berbagai jenis rasi bintang kepadanya, itulah yang membuat Aqila merasa tak sendiri di negara ini, bahkan ia sudah begitu akrab dengan orang tua Reynald terutama ibunya yang memang keturunan asli orang indonesia
"Langitnya terlihat begitu gelap"
"Karena sekarang semakin banyak lampu dan gedung-gedung tinggi" Aqila mengangguk mengerti
"Orion bisa saja dilihat dengan mata telanjang, tapi lebih indah dengan teleskop"
__ADS_1
"Aku ingin melihatnya lagi" Aqila berjongkok menyamakan tingginya dengan teleskop itu dan menutup satu matanya untuk melihat lebih jelas
"Ada ufo" ucapnya tiba-tiba
"Mana ada, itu pesawat" jawab Reynald sedikit tertawa
"Wah, ada bintang jatuh" ucapnya lagi, Reynald mendongak memperhatikan
"Sudah kukatakan beberapa kali, itu meteor" balas Reynald
"Ayo buat permintaan" Ucap Aqila menatap kearah Reynald, gadis itu mengangkat tangan berdo'a dan mengusap kewajahnya
"Apa kau percaya hal seperti itu?" Tanya Reynald sedikit tertawa
"Aku hanya percaya pada tuhanku, tapi apa salahnya berdo'a itu bukan investasi yang merugikan" Diam-diam Reynald tersenyum dan mengangkat tangannya pelan saat Aqila kembali fokus dengan teleskop itu
"Valisha aku ingin mengatakan sesuatu" Ucap Reynald, dari nada bicaranya terdengar cukup serius
"Apa?" Aqila menoleh kearah laki-laki itu
"Aku..."
"Aqila"
"Aunty Qilla" suara ayah dan Yusuf memanggilnya, Aqila melihat dua orang itu melambaikan tangan kearah dirinya
"Baik, aku akan mengatakannya besok, pulanglah"
"Terima kasih Reynald, sampai jumpa besok"
"Hmmm, sama-sama"
Reynald melihat kepergian gadis itu dari atas rooftop, Aqila kembali melambaikan tangan saat sampai dibawah, Reynald tersenyum dan membalas lambaian tangannya sampai gadis itu masuk kedalam rumahnya
Reynald menatap langit malam dengan mata telanjang, langit yang terlihat gelap karena banyaknya lampu-lampu yang bersinar. Siapa Aqila?, pertama kali bertemu ia hanya menganggap Aqila orang gila yang bosan dengan kehidupan, tapi semakin mengenal gadis itu lebih dekat, ia sedikit tau tentang kepribadian dan hobi gadis itu yang sering melukis, Aqila juga memberi lukisan dirinya sebagai hadiah di ulang tahunnya kemarin
Tanpa sadar, semakin dekat ia dengan gadis itu, tumbuh perasaan lain dalam hatinya, lebih dari sekedar kata teman, cinta. Rasa yang datang begitu saja tanpa bisa dicegah, karena seringnya mereka bersama entah untuk jalan-jalan ditaman, membaca buku diperpustakaan, atau melihat bintang seperti apa yang mereka lakukan baru saja
"Mungkinkah aku memilikimu?" gumamnya pelan, sayangnya ia lupa status dirinya, kalau ia dan Aqila tak akan pernah mungkin bisa bersama
.
"Naufal, bisa abi bicara sebentar?" Naufal hendak pergi memeriksa perkembangan cabang restoran barunya, ia menoleh saat Abi Umar mendekatinya
"Kyai Utsman ada dirumah sakit, bisakah kamu menjenguknya nanti setelah pulang dari sana? Kami semua sudah pergi kemarin, dia bilang ingin melihatmu, bisa kau temui dia sebentar?"
"Insya Allah bisa"
__ADS_1
"Hati-hati dijalan nak"
"Naufal pergi dulu abi, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
Abi umar memandang kepergian Naufal, ia memegang dadanya, ada sedikit rasa sesak disana, ia sedang bingung sekarang, antara rasa bersalah, kasihan, dan memikirkan bagaimana hubungan antar keluarga kedepannya
Sore harinya, selesai sholat asar Naufal pergi menjenguk Kyai utsman di rumah sakit, begitu membuka ruangan ia melihat Fadila, ummi dan abinya sedang berbincang
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam" jawab tiga orang itu serentak
"Naufal, saya pikir kamu tidak jadi datang"
"Kebetulan saya pulang lewat sini juga pak kyai" Naufal mencium tangan Kyai Utsman dan menangkupkan tangannya di depan Fadila dan Umi Zahwa, ibu Fadila. Ia meletakkan parcel buah yang dibawanya diatas nakas samping brankar
"Nggak usah repot-repot bawa sesuatu, kamu datang saja kami sangat senang"
"Tidak merepotkan sama sekali" Jawab Naufal tersenyum kecil
"Bagaimana perkembangan restoranmu sekarang?"
"Alhamdulillah, Allah memberi kemudahan hingga bisa maju seperti sekarang"
"Kau memang laki-laki yang pekerja keras, berdo'a saja tidak akan cukup tapi juga usahamu yang membuatnya seperti itu" Naufal hanya tersenyum kecil menanggapi
"Bagaimana kondisi Pak Kyai? Apa kata dokter?"
"Kondisi ginjalnya semakin parah, tekanan darah abi kadang tiba-tiba naik" Jawab Fadila, Kyai Utsman dinyatakan menderita penyakit gagal ginjal enam bulan yang lalu, jadi ia harus rutin cuci darah sesuai jadwal yang ditentukan dokter, karena ginjalnya sudah tidak bisa menyaring racun dan mengolah cairan tubuh
"Pak Kyai jangan terlalu banyak pikiran, fokus saja pada kesembuhan Pak Kyai"
"Aku hanya memikirkan tentang Fadila sekarang, dia putriku satu-satunya, aku ingin melihat dia menikah sebelum aku pergi"
"Jangan bicara tentang itu sekarang" Umi Zahwa tak suka mendengar ucapan suaminya begitupun dengan Fadila
"Abi" Fadila menggelengkan kepalanya, merasa tak enak melihat Naufal ada disini
"Apa yang salah? Abi hanya ingin melihat putri abi berada di tangan laki-laki yang baik"
Kyai Utsman mengenggam tangan Naufal dan menatap kearah laki-laki itu
"Boleh saya minta tolong padamu nak?" perasaan Naufal mulai tak enak mendengarnya
"Minta tolong apa, pak kyai?"
__ADS_1
"Maukah kamu menjaga Fadila dan membimbingnya?"