Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Kecelakaan


__ADS_3

Takdir tuhan tidak ada yang tau, semuanya berjalan begitu saja bagai air yang terus mengalir, tapi yang harus kita percaya kalau apapun yang diberikannya pada kita ada pelajaran berharga dibaliknya, itulah kata-kata yang digunakan Gempano untuk menyemangati dirinya. Ia mulai terbiasa menjalani hari tanpa Renata meski kadang penyesalan sedikit timbul dari lubuk hatinya


"Halo, assalamu'alaikum"


"..."


"Iya sekarang"


Ia menghela nafasnya panjang dan beranjak dari tempat duduknya saat ini, Naufal menelpon menannyakan keberadaan dirinya yang tak pernah datang ke restoran, ia mengerti mungkin Naufal kelelahan mengurus semuanya sendiri. Hanya saja yang ia hindari sekarang adalah takut bertemu Renata karena ia sendiri tak bisa membayangkan apa yang ia lakukan, apakah tubuhnya masih bisa terkontrol? Ia tak tau


"Mau kemana nak?" Dari kejadian itu Bu Ratih sekarang lebih memberikan kebebasan untuk Gempano, tapi apa boleh buat jika nasi sudah menjadi bubur


"Kerja buk" ia mencium tangan ibunya, bagaimanapun ia tak pernah ingin membenci orang yang sudah melahirkannya, biarlah menjadi pelajaran untuk mereka


"Udah lebih baik?" Gempano mengangguk, ia mengatakan pada ibunya kalau kondisinya kurang sehat hingga tak bisa masuk kerja, padahal yang sakit adalah hatinya


"Udah, kasian juga Naufal ngurus semuanya sendiri"


Mentari bersinar terik hari ini, tak seperti biasanya yang mendung, buliran keringat menetes dari wajahnya, moodnya yang semula baik langsung turun drastis melihat kemacetan didepannya, apa ada kecelakaan begitu pikirnya padahal jam seperti ini biasanya lalu lintas ramai lancar


Ia mencoba berdiri, melengokan kepalanya kekiri dan kekanan untuk melihat apa yang terjadi, hingga sirine ambulans terdengar dari belakang, membuat kendaraan sontak menepi sekaligus menjawab rasa penasaran Gempano kalau memang terjadi kecelakaan didepan sana


Hampir sepuluh menit menahan panasnya matahari, akhirnya kendaraan didepan mulai berjalan, saat sampai di tempat kecelakaan tadi ia melihat koran berceceran yang sengaja dilakukan untuk menutup bekas darah korban. Tapi ada satu hal yang menarik perhatian Gempano, motor yang tergeletak rusak disana, ia kenal betul dengan pemiliknya


Dengan jantung yang berdetak kencang, ia menaikkan kecepatan motornya diatas rata-rata, tak peduli dengan umpatan para pengendara lain akibat ulahnya. Ia menyalip satu persatu kendaraan didepannya dengan lihai, jangan heran karena dulu ini adalah dunianya


Ia menuju ke Rumah Sakit Bramadja, tepat dimana ambulans itu berhenti. Setelah memakirkan motornya dengan asal, ia segera berlari masuk kedalam. Ia mengikuti jejak darah yang terlihat sedikit menetes dilantai dengan jantung yang sudah tak terkendali

__ADS_1


"Astagfirulloh" tepat diujung koridor ia memegang dadanya semakin terkejut, hampir saja ia menabrak Aqila yang lewat disana


"Kak Gempano mau kemana? Siapa yang sakit?" Tanya Aqila langsung, ia juga cukup terkejut tadi karena kehadiran Gempano yang tiba-tiba. Terlebih melihat kondisi laki-laki itu yang seperti lelah berlari


"Kamu liat korban kecelakaan tadi Qil?"


"Baru saja masuk ke ruang UGD" Aqila menunjuk pintu yang berjarak sekitar lima meter dari tempat mereka saat ini


"Kamu tau dia siapa?"


"Aku hanya melihat tubuhnya saja, bagian wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup dokter, mungkin ia terluka cukup parah" Gempano meremas rambutnya seperti putus asa, ia mendudukkan diri dengan lemas di kursi rumah sakit


"Dia siapa?" Tanya Aqila pelan, melihat Gemoani seperti ini entah kenapa is juga merasa tak enak


"Aku liat di lokasi kecelakaan tadi, itu motornya Panil" lirih Gempano


Aqila menutup mulutnya tak percaya, Panil? Pacar Reyna, laki-laki yang ingin segera melamar Reyna


"Halo" Panggilan tersambung, tapi bukan Panil yang menjawab


"Halo, Panil dimana?" Gempano tak tau sedang berbicara dengan siapa, yang pasti terdengar seperti perempuan


"Saudara atas nama Panil mengalami kecelakaan, ia sekarang berada di ruang UGD Rumah Sakit Bramadja untuk mendapat perawatan, kami menemukan hanphone ini disaku celana korban"


Aqila memegang tembok disampingnya saat mendengar itu, Gempano sengaja memperbesar suaranya


"Telpon Naufal Qil, aku akan mencoba menghubungi keluarganya, mungkin saja mereka belum tau" Aqila mengangguk, dengan sedikit gemetar ia mengeluarkan handphone dari dalam tasnya dan mencari nomor suaminya

__ADS_1


"Halo, Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam, Kak Naufal bisa ke Rumah Sakit Bramadja sekarang?" Nada bicara Aqila bahkan sedikit gemetar, mengingat bagaimana cerita Panil dan Reyna


"Kenapa? Ada apa? Ada sesuatu yang terjadi?" Pertanyaan beruntun di lontarkan Naufal diseberang sana


"Telah terjadi sesuatu, tolong Kak Naufal segera datang" Aqila langsung mengucap salam setelah mengatakan itu, ia memijit pelipisnya


Apalagi sekarang? Ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Reyna saat tau tentang ini, ia tak berani menekan tombol panggilan saat nama Reyna sudah ia pilih. Ia justru memilih mengirim pesan pada Kirana untuk menjemput Reyna dirumah dan membawanya ke Rumah Sakit Bramadja sekarang dengan alasan darurat


"Apa keluarganya bisa dihubungi?" Tanya Aqila saat Gempano kembali, disini cukup ramai karena itu ia memilih menelpon di area belakang yang cukup sepi


"Mereka akan segera sampai disini" jawab Gempano, penampilannya terlihat begitu kacau, cobaan apalagi sekarang?


"Siapa? Kenapa? Bagaimana? Dimana yang sakit" begitu datang Naufal langsung menarik tubuh istrinya untuk berdiri, memastikan tak ada luka disana. Tak bisa diceritakan bagaimana cemasnya ia saat mendengar Aqila dirumah sakit


"Bukan Aqila, tapi Kak Panil" jawab Aqila, ia jadi sedikit merasa bersalah karena tak menjelaskan secara rinci


"Panil kenapa?" Pandangannya kini tertuju kearah Gempano


"Kecelakaan" lirih Gempano


Naufal menghela nafasnya dan duduk dikursi dekat Aqila


"Bagaimana kondisinya?"


"Masih ditangani dokter, ia ada di UGD sekarang"

__ADS_1


.


Banyak Typo...🙏


__ADS_2