
Jika sudah memilih ini maka tetap dilanjutkan, tidak boleh berhenti ditengah jalan tapi berusaha memperjuangkan pilihan yang kita buat hingga membuahkan hasil
Itulah yang dilakukan Aqila sekarang, memilih pergi berobat kerumah sakit pengobatan kanker terbaik di dunia, Mayo Clinic, Rochester, Amerika Serikat
Aqila memilih pergi, bukan lari dari masalah atau rasa sakit yang sedang menimpa saat ini, tapi pergi untuk menjadi lebih baik lagi. Jika ia egois menuruti hatinya untuk tetap disini, sama saja dengan ia pasrah saja terhadap penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Jika ia tetap disini sekalipun, memang siapa yang bisa menjamin kalau ia dan Naufal akan menikah dan hidup bahagia?
Begitu banyak kemungkinan terjadi melihat kondisi saat ini, Naufal mungkin tak ingat dirinya atau justru ia yang akan pergi? Entahlah, tiada yang tau skenario indah yang telah disusun sedemikian rupa oleh sang pencipta
Dokter merekomendasikan metode kemoterapi dilakukan selama enam bulan, namun sudah dua bulan melakukan kemoterapi belum ada perubahan yang nampak, memang tak mungkin secepat itu terlihat tapi rasa sayang seseorang yang sempat merasa gagal menjadi pahlawan begitu besar, hingga memilih pengobatan di rumah sakit kanker terbaik di dunia, apapun dilakukan demi kesembuhan sang putri
"Jangan ngelamun terus, pesawat bentar lagi berangkat" Aqila seperti ditarik kembali kesadarannya setelah melamun beberapa saat, Mama Intan menggenggam tangan putrinya erat seolah menyalurkan kekuatan dari sana
"Ayo" dengan pelan, Mama Intan menggandeng tangan Aqila naik keatas pesawat yang akan mengudara, membawa mereka berpindah negara bahkan benua
Reyna, Rian, dan Devano menatap kearah Aqila, Darren dan kedua orang tua mereka yang akan pergi, lebih tepatnya pandangan mereka fokus pada wajah Aqila yang pucat dan berusaha selalu tersenyum, padahal dunia sudah tau kalau ia sedang tak baik-baik saja
Aqila menatap sekelilingnya sebelum benar-benar naik ke tangga pesawat, terakhir kali menghirup udara dikota ini, tak tau apa yang akan terjadi dimasa depan, apakab tuhan masih memberikannya kesempatan untuk menghirup udara dibumi yang sama dengan makhluk hidup lain
Ia pergi bukan lari, ia kuat bukan pengecut yang lari dari masalah, hanya ini cara yang menurut Aqila dan keluarganya terbaik, kenapa harus khawatir? Jika memang jodoh, pasti tidak akan kemana katanya menyakinkan hati, tapi secuil dari sebuah anugerah yang diberikan tuhan yang disebut cinta memberontak, secuil rasa itu seperti mempengaruhi dirinya untuk tetap menemani Naufal dan menjalani pengobatan disini saja, tapi ia benar-benar gila jika menuruti keinginan secuil rasa itu, karena semakin dipupuk akan semakin besar
Karena itu orang pernah berkata, jika kau sudah jatuh cinta, maka bersiaplah untuk merasakan sakit, karena yang namanya jatuh pasti sakitkan? Sebagian orang berhasil bertahan menyembuhkan diri dan sebagian lagi terpuruk dalam belenggu cinta
Dua, tiga tahun atau bahkan lebih dari itu, Aqila berjanji untuk kembali kesini, cukup berjanji pada diri sendiri bukan pada orang lain, berjanji dan menagih janji seseorang yang kesetiaan atau ingatannya diuji
"Selamat tinggal negriku, tunggu aku kembali lagi" batinnya saat pesawat mulai mengudara ke negri Paman Sam, tepatnya diwilayah Rochester
__ADS_1
Menempuh perjalanan lima belas ribu seratus lima puluh tujuh kilometer dari tanah air menuju kota bagian Amerika utara tersebut
Perjalanan dari ibu kota Indonesia menuju Rochester memakan waktu tiga puluh tujuh jam enam belas menit dan harus menjalani setidaknya satu kali transit, lebih dari satu hari didalam pesawat merupakan hal yang melelahkan, menyenangkan sekaligus menakutkan bagi Aqila
Pertama kalinya ia terbang sejauh ini, paling jauh hanya sampai singapura, saat merayakan ulang tahun Renata di hotel Marina Bai, hahh jika mengingat itu tetap saja timbul iri dihati Aqila, tapi ia menggeleng untuk melupakan semua kejadian menyakitkan itu
Menyenangkan melihat samudera pasifik membentang luas dengan warna biru tua yang biasa bisa ia lihat diinternet atau televisi, menakutkan karena pikiran-pikiran kotor mulai hinggap, memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi melihat ganasnya ombak samudera yang berwarna putih, dan melelahkan karena harus duduk sepanjang hari, Aqila benar-benar merasa sulit terpejam di atas pesawat yang terbang dengan ketinggian kurang lebih sepuluh kilometer, perasaan was-was, khawatir dan gugup menghampiri
Darren menggenggam tangan adiknya dan menyenderkan kepala Aqila dibahunya
"Jangan takut, sesuatu yang kau takutkan tidak akan terjadi, percaya dan berdo'alah kepada Allah"
Aqila hanya mengangguk dan menikmati usapan lembut sang kakak dibahunya, tapi sesaat kemudian Darren merasakan cairan hangat membasahi tangannya dan mendongakkan kepala adiknya
"Janji harus sembuh ya, jangan pergi, dosa kakak masih banyak" bisiknye lembut dan menghapus darah yang mengalir begitu saja dari hidung adiknya
Mama Intan yang berada disebelah Darren menggenggam tangan Papa Arya, dan menghapus air matanya yang menetes sedikit demi sedikit
"Sekarang atau masa depan Aqila akan tetap merasakannya, kita akan tetap bersama dimasa depan"
"Aqila nggak berani janji tapi usaha, karena kematian kita sudah diatur sang pencipta"
"Jika Aqila janji untuk kembali tapi pergi kehadapan tuhan, bukankah janji itu akan membebani Aqila karena termasuk hutang?"
"Pokoknya usaha dan punya semangat untuk sembuh ya? Yakinkan dalam diri kalau Aqila bisa sembuh"
__ADS_1
"Kalau Aqila sembuh kalian harus ngasih Aqila hadiah ulang tahun"
"Satu, dua, tiga..."
"Tujuh" Aqila membentuk angka tujuh dengan jari-jari tangannya yang semakin nampak tirus
"Dari umur dua belas Aqila nggak pernah lagi dapat hadiah, jadi janji tujuh ya?" Secepat itulah emosi Aqila berubah, kadang bersifat kekanakkan, kadang ragu dan terus merenungi penyakitnya
"Janji" Devano, Mama Intan dan Papa Arya meletakan tangan bersama didepan Darren, syukurlah penumpang pesawat itu cukup sepi jadi mereka tidak menjadi pusat perhatian
"Oke, kalian udah janji kalau Aqila sembuh Aqila tagih" ucapnya serius membuat Darren mengangguk mengusap lembut kepala adiknya dan satu tangan menghapus air mata yang entah sejak kapan tiba-tiba turun begitu saja
"Kematian itu datang tanpa pemberitahuan, bahkan orang yang kelihatan sehat dan segar bugar sekarang, tak ada yang tau apa yang terjadi beberapa saat kedepannya"
"Banyak orang dirumah sakit yang menganggap nyawanya segera dicabut akibat rasa sakit luar biasa yang mereka alami, tapi beberapa saat kedepan ia tiba-tiba sehat, dan banyak orang yang menganggap nyawanya masih panjang karena merasa sehat tanpa ada keluhan apapun, tapi beberapa saat kedepan terdengar berita kematiannya" Jelas Darren mengingat-ingat selama ia menjadi dokter
"Intinya percaya dengan adanya keajaiban tuhan, dokter bukan tuhan, sekalipun mereka mengatakan waktu anda tersisa lima atau sepuluh tahun, siapa yang tau hari esokkan?"
"Itu semua menjadi rahasia tuhan"
.
Author baru bisa up sekarang...🙏🙏🙏
Author lagi kurang sehat guys...🙏🙏😧
__ADS_1
Kalian jangan lupa jaga kesehatan ya, perbanyak minum air putih, cuaca lagi nggak menentu sekarang...😪😥🤕😷🤒
Insya Allah author usahain biar bisa up lagi nanti atau besok... See you...🤗