
"Papa egois"
"Kenapa egois?"
"Papa tidak ingin Aqila pergi, apakah karena hanya rasa penyesalan papa pada Aqila begitu dalam? karena papa gagal menjadi pahlawan yang dibanggakan putrinya dulu?"
"Apa itu alasan yang dimiliki papa?" tanya Aqila menatap langit-langit kamarnya
"Tidak!" dengan cepat Papa Arya menggeleng, menanggapi segala pertanyaan putrinya
"Papa seperti ini karena rasa kasih sayang papa kepada Aqila, papa menyayangi Aqila dari dulu, tapi papa akui cara papa salah kepada Aqila"
"Papa memberikan perhatian lebih kepada Reyna karena papa merasa pernah hampir kehilangan dia hingga papa selalu terbiasa memanjakannya, papa selalu melihat Aqila sebagai gadis yang mandiri, baik hati dan kuat, karena itu papa selalu mendahulukan Reyna, bahkan menyuruh Aqila mengalah, padahal papa tidak tau kalau ternyata putri papa menanggung beban yang besar"
"Jadi, untuk semuanya, kasih sayang, rasa penyesalan papa, dan tugas papa sebagai orang tua yang mendidik putrinya, papa ingin egois kali ini mengatakan kalau Aqila harus sembuh dan tidak boleh mengatakan kata 'pergi' lagi" suara Papa Arya bahkan hampir tak terdengar karena menahan sesak dalam dadanya
"Tapi papa nggak tau kan?, kalau Aqila udah terlalu lelah sekarang, lelah untuk semuanya" ucap Aqila dengan mata memerah, air matanya seperti sulit untuk keluar. Bukan sulit karena tidak merasa terharu, tapi sulit karena sudah terlalu sering dirinya menangis, seolah rasa sakit ini tak sebanding dengan luka fisik dan hatinya selama ini
"Pundak papa masih kuat untuk membantu Aqila menanggung rasa lelah itu, ayo cerita sama papa" walau dengan air mata berderai hebat Papa Arya tak melepaskan genggaman tangan dari putrinya
"Aqila bingung caranya cerita kayak gimana, boleh Aqila minta pelukan papa aja?" permintaan sederhana Aqila yang langsung dipenuhi Papa Arya, bahkan Papa Arya merasa kalau ini adalah pertama kalinya Aqila menginginkan sesuatu, hah tidak! Ini bukan pertama kalinya Aqila menginginkan sesuatu, tapi ini seperti pertama kalinya ia langsung memenuhi permintaan putrinya tanpa mengatakan janji-janji besok tapi tak terpenuhi
"Aqila nggak cuma lelah dihati aja pah, Aqila juga lelah kesakitan saat kemoterapi terus, Aqila lelah nahan sakit kepala yang tiba-tiba datang, ternyata wajar jika banyak orang yang memilih suntik mati karena tak tahan, Aqila lelah liat darah mimisan terus, Aqila lelah untuk semuanya"
"Aqila ingin terlepas dari semua rasa sakit itu, jadi papa jangan egois ngelarang Aqila pergi, karena mungkin itu udah yang terbaik untuk Aqila"
"Aqila percaya kalau Allah pasti selalu ngasih sesuatu yang terbaik untuk hambanya"
"Kalau Aqila ternyata pergi, artinya Allah sayang sama Aqila karena ngerti kalau Aqila juga udah lelah sakit terus" Papa Arya sudah tak mampu berkata-kata, karena dalam hati ia pun membenarkan perkataan putrinya, ia egois jika terus memaksa putrinya bertahan, andai bisa bertukar posisi, ia ingin menggantikan semua rasa sakit itu
__ADS_1
"Aqila tadi nggak sengaja denger dari ruangan dokter, kalau Aqila bakal operasi" lirihnya menbuat Papa Arya sedikit terkejut
"Perbandingannya sembuhnya terbilang sedikit, tapi jika itu satu-satunya cara, mau bagaimana lagi kan?" lanjutnya lagi
"Jika Aqila sudah usaha dan mencoba untuk sembuh, urusan selanjutnya biarkan Allah yang berkehendak" Ucap Papa Arya menanggapi
.
Hari ini berjalan seperti hari sebelumnya, tak ada perbedaan sama sekali untuk Aqila, tak ada rasa takut yang berlebihan karena harus menjalani operasi, semuanya terasa begitu saja, ia tak menyerah begitu saja dengan semua rasa sakit itu, tapi memang ini termasuk usahanya, harus tetap tenang. Tapi yang membuatnya cukup heran adalah semua orang menangis saat melihat dirinya
"Udahlah Kiran jangan nangis terus, Kak Egan juga kenapa ikut-ikutan nangis?" tanyanya bingung melihat ekspresi dua orang itu yang entah sejak kapan tiba-tiba dekat, saat Aqila bertanya Kirana hanya menjawab mungkin memang jodoh, padahal Aqila sudah lebih dari tau bagaimana dulu dua manusia itu seperti air dan minyak yang dipanaskan, selalu ribut
"Kiran lo nggak mau nikah dulu gitu? Sebelum gue bener-bener pergi"
"Jangan ngomong gitu lagi bisa kan? Enteng banget lo nyebut-nyebut pergi kayak gitu" ucap Kirana yang sudah sesenggukan
"Aqila, pokoknya kamu harus sembuh dulu, ada rahasia yang harus Kak Egan kasih tau"
"Nggak bisa!, pokoknya kamu harus sembuh dulu"
"Nggak lucu banget deh, main rahasiaan kayak gini" kesal Aqila, niatnya ingin mengobati rindu dan mengubah suasana hati malah membuat suasana hatinya lebih buruk
"Apa yang Aqila rasain sekarang?" Kali ini laptop sudah berpindah tangan, mengarahkan kamera kearah wajah Davin dan Om Radit
"Ya biasa aja, cuma terkadang kalau rasa sakitnya dateng bisa sampai pingsan"
"Wajar sih menurut Aqila kalau banyak yang nggak tahan dan milih suntik mati, bahkan Aqila juga pernah mikir buat gitu"
"NGGAK!!!" Suara keras dari seberang sana membuat Aqila langsung melepas earphone yang terpasang, telinganya benar-benar berdengung hebat
__ADS_1
"Pokoknya janji harus sembuh" kata yang kesekian kalinya dan Aqila pun memberikan jawaban yang sama untuk pertanyaan yang sama dari orang yang berbeda tapi terus diulang
"Nggak janji tapi usaha"
Papa Arya mengintip kegiatan putrinya dari balik tembok, ia tak menyangka jika Aqila sudah mendengar berita tentang operasi itu, ia memang berniat memberitau, tapi menunggu kondisi putrinya lebih baik lagi, ia tau Aqila pasti masih syok dengan peristiwa kemarin yang membuat dirinya hampir tertabrak
Ia sudah memberitau masalah operasi Aqila dengan kakaknya, Radit. Tapi belum memberitau istri dan anak-anaknya, karena untuk itu ia butuh mental yang lebih banyak. Semalam saja ia tak bisa menahan air mata saat bercerita dengan saudaranya sendiri
Papa Arya menutup pintu kamar, tak ingin Aqila menguping karena takut putrinya berpikiran macam-macam lagi, sampai berniat mengakhiri hidupnya seperti kemarin
Papa Arya menekan nomer pada ponsel, saat deringan pertama masih tak ada jawaban hingga saat deringan ketiga barulah terdengar suara salam dari seberang sana
"Assalamu'alaikum, Papa udah berangkat?" tanya Mama Intan langsung setelah mengucap salam
"Wa'alaikumussam, berangkat kemana?"
"Berangkat ke bandara, kata Devano kemarin keadaan Aqila mulai membaik dan insya allah bisa ikut besok di wisuda Rian" tanpa sadar setetes air mata Papa Arya jatuh mendengarnya
"Enam hari lagi..."
"Iya, wisuda Rian enam hari lagi" potong Mama Intan langsung
"Enam hari lagi..." Papa Arya seperti kesulitan mengatur suaranya, padahal ia sudah menyiapkan mental dari kemarin untuk memberitau istrinya tentang hal ini
"Iya Papa, enam hari lagi wis..."
"Aqila operasi" Ucap Papa Arya langsung dengan sekali tarikan nafas, terdengar hening dari seberang sana sepertinya Mama Intan juga sama terkejutnya
"Ma maksud papa? Coba ulangi, mungkin mama salah dengar" ucap Mama Intan diseberang sana setelah terdiam beberapa saat
__ADS_1
"Kemoterapinya gagal, dan Aqila akan dioperasi enam hari lagi karena takut sel kanker semakin ganas, tapi kata dokter kemungkinan berhasil hanya 50 persen dari 100"
"Papa bilang apa?" Kali ini bukan suara Mama Intan tapi Rian yang memegang telpon, entah apa yang terjadi dengan Mama Intan diseberang sana