Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Terlambat


__ADS_3

"Ren" wajah Gempano berseri melihat gadis itu datang, hari ini ia akan mengatakan dengan jelas dan sungguh-sungguh kalau ibunya sudah merestui dan ia akan datang kerumah Renata


"Hai" Renata hanya tersenyum tipis dan bersikap biasa, tak seperti dulu yang akan heboh dan bertanya retetan pertanyaan, sudah makan? Kamu baru pulang kerja? Gimana kerjanya?


Mereka berdua duduk disatu kursi panjang yang disediakan disana, menghadap langsung ketepi danau, sekaligus bisa melihat bayangan mentari dari sana


"Bagaimana kabarmu?" Gempano memulai pembicaraan, entah kenapa ini canggung untuk mereka berdua


"Aku baik, bagaimana denganmu?"


"Yahhh aku juga cukup baik" balas Gempano, ia sedikit tersenyum, keadaannya tak sepenuhya baik


"Baguslah kalau begitu, aku ingin..."


"Ren, pertunanganku batal" Renata yang hendak mengambil undangan ditasnya terhenti kala mendengar ucapan laki-laki itu. Ia terdiam dengan suasana hati yang tak bisa ia jelaskan


"Kenapa bisa?" Ia mengurungkan niatnya mengambil kertas bening itu, mungkin nanti saja, pikirnya


"Dia sudah memilih bertunangan dengan orang lain" Gempano menarik nafasnya saat mengatakan itu


"Bagaimana bisa? Memangnya kalian belum membuat kesepakatan sebelumnya?" Gempano menggeleng, orang tuanya hanya berencana dan belum membuat kesepatakan untuk ini


"Maaf" Renata kini terdiam saat Gempano mengucapkan kata itu


"Maaf untuk segalanya, untuk segala janji palsu, untuk sakit hatimu dan untuk rasa kecewamu" Renata termenung, mengucap kata maaf memang mudah tapi melupakannya itu yang sulit, perkataan Gempano dan rasa sakit yang ditinggalkan laki-laki itu tak bisa hilang begitu saja dari hatinya


"Aku memaafkanmu" Gempano menoleh menatap Renata, senyuman terbit dibibirnya saat mendengar itu


"Aku akan berusaha melupakan semuanya dan memaafkanmu, walau sulit aku akan berusaha" lanjut Renata lagi


"Aku tau walau mulutmu mengatakan itu tapi hatimu masih sulit untuk menerimanya, tapi aku berjanji untuk memperbaiki kesalahanku sekarang" Renata sedikit mengernyitkan alis, apa maksudnya memperbaiki kesalahan? Pikirnya


"Maksudmu?"


"Aku akan berusaha memperbaiki hubungan kita yang rusak Ren, ibuku sudah memberi izin" Renata menatap kearah laki-laki itu yang juga menatapnya


"Kak Gempano, aku memaafkanmu bukan berarti hubungan kita akan kembali seperti semula, aku memaafkanmu bukan berarti kita bisa bersama lagi" jawab Renata

__ADS_1


"Kenapa?"


"Vas yang rusak mungkin bisa diperbaiki tapi akan tetap meninggalkan bekas, begitupun dengan kita, walau kita kembali bersama tapi semuanya akan berbeda dari sebelumnya, selain itu..."


"Aku akan berusaha, aku akan berusaha untuk mendapatkan hatimu kembali jika memang kau tidak menyukaiku lagi, aku akan berjuang untuk membuat orang tuamu kembali yakin, aku akan mulai berjuang untuk semuanya" Renata menghela nafasnya, lagi-lagi Gempano memotong ucapannya


"Selain itu aku akan segera menikah" ucap Renata pelan, suaranya pelan sekali. Kalau dulu ia menunggu Gempano mengatakan ini, tapi sekarang tidak lagi, semuanya sudah terlambat


"Apa?!" Gempano sedikit meninggikan ucapannya, apa ia tidak salah mendengar


"Aku akan segera menikah" Renata mengeluarkan undangan pernikahannya dengan Galang dan menyerahkannya pada laki-laki itu. Gempano menerimanya dengan bergetar


"Acaranya tiga hari lagi, aku berharap Kak Gempano bisa datang" Renata mengatupkan bibirnya setelah mengatakan itu, ia tak tega sebenarnya melihat luka di mata laki-laki itu, tapi mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terlambat, waktu tidak bisa diputar kembali


"Galang?" Gempano tak percaya melihat nama yang tertulis disana. Galang? Dulu ia dan Renata bahkan seperti kucing dan tikus saat bertemu


"Ren, aku tau kau mungkin kecewa padaku tapi tidak harusnya membuat undangan palsu seperti inikan? Apalagi dengan menulis nama Galang, kamu pikir aku percaya?" Gempano sebenarnya sedang berusaha menolak fakta yang terjadi sekarang, hatinya tak terima jika Renata benar-benar akan menikah


"Aku tidak bercanda, itu nyata, kalau kau tidak percaya kau bisa datang dialamat itu tiga hari lagi, aku akan menikah dihari itu"


"Ren, apa semuanya tidak bisa berubah? Kenapa semuanya melenceng begitu jauh dari jalan sebelumnya" Gempano menunduk suaranya berubah serak, ia menangis, benar-benar menangis, Renata sampai terdiam karena pertama kalinya melihat laki-laki humoris itu menangis


"Aku benar-benar bingung sekarang Ren, kepalaku seperti ingin pecah melihat masalah ini, hanya karena satu langkah yang salah semuanya hancur" laki-laki itu masih menunduk, tak berani menatap kenyataan didepan mata kalau perempuan yang selalu bersamanya beberapa tahun ini akan menikah dengan laki-laki lain


"Jadikan pelajaran untukmu kedepannya, jadikan dirimu berubah menjadi laki-laki yang tegas dan bertanggung jawab terhadap pilihanmu" balas Renata, hanya itu yang mampu ia katakan


"Apa semuanya tidak bisa terulang kembali dari awal?" Gempano bersuara lirih dan Renata terkekeh, ia juga mengusap air mata yang tiba-tiba menetes disudut matanya


"Diulang kembali dari mana? Dari hubungan kita? Aku bukan perempuan gila yang membatalkan janji pernikahan begitu saja"


"Apa kau yakin dia laki-laki baik yang bisa membimbingmu? Kau tidak ingat dulu kalau ia suka mempermainkan perasaan perempuan?"


"Setidaknya ia laki-laki yang bertanggung jawab, dan tidak plin plan sepertimu, dia setidaknya berjanji kalau bisa membahagiakan diriku setelah menikah bahkan orang tuanya menerimaku dengan baik. Tentang masa lalunya?, aku tak ingin menilai orang dari masa lalunya karena ia bisa saja berubah bahkan dalam waktu kurang dari satu hari" kalimat Renata menjadi tamparan untuk Gempano


"Selain itu aku tidak mau menjadi pilihan, pilihan yang kau pilih saat pilihan pertamamu gagal, aku ingin menjadi tujuan, tujuan yang diprioritaskan dari awal" Renata menghela nafas, ia berdiri dari duduknya dan memegang tali tasnya erat


"Ini sudah hampir malam, aku pulang dulu sebelum ibuku menelpon"

__ADS_1


"Maafkan aku, semoga kamu bisa mendapat jodoh terbaik dan bisa belajar dari kesalahan" Renata menepuk punggung laki-laki itu dan bersiap beranjak pergi


"Assalamu'alaikum"


Gempano menarik lengan kemeja Renata hingga membuat gadis itu berhenti


"Maafkan aku kalau tidak bisa hadir dihari bahagiamu, aku perlu menyiapkan hati dan mental agar tidak menangis saat melihat laki-laki lain disampingmu"


"Aku mengerti, aku masih berharap kau datang"


"Apa kita masih bisa berteman?"


"Kenapa tidak? Aku pasti senang mempunyai teman sebaik dirimu" Gempano sedikit tersenyum walau hatinya terluka


"Terima kasih, hati-hati dijalan"


Renata mengangguk, saat berbalik badan air mata gadis itu tumpah begitu saja, hati memang tak pernah bisa berbohong, ia mencintai laki-laki itu bahkan rasa cinta itu masih ada, tapi sebuah kepercayaan yang menjadi fondasi paling awal sudah hilang, hingga semuanya hancur tak bersisa. Seharusnya ia tak boleh seperti ini karena Gempano sudah bukan lagi laki-laki yang pantas untuk ia tangisi


Gempano yang melihat kepergian Renata hanya tersenyum pedih, hancur tak bersisa, semuanya sudah terlambat, ia menarik nafasnya dan bangkit dari sana, tak lupa membawa undangan yang diberikan Renata


Ia melajukan motornya dengan kecepatan cukup tinggi, awalnya ia ingin memberitau Renata kalau ibunya setuju dan meminta mengundangnya makan malam sekaligus sebagai permintaan maaf, tapi apa sekarang? Semua sudah terlambat


Saat sampai di rumahnya, Ibu Ratih keluar dari rumah saat mendengar suara motor putranya


"Dimana Renata?" Tanyanya saat melihat Gempano hanya datang sendiri. Gempano tak menjawab, ia memberikan undangan itu pada ibunya dan masuk kerumah begitu saja, ia benar-benar kacau sekarang


Ibu Ratih heran melihat Gempano, tak biasanya ia bersikap seperti itu, ia melihat undangan yang ada ditangannya


"G dan R" gumamnya membaca inisial nama yang tertulis disana


Karena rasa penasaran yang tinggi dan perasaan yang mulai tidak enak, ia dengan cepat membuka kertas itu


Deg


Ia menoleh kebelakang melihat pintu kamar putranya yang tertutup, kini ia sadar Gempano pasti merasa tertekan karena hal ini, dan penyebab utamanya adalah ia sebagai orang tua yang membatasi pilihan anaknya


"Maafkan ibu nak" Ibu Ratih hanya mampu mengucapkan itu, ia sadar kalau keegoisannya membuat mereka kehilangan semuanya

__ADS_1


.


Banyak Typo...🙏🙏🙏


__ADS_2