
Bau obat-obatan yang pekat, ruangan putih, tirai hijau, dan isak tangis orang-orang saat salah satu keluarganya dipanggil oleh sang maha kuasa menjadi ciri umum rumah sakit
Aqila memberanikan dirinya menjenguk Naufal, dari penuturan Darren yang ia paksa menjelaskan kondisi Naufal sebenarnya, Aqila sudah cukup paham bagaimana hubungan mereka kedepannya
Didepan ruang inap Naufal, Aqila melihat Fadila duduk disalah satu kursi ruang tunggu pasien
"Assalamu'alaikum" Aqila menghampiri dan mengucapkan salam terlebih dahulu, ia terpaksa datang kesini sendiri karena orang tuanya mengatakan akan menyusul setelah urusan meeting dengan klien luar negri selesai
"Wa'alaikumussalam" Fadila melihat Aqila, mungkin ia tau kalau perempuan yang ada didepannya saat ini tunangan Naufal
"Naufal sedang diperiksa dokter didalam" Aqila mengangguk dan memilih duduk dikursi tunggu, entah kenapa ia pun tak ingin su'udzon tapi terdengar nada sedikit ketus dari Fadila, Aqila berfikir kalau mungkin memang nada bicara Fadila memang seperti itu
"Abi Umar dan Ummi Sarah dimana?"
"Mereka pulang mengambil pakaian ganti" Aqila mengangguk kaku, mungkin memang benar nada bicara Fadila seperti itu
"Emm kamu sendiri disini?"
"Tidak baik rasanya jika laki-laki dan perempuan bersama dalam satu ruangan, aku tidak sendiri menjaga Naufal didalam tapi bersama istri Kak Hasan, tapi dia izin keluar saat dokter masuk" entah kenapa Aqila merasa seperti dirinya disindir, atau mungkin hanya perasaannya saja
Ceklek
Pintu ruangan terbuka, Darren dan satu perawat keluar dari sana
"Kondisi tubuhnya mulai stabil tapi Naufal masih belum sadar sekarang"
"Alhamdulillah" ucap Fadila dan Aqila
Saat Aqila ingin masuk kedalam, tangannya ditahan oleh Fadila
__ADS_1
"Saya tau kamu tunangan Naufal, tapi tak baik rasanya jika berdua saja dengan orang yang bukan makhram" jelasnya
Darren yang mengerti adiknya ingin berbicara dengan Naufal memegang tangan Aqila dan membawanya masuk
"Saya yang akan menemaninya" ucapnya kemudian menutup pintu, karena jumlah orang yang ingin menjenguk dibatasi agar tak menganggu pasien
Walau sempat terkejut melihat perlakuan Darren Fadila mengangguk, mungkin ia tak tau mereka bersaudara
"Bicaralah dengannya, kakak tidak mendengar" Darren mengambil earphone dari dalam tas adiknya dan memasang ditelinga
"Assalamu'alaikum Kak Naufal" Baru mengucapkan salam saja air mata Aqila hampir luruh melihat mata itu tertutup rapat dengan selang oksigen yang terpasang di hidungnya
"Kenapa menjadi seperti ini? Takdir kita begitu rumit, bahkan tak pernah terpikirkan skenario hidup kita seperti ini"
"Kak Naufal, calon imamku tapi aku tak tau kedepannya akan bagaimana, aku hanya ingin mengatakan kalau kau laki-laki yang berhasil membuatku percaya dan yakin kalau dunia tidak sekejam itu"
"Jika kau bangun nanti, kau mungkin tak bisa mengingat diriku dan akupun begitu, setelah operasi selesai, apakah aku masih bisa mengingatmu? Bahkan kedepannya aku tak tau yang entah jodoh atau maut yang lebih dulu menjemput"
"Sebenarnya apa yang ada dalam kepala ketua Felis Catus ini sampai tak bisa menggunakan helmnya dengan benar, hmmm?" Gumam Aqila lirih menahan isakannya
"Kau tau aku punya banyak mimpi bersama setelah kau berhasil meyakinkan aku kemarin, meyakinkan diriku tentang cintamu"
"Sangat banyak hingga tak bisa aku sebutkan satu persatu, aku akan menunggu sekarang, menunggu apakah mimpi itu bisa menjadi nyata"
"Mari kita berjuang bersama, jika memang Allah menggariskan kita berjodoh, suatu hari nanti kita akan dipertemukan dengan cara yang tak pernah kita duga"
"Kak Naufal harus sembuh, harus sehat, harus berhasil melewati rasa sakit ini, Kak Naufal berjanji menjadi pelangi selamanya, jadi ayo bangun, jangan seperti ini"
"Aqila tak tau tapi mungkin ini pertemuan terakhir kita untuk satu, dua atau beberapa
__ADS_1
tahun kedepan"
"Kau kembali meruntuhkan keyakinanku kalau pelangi memang hanya sementara, entah aku yang akan pergi atau kau yang lupa tentang semua janji itu" Aqila kembali terisak, bahkan tubuhnya hampir merosot kala rasa sakit kepala kembali mendera
"Jika memang Allah menggaris takdir kita tak bisa bersama, aku akan mengembalikan cincin ini kelak padamu jika kau sudah menemukan pendamping, setidaknya dengan cincin ini sekarang aku bisa mengingatmu sebagai laki-laki yang pernah berjanji menjadi pelangi" Aqila melepas cincin yang melingkar dijari manis sebelah kirinya, menyimpannya dalam tas yang dibawanya
"Aku akan pergi berobat ke Amerika, kata papa persentase penanganan kanker disana lebih baik, mari kita berjuang bersama jika kita ditakdirkan" Aqila mulai terhuyung saat sakit kepalanya sudah tak bisa diajak bekerja sama
"Aqila" Darren menahan tubuh adiknya yang akan ambruk, Aqila memang tak boleh stres atau banyak pikiran karena bisa mempengaruhi penyakitnya tapi bagaimana bisa ia tak banyak pikiran jika ujian datang seperti ini?
"Ayo kita pulang"
"Sebentar lagi kak"
Dengan mata yang masih bisa terbuka walau terasa semakin buram, Aqila mendekati Naufal dan berbisik ditelinga laki-laki itu
"Assalamu'alaikum Kak Naufal, insya allah sampai jumpa lagi di masa depan, jika kau sadar nanti dan melupakanku kau pasti akan ingat ketika melihat pelangi, aku harus pergi untuk berobat ke negri orang dan kau juga harus sembuh disini"
Brukkk
Aqila sudah tak sadarkan diri setelah itu, sakit kepala luar biasa dan pandangannya mulai gelap, setidaknya ia sudah menyampaikan isi hatinya. Tanpa disadari oleh Darren, Naufal pun turut mengeluarkan air mata dari sisi matanya
Mungkin laki-laki yang masih terbaring koma itu merasakan sakit pada sekujur tubuhnya atau justru sakit saat ia harus berpisah dengan pilihan hatinya
Darren menggendong tubuh adiknya keluar dari ruangan Naufal, hatinya sakit melihat semua ini, disaat Naufal ia harapkan sebagai penyemangat gadis itu untuk sembuh, sekarang laki-laki itu justru terbaring lemah tak berdaya. Fadila dan Misya, istri Hasan terkejut melihat Aqila tak sadarkan diri dalam gendongan Darren, mereka seolah bertanya apa yang terjadi, namun Darren hanya menggelengkan kepalanya sopan dan melangkah pergi dari sana
Takdir seperti mempermainkan mereka, bersama dan mengucap janji suci di hadapan sang khalik tak semudah itu, ada ujian yang harus mereka lewati lagi, debur ombak pantai seperti menertawakan mereka yang bahagia sore kemarin dengan ucapan-ucapan manis
Nyatanya tetap Allah sang pemilik skenario hidup manusia, tidak ada kata 'aku tidak ditakdirkan bahagia' karena nyatanya kebahagiaan itu kadang diciptakan oleh kita sendiri atau memang belum saatnya ia datang menghampiri. Disaat pahitnya hidup dengan ujian seperti tiada henti percayalah kalau masa yang akan datang nanti buah kesabaran itu begitu manis. Bagaimana mungkin manusia mengatakan kenapa aku dilahirkan didunia ini jika kita sendiri yang dulu memilih lahir, ada orang yang pernah bilang manusia dipertontonkan kejadian dari ia lahir sampai meninggal dan ditanya sebanyak tujuh puluh tujuh kali apakah mau menerimanya atau tidak?, jika sudah ada disini pasti ada alasan yang membuat kita untuk mau menerimanya kan?
__ADS_1