
"Kak Naufal?" Keduanya sama-sama terdiam setelah Aqila mengucap kata itu
"A Aqila" Naufal bahkan sampai terbata menyebut nama gadis itu
Fadila diam memandang mereka, tak bisa berbohong kalau rasa itu ada, tapi benar kata Naufal, tak ada yang bisa dipaksakan terlebih tentang urusan hati, Aqila dan Naufal, dua orang itu seperti memang ditakdirkan bersama setelah ujian panjang dan permainan takdir yang tiada akhirnya
"Aunty Qila, ayo pulang" ucap Yusuf pelan, ia masih malu dengan kejadian yang tadi
"I iya, ayo pulang" ucap Aqila, ia melihat kearah Naufal dan kearah Fadila yang duduk bersamanya, tak bisa berbohong hatinya sakit melihat itu, apa laki-laki itu sudah melupakannya? Termasuk janji lima tahun lalu?
Aqila berdiri dari duduknya, ia mengambil tas di kursi dan melakukan pembayaran di kasir, sedikit tak peduli dengan tatapan Naufal yang terus melihatnya
"Aqila" Naufal sedikit menarik lengan jaketnya saat Aqila keluar dari restoran, Naufal segera tersadar saat gadis itu akan pergi, ia tak ingin kehilangan lagi
"Apa?" Tanya Aqila, ia bertanya tanpa membalikkan tubuhnya, hatinya masih belum siap merasakan sakit, air matanya sudah ingin tumpah tapi tidak disini
"Kenapa?"
"Apanya yang kenapa?" Tanya Aqila balik, pertanyaan Naufal sungguh tak jelas menurutnya
"Kenapa tidak bilang kalau sudah pulang?" Tanya Naufal lembut
"Karena..."
"Aunty Qilla pelangi" suara Zevan memotong ucapan Aqila, ia menunjuk pelangi yang terbentuk jelas di awan mendung
Bahkan Yusuf yang sedari tadi menenggalamkan wajahnya dileher Aqila ikut mendongak, melihat hasil pembiasan cahaya matahari dengan air di atmosfer, hingga terbentuklah tujuh warna yang indah
"Pelanginya indah" ucap Yusuf, ia minta diturunkan dari gendongan Aqila
"Tapi cuma sementara" lanjut Aqila, ia seperti tak memperdulikan Naufal di belakangnya yang masih mendengar ucapannya
"Kenapa pelangi datangnya setelah hujan?" Tanya Zevan, rasa ingin tau anak itu begitu tinggi, Aqila berjongkok menyamakan tingginya dengan Zevan untuk menjelaskan
__ADS_1
"Pelangi tidak selalu muncul pasca hujan, tetapi kebanyakan pelangi hadir usai hujan karena sinar Matahari membutuhkan sisa air hujan untuk membentuk pelangi, Ketika sinar Matahari bersinar di atas sisa hujan, maka air hujan akan merefleksikan cahaya dan membiaskan bermacam-macam warna"
Ucapnya menjelaskan, tapi sepertinya bahasa yang ia gunakan tak mampu diserap dengan baik oleh anak itu
"Jadi begini, pelangi itu datang..."
"Pelangi itu datang setelah hujan karena pelangi itu ibarat kebahagiaan yang datang setelah kesedihan" ucap Naufal, ia memotong ucapan Aqila dan berjongkok disamping Yusuf yang masih mengusap bekas air matanya
"Tapi kenapa hanya sementala?" Tanya Yusuf, anak itu menatap kearah Aqila karena masih malu dengan perbuatannya pada Naufal
"Karena kebahagiaan itu hanya sementara, tak ada yang abadi termasuk pelangi, karena perlahan warnanya akan pudar dan menghilang tanpa meninggalkan jejak" ucap Aqila dengan pandangan lurus kearah pelangi yang masih menunjukkan tujuh warna indahnya
Naufal menatapnya sedikit termangu mendengar jawaban gadis itu, apa yang terjadi? Apa yang dipikiran Aqila sampai mengatakan itu? Apa ia sudah lupa dengan janji Naufal?
"Itu berlaku hanya untuk pelangi yang secara alami terbentuk di langit, kita juga bisa membuat pelangi untuk selamanya" saat mengatakan itu pandangan Naufal tertuju lurus kearah Aqila, ia tersenyum melihat gadis itu seperti kehabisan kata-kata membalasnya
"Tapi pelangi yang kita ciptakan sendiri bisa saja hilang juga karena kita"
Setelah mengatakan itu, Aqila berdiri dari duduknya, ia menepuk pelan debu yang menempel pada roknya
"Aqila, kenapa?" tanya Naufal lagi mengulang pertanyaan sebelumnya
"Apa masih perlu dijelaskan kenapa?" Membalas pertanyaan dengan sebuah pertanyaan lain sepertinya memang kegemaran Aqila
"Tunggu aku besok" teriak Naufal cukup keras, saat Aqila memilih melanjutkan langkahnya masuk kedalam mobil
Fadila yang berada di belakang Naufal menghampiri laki-laki itu, ia termenung dan terdiam dari tadi melihat dua orang yang saling merindu tak pernah bertemu itu beradu konsep tentang pelangi
"Mungkin dia salah paham karena melihat aku ada disini" ucapnya pelan, Naufal tersadar sesuatu, ia memaki dirinya, kenapa ia tidak melihat itu, sudah pasti Aqila salah paham dengan semua ini makanya mengatakan hal seperti itu
"Akan aki jelaskan, ayo kita kembali ke rumah sakit, aku tidak ingin kesalahpahaman ini semakin berlanjut" ucapnya segera menuju kearah mobil, ia harus segera memberi tau kejelasan semuanya kepada Kyai Utsman
Nyatanya ia memang terlambat, kesalah pahaman itu sepertinya semakin meluas lebar, buktinya saat ia membuka pintu ruangan Abi Umar dan Umi Sarah sudah ada disana, melemparkan senyum kearah dirinya yang masuk bersama Fadila
__ADS_1
"Abi tidak menyangka kau akan mengambil keputusan ini nak" walau dengan tersenyum, Naufal kenal betul dengan suara abinya, terselip sedikit nada kecewa dari tuturnya
"Keputusan apa abi?"
"Kenapa balik bertanya keputusan apa?, Kau sudah memilih Fadila kan?" Tanya Umi Sarah, Naufal menatap kearah mata ibunya, jika Abi Umar tak bisa bohong dengan suaranya didepan Naufal, maka Umi Sarah tak pernah bisa bohong dengan matanya walau tuturnya berkata lain. Dibalik mata teduh itu tersirat bahagia dan sedikit kecewa, entah mungkin karena keputusannya atau apa, Naufal bingung
"Kapan kalian berdua akan melaksanakannya?" Tanya Kyai Utsman tersenyum
"Abi..."
"Pak Kyai..." Naufal dan Fadila berucap serentak, mereka ingin menjelaskan semuanya, Naufal tak ingin memberikan harapan karena hatinya sudah sudah terikat dengan janji, sedangkan Fadila ia tak ingin merasa tak enak dengan pertanyaan abinya, seharusnya dari awal ia sadar kalau yang diharapkan Naufal adalah Aqila, Naufal hanya menganggapnya saudara karena pertemananan orang tua mereka
"Pak Kyai dan semua yang ada disini saya ingin meluruskan kesalah pahaman ini" ucap Naufal membuka pembicaraan
"Salah paham? Apa yang salah paham?" Tanya Umi Zahwa, ia meminta putrinya untuk duduk disebelahnya
"Saya memang berjanji untuk menjaga dan melindungi Fadila..." ucap Naufal, ia menjeda sejenak ucapannya
"Tapi bukan sebagai seorang imam yang akan membimbingnya, melainkan sosok saudara yang akan membantunya menemukan laki-laki yang tepat sebagai pemimpinnya" ucap Naufal
Dapat dibayangkan, bagaimana ekspresi wajah orang yang ada disana, mereka terkejut dan tak bohonh kalau Kyai Utsman dan Umi Zahwa sedikit kecewa dengan perkataan Naufal
"Dia sudah kembali, Aqila sudah kembali, sekarang saatnya Naufal melaksanakan janji Naufal padanya lima tahun lalu" sambungnya, ia menatap kearah umi dan abinya
"Ta tapi..." ucap Abi Umar, suaranya ikut tercekat
"Naufal tak ingin memaksakan hati, abi. Justru akan semakin sakit dan hidup dalam kesepian kalau dipaksakan" sambung Naufal seolah sudah mengerti apa yang akan diucapkan Abi Umar
"Tapi abi sudah menelpon Papa Arya beberapa saat lalu, dan mengatakan membatalkan pertunangan lima tahun lalu" ucap Abi Umar
"Apa?!" Naufal bahkan tak sadar saat suaranya meninggi, jantungnya hampir copot saat ini juga, artinya perjuangannya bertambah dua kali lipat, untuk meyakinkan dan menjelaskan kesalahpahaman pada Aqila dan mencoba kembali merebut hati calon mertuanya
.
__ADS_1
Banyak Typo...🙏