Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Pelangiku hanya sementara


__ADS_3

Setelah kepergian Naufal, mobil Renata nampak masuk kehalaman rumah. Aqila memperhatikan mata sahabatnya yang nampak sembap, Renata menangis? Pikirnya, karena tak biasanya gadis itu menangis


Bukan mengucap salam atau bertegur sapa terlebih dahulu, Renata langsung memeluk tubuh Aqila erat setelah keluar dari mobil hingga membuat Aqila hampir saja kehilangan keseimbangan


"Astagfirullohaladzim Ren, kamu kenapa?" Aqila sudah melihat bahu sahabatnya bergetar dan merasakan cairan hangat di pundaknya, Renata benar-benar menangis


"Ayo masuk kedalam, nggak enak diliat orang disini" ucap Aqila pelan, ia membimbing Renata untuk duduk disofa ruang tamu


"Kenapa?" Tanyanya lembut, sambil mengelus pelan bahu Renata, tak biasanya Renata yang selalu ceria, bar-bar dan cukup tomboy itu menangis seperti ini


"Gempano hiks"


"Kak Gempano kenapa?"


"Di dia hiks"


"Dia kenapa"


"Ge Gempano dia hiks hiks hiks" Aqila berusaha tenang agar Renata bisa bercerita, apa terjadi sesuatu pada Gempano? Atau pada hubungan mereka?


"Dia kenapa?" Tanya Aqila lagi, ia berusaha tenang


"Dia memilih ibunya hiks"


"Maksudnya?" Otak Aqila cukup waktu untuk mencerna kalimat itu karena Renata sebelumnya tak pernah cerita tentang hubungannya yang belum disetujui orang tua Gempano. Ibunya? Tidaj mungkin Gempano menikah dengan ibunya kan?. Aqila menggelengkan kepala, pikirannya terlalu konyol sekali


"Dia milih perempuan yang disetujui ibunya"


"Apa?! Tidak mungkin dia melakukan hal seperti itu" Aqila bahkan tak percaya mendengar ini, ia ingat betul bagaimana laki-laki itu dari dulu berusaha mengejar Renata, dan sekarang? Memilih perempuan lain? Apa itu masuk akal?

__ADS_1


"Aku sendiri tak percaya kalau ia bisa menjadi laki-laki seperti itu, dia sendiri yang mengatakan ini tadi pagi, semua janji-janjinya hanya omong kosong" Renata menghapus air matanya dengan tisu diatas meja


"Apa dia tidak sedang becanda? Atau mungkin untuk mengerjaimu?" Aqila masih tak habis pikir kalau hubungan sahabatnya berakhir seperti ini


"Tidak, dari awal ibunya memang terlihat seperti kurang menyukaiku, mungkin karena penampilanku atau sikapku"


"Kenapa kamu nggak cerita dari awal?"


"Kamu lupa Qil? Kamu pergi sudah seperti ditelan bumi, tak ada tanda-tanda akan kembali" Aqila jadi merasa bersalah sekarang


"Maaf, seharusnya aku ada disampingmu saat itu"


"Jangan kamu yang meminta maaf, kalaupun kamu ada saat itu, mungkin kamu tidak akan ada hari ini" Aqila menganggukan kepala, benar jika ia ada saat itu, mungkin ia telah tiada hari ini karena penyakit ganas itu


"Bodohnya aku Qil yang percaya semua omong kosongnya, percaya pada janji dan harapan palsunya, percaya pada kata-katanya yang penuh janji manis, dia mengatakan akan mengajakku bertunangan sebentar lagi, aku bahkan sudah memberitau orang tuaku dan sekarang mereka terus bertanya tentang itu, dan aku masih berusaha menutupi dengan banyak alasan" Aqila sampai tak mampu berkata-kata, apa Gempano benar-benar seperti itu?


"Dia mengatakan kita akan menikah dalam waktu dekat setelah pernikahan Naufal dan Aqila, tapi apa sekarang? Semuanya hanya janji palsu"


"Dia dulu datang menghiburku saat kau pergi, memperlakukan aku dengan manis, dan selalu membuatku tertawa dengan tingkah lakunya. Tapi sekarang dia pergi begitu saja setelah berhasil membuat benteng yang aku bangun roboh, dia seperti gempa yang menghancurkan benteng itu hingga runtuh"


"Kau tau dia mengatakan apa saat kamu memberiku undangan pernikahan itu? Dan aku menyinggung soal kejelasan hubungan kami. Kamu tau dia mengatakan apa Qil?"


"Apa yang dia katakan?" Aqila hanya bisa menyerahkan bahunya untuk Renata sekarang, sahabatnya butuh teman untuk mendengar masalah hatinya


"Dia mengatakan, apa kau tidak bisa bersabar seperti Aqila?"


"Apa benar dia mengatakan itu?" Aqila sendiri tak percaya, berita ini terlalu mengejutkan dan serasa mustahil untuk diterima


"Iya, dan aku balas dengan mengatakan maka jadilah juga seperti Naufal yang menepati janjinya dan berusaha meyakinkan orang tuanya"

__ADS_1


"Kurang ajar sekali jika dia membandingkan seperti itu" balas Aqila


"Pelangiku hanya sementar Qil, dia hanya datang sesaat setelah hujan, setelah itu pergi tanpa meninggalkan jejaknya sama sekali"


"Takdir orang berbeda-beda Ren, jangan terpengaruh dengan ucapannya, aku sendiri tak habis pikir jika ia membandingkan seperti itu, tuhan menciptakan kita berbeda-beda, tak sama termasuk dalam urusan hubungan seperti ini"


"Bodohnya aku yang percaya dengan janji manis itu Qil" Renata mulai tenang, ia tak lagi menangis, hanya tersisa sedikit isakan dari bibirnya karena terlalu lama menangis


"Bukan kamu yang bodoh Ren, tapi dia yang tidak bertanggung jawab, aku yakin bahkan perempuan manapun akan terbuai jika diperlakukan seperti itu"


"Mungkin ini teguran untukku kalau dia bukan jodoh yang baik, orang tuanya saja tidak menerimaku, percuma juga aku hidup berumah tangga jika ibunya belum merestui"


"Sabar Ren, aku yakin Allah sudah mempersiapkan jodoh yang terbaik untukmu, siapa yang tau besok, lusa, atau bahkan nanti malam kau mungkin menikah"


"Aku masih harus menata hatiku lagi untuk percaya pada laki-laki Qil, laki-laki yang tidak berjanji omong kosong"


"Kau bisa belajar dari kesalahan, tapi ingat jangan pernah menganggap setiap laki-laki sama, mereka berbeda dan cara mereka memperlakukanmu juga akan berbeda"


"Aku mengerti, dia memang bukan jodoh yang tuhan kirim untukku, seharusnya aku tau dari awal jika dia memang bersungguh-sungguh, maka ia pasti sudah bisa meyakinkan orang tuanya, bukannya malah menunggu dan berharap hati itu akan luluh semudah itu"


"Pantas saja kemarin dia pergi begitu saja, sikapnya juga berubah, tapi kenapa aku masih berharap semuanya baik-baik saja? Mungkin dia bahkan sudah menemui perempuan pilihan ibunya, mungkin perempuan itu lebih cantik, lebih baik dan lebih segalanya dibanding aku"


Aqila memegang kedua bahu Renata dan mengangkat wajah gadis itu untuk menatap kearahnya


"Dengar baik-baik Ren, dengan ini kamu sudah melangkah kearah yang tepat, sebagai perempuan jangan jadikan dirimu sebagai pilihan, jangan buat dirimu yang menanti dan terus mengharapkannya padahal sudah jelas ia memilih yang lain, tapi kamu harus bisa menemukan laki-laki yang menjadikanmu sebagai tujuan hidupnya, menjadikanmu prioritasnya dan menjadikanmu satu-satunya bukan yang pertama, karena bisa jadi akan ada yang kedua, ketiga, dan keempat"


"Kamu sudah berhasil keluar dari kandidat pilihan itu, kamu sudah melakukan hal yang benar, jadi jangan terlalu bersedih karena aku yakin, Allah akan menggantinya dengan yang terbaik, yang benar-benar menjadikanmu tujuannya"


Renata mengangguk terharu mendengar ucapan Aqila, tak salah ia memilih datang ke tempat ini, pelukan Aqila adalah pelukan terhangat setelah orang tuanya

__ADS_1


"Terima kasih Qil"


"Hmm, jangan pernah mengeluarkan air mata lagi untuk laki-laki seperti itu"


__ADS_2