Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Bertemu


__ADS_3

"Pokoknya makanan ini harus habis, jangan sampai ada sisa" peringat Aqila pada dua bocah yang hanya menganggukan kepalanya


Naufal yang berada didepan sedikit tersenyum mendengar ucapan seseorang dibelakangnya, suaranya bagai perintah yang tak dapat diganggu gugat, Naufal mengira dia pasti seorang ibu yang peduli pada anaknya


Hingga sampai pesanannya datang, Naufal masih sedikit tersenyum mendengar celotehan anak-anak yang duduk dibelakangnya


"Naufal, anta kenapa?" Fadila jadi merada sedikit aneh melihat laki-laki itu senyum sendiri, tapi tak bisa ditampik ia sedikit bahagia. Naufal segera menormalkan eskpresi wajahnya, ia membawa Fadila kesini untuk menjelaskan maksud ucapannya, bukan malah senyum-senyum sendiri seperti ini


"Aku nggak papa" jawabnya singkat, ia mulai menikmati makanan yang disajikan


"Makannya pelan-pelan jangan sampai sausnya kena baju seragam, itu masih kalian pakek kan besok?" Peringat Aqila lagi, dua anak itu hanya mengangguk menggemaskan, mulut mereka sudah penuh dengan burger dan saus yang sudah belepotan


Aqila mulai menyantap makan siang yang sudah tersaji, burger dan kentang goreng, pesanan yang sama dengan dua bocah didepannya, ia malas kalau harus memesan nasi karena pasti ia yang terakhir selesai makan dibandingkan dua anak itu


"Makasih ya makanan gratisnya Aunty Qila" ucap Yusuf setelah mereka selesai


"Siapa yang bilang gratis?" Tanya Aqila terkekeh


"Tapi Yusuf nggak bawa uang, uangnya udah habis buat beli jajan disekolah" ucap Yusuf mulai panik


"Untung aku bawa" ucap Zevan, anak itu mengeluarkan uang dua puluh ribu dari kantung seragamnya


"Yusuf beli jajan atau beli mainan Zevan?" Tanya Aqila, ia senang sekali menggoda keponakannya itu


"Dua-duanya" jawab Zevan


"Karena Yusuf nggak bawa uang artinya Yusuf harus cuci piring" ucap Aqila menutup mulutnya pura-pura ikut panik


"Pinjem uang Aunty Qila besok Yusuf ganti" ucapnya, suaranya mulai terdengar bergetar, tapi Aqila justru semakin gencar menggodanya


"Yah, aunty juga cuma bawa dua puluh ribu" Aqila mengeluarkan uang dua puluh ribu dari kantong jaketnya


"Terus aku gimana?" Aqila mati-matian berusaha menahan tawa, kapan lagi bisa mengerjai keponakannya yang banyak omong itu


"Aunty Qila kan janji tlaktil makan" suaranya yang cadel justru membuat Aqila semakin gencar menggoda

__ADS_1


"Kapan? Aunty Qilla cuma janji traktir es krim" jawab Aqila menutup mulut agar tawanya tak lepas


"Naufal, anta serius dengan ucapan anta beberapa waktu lalu?" Tanya Fadila, ia ingin mendengar alasan Naufal melakukan itu


"Hmm, Kyai Utsman memintaku menjaga dan melindungimu, aku akan melakukan itu"


"Bagaimana dengan Aqila?" Tanya Fadila


"Memangnya ada apa dengan Aqila?" tanya Naufal kembali


"Apa anta sudah membatalkan pertunangannya?" Tanya Fadila hati-hati


"Tidak"


"Lalu?" Naufal menghela nafasnya panjang


"Ini yang mau saya katakan tadi di rumah sakit, bukankah Kyai Utsman memintaku menjaga dan melindungimu? Aku akan melakukan itu sampai kau mendapatkan laki-laki yang tepat menjadi imammu" ucap Naufal, Fadila tersentak padahal yang dipikirkannya bukan seperti itu


"Aku akan menjaga dan melindungimu seperti saudaraku, aku juga sudah menganggap Kyai Utsman sebagai abiku"


"Aku mengerti, terima kasih sudah mau menjaga dan melindungiku" ucapnya


"Kau perempuan yang baik, aku yakin jodohmu adalah laki-laki yang baik pula, yang akan membimbingmu menuju surga-Nya"


"Aamiin, terima kasih" Naufal mengangguk, sedari tadi pendengarannya sedikit tak fokus mendengar perbincangan yang sepertinya seru di meja belakang


"Kau harus mengatakan ini pada abi dan umi, aku tidak ingin mereka salah paham"


"Aku memang akan melakukan itu, setelah kita kembali" ucap Naufal, ia memandang cuaca diluar yang berubah panas


"Semoga Kyai Utsman segera sembuh dari penyakitnya, para santrinya masih begitu membutuhkan beliau" ucap Naufal, Fadila mengamini ucapan Naufal, ia ingin abinya menjadi wali di pernikahannya nanti seperti kebanyakan perempuan lain


Dua orang yang sudah lama saling menanti satu sama lain, mengikuti arus permainan takdir dengan gelombang ujian besar yang menerpa, mereka terpisah jarak ribuan kilometer selama lima tahun, kini dipertemukan dalam satu tempat yang sama dengan jarak satu meter saja, tapi tak ada yang sadar akan hal itu


"Yusuf nggak mau cuci piling" mata dan hidungnya mulai memerah, tapi Aqila masih terus ingin menggodanya. Puas sekali rasanya melihat anak itu ingin menangis

__ADS_1


Astagfirulloh, Aqila mengelus dadanya pelan


Tak disangka-sangka anak itu turun dari kursi dan datang ke meja disebelah mereka


"Om, Yusuf pinjam uang, nanti diganti sama Aunty Qila, Yusuf nggak mau cuci piling" Aqila panik bukan main, suara tangis Yusuf juga mulai terdengar hingga menarik perhatian pelanggan lain


Dengan cepat ia berdiri dari kursinya, memeluk Yusuf yang sembarangan minta uang di meja sebelah


"Maaf kak, cuma salah paham" ucapnya masih menenangkan Yusuf tanpa melihat lawan bicaranya


"Udah jangan nangis lagi ya, Aunty Qila cuma becanda" ucap Aqila, ia merapikan rambut keponakannya yang berantakan


"Aunty Qila jahat, Yusuf aduin ke kakek" Yusuf menghapus sisa-sisa air matanya, ia membalas pelukan Aqila dan menyembunyikan wajahnya di leher Aqila, ia pasti malu, sedang Zevan yang masih santai duduk malah tertawa terbahak-bahak melihat itu


"Sekali lagi maaf ya kak" Aqila menundukkan sedikit kepalanya sebagai bentuk maaf, ia melihat orang yang duduk dimeja itu juga sedang menatap dirinya dengan tatapan campur aduk


deg


"Kak Naufal?"


Naufal yang tiba-tiba dihampiri anak kecil menangis meminjam uang sedikit kaget, ia membentuk berbagai macam ekspresi, bingung, terkejut, kasihan sekaligus ingin tertawa, Fadila pun begitu, ingin tertawa tapi kasihan juga melihatnya


Saat akan mulai berbicara dengan anak itu, tiba-tiba perempuan dengan jaket biru dan jilbab abu yang senada dengan roknya, memeluk anak itu dan menenangkannya


Naufal tersentak, ia tak percaya, benar-benar tak percaya, ia memastikan penglihatannya lagi, perempuan itu adalah perempuan yang sama, yang ia tunggu, yang ia sebut di sepertiga malamnya, perempuan yang menghilang begitu saja setelah lima tahun lamanya tanpa kabar sama sekali, dan perempuan yang pernah ia berikan janji sebagai pelangi


Suara Naufal tercekat di tenggorokan untuk sekedar menyebut namanya, perempuan itu masih belum sadar dengan situasi, ia masih mencoba menenangkan keponakannya yang menangis


Hingga pandangan mereka bertemu, tatapan mata tak bisa bohong di keduanya, rindu, sedih, haru, terkejut dan tentu bahagia


"Kak Naufal?"


.


Akhirnya bertemu...😂😆😆

__ADS_1


Wkwkwk


__ADS_2