Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Seputar Kisah


__ADS_3

Di tengah pekatnya malam, suara petir menggelegar keras, kilatan-kilatannya menerangi bumi yang gelap dan membentuk pola garis di langit


Seorang gadis duduk ditepi jendela kamarnya, meneteskan air mata membasahi pipi sebagai bentuk ekspresi hati, merenung dan mengingat apa yang sedang terjadi


Ceklek


Pintu kamar terbuka, Mama Intan masuk kedalam meletakkan segelas susu hangat didepan putrinya


"Kenapa belum tidur?" Mama Intan duduk menarik satu kursi dan duduk di sebelah Aqila, mengelus rambut putrinya, namun terkejut saat melihat begitu banyak rambut rontok ditangannya


"Aqila lagi mikiran apa?"


"Aqila kayaknya emang nggak pantes bahagia Ma" ucapnya menunduk menyembunyikan air matanya padahal sudah diketahui sang ibu


"Kenapa ngomong gitu? Semua orang pantes buat bahagia"


"Aqila anak yang sholehah, percaya sama Allah kalau ujian ini akan segera pergi, Aqila pengen sembuh kan?" Aqila hanya mengangguk sebagai jawaban


"Walaupun penyakit kanker itu tak sepenuhnya bisa sembuh asal kita menjalani pengobatan dan dengar perkataan dokter, penyakit itu bisa dikendalikan"


"Aqila ngerepotin ya?" Lirihnya


"Tidak ada anak yang tidak merepotkan orang tua, dan bagi orang tua itu sudah kewajiban mereka untuk direpotkan karena mereka yang membuatnya lahir di dunia jadi mereka harus bertanggung jawab dengan apapun yang berkaitan dengan anak mereka"


"Aqila ngerasa nggak pantes banget buat Naufal Ma, padahal rencananya dia mau dijodohin sama Fadila, Fadila lebih ngerti tentang agama dari Aqila" ucapnya menunduk


"Mau denger mama cerita?" Mama Intan membelai lembut punggung putrinya, membuat Aqila berhasil mengalihkan pandangannya yang semula menunduk kearah mamanya


"Cerita apa?"


"Dulu mama juga ngerasa kayak Aqila pas nikah sama Papa" ucap Mama Intan membuka percapakan diantara mereka, kedekatan mereka seperti ini sudah sangat lama sekali sampai Mama Intan lupa kalau salah satu putrinya tumbuh menjadi gadis yang hebat dan kuat seperti ini


"Mama hanya gadis sederhana yang tinggal di desa, mulai ke kota saat Mama lulus SMA dan dapat beasiswa di kampus yang sama dengan papa"


"Mama itu ibarat semut kalau dibandingin sama papa dari segala hal, dia orang kaya, anak keluarga terkenal, sedangkan mama hanya gadis sederhana yang punya impian tinggi"


"Kerjaan mama dikampus itu cuma belajar, nggak mikirin hal yang lain, nggak mikirin cinta atau belanja seperti kebanyakan teman yang lain, sepulang kampus mama kerja di restoran untuk menambah penghasilan karena banyak buku yang harus dibeli, banyak makalah dan tugas-tugas yang harus diprint, dan tentu itu semua butuh uang"

__ADS_1


"Sedangkan, papamu itu anak orang kaya, dia tidak perlu memikirkan besok uang masih cukup nggak buat makan?, dia anak orang kaya yang tinggal gesek kartu di ATM" Mama Intan terkekeh mengingat itu sedangkan Aqila tersenyum


"Sampai suatu ketika entah apa yang ada dipikiran papamu saat itu, ia datang ke restoran tempat mama kerja dan langsung menyatakan perasaan disana"


"Tiba-tiba?" Tanya Aqila tak bisa menyembunyikan keterkejutannya


"Dia bilang selalu merhatiin mama dari jauh gara-gara mama pernah nolong dia sekali saat terluka karena jatuh dari motor"


"Cinta pandangan pertama?" Tebak Aqila


"Ya begitulah istilahnya"


"Awalnya mama nggak nerima, kebetulan saat itu mama udah lulus, skripsi selesai, sidang selesai tinggal nunggu wisuda"


"Mama pengen setelah lulus kuliah cari kerja bukan nikah, pikiran mama dulu nikah itu kalau orang tua mama dikampung udah bahagia"


"Mama juga sadar posisi mama dimana saat itu, mama dan papa bagaikan berlian dan batu kerikil, jauh sekali perbedaannya, dia anak orang kaya dan mama hanya anak petani biasa"


"Tapi papamu yakinin mama kalau dia bisa jadi laki-laki yang bertanggung jawab kepada mama dan keluarga mama"


"Awalnya mama ragu sama dia, tapi setelah liat usaha dia saat mama butuh bantuan, dia selalu ada disisi mama, karena itu setelah lulus kuliah dia pergi ke kampung mama untuk menyampaikan niatnya melamar mama?"


"Mereka orang baik, tidak memandang kasta, asal perempuan itu adalah perempuan yang baik"


"Orang tua mama saat itu tentu terkejut saat tau putrinya dilamar anak orang kaya, tapi mereka nggak langsung nerima, mereka nanya pendapat mama karena yang akan menjalani hidup ini adalah mama"


"Mama benar-benar bingung saat itu, kita ketemu berdua cuma sekali dan cuma kenal jarak jauh karena mama dan papa beda fakultas, dia di fakultas manajemen bisnis sedangkan mama di desain"


"Tapi mama meyakinkan hati kalau dia jodoh yang telah dikirim Allah untuk mama"


"Dan sampai sekarang Alhamdulillah kita masih hidup bahagia bersama"


"Namun sayangnya, orang tua mama di kampung meninggal sebulan setelah Kak Devan lahir, karena nggak punya siapa-siapa disana terlebih mama dan orang tua mama juga anak tunggal, mama nggak pernah kembali lagi kesana"


"Aqila ngerti kan maksud mama cerita seperti ini?" Mama intan menggenggam tangan putrinya lembut


"Intinya jangan jadikan perbedaan seperti itu mempengaruhi hati Aqila, kalau sudah yakin dia jodoh terbaik dari Allah, maka yakin jangan goyah lagi"

__ADS_1


"Tugas pasangan itu saling melengkapi, kalau ada yang belum Aqila tau soal agama kan bisa tanya sama Naufal, saling melengkapi satu sama lain, jadikan kekurangan itu untuk merekatkan hubungan bukan semakin merenggang"


"Aqila ngerti, makasih ma"


"Aqila juga harus punya semangat buat sembuh ya sayang, jangan pernah sekalipun terbesit pikiran buat pergi" Mama Intan menatap kelangit-langit kamar, menghindari air matanya yang hampir tumpah, sedangkan Aqila mengangguk sebagai jawaban


"Rasanya udah lama nggak ngobrol berdua sama mama seperti ini, terakhir kali saat kelas dua SMP" Aqila mengingat saat itu dimana rangkingnya turun dan menangis, mengurung diri di kamar seharian, saat itulah Mama Intan menenangkan dirinya


"Maafin mama ya sayang"


"Aqila wanita kuat udah berjuang sampai sejauh ini sendiri, sekarang Aqila berjuang sekali lagi ya?, tapi sekarang nggak sendiri lagi, karena semua ada untuk Aqila" Aqila mengangguk tersenyum dengan mata yang mulai berair


tok tok tok


"Boleh kakak masuk?" Devano berdiri diambang pintu membawa plastik hitam ditangan kanannya


"Masuk kak" Aqila segera mengusap air matanya


"Kak Devan mau nyampein amanah dari seseorang buat Aqila" Devano hendak mengelus kepala adiknya, namun tangannya langsung ditangkap Mama Intan yang berdiri dibelakangnya dan memberi isyarat menggelengkan kepala


Devano sempat bingung, namun saat mamanya menunjukkan rambut Aqila yang sempat rontok ditangannya ia mengangguk dengan pandangan berubah sendu menatap adiknya


"Amanah dari siapa?" Dahi Aqila mengernyit saat Devano terdiam, dan berdehem seperti orang canggung


"Pacar kakak ya?" tebak Aqila membuat Devano tersentak dan menggeleng


"Bukan"


"Kalau begitu calon istri"


Tring


Sebuah notifikasi pesan masuk diponsel yang di pegang Devano membuat Aqila mengernyit karena tak asing dengan wallpaper layar kunci kakaknya


"Loh? Kak Diva?!" serunya tak percaya


.

__ADS_1


Maaf baru bisa up sekarang teman-teman...🙏🙏🙏


__ADS_2