Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Tentang Naufal


__ADS_3

"Kamu tidur dulu disini sampai merasa baikan" Aqila samar-samar mendengar Regan dan seseorang nampak berbicara akrab, dan meminta izin untuk membuka ruang UKS santriwati


"Kak Regan mau kemana?"


"Kakak harus kembali ke acara, tidak mungkin kakak diam disini menunggu, takut timbulnya fitnah apalagi ini penjara suci"


"Ada yang mau Aqila tanyain sama kakak, tapi lain kali aja kalau gitu"


"Emang mau nanya apa sih?"


"Ini pertanyaan panjang dan harus kakak jawab dengan rinci, tapi karena sekarang bukan waktu yang tepat, jadi lain kali aja"


"Kakak makin penasaran kalau gini, tapi ya udahlah nanti aja" ucap Regan pada akhirnya


"Nanti kakak yang ngasih tau mama sama papa kamu diluar, jadi jangan takut ditinggal pulang" Ucap Regan sebelum akhirnya meninggalkan Renata dan Aqila berdua disana


"Hahhhh" Aqila menarik nafas panjang dan memijit pelipisnya merasakan kepalanya yang masih berdenyut


"Lo mau tanya apa sih Qil? Kok gue jadi penasaran?"


"Terlalu banyak rahasia hidup Naufal yang gue nggak tau Ren, bagaimana bisa gue bisa meyakinkan papa menerima dia? Sedangkan gue nggak terlalu ngenal dia"


"Loh, kok lo tiba-tiba ngomong ginis sih? Padahal kemarin lo yang bilang sama Galang kalau jangan liat Kak Naufal dari sisi luarnya aja"


"Bukan itu maksud gue Renata, gue tau dia orang baik, tapi gue nggak kenal dekat sama dia, ketemu cuma tiga bulan, dan tiba-tiba khitbah, aneh nggak sih?"


"Aqila, lo sadar nggak sih lo ngomong apa?"


"Emangnya salah?" Aqila balik bertanya


"Banyak orang diluar sana yang bahkan baru ketemu satu hari aja udah langsung nikah, lo udah kenal tiga bulan kenapa masih ragu? Mana kata-kata lo yang bilang hatiku memilihnya kemarin?"

__ADS_1


"Gue bukannya ngeraguin Naufal, Ren. Tapi..."


"Tapi apa?"


"Lo liat sendirikan, Fadila itu cantik, sholehah, punya ilmu agama tinggi..."


"Terus lo insecure sama dia?" Tanya Renata langsung memotong ucapan Aqila


"Dia juga nggak penyakitan kayak gue" Aqila mengangguk dan menteskan air matanya


"Aqila please jangan ngungkit itu lagi, intinya lo harus percaya sama diri lo, sama hati lo, percaya kalau lo bisa sembuh, lo sendiri yang bilang ke gue jangan lupa selalu berdo'a, sekarang gue yang harus ngingetin ini ke lo" Jawab Renata, sebagai sahabat yang mengenal Aqila sejak masa putih abu, ia turut sedih dan prihatin melihat kondisi Aqila seperti ini


"Makasih Ren, makasih banyak, lo sahabat yang selalu ada buat gue"


"Jangan ada kata terima kasih dalam persahabatan kita, karena kita adalah saudara, inget kata-kata gue, jangan pernah merasa sendiri, kalau ada beban pikiran lo dan bingung mau cerita sama siapa, lo cerita sama gue" Aqila mengangguk ia bersyukur mempunyai sahabat sebaik Renata


Sementara itu disisi lain, seorang laki-laki berpakaian koko putih, sarung hijau tua dan sorban warna senada yang terlampir di pundaknya, terlihat mengedarkan pandangannya mencari seseorang diantara banyaknya tamu undangan yang hadir


"Nggak apa-apa kok abi, cuma liat progress acaranya aja" Jawab Naufal dan kembali menunduk untuk mulai mengikuti serangkaian acara yang akan dimulai


Dalam hati, ia bertanya dimana sosok perempuan yang berhasil membuat dirinya tertarik, perempuan yang membuatnya belajar banyak hal, dan perempuan yang akan menjadi bidadari hatinya tak lama lagi


"Naufal, bapak dengar dari abi mu, kamu mengkhitbah seseorang, apa itu benar?" tanya Kyai Utsman, Ayah Fadila


"Alhamdulillah, itu benar pak kyai"


"Padahal bapak ada rencana sama abi mu untuk menjodohkanmu dengan Fadila"


"Bukan jodohnya berarti Pak Kyai, jodoh itukan di tangan Allah" Jawab Naufal seadanya, sejujurnya ia cukup sensitif membahas hal seperti ini sekarang


"Na'am anta benar, tapi sekarang bapak yang repot mau cari menantu yang baik itu dimana?" Jawab Kyai utsman dengan terkekeh

__ADS_1


"Fadila itu perempuan baik Pak Kyai, sudah pasti jodohnya laki-laki yang baik pula" jawab Naufal, hanya itu kalimat yang ada di dalam otaknya dan jawaban Kyai Utsman pun hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa lagi


Naufal bukannya tak mengerti tentang itu, pasti Kyai Utsman sedikit kecewa perihal ini, tapi Naufal berharap itu tidak mempengaruhi hubungan antara Kyai Utsman dan Abi Umar, bagaimanapun juga walaupun dulu memang ia dan Fadila dekat tapi tak ada perasaan khusus dalam hati Naufal, itu hanya sebatas rasa pertemanan antara laki-laki dan perempuan yang memiliki jarak tak kasat mata


Sedangkan dengan Aqila ia merasa berbeda, sejujurnya pertemuan pertama Naufal dengan Aqila bukanlah saat kecelakaan Kenzo, namun saat gadis itu membeli tisu yang dijual anak kecil di lampu merah, Naufal yang saat itu duduk di kursi taman yang cukup sepi memperhatikan gadis berhijab itu dari jarak beberapa meter saja. Ia sesekali meringis saat luka di kakinya yang mulai mengering kembali mengeluarkan darah, akibat terjatuh dari motor di arena balap


Saat sedang sibuk mengelupas bekas luka yang mulai mengering, Naufal menoleh menatap tisu yang disodorkan seseorang kepadanya


"Jangan kelupas walau sudah kering nanti infeksi, itu juga belum sepenuhnya kering, masih ada darah yang menetes"


Itulah kata-kata Aqila saat memberikan dirinya satu bungkus tisu, setelah itu langsung bergegas hendak pergi


"Kenapa kamu membelinya dari mereka kalau tidak digunakan?" pertanyaan Naufal membuat langkah kaki Aqila terhenti


"Bukannya itu mubadzir dan sia-sia?" lanjut Naufal lagi


"Terkadang tak selamanya kita membeli barang yang kita butuh, tapi membantu orang lain yang butuh"


"Dan kenapa itu sia-sia? Bukannya aku memberikannya padamu? Kau juga sedang butuhkan?" lanjut Aqila tanpa membalik badan sedikitpun


"Aku hanya butuh beberapa, tidak semuanya"


"Simpan saja, melihat lukamu akibat terjatuh, kau akan membutuhkannya kembali nanti"


Setelah mengatakan itu, Aqila benar-benar bergegas pergi dari sana, meninggalkan Naufal yang memandang punggung gadis itu yang mulai menjauh


Aqila mungkin tak mengingat dirinya, karena saat itu ia mengenakan topi yang menutup sebagian wajahnya, gadis itu mungkin tak sadar kalau laki-laki yang mengkhitbahnya adalah laki-laki yang pernah ditolongnya saat itu. Tapi Naufal tak akan bisa lupa dengan itu, dari situlah awal ketertarikannya dengan Aqila


Hingga saat kecelakaan Kenzo, memberinya peluang untuk mengenal lebih dekat sosok Aqila yang sering diperhatikannya dari jauh, bahkan nama gadis itu masuk dalam daftar sepertiga malamnya badboy kampus itu


Tanpa sadar jalur langitnya terjawab oleh Allah dengan cara yang indah, tanpa sadar mereka sering dipertemukan saat Aqila bersedih, dari situ Naufal mulai mencari lebih jauh tentang Aqila, berawal dari buku diary gadis itu, ia tau kalau kehidupan gadis yang selalu tersenyum itu nyatanya tak seindah senyumannya

__ADS_1


Dari sana ia berjanji pada dirinya dan Aqila, akan menjadi pelangi yang datang memberi banyak warna, menjadi pelangi yang indah, dan bukan pelangi yang hanya sementara, tapi pelangi yang terus memberi warna dan menghadirkan bahagia selamanya


__ADS_2