Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Janji Rian


__ADS_3

"Heh Aligator Amazon, Aqila itu udah punya tunangan" Aqila maupun Reynald sama terkejutnya, sedangkan Rian yang tersadar dengan ucapannya menutup mulutnya


"Maksud kakak? Tunangan? Tunangan apa?" Tanya Aqila beruntun, rasa penasarannya semakin tinggi


"Itu, maksud kakak calon tunangan, ada teman kakak yang bercanda mengatakan dia adik ipar kakak"


"Kenapa Aqila? Bukan Reyna?"


"Ya karena kamu ada disini, dan kakak berusaha menjauhkan kamu dari gombalan dia" jawab Rian gugup, tapi ekspresi mukanya benar-benar tak terbaca karena wajah anehnya


"Apa iya?"


Drettt drettt


"Halo" Aqila lagi-lagi memandang aneh kearah Rian, padahal yang berbunyi adalah hpnya, kenapa Rian yang sibuk mengangkat telepon


"Halo, Kak Rian? Aqila mana?"


"Sebentar"


"Ini telpon dari Kirana, kakak pikir hp kakak tadi yang berbunyi, kakak sholat isya dulu" ucap Rian menyerahkan handphone itu pada Aqila dan segera berlalu kekamar mandi


"Halo Kir? kenapa?"


"Aqila, lipstick aku kayaknya ketinggalan disana, di rak TV ruang tamu, ada nggak?" Aqila terdiam mematung menatap lipstick yang isinya sudah dikeruk Zara


"Halo? Aqila? Ada nggak?"


"Oowh ada, tapi..."


"Syukurlah kalau gitu, harganya mahal banget dan edisi terbatas, besok aku ambil saat kesana, tolong simpan ya, Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


Aqila terdiam memandang lipstick itu, ini ulah Zara artinya Darren yang harus menggantinya


"AAAAAAAAA" Teriakan Rian menggema dari kamar mandi dekat dapur, Zara dan Yusuf bahkan sempat terkejut dan membuka mata tapi kembali tidur setelah Aqila dan Reynald mengelus pelan punggung mereka


"Kak Rian kenapa sih? Hah?!" Aqila menghampiri kakaknya yang langsung membuka pintu kamar mandi


"Siapa yang bikin muka kakak kayak gini? Jawab jujur"


"Zara" jawab Aqila enteng tanpa rasa bersalah sama sekali


"Zara?"


"Iya Zara"


"Kenapa kamu biarin?"


"Aqila lagi sholat, terus suruh Yusuf yang jaga, pas Aqila kembali tiba-tiba Kak Rian jadi gini"


"Kenapa Zara dibiarin main bedak Aqila?" tanya Rian berusaha sabar


"Aqila juga nggak tau, kata Yusuf dia dapat dari kamar orang tuanya, Aqila juga nggak tau kalau pintunya terbuka"


"Lagian Kak Rian tidur atau mati suri sih? Masa sampai di duduki Zara, bahkan dibuat kayak gini nggak terasa apa-apa?" Tanya Aqila sewot, ia kesal terus disalahkan, padahal ini sebagian besar karena salah Rian


"Pantes Aligator Amazon ketawa" gumannya pelan, percuma ia memasang wajah tegas dan melotot kearah Reynald kalau ternyata ia malah terlihat semakin aneh. Dan sekarang lihatlah laki-laki itu yang membenamkan wajahnya pada bantal sofa untuk meredam tawanya, seperti tak berdosa sama sekali. Hilang sudah image Rian dihadapan laki-laki itu


"Terus kakak harus gimana ilanginnya? Wajah kakak tambah merah kayak gini"


"Hahaha" Aqila tertawa terbahak-bahak melihat wajah laki-laki itu yang sekarang berwarna merah dan sedikit berminyak akibat lipstik yang terus berusaha digosoknya

__ADS_1


"Oh ya, kaos kakak juga ganti, jangan dipakai sholat" peringat Aqila


"Kenapa? Kakak baru ganti tadi pas sholat magrib"


"Bekas ingus Zara" Jawab Aqila tanpa rasa bersalah sama sekali, saat itulah Rian sadar, pantas saja ada sesuatu terasa lengket dibagian dadanya. Ia melirik cairan hijau yang mulai mengering itu dan segera melepas kaos yang dipakainya sambil bergidik jijik


"Hahaha" makin kencanglah tawa Reynald dari ruang tamu, laki-laki itu seperti kesusahan bernafas karena terus meredam tawanya dibalik bantal sofa


"Terus wajah kakak merah-merah gini harus diapain?" Tanya Rian, dirinya seperti orang alergi saja


"Sebentar" Aqila kembali ke kamarnya, mengambil kapas dan micelar water sekalian melepas mukenahnya dan mengganti dengan jilbab instan karena berkali-kali ia tersandung dengan sarung yang dipakainya


"Duduk, Aqila bantu bersihin" ucapnya karena Rian masih berdiri, Aqila yang sebatas pundak kakaknya itu kelelahan berjinjit


Melihat wajah Rian yang begitu dekat, tangan Aqila yang sedang membersihkan wajah kakaknya bergetar, entah kenapa, kenapa bayangan Rian yang menamparnya itu hadir? Padahal ia sudah membuang jauh-jauh tentang semua itu dan memaafkan semuanya, tapi kenapa bayangan itu kembali hadir?


"Kamu kan yang dorong Reyna?"


"Apa yang kamu lakuin sama dia semalam?"


Plakkk


Rasanya masih teringat jelas kala itu, Aqila menggelengkan kepalanya, mengusir segala kenangan buruk itu, ia tak boleh tenggelam dalam rasa benci atau kecewa


"Aqila"


"Aqila"


Rian berusaha memanggil Aqila yang tiba-tiba terdiam, tangan adiknya itu juga bergetar, Reynald yang memperhatikan turut memanggil namanya


"Aqila"


"Hah? Apa?" Saat itulah Aqila tersadar, ia melihat kearah mereka berdua yang menatap dirinya sedikit aneh


"Nggak papa kok" jawabnya pelan sedikit tersenyum


Rian mengangkat tangannya hendak mengambil kapas dari tangan Aqila yang masih bergetar, tapi Aqila justru menutup wajahnya dengan telapak tangan dan berkata "Jangan"


"Kamu kenapa?" Tanya Reynald aneh melihat gadis itu


Rian sepertinya tersadar sesuatu, ia berdehem pelan


"Biar kakak aja yang bersihin sendiri" ucapnya pelan mengambil kapas yang ada ditangan Aqila


"Maaf kak, biar Aqila aja" Aqila berusaha kembali tenang, ia tak ingin Rian sakit hati dengan perilakunya hanya karena kenangan masa lalu


Dengan telatan Aqila membersihkan wajah itu sampai bekas perbuatan Zara hilang


"Udah selesai"


"Terima kasih kakak sholat dulu" ucap Rian, mengelus kepala adiknya sebelum pergi ke kamar mandi


"Kamu kenapa? Sakit?" Reynald lansung bertanya mengenai hal yang baru saja dilihatnya


"Nggak kenapa-napa, memangnya aku kenapa?" Tanya Aqila balik


"Kamu terlihat mmm takut?" Tanyanya


"Takut kenapa? Memangnya disini ada hantu?"


"Tapi..."


"Ooowh iya, besok malam ajak Miss Hana dan Mr. Petter, kita makan malam bersama sebelum kami pulang" ucap Aqila mengalihkan perhatian, Miss Hana dan Mr.Petter adalah nama orang tua Reynald, mereka dipanggil seperti itu oleh tetangga-tetangga disini

__ADS_1


"Oowh iya nanti aku akan memberitahu mereka" balas Reynald


"Aku punya sesuatu untukmu" ucapnya tiba-tiba mengeluarkan kalung berbentuk bulan dari saku celananya


"Untukku? Terima kasih, tapi kenapa bulan bukan matahari atau lainnya?" Tanya Aqila


"Karena aku lebih suka bulan, cahayanya mungkin tak secerah matahari tapi aku bisa memandangnya tanpa henti, kalau matahari mataku akan sakit jika terus melihatnya, sama seperti dirimu" Jawab Reynald dengan memelankan kalimatnya diakhir


"Oowh iya, aku juga punya sesuatu untukmu" Aqila naik keatas kamarnya, ia mengambil sebuah gulungan kertas yang sudah diberi pita merah


"Apa ini?" Reynald ingin membukanya, tapi langsung dicegah oleh Aqila


"Nanti saja dirumah" ucapnya pelan


"Aku kesini ingin memberikan ini padamu, kalau begitu aku pulang dulu sepertinya kau juga sibuk" ucap Reynald melihat kearah Yusuf dan Zara yang seperti terganggu dengan suara mereka karena terlihat berkali-kali balita itu bergerak


"Maaf atas kekacauan ini, besok jangan lupa datang ya"


"Pasti, besok terakhir kita bersama" ucap Reynald dengan suara lirih diakhir kalimatnya


"Aku pulang dulu, bye" Reynald melambaikan tangan


"Bye" Aqila membalas lambaian tangan itu dan sedikit tersenyum


"Aligator amazon mana?" Tanya Rian, ia baru keluar dari kamar mandi


"Udah pulang" jawab Aqila


"Aqila"


"Kak Rian"


Dua saudara itu saling pandang, kemudian berdehem pelan


"Maaf"


"Maaf"


Lagi-lagi keduanya berucap serentak, kali ini dengan kata yang sama, Aqila menatap Rian yang juga sedang memperhatikannya


"Kenapa Aqila minta maaf?" Tanya Rian


"Kalau Kak Rian kenapa minta maaf?" Bukannya memberikan sebuah jawaban, Aqila balik bertanya


"Ingatanmu mungkin sudah kembali dan kau mengingat kenangan pahit tentang semua kejadian masa lalu, terutama tentang diriku, Kak Rian punya banyak salah sama Aqila"


"Kak Rian udah minta maafkan untuk itu? Kenapa minta maaf lagi?"


"Kakak tau kenangan itu tak bisa terhapus meskipun Aqila udah bilang maaf, seperti baru saja tanpa sadar Aqila menghindar, pasti karena teringat kejadian itu kan?" Aqila terdiam, apa ekspresinya begitu jelas? Tapi ia benar-benar tak bisa mengontrol dirinya tadi


"Maaf" cicitnya pelan


"Berapa kali kakak bilang? Hah? Disini yang salah itu kakak, jangan minta maaf lagi karena semakin Aqila minta maaf, kakak semakin merasa bersalah" tanpa sadar Rian menggenggam kedua bahu Aqila erat dan mengguncangnya pelan


"Ma..." Aqila menutup mulutnya, ia sendiri tak mengerti kenapa sering kali mengucap kata itu


"Jangan ucapin kata itu lagi" ucap Rian, perlahan ia mengusap sedikit air matanya dan memeluk Aqila


"Kakak berjanji membuatmu bahagia dan tak salah memilih untuk laki-laki yang akan membimbingmu" batin Rian


.


Banyak Typo...🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2