
"Bunda sakit?" Pertanyaan polos yang keluar dari mulut Bilal, ia melihat ibunya nampak pucat dan seperti orang linglung
"Bunda sehat" Aqila berusaha tersenyum, benar, sakit kepalanya yang luar biasa ini tak sesakit dulu
"Ilal liat dimana bunda naruh gelas biru tadi?" Anak laki-laki itu mengernyitkan alisnya, padahal gelas biru itu baru saja diletakkan ibunya disamping meja, kenapa ia malah mfsf encari di depan wastafel
"Ini bunda"
"Terima kasih anak baik, sekarang tidur ya, ini sudah jam sembilan" anak itu mengangguk dan berjalan masuk kekamarnya walau kepalanya masih menyisakan tanda tanya melihat ibunya yang sedikit berbeda
"Lebih baik istirahat, jangan terlalu lelah"
"Aku tidak melakukan apa-apa, kenapa harus lelah?" Naufal berusaha tersenyum meskipun hatinya sudah menangis, secepat itu istrinya lupa, padahal Aqila baru saja selesai mencuci piring dan tak ingin dibantu
"Ini sudah waktunya istirahat"
"Hati-hati" Naufal memegang lengan istrinya yang hampir kehilangan keseimbangan
Apa benar ini wanita yang tadi pagi mengatakan dirinya baik-baik saja? Apa ini benar wanita yang dengan percaya dirinya bilang kalau penyakit ini tak akan berpengaruh apa-apa untuknya?, Naufal kini menemukan jawaban dibalik tingkah aneh istrinya belakangan ini, sering lupa meletakkan barang dan kadang seperti tak ingat apa yang mereka bahas. Pikirannya tak pernah terbesit sekalipun pada penyakit itu yang kembali
"Maafkan aku" Aqila tiba-tiba memeluknya dirinya erat
"Aku pasti menyusahkanmu sekarang karena penyakit ini"
"Hey, apa yang kau katakan? Menyusahkan apa?" Penyakit yang berpengaruh terhadap perubahan suasana hati membuatnya kadang bahagia dan bersedih tiba-tiba
"Andaikan kita tidak bertemu tak mungkin Kak Naufal merasakan ini, Kak Naufal pasti sudah hidup bahagia dengan pasangan yang lebih sehat dan lebih baik"
"Aku tak suka mendengar kata-kata itu, karena sama artinya kita menyalahkan tuhan yang telah mengatur ini semua" Naufal memegang kedua pundak istrinya seraya menggelengkan kepala
"Aku tak pernah bermaksud seperti itu, apa aku memang hanya beban yang bisa merepotkan? Kapan aku bisa menjadi berguna untuk orang lain?"
"Kamu bukan beban, tapi sebuah mutiara berharga yang disulit dicari dalam laut dalam"
"Apa Kak Naufal bisa berjanji sesuatu?"
__ADS_1
"Apa?"
"Aku tak ingin ini terjadi, tapi tetap rahasia ini ditangan Allah, andaikan aku pergi tolong jaga Ila dan Ilal dengan baik"
"Apa yang kau katakan? Jangan bicara melantur lagi, ayo tidur, kau sudah mengantuk sampai berbicara seperti ini. Pergi apa? Tidak akan ada yang pergi kemana-mana" dibalik ucapannya yang tegas, hati Naufal sudah hancur mendengar itu
"Apa kau bisa berjanji?" Aqila mengarahkan wajah laki-laki itu untuk menatap kearahnya
"Kita akan melakukannya bersama-sama, kau akan sembuh, bukankah itu yang kau katakan dengan semangat tadi pagi? Jangan menyerah secepat itu, mari kita berjuang seperti kalimat yang kau ucapkan tadi"
"Kau bisa hidup, bisa bahagia dan bisa tersenyum melihat anak kita tumbuh dewasa, kita akan melakukannya bersama sampai rambut ini memutih, sampai tubuh yang tegap ini membungkuk seiring usia berjalan"
"Apa kau tidak ingin hidup bersamaku?"
Naufal meneteskan air matanya saat mengatakan itu, tak pernah terduga kalau di lima tahun usia pernikahan mereka harus menghadapi ujian seperti ini
"Aku ingin sekali melakukan itu, jangan menangis lagi" Aqila tersenyum dengan bibir pucatnya, ia mengusap air mata yang jatuh dipipi suaminya
"Aku akan berjuang semampu yang aku bisa, aku akan berjuang melawan sakit ini demi pelangiku dan malaikat-malaikat kecilku
"Aku berjanji untuk berusaha"
"Pelangi akan hilang jika tak ada cahaya yang membiaskan"
"Jika tak bisa menjadi pelangi selamanya untukku, jadilah pelangi untuk malaikat kecil kita sampai mereka menemukan belahan hatinya"
"Aku sudah katakan, tak akan terbentuk pelangi jika tak ada cahaya, jadi jangan pernah berpikir untuk hilang" Naufal memegang kedua pundak istrinya untuk duduk
"Aku mencintaimu, apa ada kata yang lebih dalam untuk mengungkapkan rasa daripada itu? Sebenarnya menurut Kak Naufal apa itu cinta?"
"Kita sedang membahas pelangi, kenapa tiba-tiba kearah cinta?"
"Karena kadang warna indah pelangi ikut dikaitkan dengan perasaan penuh warna orang yang jatuh cinta. Jadi aku ingin bertanya apa arti cinta untuk Kak Naufal? Apa dunia penuh warna yang dikelilingi hal-hal menyenangkan?"
"Itu adalah definisi cinta untuk orang yang berpikiran sependek satu centi meter" Aqila mengernyitkan alisnya tak mengerti
__ADS_1
"Definisi cinta untuk orang yang berpikiran pendek adalah seperti itu, bertemu, jatuh cinta pada pandangan pertama, saling kenal, menikah, punya anak dan happy ending, itulah gambaran cinta bagi mereka, menganggap cinta penuh warna dan dikelilingi banyak kebahagiaan"
"Lalu untuk Kak Naufal apa itu cinta?"
"Cinta tak jauh dari rasa sakit dan pengorbanan dengan hasil yang belum jelas pasti"
"Cinta itu ibaratkan sebuah bunga mawar merah yang indah, menakjubkan, wangi, tapi penuh dengan duri. Saat kau memegang dan menggenggamnya terlalu erat kau yang akan terluka, itulah definisi cinta"
"Indah namun penuh pengorbanan dan tak selalu berakhir happy ending, karena bisa saja mahkota bunganya jatuh" Aqila sampai mengerjapkan matanya berkali-kali mendengar ucapan Naufal
"Kalau sekarang aku yang bertanya, apa jawabanmu? Apa itu cinta?"
"Cinta itu adalah pelangi"
"Pelangi bukan dalam pemikiran pendek, tapi dalam pemikiran panjang"
"Bukan berawal dari gerimis ringan yang terkena cahaya matahari kemudian menciptakan tujuh warna indah. Tapi mulai dari proses terbentuknya awan kelabu, kadang kilatan petir, hujan yang deras, angin, selanjutnya tersisa gerimis dan cahaya matahari yang menjadi penyempurna hingga lengkaplah tujuh warna pelangi"
"Sama seperti perjalanan kita yang melalui proses panjang"
.
Hari pertama menjalani kemoterapi, Aqila didampingi Naufal, jauh berbeda dengan sepuluh tahun lalu dimana ia dan Kirana sembunyi-sembunyi dirumah sakit lain karena hatinya yang bermasalah
"Setelah selesai kemo, biasa ia mengalami sedikit masalah pada ingatan" Darren menepuk pundak Naufal yang menunggu istrinya diluar
"Aku mengerti"
"Apa ia kadang seperti itu dirumah?"
"Awal-awalnya aku pikir ia memang agak pelupa karena memikirkan banyak masalah tentang anak-anak, suasana hati nya kadang bisa berubah cepat, hanya saja ia tak pernah sekalipun mengatakan pusing padaku"
"Dia selalu merasa menjadi manusia paling kuat seolah-olah beban dunia ini bisa ia hadapi sendiri"
"Sekarang aku bisa bersyukur setidaknya ia tak lagi berusaha menutupi semuanya seperti dulu, ada kau yang bisa ia percaya untuk menceritakan masalahnya"
__ADS_1