Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Tak Sadar


__ADS_3

Menjelang jam sebelas, hujan masih belum reda malah semakin bertambah deras, Devano sudah menelpon memberitahukan Yusuf sudah pulang sekolah, Aqila meminjam mobil papanya karena tak mungkin bila menggunakan motor


"Pah, Aqila minjem mobil buat jemput Yusuf" ucapnya pada Papa Arya yang sedang menemani Zara bermain di ruang tamu, orang tuanya sama-sama sedang dirumah sakit saat ini, memang sesama dokter, Darren dan Diana sama sibuknya


"Di atas nakas samping telpon" Ucap Papa Arya menunjuk kunci yang ada didekat telpon rumah


"Makasih, Aqila pergi dulu" Ia mencium tangan papanya untuk berpamitan, tapi Zara justru menyodorkan tangan ingin ikut


"Itut" ucap balita itu dengan suara yang lucu menurut Aqila


"Zara diam dirumah ya, Aunty Qilla cuma sebentar, diluar hujan nanti Zara sakit" Aqila mencoba memberi pengertian pada balita itu, masalahnya kalau Zara ikut ia pasti rewel meminta es krim setiap melihat toko yang sedang buka


"Itut" suaranya mulai terdengar ingin menangis


"Diam dirumah ya, nanti Aunty Qilla beliin jajan" Aqila benar-benar tak kehabisan akal demi balita itu tak ikut


"Es klim?" Aqila sudah menduga ini alasan balita itu ingin ikut


"Ya, es klim" ucapnya pasrah meskipun berbohong, ia tentu tak akan menurutinya karena Darren sudah berpesan Zara tak boleh makan es krim untuk hari ini. Papa Arya melototkan matanya dan Aqila memberi isyarat akan diganti dengan yang lain, asal bukan es krim


"Aqila pergi dulu, Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam, hati-hati jangan ngebut"


"Jangan lupa bawa payung!" Teriak Mama Intan yang baru kembali dari dapur, Aqila masih bisa mendengarnya


Dengan memgendarai mobil lebih pelan dari biasanya, Aqila berusaha fokus melihat lokasi yang ditunjukkan google maps


"Oke, belok kiri disini" ucapnya pelan


Drettt, dreett


Getaran pada handphonenya menandakan ada panggilan masuk, ia memarkirkan mobilnya di tepi jalan, kondisi jalan yang ada disini juga begitu sepi, mungkin karena hujan, pikir Aqila


"Halo, Assalamu'alaikum Kir?" Ucapnya setelah melihat nama Kirana tertera di layar


"Wa'alaikumussalam, Aqila bisa sekalian jemput Zevan?, aku nggak bisa jemput karena mobilnya tiba-tiba mogok"


"Terus kamu dimana sekarang? Mau aku jemput?"


"Nggak usah aku udah telpon Kak Regan, bentar lagi nyampe, jarakku masih cukup jauh dari sekolah karena aku berangkat dari rumah teman" Aqila mengangguk paham, ia mengucap salam dan menutup telpon setelah memperingatkan Kirana di seberang sana untuk hati-hati


"Oke, terus ke kiri" ucapnya pelan mengikuti petunjuk pada google maps


"Kekiri lagi"


"Loh kok nyampe sini?" Tanyanya bingung sendiri melihat dirinya seperti berada di tengah hutan, pohon-pohon lebat berdiri tinggi, daunnya bahkan mampu menghalau air hujan terlihat dari jalan disana yang masih cukup kering


"Aku nggak mungkin nyasar kan?" Tanya Aqila, ia memutar mobilnya kembali ke lokasi jalan raya, area ini terlalu menyeramkan untuk dirinya yang cukup penakut

__ADS_1


.


Naufal memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit, tak peduli walau hujan, ia akan menemui Kyai Utsman dan memberikan jawabannya. Pandangan teralihkan pada Darren yang seperti berjalan terburu-buru, selama Naufal berkunjung, ini kali pertama ia melihat Darren disini, Naufal mengejarnya tapi Darren sudah lebih dulu masuk ke dalam ruangan, padahal ia ingin menanyakan tentang Aqila, rasa rindu dalam hatinya seperti sudah tak terbendung lagi


"Hahhh, nanti saja" ucapnya dan kembali berjalan menuju ruangan Kyai Utsman


"Assalamu'alaikum" ia mengucap salam begitu membuka pintu ruangan


"Wa'alaikumussalam"


"Bagaimana keadaan pak kyai?" Tanya Naufal langsung, ia duduk kursi kosong dekat brankar


"Sepertinya semakin buruk saja" jawab Kyai Utsman


"Abi jangan ngomong gitu" ucap Fadila, ia sama sekali tak suka mendengar ucapan ayahnya


"Mau bagaimana lagi? Malah bertambah buruk melihat kamu belum menikah"


"Abi..."


"Bagaimana keputusanmu nak?" Tanya Abi Umar kali ini pandangannya tertuju pada Naufal


"Saya akan menjaga dan melindungi Fadila seperti ucapan pak kyai" jawab Naufal, ia belum menyelesaikan ucapannya


"Alhamdulillah" ucap Kyai Utsman dan Umi Zahwa serentak, sedang Fadila menunduk, hatinya senang mendengar itu


"Tapi maksud saya bukan..." belum sempat Naufal menyelesaikan ucapannya lagi-lagi seorang dokter masuk, memeriksa perkembangan kondisi Kyai Utsman


"Fadila bisa ikut saya sebentar? Saya ingin bicara, sebentar lagi juga masuk waktu makan siang" ucap Naufal, ia melirik jam di pergelangan tangannya


Fadila meminta izin pada umi dan abinya, yang dibalas anggukan oleh orang tua mereka dengan tersenyum


Naufal membawa Fadila ke salah satu restorannya yang tak begitu jauh dari rumah sakit, ia akan menjelaskan semuanya disana, ia harus mengatakan ini pada Fadila terlebih dahulu, baru memberi tau Kyai Utsman dan Umi Zahwa


.


Setelah hampir tiga puluh menit berputar-putar, Aqila menghela nafasnya panjang, akhirnya ia bisa melihat TK yang dicari-carinya


Hujan sudah reda, menyisakan gerimis-gerimis tipis yang tak terlalu tebal, Aqila memarkirkan mobilnya didepan sekolah dan masuk tanpa menggunakan payung


"Aunty Qilla" teriakan Yusuf langsung menyambutnya begitu ia memasuki gerbang, sepertinya anak itu sudah menunggu sejak tadi


"Maaf ya bu guru, tadi saya sempat nyasar jadi cukup lama sampai" ucap Aqila meminta maaf merasa tak enak dengan guru yang menemani mereka


"Tak apa saya mengerti, Yusuf dan Zevan juga bukan murid yang rewel mereka menyenangkan" ucap guru perempuan itu sedikit tersenyum


"Kalau begitu kami pergi dulu bu guru"


"Hati-hati dijalan"

__ADS_1


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


"Aunty Qilla lama, kalau ayah yang jemput sepuluh menit sampai" Yusuf memasuki mobil dengan kesal, ia duduk di kursi belakang dengan Zevan yang tak terlihat keberatan sedikitpun


"Iya maaf, Aunty Qilla kan nggak tau jalan, jadi nyasar dulu sampai hutan" jawab Aqila seadanya


"Yaudah kalau gitu Yusuf maafin tapi ada syaratnya?" Aqila memutar bola matanya malas, pasti ada-ada saja keinginan aneh bocah itu


"Iya, apa syaratnya?"


"Kita makan dulu ke restoran, terus Aunty Qilla beliin Yusuf es klim, ya kan Zevan?" Sudah Aqila duga, keponakannya itu sama saja


"Oke, kita makan dimana?" Tanya Aqila, ia melirik jam yang sudah menunjukkan waktu makan siang


"Nanti Yusuf tunjukkin" ucapnya sambil menempelkan wajahnya pada jendela mobil, sedangkan Zevan, anak itu memang pendiam


"Disana, disana" Aqila melihat restoran yang ditunjuk Yusuf, terlihat tak asing, tapi ia lupa sepertinya ingatannya memang masih belum pulih total, tapi setidaknya ia bisa mengingat orang-orang yang dulu bersamanya


Aqila memarkirkan mobilnya disebelah mobil hitam yang terparkir disana, masih belum terlihat banyak kendaraan disana, mungkin karena hujan jadi orang-orang lebih memilih pesan lewat online saja


"Hati-hati turun" peringatnya saat membukakan dua anak itu pintu mobil, hujan hanya menyisakan rintik tipis yang tak sampai membuat mereka basah, jadi Aqila tak menggunakan payung


"Kata teman Zevan, makanan disini enak, Ayah juga pernah ngajak Zevan kesini setelah pulang dari rumah sakit" ucap Zevan saat melihat nama restoran itu 'FC'


"Apapun itu pokok bukan kita yang masak rasanya enak" jawab Aqila seadanya


"Bukan, tapi makanan enak itu yang glatis" ucap Yusuf ikut nimbrung, Aqila mengiyakan saja, kalau diladeni ocehannya tak akan berhenti


"FC apaan? Free Call?" Aqila sedikit terkekeh melihat nama restoran itu


Benar dugaan Aqila, restoran itu masih terlihat cukup sepi, Aqila membimbing anak-anak itu duduk disalah satu pojok restoran, pemandangan dari luar masih bisa terlihat jelas dari sana. Sementara menunggu pesanannya, Aqila memberitahukan pada Kirana dan Devano kalau dua anak itu sedang makan siang


.


Naufal mengajak Fadila ke restoran yang tak begitu jauh dari rumah sakit, ia dan teman-temannya saat itu memberikan nama 'FC' yang diambil dari nama geng mereka dulu ' Felis Catus'. Ditempat inilah dulu Naufal mengajak Aqila makan bersama


"Ayo masuk" saat Naufal membuka pintu restoran, pelayan yang melihat itu langsung menghampiri karena mereka kenal betul siapa dia. Naufal menggelengkan kepalanya tanda tak usah, ia ingin diberlakukan seperti pelanggan lain yang masih mengantri


"Layani yang lain dulu" ucapnya pelan, pelayan itu mengangguk dan pergi


Naufal memilih duduk di meja kosong dekat jendela, ia bisa dengan leluasa melihat jalan walau terlihat buram karena tetesan air hujan yang masih menempel dikaca


Dua orang itu tak ada yang sadar satu sama lain, mereka dekat bahkan hanya berjarak satu meter, posisi mereka yang saling membelakangi membuat mereka tak kenal satu sama lain


Keduanya merasakan perasaan berbeda tapi tak tau dan tak mengerti apa itu, mereka seperti merasakan kehadiran satu sama lain, tapi hati menolak untuk percaya


.

__ADS_1


Banyak Typo...🙏


__ADS_2