Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Lingkaran Rasa


__ADS_3

Dari balik jendela kafe yang sedikit berembun akibat hujan diluar sana, seseorang duduk terdiam memperhatikan bagaimana setetes demi tetes air turun membasahi jalan, membiarkan kopinya yang mengepulkan asap panas mulai mendingin karena tak tersentuh, laki-laki itu menarik rambutnya kemudian menghela nafas panjang


Gempano melirik handphone diatas meja, tak ada pesan dari Renata sejak kemarin atau lebih tepatnya setelah pertengakaran mereka di tepi sungai itu. Gempano bingung dengan hati dan pikirannya sendiri, ia dilema sekarang dan berada dalam jalan yang sulit


Kalau dikatakan apakah ia mencintai Renata, maka ia akan menjawab iya mungkin. Benar-benar jawaban yang tidak pasti. Kalau ditanya apa alasannya mendekati gadis itu dulu, maka ia akan menjawab karena rasa tertarik, menyukai sikap gadis itu yang apa adanya dan ia pun nyaman dengan gadis itu. Ia sudah meyakinkan hati untuk memilihnya menjadi pasangan, tapi orang tuanya juga belum mengatakan jawaban pasti, dan hari kemarin membuatnya benar-benar seperti kehilangan arah


Pikirannya bertambah bercabang karena kedatangannya kemarin di Rumah Sakit Bramadja saat ibunya menelpon dihari pernikahan Naufal berlangsung, ternyata ayahnya juga ada disana


Mereka menelpon dengan alasan ada hal penting yang harus dibicarakan. Tapi saat ia tiba disana, ia hanya duduk terdiam tanpa tau apa yanh sedang dibicarakan orang-orang disana, dan barulah saat ia sampai dirumah orang tuanya memberitau niat mereka menyuruhnya datang kemarin


"Apa yang sebenarnya bapak dan ibu ingin bicarakan? Sampai menelpon Gempano untuk pulang dari pernikahan Naufal?" Tanyanya saat mereka sudah tiba dirumah menjelang jam setengah satu siang


"Nak, kami ingin mengatakan sesuatu yang penting untukmu" Bu Ratih meraih tangan putra tunggalnya untuk duduk disofa ruang tamu mereka


"Sesuatu yang penting apa buk? Sampai ibu menyuruhku pulang cepat dari acara Naufal?"


"Bagaimana menurutmu tentang Fadila?" Gempano sedikit mengangkat alis mendengar pertanyaan ibunya


"Bagaimana apanya?"


"Dia perempuan yang baik, sholehah dan mengerti agama dengan. Kami berencana ingin menjodohkanmu dengannya" Bapak Adri yang mendengar ucapan istrinya hanya memijat pelipisnya pelan


"Ibu taukan aku sudah ada Renata?" Tanya Gempano, suaranya mulai berubah tak suka

__ADS_1


"Nak, ibu hanya menginginkan yang terbaik untukmu, perempuan yang mengerti agama dan bisa menjadi pendamping hidupmu"


"Tapi bagaimana dengan Renata?" Gempano paling tidak bisa sekali mendengar suara ibunya melemah seperti itu, senakal-nakal dirinya diluar sana, ia tetap anak yang berbakti pada orang tua


"Apa kau sudah berjanji padanya? Apa kau sudah menjadikannya pacar? Apa kau sudah datang melamarnya pada orang tuanya? Belum kan?" Gempano terdiam, ia memang belum melakukan itu. Tapi ia merasa menjadi laki-laki paling kejam jika menerima perjodohan ini, ia bersama Renata selama ini tapi menikah dengan orang lain?


"Pikirkan baik-baik nak, kalau kau setuju bapakmu yang akan datang menyampaikan maksudmu pada Kyai Husain" Gempano menatap kearah Bapak Ardi yang diam saja, ayahnya cenderung lebih mendukung apapun keputusannya selama itu baik


Gempano terdiam berfikir, jika ia memilih Renata tapi tanpa restu ibunya bagaimana kehidupan pernikahan mereka?, Tapi jika ia memilih Fadila, bagaimana sakit hatinya Renata?, cinta memang bisa tumbuh seiring waktu, ia mungkin bisa jatuh cinta pada Fadila setelah mereka menikah, tapi untuk melupakan Renata itu hal yang sulit, terlebih perempuan itu pasti membencinya. Tapi jika ibunya yang tak merestui ini, ia bisa apa?


"Baik, Gempano setuju memilihnya" Ibu Ratih tersenyum senang, sedang Bapak Adri hanya tersenyum tipis, Gempano berusaha tetap tersenyum, walau hatinya dipenuhi rasa bimbang, perasaan bersalah dan rasa kacau yang luar biasa


"Maafkan aku Ren" gumamnya pelan


Jika diluar ia menunjukkan sisi humoris dan bar barnya, tapi jika dirumah ia langsung menjelma menjadi laki-laki kalem yang berbakti pada orang tua


.


Gempano tak menghubunginya sama sekali setelah perdebatan mereka ditepi danau, kemarin di acara pernikahan Naufal pun, laki-laki itu justru terkesan cuek dan tak menyapanya, saat Renata berinisiatif menyapa, ia justru menghilang, pulang begitu saja


"Kenapa kau menyuruhku percaya padamu jika yang keluar dari mulutmu tak lebih dari omong kosong saja?" Gumamnya lirih, air matanya menetes


"Kenapa kau menyuruhku menunggu jika tak ada usaha dan harapan yang kau tinggalkan?"

__ADS_1


"Kau menyuruhku bersabar seperti Aqila tapi kau sendiri tak bisa menjadi pelangi selamanya seperti Naufal"


"Kau hanya datang dulu, mendekatiku dan menemani di hari tersulitku saat kehilangan Aqila, tapi kenapa kau sekarang kau seperti ini?"


"Ada apa denganmu Gempano? Apa hatimu sudah memilih perempuan lain? Dan kenapa bodohnya aku malah percaya kata-katamu"


"Bertunangan? Menikah sebentar lagi? Kata-kata apa itu? Hanya omong kosong saja!" Renata melampiaskan kekesalannya pada boneka kelinci yang dipegangnya, hadiah Gempano dihari ulang tahunnya yang ke dua puluh lima kemarin, dimana laki-laki berjanji omong kosong ingin menikahinya


"AKU MEMBENCIMU GEMPANO!" suaranya tersamarkan derasnya air hujan, sengaja ia biarkan jendela itu terbuka, agar setiap hujan ia mengingat air mata yang keluar hari ini hanya karena rasa cinta omong kosong


.


Di balik taman jendela rumah sakit, Fadila melakukan hal yang sama, menatap air hujan yang turun, suasana ruangan yang sunyi karena abinya tertidur dan uminya izin keluar sebentar entah pergi kemana


Hatinya tak bisa ia mengerti sekarang, jauh di lubuk paling dalam tak bisa ia berbohong, sedikit rasa sakit masih tersisa mengingat laki-laki yang sempat ia cintai dalam diam sudah memilih perempuan lain sebagai makmumnya. Sekarang ditambah lagi kedatangan laki-laki yang tak lain teman Naufal, Umi Zahwa sudah bertanya bagaimana pandangannya terhadap laki-laki itu, ia harus menjawab apa? Apa ia perlu bertanya pada Naufal? Bukankah laki-laki itu sudah berjani akan menyerahkannya pada orang yang tepat


Tapi menurut Fadila, Gempano adalah tipe laki-laki humoris, kemarin saja laki-laki itu banyak membuat abinya lebih banyak tertawa, hingga tanpa sadar ia juga ikut tersenyum melihat itu


"Gempano"


Tiga orang itu terjebak dalam lingkaran rasa yang sulit, hati mereka harus memilih cinta atau restu, merelakan dan melepas dengan sukarela setelah sekian bersama, atau justru mempertahankan dengan nama cinta


Lingkaran rasa itu menjerat masing-masing mereka, ada yang diliputi rasa bersalah dan bimbang, ada yang diliputi rasa sakit hati dan kecewa karena dianggap permainan dan diberi janji palsu, dan ada yang berusaha meyakinkan hatinya kalau kali ini ia harus jatuh cinta pada orang yang tepat, agar rasa sakit itu tak terulang kembali

__ADS_1


.


Banyak Typo...🙏


__ADS_2