
"Assalamu'alaikum" Naufal tak lupa memgucap salam saat masuk dalam ruangan Kyai Utsman, ruangan yang dipenuhi bau khas obat-obatan. Maher juga ikut karena setelah ini, ia ada janji makan siang bersama dengan Naufal sekaligus memeriksa perkembangan perkembangan hasil kerja sama mereka
"Wa'alaikumussalam"
Maher terdiam ditempatnya menatap Fadila, Fadila pun begitu, dari pancaran mata mereka ada cerita yang tidak diketahui orang lain
"Bagaimana keadaan pak kyai?"
"Masih sama sejak terakhir kali"
"Waktu makan siang sebentar lagi, aku ke kantin dulu" Fadila menundukkan kepalanya sebagai bentuk hormat, ia melewati Maher yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan
"Siapa temanmu ini?"
"Dia Maher, partner bisnis Naufal, dia pengusaha asal Turki dan ingin memulai bisnis di Indonesia"
Maher tersenyum menundukkan kepalanya pada kedua orang tua paruh baya itu
"Maaf sebelumnya, saya izin sebentar ke belakang" Maher keluar hingga meninggalkan tiga orang itu dalam ruangan
"Apa yang pak kyai ingin bicarakan?" Naufal mengerti Kyai Utsman ingin mengatakan sesuatu, namun mungkin karena kehadiran Maher ia jadi agak sungkan. Maher juga sepertinya mengerti itu sebabnya ia pamit undur diri
"Naufal, bagaimana menurutmu tentang Gempano?"
"Maksud pak kyai?" Naufal mengernyitkan dahinya sedikit bingung
"Kami berniat menjodohkan Fadila dengan Gempano, bagaimana menurutmu dia? Kamu kan sahabat baiknya, orang tua Gempano juga sepertinya setuju karena mereka terlihat menyukai Fadila" Naufal tersentak, jadi perempuan pilihan ibunya yang dimaksud Gempano melalui cerita Renata adalah Fadila?
"Apa mereka sudah melakukan pertunangan?"
"Belum, ini masih rencana saja, bagaimanapun juga Fadila adalah putri kami satu-satunya, kami ingin dia mendapatkan jodoh yang terbaik" jawab Kyai Utsman, ia menghela nafasnya
"Apa menurutmu dia laki-laki yang cocok untuk Fadila?" Tanya Umi Zahwa
"Aku tidak tau harus menjelaskan bagaimana, aku tidak bisa menilai Gempano dari satu sisi saja"
"Jelaskan pada kami, apa yang kamu ketahui tentang dia"
__ADS_1
"Dia laki-laki baik, humoris dan pekerja keras"
"Apa ia punya pacar? Atau sedang dekat dengan perempuan?" Naufal semakin bingung ingin menjawab apa, kalau ia mengatakan Gempano dekat dengan perempuan, apa mungkin ia akan marah karena bisa saja rencana ini dibatalkan, tapi kalau berbohong sama saha ia mengingkari janjinya pada Kyai Utsman untuk menjaga dan melindungi Fadila sampai menemukan laki-laki yang tepat
"Setauku, kemarin dia sempat dekat dengan perempuan, tapi sekarang mungkin tidak lagi" ini adalah jawaban teraman menurut Naufal, karena ia tak bohong juga kalau sekarang Gempano sudah tidak dekat dengan Renata
"Pacaran?" Naufal berpikir sejenak, kemudian menggeleng. Seperti cerita Renata, tanpa status dan hanya memberi janji
"Apa dia laki-laki yang bertanggung jawab dan bisa dipercaya?" Naufal bingung ingin mengatakan apa
"Untuk ini..."
"Assalamu'alaikum" Abi Umar dan Umi Sarah datang, Naufal merasa sedikit tenang karena tidak akan ditanyai lebih lanjut. Tapi ia harus bertemu dengan Gempano, laki-laki itu harus menjelaskan banyak hal
.
"Ternyata dunia sesempit ini" Fadila yang duduk ditaman rumah sakit sedikit terkejut melihat laki-laki yang tadi ia hindari ada disini dan duduk di kursi kosong sebelahnya
"Aku tak menyangka kita bisa bertemu lagi"
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Fadila
"Oh iya, dimana suamimu kenapa aku tidak melihatnya?"
"Untuk apa kau bertanya seperti itu?"
"Aku ingin melihat laki-laki beruntung mana yang mendapatkan istri secantik dirimu" Fadila terdiam, ia tak ingin menatap sama sekali kearah laki-laki itu
"Kau berbohong" saat Maher mengatakan kalimat itu, barulah Fadila menoleh kearahnya mengernyitkan alis
"Kau belum menikah, kau belum menikah dengan laki-laki yang kau cintai seperti yang kau katakan"
"Kenapa kau berfikir seperti itu?" Tanya Fadila
"Tidak ada cincin di jari tanganmu" Fadila terdiam, laki-laki disampingnya memang selalu teliti nelihat sesuatu
"Kenapa kau berbohong padaku?"
__ADS_1
"Laki-laki itu Naufal kan? Dia laki-laki yang kau cintaikan? Tapi lihatlah sekarang dia sudah menikah"
"Darimana kau tau kalau itu adalah Naufal?" Fadila sedikit terkekeh, tidak mungkin Naufal yang nemberitahukan?
"Dari tatapan matamu saat melihatnya"
"Matamu tak pernah berbohong Fadila" Fadila lagi-lagi terdiam, laki-laki itu selalu benar
"Kalau iya kenapa? Kalau aku belum menikah kenapa? Kalau laki-laki itu Naufal kenapa? Kau ingin apa? Mengejekku?"
Maher tersenyum kemudian menggeleng
"Artinya aku masih punya kesempatan untuk menjadi pendampingmu" Fadila menatap kearah rerumputan hijau dibawah kaki dan menghela nafas
"Kenapa kau belum menyerah dan terus mengejarku? Padahal aku sudah pernah menyakiti hatimu"
"Karena hatiku masih memilihmu, dulu kau membiarkan aku menyerah bahkan sebelum berjuang, kau memang jahat saat itu karena belum melihat perjuanganku tapi sudah menolak begitu saja"
Fadila diam membisu, ingatannya kembali berputar tujuh tahun lalu saat pertemuannya dengan Maher, mereka adalah teman sekelas saat dirinya menempuh pendidikan di Turki. Laki-laki itu pernah menyatakan cinta padanya, tapi Fadila menolak begitu saja bahkan tak membiarkan laki-laki itu berjuang terlebih dahulu. Hatinya sudab tertaut pada satu nama, Naufal.
"Sepertinya ada laki-laki yang berniat melamarku dalam waktu dekat ini" gumamnya pelan, orang tuanya mulai sering membicarakan Gempano, apalagi orang tua Gempano juga sering berkunjung
"Benarkah? Tapi belum kan?" Fadila mengangguk
"Apa dia laki-laki yang kau cintai" Fadila tak menjawab, karena jujur ini terlalu mendadak untuknya dan hatinya tak bisa semudah itu jatuh cinta
"Kalau begitu aku yang akan berjuang untuk mendapatkannya"
"Mendapatkan apa?"
"Mendapatkan cintamu, karena aku mungkin kalah berjuang dengan laki-laki yang kau cintai tapi aku yakin menang kali ini untuk laki-laki yang mencintaimu"
"Apa kau mengizinkan?" Fadila terdiam sejenak, laki-laki disampingnya adalah laki-laki baik yang ia kenal selama pernah kuliah bersama, tapi apa laki-laki itu benar-benar tak pernah jatuh cinta pada perempuan lain?
"Kau bisa berjuang kalau kau bisa meyakinkan umi dan abiku, karena mereka yang akan memilih pendamping yang menurut mereka tepat untukku" Maher tersenyum, lampu hijau sudah menyala, saatnya ia kini berjuang untuk mendapatkan hati perempuan yang pernah mengecewannya tujuh tahun lalu
Bisa dikatakan ia sebagai laki-laki yang gagal move on, walau orang tuanya bersikeras menyuruhnya segera menikah, hatinya masih tertaut untuk Fadila, hingga tahun ini ia datang ke negara kelahiran perempuan itu untuk memperluas bisnisnya, ia sama sekali tak berharap dipertemukan karena Indonesia itu adalah negara yang luas dan kemungkinan besar kalau perempuan itu pasti sudah menikah. Selain itu, ia tak tau dimana alamat perempuan itu, tapi mungkin benar kata sebagian orang, kalau dunia sesempit itu
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mulai berjuang"