Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Kenzo


__ADS_3

"Saya terima nikahnya Rani Permatasari..."


"Rani permayanti Kak Rian" Aqila menghela nafasnya lelah, bahkan ia yang lelah karena mendengar kakaknya terus salah menyebut nama calon istrinya


Rian datang malam-malam seperti ini meminta untuk diajari ijab qabul karena gugup, ia malu meminta tolong pada orang rumah karena disana sedang banyak orang untuk persiapan acara yang besok, selain itu ia pasti diledek habis-habisan karena kesekian kalinya ia salah menyebut nama calon istrinya


"Kalau Kak Rian salah sampai tiga kali besok, pernikahannya bakal diundur"


"Apa iya?" Pandangannya tertuju kearah Naufal yang kemudian mengangguk


"Baiklah satu kali lagi" ia menarik nafas dan menghembuskannya pelan


"Saya terima nikahnya Rani Permaisuri..."


"Udah sana pulang! Udah jam setengah sepuluh malam, lo butuh tidur" Naufal menarik lengan kakak iparnya itu untuk berdiri


"Gue ini kakak ipar lo"


"Terus? Gue suami adik lo"


"Gue saudara istri lo"


"Udah! Kenapa malah battle hubungan" Aqila menengahi dua orang itu yang tiba-tiba berubah menjadi tak jelas seperti ini


"Kak Rian kayaknya emang butuh istirahat, salah nyebut nama terus karena Kak Rian capek dan tegang, coba besok santai dan nikmati aja, rileks jangan tegang"


"Kak Naufal juga nasihatinnya pelan-pelan, jangan marah-marah kayak perempuan menstruasi" Aqila juga menoleh kearah suaminya yang masih menatap Rian


"Kayaknya kakak emang butuh istirahat Qil, kakak pulang dulu" Rian memijit kepalanya pening, benar ia memang terlalu tegang


"Hati-hati dijalan kak" Rian mengangguk, ia membuka pintu "Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


"Maafin Kak Rian..." belum sempat Aqila menyelesaikan ucapannya suara pintu terdengar dibuka lagi


Ceklek


"Fal, ayo anterin aku pulang, aku takut arwah Panil gentayangan karena aku nggak ngasih restu"


"NGGAK!"


Aqila hanya berusaha tersenyum menanggapi, kenapa sekarang Rian berubah menjadi agak menjengkelkan


.


Dekorasi berbagai jenis bunga terpasang sebagai hiasan di kediaman Arya Bramadja, pernikahan Rian Valen Bramadja diadakan dengan acara yang terbilang meriah, bagaimana tidak? Karena Rian adalah putra terakhir


Para tamu mulai berdatangan hadir termasuk dari kalangan pebisnis. Mungkin mereka ingin tau perempuan dari keluarga kaya mana yang menikahi putra terakhir Arya Bramadja itu


Rian memegang tangan Pak Bayu dengan sedikit gemetar, keringat dingin memabasahi telapak tangannya, ia berusaha menarik nafas dan menghembuskannya pelan, ia tak boleh tegang atau akan salah lagi dalam menyebut nama

__ADS_1


"Saya terima nikahnya Rani Permayanti dengan maskawin tersebut dibayar tunai" ucapnya dalam satu tarikan nafas


"Bagaimana para saksi?"


"SAH!" Rian bisa mendengar suara Devano paling keras, semalaman kakaknya itu mengejeknya habis-habisan gara-gara Aqila sempat menelpon apakah ia pulang dalam keadaan baik-baik saja


"Alhamdulillah" ia mengusap tangannya sebagai bentuk syukur


Tak menunggu lama, Rani datang dengan pakaian serba putih yang anggun, Aqila dan Reyna membantu menggandeng tangan kakak ipar mereka, Rian sampai pangling tak menyangka istrinya secantik ini


"Silahkan cium tangan suaminya" Rian masih bengong, tidak menjulurkan tangannya hingga Papa Arya yang duduk dibelakang menepuk pundaknya barulah ia sadar


"Malu dikit sama Ayah mertua kamu" bisiknya


Rian tersenyum dan mengulurkan tangannya, saat Rani mencium punggung tangannya, ia bisa merasakan sesuatu yang luar biasa secara bersamaan dalam dirinya, sebuah rasa bahagia, haru dan perasaan lain yang campur aduk. Tak lupa ia mencium kepala istrinya dan meletakkan tangan untuk membaca do'a sesuai apa yang diajari Naufal tadi malam


"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."


"Terima kasih sudah mau menerimaku sebagai pemimpinmu, aku berjanji akan berusaha sebaik mungkin menjadi lebih baik"


"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kau mau menerima kekuranganku"


Rian menggelengkan kepalanya, keluarganya juga tak terlalu mempermasalahkan hal seperti itu, asal Rian bisa bahagia dan mendapat pilihan yang tepat, itu kata mereka


.


Dikursi tamu Aqila yang melihatnya hanya mampu tersenyum, tak pernah menyangka Rian akhirnya bisa mendapatkan perempuan impiannya, cinta yang luar biasa karena ditempuh dengan perjuangan yang luar biasa pula. Ia langsung memilih undur diri tadi setelah mengantar Rani, kakak ipar barunya karena melihat seseorang yang seperti ia kenal dekat


Aqila tersadar, ia ingat tujuan awalnya tadi karena ingin memastikan orang itu, ia berdiri dari duduknya dan menuju lokasi dimana ia melihat orang itu, bahkan sampai tak mendengar Yusuf yang terus memanggil namanya


Laki-laki itu sedikit membenarkan kacamatanya saat melihat perempuan dengan gamis berwarna biru muda itu memanggil namanya


"Kak Aqila" rasa senangnya tak bisa diungkapkan, hampir lima tahun mereka tak pernah lagi bertemu dan sekarang dipertemukan dalam keadaan tak terduga seperti ini


"Ternyata benar Kenzo, kakak pikir bukan kamu, kamu sudah tumbuh besar sekarang, kakak hampir tak bisa mengenali kamu"


"Waktu begitu cepat berlalu dan semuanya berubah seiring pergantian hari"


"Kenapa kamu bisa ada disini?" Aqila celingak celinguk ke kiri dan ke kanan, ia pikir mungkin ibu panti juga hadir disini


"Aku dateng bareng ayah"


"Ayah?" Aqila mengernyitkan alisnya tak mengerti, apa Kenzo diadopsi? Begitu isi pikirannya


"Dia orang tua kandung aku" Kenzo bisa membaca jelas ekspresi kebingungan itu


"Orang tua kandung kamu?"


"Hmm, mereka datang menjemputku tiga tahun lalu saat kelas 1 SMP, Ibu Nia bersikeras menolak karena bagaimanapun ia menemukan aku sejak bayi didepan panti asuhan, orang tuaku beralasan sengaja melakukan itu karena terpaksa demi kebaikanku"


"Akhirnya setelah dilakukan tes DNA ternyata benar aku anak mereka" suara Kenzo sedikit melemah diakhir kalimatnya

__ADS_1


"Kamu bahagia sama mereka?"


"Aku bahagia, mereka memperlakukan aku dengan sangat baik, kasih sayang mereka yang hilang bisa aku rasakan saat tinggal bersama, tapi tetap saja aku masih sedikit merindukan temanku"


"Syukurlah kalau memang seperti itu, kakak senang sekali mendengarnya"


"Oh ya, bagaimana kabar Kak Aqila sekarang? Sudah sembuh?"


"Alhamdulillah, Allah masih memberikan kakak kesempatan untuk menghirup udara segar di bumi ini"


"Kalau Kak Naufal? Kalian bersama?"


"Tuhan mentakdirkan kami bersama pada akhirnya"


"Kenzo" seorang wanita dengan dress selutut dan rambut yang disanggul terlihat elegan dengan menggendong balita yang Aqila perkirakan usianya sekitar dua tahun


"Iya bu"


"Kak Aqila ini ibuku dan ibu ini Kak Aqila, dia perempuan yang baik dulu sering membantu Kenzo saat masih di panti" Aqila mencium tangan wanita itu sebagai bentuk hormat, tak pernah menyangka ternyata Kenzo berasal dari keluarga berada, lantas yang masih menjadi pikiran Aqila apa yang menyebabkan mereka harus membuangnya di panti asuhan?


"Aqila? putri Pak Arya?"


"Iya dia papa saya" Aqila bisa menebak, kalau orang tua Kenzo pasti termasuk teman bisnis ayahnya


"Terima kasih ya dulu sering membantu Kenzo, maaf kalau dia dulu sering merepotkan"


"Tidak sama sekali, saya tidak banyak membantu hanya kadang-kadang bertemu"


"Kenapa ibu manggil Kenzo? Ada masalah?"


"Bisa gendong adik kamu sebentar? Ibu sama ayah mau ngucapin selamat untuk pengantin"


Kenzo mengambil alih balita laki-laki itu, sepertinya ia mulai mengantuk terdengar dari suaranya yang mulai sedikit rewel


"Siapa namanya?" Aqila mengulurkan tangan saat melihat Kenzo seperti kesusahan menggendongnya


"Qais Ammar Giltasa"


"Qais, nama yang indah" Aqila menepuk pelan punggung balita itu sampai bisa tenang dan terlelap


Dari kejauhan Naufal melihat istrinya menggendong balita dan nampak terlihat akrab sekali mengobrol dengan laki-laki berkacamata yang terlihat tampan, ia kesini juga karena Yusuf yang memberitau kalau Aqila bertemu pacalnya, aneh-aneh saja memang anak itu


"Dia siapa?" Aqila terlonjak kaget saat Naufal tiba-tiba merangkul pundaknya dari belakang


"Masa Kak Naufal nggak kenal? Coba liat baik-baik?"


"Kenzo? Ini kamu?" Naufal juga sama tak percayanya, laki-laki itu tumbuh menjadi tinggi sekali


"Kak Naufal nggak kenal sama sekali" Naufal benar-benar tak percaya melihat pertumbuhan anak yang dulu sering ia lihat memakai seragam merah putih sekarang bahkan hampir menyamai tingginya


"Dia udah ketemu orang tua kandungnya dan kebetulan sekali kalau orang tuanya teman bisnis Papa"

__ADS_1


"Oh ya? Kenapa kami tidak melihatmu kemarin di pernikahan kami?"


"Kami baru pulang dari singapura tiga hari yang lalu setelah tinggal lima tahun disana dan akan mulai menetap disini" Naufal sampai menggelengkan kepala berkali-kali, Kenzo anak panti asuhan itu ternyata anak seorang pengusaha


__ADS_2