Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Salah yang mana?


__ADS_3

Suasana pagi menjelang siang itu tak terlalu macet, matahari pun bersinar dengan teriknya, tak mendung atau turun hujan seperti biasa. Banyak anak-anak kecil berpakaian merah putih yang terlihat baru pulang sekolah dengan es ditangan kanan mereka


Aqila terus melihat kearah jalan, ia jadi ingat dulu sering bermain bersama anak-anak kecil yang berjualan untuk membiayai sekolah mereka, sekarang sudah lima tahun berlalu, anak-anak itu pasti sudah besar pikirnya.


Mereka saat ini berada dalam perjalanan pindah menuju rumah yang telah dibeli Naufal, walau begitu Umi sarah meminta untuk sering-sering datang berkunjung


Aqila menajamkan penglihatannya saat melihat seperti Rian yang sedang berbicara dengan seseorang


"Itu Kak Rian bukan?" Tanyanya pada Naufal yang sedang menyetir


"Iya, kayaknya" ucapnya mengalihkan pandangannya kearah luar kemudian fokus lagi pada kemudi


"Sama siapa? Pacarnya ya?" Aqila agak sedikit heran juga melihat Rian yang seperti akrab dengan perempuan itu, tapi perempuan itu justru terkesan cukup cuek padanya


"Entah aku juga belum liat pernah liat Rian akrab sama dia dikampus" Aqila mengangguk paham, jawaban Naufal tak membuatnya cukup puas, ia harus bertanya nanti pada kakaknya itu karena Rian belum pernah terlihat dengan perempuan sebelumnya, apalagi ini terlihat sangat akrab


.


Suasana danau cukup tenang, angin berhembus semilir terasa nyaman sekali saat matahari bahkan belum sepenuhnya menunjukkan sinarnya


"Mau apa ngajak aku kesini?" Renata bertanya tanpa ekpresi sama sekali, hatinya sudah terlanjur kecewa dengan sikap laki-laki itu. Pagi-pagi sekali laki-laki itu menelpon mengajaknya ingin bertemu


"Maaf" Renata mendongak menatap Gempano yang menuruskan pandangannya pada air danau


"Dosa kamu terlalu banyak, minta maaf untuk yang mana?" Bagaimanapun kondisi hatinya, Renata tetaplah Renata gadis yang langsung bertanya tanpa peduli jika lawannya saat ini sakit hati


"Semuanya"


"Maaf, belum bisa semuanya, stok maafku udah hampir untuk sebagiannya"


"Ren, aku nggak lagi becanda" Gempano menatap balik kearah Renata


"Kamu pikir aku becanda? Aku serius!, Kamu pikir kesalahanmu bisa hilang begitu saja setelah mengatakan maaf? Tidak semudah itu" Gempano menunduk, ia sadar betul kalau kesalahannya memang tidak bisa dimaafkan semudah itu, ia laki-laki egois jika minta dimaafkan setelah omong kosong yang ia berikan pada Renata


"Aku datang kesini menyampaikan maaf sekali lagi, tapi aku memilih ibuku" Renata tersenyum miring walau hatinya hancur mendengar itu, ia tau maksud perkataan Gempano, artinya Gempano memilih perempuan pilihan ibunya


"Kenapa nggak lewat telpon aja kalau cuma mau bilang gitu? Buang-buang waktu berharga aku cuma buat dengerin omong kosong laki-laki kayak kamu" balas Renata segera bangkit dari duduknya, berusaha keras ia menahan sesak dan air mata yang ingin tumpah

__ADS_1


"Aku minta maaf"


"Bullsh*t, aku udah nggak mau denger omongan kamu lagi, kamu memintaku bersabar dan menunggu membujuk ibumu, kamu memintaku bersabar seperti Aqila?"


"Heh, kamu bahkan tidak bisa seperti Naufal yang menepati janjinya, kamu bukan laki-laki yang bertanggung jawab setelah segala tingkah lakumu selama ini"


"Untunglah kita tidak bersama lagi, aku tau tuhan tidak akan membiarkanku bersama laki-laki seperti dirimu" setelah mengatakan itu, Renata pergi tanpa mengucap salam, ia berusaha berlari sekuatnya menahan sesak beban di dadanya


Gempano yang ada disana termatung mendengar itu, ia sadar kalau selama ini ia salah, ia memberikan harapan palsu pada gadis itu, gadis yang pernah ia hibur kala sedih dan gadis yang pernah ia berikan janji


Perkataan Renata benar, ia tak bisa seperti Naufal yang menepati janji, tapi meminta Renata bersabar menunggu seperti Aqila. Ia egois memang egois, mungkinkah sikapnya itu diturunkan dari ibunya?


"AAAAKHHHH" ia berteriak ditepi danau itu, melampiaskan beban yang tak bisa ia ucapkan, hatinya dipenuhi kesedihan, penyesalan, kebingungan dan seperti hilang arah


.


Renata mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia tak seperti orang yang melampiaskan emosinya dengan kebut-kebutan, membahayakan nyawa saja, untuk apa ia mengorbankan hidupnya untuk laki-laki omong kosong seperti Gempano?


Ia melihat ponselnya, ia butuh bercerita sekarang dan orang yang tepat adalah Aqila, karena orang tuanya sendiri sibuk dengan pekerjaan mereka


Aqila sudah memberitau alamat baru rumahnya kemarin, tak jauh dari lokasinya saat ini


Sementara diseberang sana, Naufal yang mengangkat telpon kebingungan, ia sebenarnya ingin memberitahu Aqila, tapi istrinya sedang menyiram bunga di depan. Rumah yang baru mereka tempati kemarin itu adalah rumah tingkat dua sederhana, tapi terlihat asri dan memiliki halaman belakang yang cukup luas untuk buah-buahan


Ia yang baru saja selesai mandi dan bersiap berangkat kerja pagi ini teralihkan saat mendengar suara telpon istrinya, awalnya ia berniat memanggil Aqila, tapi melihat nama penelpon yang diberi nama cukup aneh, ia jadi curiga sendiri dan mengangkatnya


"Halo, Assalamu'alaikum Qil, aku kerumahmu sekarang"


Seperti suara perempuan pikirnya tapi kenapa diberi nama 'ata' seperti laki-laki saja


"Siapa yang nelpon?" Aqila yang berada dibawah ternyata punya pendengaran cukup baik untuk mendengar suara telponnya


"Namanya ata"


"Itu Renata" ucap Aqila, ia tau dari nada bicara Naufal, suaminya itu pasti berpikir laki-laki


"Kenapa Ata?"

__ADS_1


"Karena dia bilang ingin menjadi sosok pelindungku yang kuat, seperti laki-laki. Jadi ia meminta namanya ditulis Ata"


Naufal menggelengkan kepalanya, aneh sekali "ada-ada saja"


"Dia bilang apa?"


"Dia ngucap salam terus langsung bilang Aqila aku kerumahmu sekarang"


"Kak Naufal ngizinin?" Tanya Aqila, Naufal menganggukan kepalanya


"Biar kamu juga ada temen disini"


"Dia sepertinya ada masalah, dari beberapa hari kemarin dia agak terlihat menyembunyikan sesuatu" ucap Aqila, ia membantu memasangkan dasi Naufal dengan sedikit berjinjit


"Kenapa senyum-senyum gitu?" Tanyanya sewot, ia seperti ditertawakan karena berjinjit memasangkan dasi


"Nggak ada, cuma liat kecantikan bidadari sepagi ini" Aqila menunduk, pipinya sudah pasti memerah mendengarnya


Naufal terkekeh, lucu sekali rasanya melihat istrinya malu-malu seperti ini


"Apa yang kamu pakai?" Aqila sedikit mengernyit bingung mendengar itu, pakai apa?


"Apa?" Tanyanya balik pada Naufal


"Aku jatuh cinta setiap detik saat melihat wajahmu" Aqila memukul pelan lengan Naufal


"Udah sana berangkat kerja, jangan ngegombal mulu pagi-pagi"


"Ini bukan gombalan loh, ini fakta"


"Iya iya udah tau" ucap Aqila tak ingin berbicara lebih banyak lagi, karena tau Naufal pasti tak henti menggodanya


Mereka turun kelantai bawah bersama, Aqila mencium tangan suaminya dan Naufal mengecup puncak kepala istrinya, sesuatu yang menjadi kebiasaan mereka setelah menikah


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam, hati-hati dijalan"

__ADS_1


*


Banyak Typo...🙏


__ADS_2