Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Goyah


__ADS_3

Angin berhembus sepoi-sepoi, menerbangkan untaian jilbab tiga gadis yang sedang berjalan kembali ke acara resepsi, tak sopan rasanya datang tapi keluyuran tidak jelas


"Akadnya udah ya?" Tanya Aqila pada Renata di sebelahnya, ia tak tau berapa lama ia tertidur


"Udah"


"Kira-kira gue tidur berapa menit ya Ren?"


"Sekitar tiga puluh menit"


"Cukup lama juga, terus orang tua gue nyariin nggak?"


"Nggak, mereka aja masi dikursi depan, kursi yang kita duduki tadi udah ditempati orang" Aqila mengangguk mengerti, wajar saja ditempati orang lain, ini juga karena mereka yang pergi begitu saja


"Kak Diva nggak ikut foto?" Tanya Aqila saat terlihat beberapa keluarga mulai naik keatas pelaminan untuk mengambil foto dengan pengantin


"Nggak"


"Kenapa kakak udah berhasil move on kan?" Tanya Aqila


"Bukan itu masalahnya Aqila, tapi nggak mungkin kakak menerobos begitu banyak orang di depan cuma buat ikut foto" ucap Diva menunjuk kerumunan manusia yang begitu banyak ditambah para santri yang pastinya menjadi kesempatan mereka untuk memakan makanan enak, kapan lagi?, Aqila langsung berfikir kira-kira berapa banyak makanan yang dimasak untuk acara ini?


"Aqila kesana yuk" tunjuk Renata pada meja prasmanan diujung sana


"Lo udah makan kan?"


"Udah, tapi pudingnya belum sempat gue icip, kayaknya enak banget"


"Kayak orang ngidam aja lo" walaupun berkata seperti, Aqila tetap mengikuti langkah kaki Renata


"Lo nggak lapar Qil?, makan gih, gue takut lo pingsan" ucap Renata penuh perhatian mengambilkan nasi juga lauk untuk sahabatnya


"Banyak banget ya santrinya" ucap Aqila melihat santri yang berlalu lalang

__ADS_1


"Disini ada MTs sama MA, makanya banyak, terus ada juga yang milih mondok aja tapi nggak ikut belajar formal kayak kakak dulu" jelas Diva sambil menarik satu kursi untuk ia duduki, prasmanan laki-laki dengan perempuan dipisah agar tak bersentuhan dengan yang bukan makhram


"Liat deh, diatas pelaminan, ustadzah Fadila sama ustadz Naufal ikut foto, mereka keliatan serasi banget ya" ucap salah satu santriwati dibelakang mereka yang masuk ke pendengaran Aqila


"Tapi yang ana dengar kalau ustadz Naufal udah mengkhitbah seorang perempuan, katanya sih juniornya dikampus" jawab salah satu dari mereka


"Tapi..."


"Kalau makan itu jangan sambil ghibah ukhti, nggak kenyang dan nambah dosa" Sontak saja mendengar suara Ustadzah Diva, santriwati itu menunduk tak menyangka salah satu pengajar ada disini, mereka pikir semua pengajar duduk dikursi depan


"Afwan ustadzah"


Sedangkan Aqila, mengeratkan pegangan pada sendok yang dipegangnya, ia yang memang tak berselera semakin tak berselera mendengar ucapan mereka


"Jangan dengar kata mereka, kalau kita dengar kata orang kita nggak bakal bisa maju"


Aqila mengangguk dan tersenyum


"Terima kasih kak"


.


"Kamu nggak cemburu?" Tiba-tiba saja saat perjalanan pulang, Papa Arya bertanya pada Aqila yang sedari tadi diam saja


"Cemburu kenapa?" Aqila balik bertanya pada Papa Arya


"Liat Naufal foto sama temennya"


"Menurut papa gimana?"


"Loh kok balik nanya Papa? Papa nanya kamu loh? Cemburu nggak gitu?"


"Aqila udah cemburu dari kecil liat kalian sama Reyna, jadi biasa aja"

__ADS_1


Kedua orang tuanya langsung terdiam yang membuat Aqila merasa bersalah, padahal niatnya meyakinkan mereka kalau ia tak cemburu tapi sepertinya kalimat penyampaiannya salah, untungnya Renata yang duduk disebelahnya tidur, mungkin karena kelelahan jadi tidak mendengar apa-apa


"Maaf Ma, Pa, Aqila nggak bermaksud ngomong gitu"


"Kenapa minta maaf nak? Kami yang salah disini sebagai orang tua, kami yang harusnya minta maaf"


"Kami yang harusnya sadar dari dulu, kalau cara mendidik kami salah, kami merasa gagal menjadi orang tua yang baik untukmu nak, maaf" Aqila terdiam, melupakan masa lalu itu semua memang tak mudah, ia harus berusaha lebih keras lagi, tapi ia berjanji pada dirinya untuk tak menyimpan itu sebagai dendam yang justru menjadi penyakit hati berbahaya


"Aqila juga minta maaf, yang sudah lalu biarlah berlalu, yang pentingkan kehidupan sekarang udah lebih baik, Aqila berharap kedepannya bisa hidup bahagia walau kenangan masa kecil udah nggak bisa kembali lagi"


"Waktu kami bersamamu semakin terbatas sekarang nak, apalagi kamu akan menikah sebentar lagi, kami harap kau sering-sering berkunjung kerumah" ucap Papa Arya, terdengar sendu dari suaranya


"Pasti" jawab Aqila yakin


"Kalau umur Aqila masih sampai hari itu" lanjutnya membuat orang tuanya menatap kearahnya dengan pandangan tak suka


"Jangan ngomong gitu Aqila, mama sama papa nggak suka dengernya"


"Maaf, Aqila cuma ngomong aja melihat kondisi saat ini, apalagi Papa sama Mama dengerkan dokter bilang apa kemarin? Kanker otak itu kalau udah nyebar bakal sulit buat diobati, obat cuma nyegah biar sel kanker semakin kecil, dan nyatanya penyakit kanker itu nggak ada yang sembuh total" jawab Aqila sendu


"Dokter bukan tuhan yang menentukan hidup seseorang, selagi kita punya kemauan buat sembuh, nggak ada yang mustahil"


"Entah kenapa sekarang Aqila kayak pasrah Ma, Pa, Aqila ngerasa nggak berguna, cuma beban, cuma repotin orang lain. Aqila mikir kalau Aqila sembuh buat siapa sih?"


"Jangan bicara seperti itu Aqila!, kamu bertanya sembuh buat siapa? Pikirkan keluargamu, saudaramu,Naufal yang akan menjadi pendamping hidupmu, sahabatmu Renata dan teman-teman lain yang menyayangimu" Papa Arya jelas tak suka memdengar ucapan Aqila seperti itu


Sedang, Aqila hanya menghela nafas, keluarganya dan saudaranya yang lain, memang sepenting apa Aqila untuk mereka?, Naufal yang tiba-tiba meliputi kebimbangan hatinya, dan Aqila melirik kearah Renata yang bersandar dibahunya, sahabat yang selalu bersamanya dari SMA, Renata juga sudah pasti punya banyak teman, entah kenapa Aqila merasa sekarang seperti tak berguna untuk siapapun


"Aqila cuma bingung mau hidup kayak gimana?" Aqila tiba-tiba menangis menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, penyakit itu benar-benar mengatur emosinya. Aqila benar-benar seperti kehilangan tapi ia tak tau apa yang hilang dari dirinya


Mungkin benar kata orang, saat menuju pernikahan pasti ada saja masalah yang datang, seperti Aqila yang merasa tiba-tiba Naufal tak pantas untuk dirinya dan sebagainya, kepalanya dipenuhi pikiran-pikiran berat alias overthingking


"Tenangkan dirimu nak, jangan merasa sendiri disini, ingat jika hidupmu tak hanya untuk dirimu saja tapi juga bermanfaat untuk orang lain" jelas Mama Intan, ia ingin pindah ke belakang dan menyalurkan pelukan pada putrinya

__ADS_1


"Jika mimpi yang ingin kau gapai rasanya mustahil, kejar mimpi yang lain jangan hanya karena satu mimpimu membuatmu gagal"


Tiba-tiba kalimat Naufal tempo hari terngiang ditelinga Aqila, bagaimana bisa ia berfikir seperti ini sekarang padahal sudah sejauh ini, bahkan mimpi yang rasanya mustahil itupun bisa ia raih saat keluarganya mulai peduli. Tapi kenapa sekarang hatinya goyah tentang semua mimpi itu?


__ADS_2