
Setelah semalaman ketahuan tentang Diva, Devano digoda habis-habisan oleh Aqila, ia bahkan sampai malu sendiri, ia tak pernah menyangka adiknya seperhatian itu padanya sampai mengirimi pesan kalau Diva wanita baik. Namun, pagi ini di cuaca yang begitu cerah, nyatanya hati Aqila terlihat tak secerah cahaya sang mentari, Aqila terlihat duduk di salah satu kursi yang ada di taman belakang, nampak jelas dari meja makan saat ini, gadis itu sedang termenung seperti memikirkan sesuatu dengan pandangannya yang lurus kedepan
"Aqila udah sarapan Ma?" Tanyanya pada Mama Intan yang menuangkan lauk ke piring papanya
"Belum, dia bilang nggak lapar, katanya butuh waktu sendiri" jawab Mama Intan, ia turut mengalihkan perhatiannya pada Aqila yang duduk termenung dengan pandangan kosong
"Dia baik-baik aja kan?" Rian bertanya pada mereka, yang dibalas kedikkan bahu tanda tak tau dari anggota keluarganya yang lain
Ia ingat saat pergi ke kantin, kebetulan Aqila dan Renata juga ada disana, tiba-tiba kedatangan Galang membuat fokusnya teralihkan. Ia yang berada di belakang cukup bisa mendengar percakapan mereka, apalagi mendengar Galang yang sudah memutus Reyna. Kurang ajar sekali laki-laki itu, dan beraninya ia kembali untuk menyatakan perasaan pada adiknya yang lain.
Rian mengeratkan genggaman pada sendok yang dipegangnya, hatinya benar-benar panas mendengar setiap kata yang keluar dari mulut laki-laki itu, hingga saat Galang mengatakan alasan memutuskan Reyna karena menganggap adiknya kekanakkan membuat darah Rian mendidih dan siap bangkit dari kursinya, namun ia tak menyangka justru Aqila yang membela Reyna dan tak terpengaruh dengan rayuan buaya laki-laki itu. Saat itulah Rian tersenyum, tak ada kebencian dalam diri Aqila, jika ia benar-benar membenci mereka, pastinya ia justru senang saat adiknya yang menjadi penyebab dirinya diabaikan menderita.
Setelah mendengar itu, ia mendapat telpon dari salah satu teman Reyna yang mengabari jika adiknya menangis ditaman belakang, dan dugaan Aqila benar keesokan harinya Rian memberi pelajaran pada Galang, bukan sekedar fisik tapi juga mengajari laki-laki itu jangan mempermainkan hati perempuan
"Jika ibu atau saudara perempuan kamu diperlakukan seperti itu oleh laki-laki, apa yang akan kamu lakukan?" Begitulah ucapan Rian saat itu saat Galang dengan mudahnya mempermainkan hati perempuan
"Kalau gitu biar Reyna aja yang bawa sarapan buat Kak Aqila" Reyna hendak berdiri dari kursinya, namun tangannya langsung ditahan oleh Darren
"Lanjutin aja sarapan kamu" Reyna terdiam kemudian mengangguk, ia juga ingin minta maaf kakak perempuannya. Galang benar selama ini sikapnya terlalu kekanakkan sampai merugikan orang lain.
"Biar aku aja" Rian berdiri dari duduknya dan mengambil dua lembar roti dengan selai coklat dan segelas susu untuk Aqila
Dengan langkah kaki pelan, Rian berjalan dan duduk dikursi sebelah Aqila, namun sepertinya kehadirannya belum disadari perempuan itu
"Aqila" Rian memanggil adiknya dengan menepuk pundak adiknya pelan
"Kak Rian?" Aqila yang melamun sontak terkejut saat menyadari Rian sudah duduk disebelahnya
__ADS_1
"Ayo makan, kalau mau sembuh harus makan"
"Kak Rian nggak bakal biarin Aqila jatuh dari sepeda lagi kan?" Aqila menunjuk halaman rumah mereka
"Hah?" Rian membuka mulut tak percaya mendengar ucapan Aqila, apakah dari tadi adiknya berhalusinasi dengan terus menatap kearah halaman rumah itu?. Mengingat kejadian bertahun-tahun lalu saat Aqila masih berusia enam tahun
"Maaf"
"Hah?" Rian kembali membuka mulutnya mendengar permintaan maaf dari Aqila. Kenapa Aqila meminta maaf? Bukankah seharusnya ia yang meminta maaf?
"Maaf karena nggak bisa lakuin perintah Kak Rian, Kak Rian bilang jadi perempuan itu harus kuat nggak boleh nangis, tapi Aqila pengen nangis, rasanya sakit banget kak" Air mengenang di pelupuk mata Aqila begitupun dengan Rian, ia tak menyangka kata-katanya saat itu masih diingat oleh adiknya
"Aqila juga nggak pengen nangis kayak gini, tapi rasanya sakit kak hiks" Aqila menutup wajahnya dengan telapak tangan dan berusaha menghapus air mata yang masih mengalir
"Maaf kak"
Rian tak pikir panjang, untuk membawa adiknya kedalam pelukannya, pelukan seorang kakak yang begitu dirindukan dan diharapkannya kala melihat Reyna, atau saat dirinya bingung tak tau siapa yang bisa ia andalkan
"Kamu sudah berhasil jadi perempuan yang kuat, orang kuat itu juga menangis, semua orang berhak mengekspresikan bagaimana suasana hatinya, entah dengan tawa tulus atau paksa, entah dengan tangis kesedihan atau kebahagiaan, jadi kamu nggak salah, kakak yang salah saat itu"
Setelah terdiam beberapa saat, sampai adiknya merasa tenang, barulah Rian melepas pelukannya dan mengusap air mata Aqila dengan tangannya sendiri
"Mana yang sakit? Hmm? Mana yang sakit?" Tanya Rian dengan lembut
"Semuanya..."
"Semuanya sakit" suara Aqila terdengar parau
__ADS_1
"Percaya Aqila akan sembuh ya, sabar sebentar lagi dan yakin kebahagiaan Aqila udah didepan" Aqila hanya mengangguk dan mengucap terima kasih
"Sekarang makan ya, nanti kita berangkat bareng ke kampus"
"Reyna?" Tanya Aqila
"Dia nggak ada kelas hari ini"
"Dia baik-baik aja kan? Galang katanya udah putus"
"Dia nggak papa, Galang emang laki-laki nggak baik buat dia" jawab Rian, tentu hatinya tak tega adiknya yang dijaga dengan baik diperlakukan seperti itu
.
Sepertinya berangkat dengan diantar Rian kekampus bukanlah pilihan yang baik bagi Aqila, seperti yang terjadi saat ini, seorang wanita yang mengaku pacar Rian menariknya ke area belakang kampus yang cukup sepi setelah kelasnya selesai, sedangkan Renata izin membeli minuman dingin dikantin
Aqila sampai bingung, apa Rian tak pernah bercerita kalau Aqila juga adiknya? Atau perempuan yang mengaku pacar Rian saat ini memang tidak tau apa-apa mengenai keluarga Bramadja?
"APA MAKSUD LO DUDUK DI MOTOR COWOK GUE?!" Teriak gadis yang diketahui bernama Veronica itu dengan menunjuk wajah Aqila
"Lo pacar Kak Rian?" Tanya Aqila, ia benar-benar tak mengerti selera kakaknya, bukankah dandanan perempuan didepannya saat ini terlalu berlebihan? Apa selera Rian seperti ini? Pikir Aqila
"Kak? Sedekat itu hubungan lo sama cowok gue?" Tanya gadis itu semakin murka
"Tapi dia kakak gue" Aqila tentu tak mau kalah walau Veronica senior
"Lo pikir gue bodoh? Adik Rian cuma Reyna, anak pungut darimana lo ngaku-ngaku dia kakak lo"
__ADS_1
Deg
Aqila tersentak kaget mendengar kalimat itu, apa dirinya selama ini tak pernah dianggap ada oleh orang lain? Atau memang Veronica sendiri yang tidak tau? Atau Rian tidak bercerita tentang dirinya?. Berbagai pertanyaan bersarang di kepala Aqila dan tak tau ia tanyakan pada siapa