
Aroma obat-obatan begitu pekat dalam ruang operasi itu, berbagai peralatan bedah sudah berwarna merah terkena darah Aqila, para dokter masih fokus melakukan kegiatan operasi mereka, letak kanker yang cukup sulit membuat mereka menghabiskan waktu yang lama untuk operasi ini
"Kepala pasien mengalami pendarahan"
"Dokter detak jantung pasien melemah"
Dokter melihat layar EKG yang menampikan denyut jantung yang semakin menurun
Dokter mengambil alat defilibrator dan menekan pada dada Aqila untuk mengembalikan denyut jantung kembali normal, setelah melakukan beberapa kali tak ada perubahan dan setelah itu garis lurus telah nampak di layar EKG
.
"Kak Darren, bisa tolong anterin Aqila ke kampus?"
"Kak Darren Aqila nggak kuat lagi"
"Kak Darren *maaf Aqila capek"
"Kak Darren sakittt*"
Darren tersentak, ia melihat sekeliling, area rumah sakit mulai sepi, ia melirik jam diponselnya, sudah jam dua belas malam dan melihat pintu ruang operasi yang masih tertutup. Suara Aqila begitu jelas terdengar ditelinganya saat ia tak sengaja tertidur, tiba-tiba air mata Darren menetes mengingat semua tentang Aqila, gadis kecil periang yang selalu tersenyum bahagia
Dari kecil Darren hanya tau Aqila yang suka tertawa bahagia tapi tak tau bagaimana hancurnya hati adiknya saat melihat mereka lebih memprioritaskan Reyna untuk segalanya
Darren mengingat bagaimana ia menurunkan Aqila ditengah jalan saat adiknya bahkan belum sampai ke kampus, dan lebih bodohnya lagi ia tak melakukan itu satu kali tapi dua kali
"Maaf" lirihnya pelan
Saat itu lampu indikator ruang operasi padam, Darren berdiri menunggu pintu besar itu terbuka, jantungnya berdetak kencang, perasaan takut mulai merasuk kedalam hatinya
Dokter Chris yang menangani Aqila sejak ia pertama masuk ke rumah sakit ini menghampiri Darren, ia menunduk menangkupkan tangan dan menggelengkan kepala
"Tuhan terlalu mencintainya" kalimat yang meruntuhkan segalanya
Darren terhuyung, ia bersandar pada tembok disebelahnya, dunianya hancur, hatinya hancur, air mata menetes begitu saja, satu katapun tak sanggup terucap dari bibirnya, hanya bayangan Aqila dan penyesalan begitu dalam yang tersisa dalam hatinya
__ADS_1
"Jam 00:05 menit, waktu kematian pasien" kalimat perawat yang baru saja keluar dari ruangan semakin memperjelas lukanya, tak sanggup diutarakan oleh kata-kata
Darren berusaha mengatur nafasnya, dengan perlahan ia memasuki ruangan dingin itu, tempat adiknya mempertaruhkan hidup dan mati, dan sekarang tuhan telah mengambilnya
Darren melihat layar EKG yang menampilkan garis lurus, netranya menatap ke arah Aqila yang terlihat begitu cantik dimatanya, bibirnya begitu pucat dengan sedikit senyuman yang terukir disana. Darren menyentuhnya perlahan, rasa dingin begitu terasa pada pipi adiknya yang tirus
"Aqila" satu kata yang terucap setelah sekian lama otaknya berusaha menolak fakta dan menutup telinga dari informasi yang diberikan dokter
"Kenapa? Kenapa Aqila pergi?" Darren memeluk tubuh ringkih yang mulai mendingin, air matanya tak henti mengalir deras, mengekspresikan hatinya yang hancur menyisakan luka dalam
"Aqila sudah tidak sayang kakak? Kenapa pergi?" para dokter disana menatap iba kearah Darren, mereka telah mengupayakan yang terbaik tapi tetap saja nyawa manusia ditangan sang pencipta
"Ayo kembali lagi dek, kakak rindu tawa Aqila, kakak rindu suara Aqila" tangis Darren terdengar menyayat tiap telinga yang mendengarnya, adiknya yang selalu tersenyum telah pergi, adiknya yang menyimpan banyak luka telah pergi dan adiknya yang selalu tak pernah lupa dan paling pertama mengucapkan selamat ulang tahun telah pergi
Darren tersadar sesuatu, ia membuka ponselnya dan tangisnya semakin deras. Hari ini, hari ini tepat ulang tahun Aqila yang ke dua puluh tahun
"Happy Birthday Aqila"
"Kakak janji mau ngasih Aqila hadiah yang banyak saat ulang tahun, tapi kalau Aqila pergi, bagaimana kakak memberikannya?"
Drettt
"Assalamu'alaikum pa"
"Bagaimana kondisi Aqila disana nak? Operasinya sudah selesai?"
"Aqila ulang tahun yang ke dua puluh sekarang pah"
"Dan tuhan memanggilnya diusia itu" hening, tak terdengar suara dari sana, Darren paham keluarganya pasti syok mendengar ini
Ribuan kilo jauhnya disana, Papa Arya tak sanggup lagi berbicara, ia terduduk lemas mendengar ucapan Darren
"Aqila kenapa pah?" semua telah berkumpul di ruang tamu termasuk Radit dan keluarganya
"Aqila..."
__ADS_1
"Aqila sudah pergi..."
"Pergi dan tak akan kembali"
Tangis semuanya pecah, kalimat penenang tak akan berguna untuk orang yang kehilangan
"Sabar"
"Ikhlaskan"
"Dia sudah tenang"
Kata-kata itu sama sekali tak masuk ditelinga mereka, orang yang kehilangan belum tentu bisa sesabar itu dan seikhlas itu, hati mereka yang hancur tak membutuhkan kata sabar dan ikhlas, tapi perlu waktu untuk melupakan segala kenangan, butuh waktu untuk membiasakan diri tanpa kehadiran dia yang telah pergi dan butuh waktu untuk meyakinkan diri kalau memang dunia ini hanya panggung drama tempat bermain peran, jika perannya sudah selesai maka ia harus pergi
Rian terdiam dengan pikiran berkecamuk hebat, dua hari lalu adalah hari terakhir ia memeluk adiknya yang dulu jarang dilakukan, lebih banyak mengobrol dengan adiknya dan berusaha membuat Aqila tertawa dengan cerita masa kecil mereka yang cukup indah
Ia melangkahkan kakinya keluar rumah, keluarganya masing-masing sibuk menguatkan hati mereka, tapi ada satu orang yang pasti begitu terpukul
Rian terkejut melihat Naufal berdiri didepan gerbang masih dengan pakaian batiknya, ia menghampiri laki-laki itu, Rian tak sanggup membayangkan betapa hancurnya Naufal
"Kenapa lo nangis? Terharu ya dapat nilai bagus?" Rian tersenyum dan mengajak laki-laki itu masuk dan duduk dikursi taman, tak seperti biasanya yang memilih adu mulut terlebih dahulu
"Kalau lo, kenapa nangis?" Naufal meraba sudut matanya, ia pikir tak ada orang lain yang menyadarinya
"Bagaimana dia disana?" tanya Naufal memandang langit mendung yang seperti siap menurunkan hujan
Rian tak tau ingin mulai darimana dan harus mengatakan apa
"Apa air mata ini karena dia?" Naufal menatap mata Rian meminta penjelasan
Rian hanya diam saja, namun tak lama laki-laki itu memeluk Naufal erat "Dia pergi Naufal!, adik gue pergi, dia udah dipanggil tuhan"
Dapat Rian rasakan tubuh Naufal ikut menegang dan menggelengkan kepalanya. Bagaimana takdir bisa sejahat ini padanya? Terakhir kali ia bertemu dan mendengar suara Aqila saat dipantai beberapa bulan yang lalu dan tiba-tiba sekarang ia mendengar kalau gadis itu sudah pergi untuk selamanya
Hujan deras turun namun tak sedikitpun dua laki-laki itu beranjak dari tempat duduk mereka, mereka memilih diam tanpa sanggup berkata-kata, membiarkan air mata mereka luruh bersama air hujan seolah langit turut menangis
__ADS_1
.
😭😭😭