
"Selamat menempuh kehidupan baru, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah" Aqila menyalami dan memeluk Reyna yang akhirnya memutuskan memilih jalan ini
"Aamiin, terima kasih kak"
"Jaga Reyna baik-baik" peringatnya pada Gempano yang hanya dibalas anggukan kepala laki-laki itu
"Jodoh itu memang tidak akan tertukar" Naufal menepuk pundak Gempano, ia bahagia saat melihat sahabatnya juga bisa bahagia sekarang
"Papa" anak laki-laki berusia sekitar empat tahun, tiba-tiba memeluk kaki Gempano, membuat mereka yang ada disana terkejut
"Ammar jangan ngomong sembarangan" Renata menarik kecil tangan putranya, sedangkan Galang yang berdiri dibelakang sudah melotot tak percaya melihat kelakuan putranya itu
"Maaf Rey, jangan dimasukkin ke hati, anak ini emang kadang jadi random kayak gini" Renata menangkupkan tangan berkali-kali didepan Reyna, merasa tak enak sekali pada adik sahabatnya gara-gara kelakuan putranya
"Ammar, panggil Om Gempano" Pak DPRD itu berusaha memberitau putranya
"Tapi aku pelnah liat fotonya dibuku mama" sekarang semua pandangan tertuju kearah Renata saat Ammar mengatakan itu
"Itu album kampus, semua foto masa-masa kuliah ada disana" Renata berusaha menjelaskan, takut dikira hal yang bukan-bukan, apalagi tatapan mata Galang yang sudah seperti laser
"Kupikir kamu gagal move on Ren" ucap Gempano, nyatanya Renata memang kesulitan diawal tapi Galang berhasil meyakinkan dan mengubah pemikirannya
"Enak aja, aku udah move on saat jadi ibu pejabat" balas Renata berkacak pinggang, setelah menikah ia kadang berubah menjadi perempuan anggun saat bersama Galang pergi keacara-acara resmi
"Sekali lagi maaf ya Rey, anak ini kadang suka mengambil kesimpulan sendiri"
"Turunan kamu itu Ren" balas Aqila, ia sedikit tertawa saat mengatakan itu
.
"Cala mainnya gimana?"
"Ini, kayak gini, masukkin tangan, terus ayun" Yusuf mencontohkan permainan yang sedang viral diberbagai kalangan usia pada Bilal
"Diayun pelan-pelan, terus nanti makin kencang" Zevan ikut mencontohkan, anak itu sudah ketularan jika bersama Yusuf
"Berisik!, nanti kalian dimarahin" Zara menutup telinga, kesal sekali mendengar suara benda itu, Yusuf hampir setiap hari memainkannya dirumah dan parahnya lagi kadang Papa Arya malah ikut-ikutan
"Nggak ada yang denger"
"Kak Ucup pikil kita tidak punya telinga?" Layla menunjuk telinganya yang tertutup jilbab
"Orang yang punya telinga belum tentu bisa dengar" jawab Yusuf, ia kadang kesal saat Layla sering memanggilnya ucup, seperti nama penjual es keliling saja, pikirnya
"Kayak kamu kan" Aqila menunjukkan senyumnya saat mengatakan itu, tapi bukan senyum ramah
"Punya telinga tapi tidak mendengar" lanjutnya
__ADS_1
"Yusuf, ibu cariin kamu dari tadi" Diva sedikit mengatur nafasnya, ia kesana kemari mencari putranya, ternyata anak-anak itu bermain di belakang mobil yang parkir disana
"Kenapa bawa mainan ini?" Sepertinya Diva juga kesal terus mendengar suara benda itu. Pagi, siang dan malam, suaranya seperti menghantui saja
"Biar kita bisa healing bu, kita sibuk kalau dirumah terus"
"Emang kamu kerja apa?" Diva mengernyitkan alisnya bingung saat medengar jawaban putranya yang seolah punya jam kesibukan
"Sibuk ngerjain tugas, sibuk pergi sekolah, sibuk main sama temen..."
"Sibuk main lato-lato" Zara ikut menimpali
"Yusuf, main boleh tapi tau tempat dan waktunya" Aqila masih harus berusaha menjelaskan dengan suara pelan, agar tak menarik perhatian tamu yang lain dan anak itu bisa lebih mengerti
"Ini pernikahan Aunty Reyna, apa Yusuf nggak pernah pikirin kalau Aunty Rey sedih?, selain itu kalian mainnya didekat mobil orang, kalau kacanya pecah, pemiliknya marah dan kalian juga bisa terluka"
Anak-anak itu menunduk dan meminta maaf, Aqila dan Diva menuntun mereka untuk kembali ke kursi, beginilah ributnya mereka kalau sudah berkumpul, apalagi jika ada Gabril, anak dari Regan dan Kirana sudah dipastikan tak ada suasana tenang disana
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Telus Nabi Yunus masih hidup?" Aqila tersenyum dan mengangguk menjawab pertanyaan putrinya saat ia baru menyelesaikan ceritanya tentang kisah Nabi Yunus yang ditelan ikan. Ia dan Naufal mempunyai jadwal bergantian untuk membacakan cerita, sekaligus sebagai bentuk pendekatan mereka sebagai orang tua, agar anak tak condong ke satu sisi saja
"Telus ikannya masih idup nggak sekalang?" Kali ini Bilal yang bertanya
"Ada yang mengatakan masih idup, tapi wallahualam, hanya Allah yang tau" Aqila tersenyum dan mengelus rambut putranya
"Emmm, Allah itu siapa?" Pertanyaan polos dari Layla meluncur begitu saja
"Allah ada dimana?" Kali ini pertanyaan dari Bilal
"Allah bersemayam di ars, diatas langit ketujuh, pernah dengarkan saat ayah cerita perjalanan isra' mi'raj nabi muhammad?" Dua anak itu mengangguk serentak
"Allah ada didekat kita, dia bisa melihat, mendengar dan tau apa yang kita lakukan"
"Kenapa kita tidak bisa liat?"
"Karena dia sangat dekat dihati kita, coba dekatkan jari telunjuk seperti ini, apa kita bisa melihatnya?" Aqila mencontohkan dengan meletakkan jari telunjuk sampai menempel dihidung
"Tidak"
"Nah seperti itulah Allah, tak terlihat tapi sangat dekat sekali"
"Kalau milik Allah semuanya, lalu kita punya apa?"
"Karena itu kalau minta harus sama Allah"
"Nggak boleh minta sama bunda dong" Bilal mengetuk jari telunjuknya didepan dagu
__ADS_1
"Gini, misal Ilal minta mainan sama bunda, kalau beli mainan pakai apa?"
"Uang"
"Nah, kalau bunda nggak punya uang gimana?" Tanya Aqila lagi, ia mencoba menjelaskan dengan bahasa yang mudah untuk dimengerti
"Nggak bisa beli" jawab anak itu polos
"Nah, itulah tempat kita minta sama Allah kalau ada sesuatu yang kita inginginkan, tapi juga jangan lupa bersyukur atas nikmat yang telah ia berikan pada kita" Bilal mengangguk tanda mengerti
"Nikmat itu apa bunda?"
"Ila masih bisa nafas karena ada oksigen Allah yang kasih, Ila masih bisa berbicara dan mendengar seperti ini juga karena Allah yang kasih, nikmat Allah itu banyak nggak bisa dihitung"
"Kalau tidul juga nikmat ya bunda"
"Iya nak, tidur juga nikmat karena ada sebagian orang disana yang sulit sekali merasakannya, jadi kita harus bersyukur sebagai hambanya, dengan ngucap apa?"
"Alhamdulillah" ucap anak itu serentak
"Pintar"
"Sekarang tidur ya udah malam, jangan lupa doa agar tidak mimpi buruk dan dijauhkan dari gangguan setan"
"Kalau setan itu apa bunda?"
"Setan itu salah satu ciptaan Allah yang terbuat dari api, dia sombong makanya dikeluarkan dari surga. Tugasnya untuk menggoda manusia sampai hari kiamat biar dia punya teman di neraka" Aqila menaikan selimut dua balita itu, dan mencium kening mereka berdua
"Setan jahat"
"Iya, setan jahat. Karena itu kita minta tolong sama Allah biar nggak diganggu"
"Tidur yang nyenyak ya, besok harus pergi sekolah" setelah cukup lama memastikan anak itu tidur, barulah Aqila keluar membuka pintu kamar dan menutupnya perlahan
"Mereka sudah tidur?" Aqila terlonjak memegang dadanya karena terkejut melihat Naufal yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakangnya
"Ayah ngagetin" Aqila bahkan kadang tak sadar saat ikut-ikutan memanggil Naufal seperti anak-anaknya
"Hehehe maaf"
"Mereka baru aja tidur" ucap Aqila, ia mengikuti Naufal yang berjalan masuk ke kamar
"Mereka nakal ya?" Naufal menyandarkan kepalanya dipundak istrinya saat Aqila duduk disofa yang berhadapan langsung dengan balkon
"Anak-anak memang seperti itu, mereka sedang dalam masa perkembangan untuk ingin lebih mengetahui banyak hal baru, kita hanya perlu mendidik dan menasihati mereka agar bisa membedakan mana yang benar dan yang salah" Aqila menatap bulan sabit dilangit malam, sebagian cahayanya terlihat karena bulan mulai bergerak bumi sehingga nampak sedikit cahaya dari matahari
"Aku tidak menyangka kita bisa sampai ditahap seperti ini"
__ADS_1
"Akupun begitu" Aqila masih mengingat saat ia dan Naufal terkejut saat dokter mengatakan mereka memiliki anak kembar. padahal seingat Aqila tidak ada keturunan kembar dalam keluarganya atau keluarga Naufal, tapi Umi sarah bilang kalau nenek Naufal memiliki saudara kembar
Aqila masih ingat saat itu, di waktu langit malam begitu pekat, waktu yang sunyi dan waktu yang tenang, dua malaikat kecil mereka lahir. Fatah Bilal Alzam dan Asma Layla Husna yang menjadi pelengkap dalam rumah tangga mereka. Aqila tak bisa menggambarkan perasaannya saat dimana Naufal mengazani anak mereka untuk pertama kalinya