Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Galang


__ADS_3

Sore harinya Aqila dan Renata janji bertemu, mereka membatalkan pertemuan sore kemarin karena hujan deras yang turun lebat


"YA ALLAH, AQILA!" Aqila sampai malu sendiri, mendengar teriakan cempreng sahabatnya itu, karena beberapa orang langsung menoleh, mereka menjadi pusat perhatian di restoran yang cukup ramai itu


"Ren, kamu tidak berubah ya selama aku pergi" ucap Aqila saat mereka duduk di meja yang telah dipesan


"Berubah gimana? Kamu pikir aku power ranger?" tanya Renata, ia sedikit terkekeh mengatakan itu


"Kamu masih sama berisiknya kayak dulu" jawab Aqila


"Aku berubah loh ini, saat kamu pergi aku tidak seberisik ini, malahan kalem banget, tanya aja sama Gempano"


"Gempano? Tunggu dulu, maksudnya Kak Gempano?"


"Siapa lagi?" Tanya Renata, ia sedikit ngegas


"Lah? Bareng juga kalian, udah aku duga sih yang sebelumnya kamu sama dia udah kayak air sama minyak, ribut mulu, tapi akhirnya bisa bersama juga kan?"


"Iya, aku bahkan tak bisa menyangka sampai sekarang kalau kami bersama" ucap Renata


"Oh iya, kamu sekarang keliatan lebih cantik kalau pakai hijab" ucap Aqila tersenyum, dari dulu Renata itu memang sedikit tomboy, pecinta gaya rambut pendek, celana over size dan kaos oversize. Sekarang ia menggunakan gamis, terlihat lebih anggun dan dewasa


"Emang iya? Makasih"


"Terus sekarang sama Gempano gimana?"


"Ya gitu, kami sudah memiliki rencana untuk menikah, tapi harus kamu dulu dengan Naufal" ucapan Renata membuat Aqila menghela nafasnya, jika diingat-ingat semuanya seperti tak terasa sudah sampai disini


"Aku sama sekali tak pernah menyangka takdirku serumit ini, aku pikir masa tersulit itu saat SMA, dimana banyak tugas, belajar menemukan jati diri, dan menyelesaikan masalah sendiri. Ternyata aku salah, itu hanya sebuah proses ujian pendaftaran untuk ujian selanjutnya yang lebih berat" ucapnya sambil meneguk es teh yang ia pesan


"Aku juga tak pernah menyangka kalau waktu ternyata berjalan secepat itu" balas Renata, ia menggelengkan kepalanya


"Loh Aqila? Renata?" Sontak saja mendengar ada orang yang menyebut namanya, dua sahabat itu menoleh, mereka menajamkan penglihatannya meneliti siapa sosok yang berdiri didepan mereka saat ini


"Galang?" Tanya Aqila, ia sempat ragu mengatakan itu karena penampilan laki-laki itu benar-benar berubah


"Wah terima kasih karena masih mengingatku" Galang menarik satu kursi kosong dan ikut duduk bergabung dengan mereka


"Ngapain lo duduk disini?" Aqila mengerjapkan matanya, dalam sekejap Renata yang anggun berubah menjadi singa saat melihat Galang, kosa katanya yang sebelum aku kamu langsung berubah jadi lo gue


"Kok lo yang sewot, Aqila aja nggak keberatan, iya kan Aqila?" tanya Galang meminta persetujuan. Aqila bingung harus mengangguk atau menggeleng, karena sebenarnya ia agak sedikit keberatan juga

__ADS_1


"Aqila keberatan, lo gabung sama kita"


"Memangnya kenapa sih? Sholat subuhku udah jam lima sekarang" Galang malah membahas hal yang dulu mereka permasalahkan di kantin kampus


Aqila dan Renata menahan tawanya mendengar itu, penampilan Galang memang berubah, ia sekarang tampil dengan rambut klimisnya yang rapi dan kemeja, seperti pakaian formal, terlihat lebih dewasa. Tidak seperti dulu yang hanya memakai kaos saat kuliah dan rambut urakan. Tapi sepertinya, otak Galang sama sekali tidak memiliki perubahan, pikir mereka.


"Kita nggak bahas sholat subuh lagi, itu urusanmu dengan Allah, bukan dengan kita" ucap Aqila


"Nah, bener tuh" Renata ikut menambahkan


"Btw, sekarang gimana kondisi lo?" pandangan Galang tertuju pada Aqila


"Gue?" Aqila menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan


"Iyalah, emangnya Renata juga sakit sampai gue harus tanyain?" Renata mendelikkan matanya mendengar itu


"Iya gini baik-baik aja" jawab Aqila seadanya


"Gue turut berduka..."


"Emangnya siapa yang ninggal?" Belum sempat Galang menyelesaikan ucapannya, Renata sudah balik bertanya sewot


"Maksudnya gue turut sedih denger cerita Aqila yang harus nanggung penyakit seberat itu"


"Dia" Galang menunjuk kearah Renata yang nyengir kearahnya


"Sorry Qil, hari itu gue bener-bener keceplosan banget" Aqila mengangguk tak masalah


"Tapi kayaknya semua teman kita udah tau, karena Bu Maya yany bilang lo sakit, tapi beliau nggak nyebut penyakit lo" Aqila menghela nafas dan mengangguk, ia jadi merindukan dosen killernya itu


"Lo sekarang kerja apa Lang?" Tanya Aqila, melihat penampilan laki-laki itu, ia yakin pekerjaannya berbau dunia perkantoran atau bisnis


"Gue kerja sebagai pengusaha, sekaligus anggota DPRD"


"Busettt, tikus berdasi" Aqila melemparkan tisu kearah Renata, mulut sahabatnya itu ternyata masih belum terfilter dengan benar


"Gue dipercaya walau awalnya juga sempet ragu untuk terjun ke dunia politik"


"Tapi kok gue baru liat lo nongol sekarang?" tanya Renata


"Gue dapet tugas di daerah lain"

__ADS_1


"Anggota dewan kok ngomongnya 'lo gue'?" tanya Aqila balik, apa benar Galang ini penampilannya saja yang berubah


"Karena bicara sama kalian, bukan rapat dewan, justru aneh kalau bicara kaku gitu" Aqila dan Renata mengangguk saja, mereka sebenarnya tak keberatan hanya sedikit bertanya saja


"Oh iya Aqila, hubungan lo sama Naufal gimana?" Pertanyaan Galang membuat Aqila menoleh curiga kearahnya


"Ngapain lo nanya?"


"Siapa tau bisa nyalon"


"Nyalon pala lo, dia udah mau nikah" jawab Renata, ia tau tentang hal itu karena Aqila memberitahunya kejadian yang sempat heboh kemarin dan tadi pagi melalui panggilan telepon


"Emangnya sampai sekarang lo belum punya pacar?" Tanya Aqila, sebenarnya ia memang tak heran karena anggota dewan ia pasti banyak pikiran, tapi sekali lagi kalau mengingat ia adalah Galang, laki-laki yang dulu sering mempermainkan perasaan di kampus, agak aneh rasanya melihat laki-laki itu sendiri


"Kayaknya gue dapet karma deh karna dulu mutusin Reyna dan nolak cinta lo Qil" Aqila tersedak jus yang diminumnya mendengar ucapan laki-laki itu


"Kapan gue nembak lo?!" Tanya Aqila, ia sedikit ngegas mengatakan itu


"Kan lo dulu sering perhatian banget, terus..."


"Anggap aja saat itu khilaf terbesar dalam hidup gue" jawab Aqila, ia jadi malu sendiri karena pernah menyukai laki-laki itu bahkan dari masa putih abu. Sekarang ia justru merasa konyol sekali mengingat itu


"Sejak putus sama Reyna dan digebukin Rian, entah dapat karma atau emang gue yang trauma, tapi setelah kejadian itu gue jadi ngerasain gimana rasanya diputusin dan dia lebih milih orang lain, sakit banget"


"Terus sampai sekarang gue lebih fokus ngurus politik daripada urusan cinta" ucap Galang, ia mengaduk minuma yang baru saja dipesannya


"Hahaha dapat karma lo itu" Renata tertawa bahkan sampai menepuk-nepuk lengan Galang


"Kalau lo sekarang gimana Ren?" Ekspresi Renata langsung berubah, ia terdiam sejenak dan tersenyum menjawab pertanyaan Galang


"Ya gini, gue sekarang kayak gini"


"Maksudnya hubungan asmara, lo pacaran ya sama Kak Gempa?, Sejak Aqila pergi, gue sering liat kalian berdua deket banget"


"Ya, hubungan kami mungkin sedekat itu" Aqila mengernyitkan dahinya bingung, Renata seperti menyembunyikan sesuatu


"Owh pantesan gue sering liat kalian berdua bareng, apalagi setelah Aqila pergi, kalian udah lengket banget"


"Emang iya?" Tanya Aqila, Renata belum bercerita apa-apa tentang itu


"Iya, dia yang bantu yakinin gue biar nggak terlalu kecewa sama lo. Dia perhatian banget, katanya sebagai pengganti lo di hari-hari gue" meski Renata mengatakan itu dengan tersenyum manis dan suara yang lembut, Aqila masih bisa melihat kalau tatapan sahabatnya itu terlihat berbeda, ada apa dengan Renata?

__ADS_1


.


Banyak Typo...🙏


__ADS_2