Pelangi untuk Aqila

Pelangi untuk Aqila
Rindu


__ADS_3

Berada ditempat ramai namun seperti seorang diri tanpa siapa-siapa, itulah yang dirasakan Renata sekarang, sahabatnya yang biasa menemaninya, selalu bersamanya tak ada lagi setelah dua bulan, hilang begitu saja menyisakan rasa sakit yang harus ia paksa untuk menerima dengan ikhlas


"Ren, bisa kita bicara sebentar?" Gempano menghampiri Renata yang duduk seorang diri di salah satu kursi taman belakang dengan pohon lebat yang menaungi dari panasnya terik matahari


"Apa?"


"Mama aku mau ketemu sama kamu nanti malam, apa kamu bisa?" Gempano menatapnya dengan tatapan penuh harap


"Ta tapi Kak Gempa, aku nggak tau harus gimana" Renata panik sendiri sekarang, bohong sekali jika ia mengatakan tak ada rasa untuk laki-laki itu, laki-laki yang bersama dan menghiburnya dua bulan belakangan ini walau mereka berdua beda fakultas dan semester


"Tenang aja, ibuku nggak galak kok, jadi diri sendiri aja" Gempano mengusap rambut Renata lembut kemudian salah tingkah sendiri


"Gempa"


Suara itu, suara yang sudah cukup lama tak terdengar di kampus, Renata menoleh menatap Naufal yang sedikit berlari kearah mereka tepatnya Gempano, entah kenapa melihat Naufal bagi Renata sama seperti melihat Aqila dengan segala kebersamaan mereka. Ia menunduk saat tiba-tiba cairan bening itu lolos begitu saja. Laki-laki itu dinyatakan boleh pulang dari rumah sakit satu minggu yang lalu saat keadaannya sudah benar-benar membaik, ingatan tentang teman-temannya ternyata tak hilang, tapi kenapa? Kenapa ingatannya tentang Aqila justru terkubur?


"Jangan manggil dengan nada tinggi kayak gitu, bisa-bisa orang salah paham ngira lo suruh mereka keluar ruangan" decak Gempano kesal, walau kenyataan namanya memang seperti itu, tak mungkin ia menyalahkan ayahnya yang sudah tenang di alam sana karena memberikan nama itu


"Sorry sorry"


"Lo ngapain? Bikin anak orang nangis?" Naufal menunjuk Renata yang terduduk dengan rambut yang menutup sebagian wajahnya, terlihat menangis karena pundaknya yang bergetar


Gempano menoleh kearah Renata yang padahal tadi terlihat baik-baik saja, ia mengerti pasti Renata kembali teringat dengan sahabatnya


"Bukan, ini salah lo"


"Loh kok gue?" Naufal bingung menunjuk dirinya sendiri, ia tak tau apa-apa bahkan baru datang langsung disalahkan


"Kak Naufal" Renata merapikan rambutnya yang seidikit berantakan dan menghapus air matanya dengan tisu


"Ya?"


"Kak Naufal ingat aku nggak?" tanya Renata berusaha tenang

__ADS_1


Naufal berusaha melihat wajah perempuan didepannya saat ini dan nampak berfikir


"Kamu terlihat tidak asing, aku seperti pernah melihatmu beberapa kali"


"Aku Renata"


"Renata? nama yang tidak asing, aku seperti sering mendengar seseorang menyebut namamu, tapi siapa?"


Renata mengeluarkan handphone dari dalam tasnya dan berdiri menunjukkan foto Aqila yang sedang tersenyum manis didepan wajah


"Dia, dia orangnya, apa kakak ingat?" Naufal menggelengkan kepalanya tak mengingat sosok perempuan di foto itu tapi dalam hati ia berfikir tak asing dan terasa dekat, tapi kenapa tak ada memori tentang dia dalam kepalanya?


"Tak ingat? Kak Naufal tak mengingat dia siapa?" Renata semakin memojokkan Naufal dengan pertanyaan itu berusaha memancing memori laki-laki itu


"Sudah Ren, jangan seperti itu" Gempano menarik lengan kanan Renata yang terbungkus kemeja hitam panjang


"Kata dokter kemarin, ia kehilangan beberapa memorinya sementara" Renata melirik tangan kiri Naufal yang sudah tak terpasang apa-apa disana


"Kenapa cincinnya dilepas?" tanyanya lagi menahan isak tangis


"Bagaimana... Bagaimana kalau dia jatuh cinta dengan orang lain?" Suara Renata kembali bergetar, air mata yang baru saja kering seperti akan keluar lagi


"Jangan terlalu banyak berfikir hal yang tidak penting Ren, biarlah Allah yang menjaga hati mereka jika memang keduanya ditakdirkan bersama"


"Gempano apa yang sebenarnya terjadi disini? Apa dia menangis karena gue?" Gempano menggeleng dan tersenyum kearah Naufal


"Dia hanya sedang merindukan seseorang. Tunggu diparkiran, bentar lagi gue nyusul" Akhirnya Naufal mengangguk dan pergi dari sana


"Tenang ya, jangan sedih lagi, aku harus pergi sekarang, kamu masih ada kelas kan?" Renata hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban


"Yaudah semangat, aku pergi dulu jangan sedih lagi"


Baru saja Renata berbalik, lagi-lagi ia melihat sosok yang mengingatkannya pada Aqila, siapa lagi kalau bukan Rian dan Reyna. Saudara Bramadja itu terpisah diujung koridor karena kelas mereka berbeda, kesempatan ini tak disia-siakan oleh Renata, ia berlari mengejar Reyna yang masih harus berjalan cukup jauh lagi menuju kelasnya

__ADS_1


"REYNA!" tak peduli dengan pandangan mahasiswa yang menjadikannya pusat perhatian, Renata hanya ingin mengobati sedikit rindu setidaknya dengan tau kabar dari Aqila


Reyna yang merasa terpanggil, menoleh melihat sahabat dekat kakak perempuannya berlari kearahnya, ia tau Renata pasti ingin bertanya mengenai Aqila. Dengan sengaja ia mempercepat langkah kakinya bahkan terkesan berlari, beberapa hari ini ia memang sengaja menghindar saat melihat Renata, karena tau kalau sahabat kakaknya itu pasti bertanya tentang banyak hal


"Berhenti sebentar" karena tak kunjung berhenti, Renata terpaksa berlari lebih kencang lagi dan berhasil menarik ujung tas Reyna hingga membuatnya hampir terhuyung ke belakang kalau tidak bisa mengatur posisinya


"Maaf, tapi kamu nggak mau berhenti" ucap Renata terengah-engah


"Kenapa kak?"


"Kenapa kamu lari saat aku panggil?"


"Aku ada kelas sekarang" tentu saja itu hanya alibi Reyna, karena kelasnya akan dimulai masih sekitar dua puluh menit lagi


"Bagaimana Aqila?" Reyna sudah menduganya, dan ia pun sudah menyiapkan jawaban yang tepat seperti apa yang dikatakan Aqila


"Kalau ada teman kakak yang bertanya terutama Renata, bilang saja kakak baik-baik saja dan segera sembuh, katakan padanya kalau ini adalah rumah sakit dengan penanganan kanker terbaik di dunia, fasilitasnya terbaik dan tenaga medis profesional, jadi kami pasti bisa berkumpul lagi"


Dengan penuh percaya diri Aqila dan nada semangat saat Aqila mengatakan itu, nyatanya wajahnya bahkan sudah pucat, rambutnya pun sudah tak ada lagi yang tersisa. Dokter mengatakan kalau efek kemoterapi memang seperti itu karena mengandung obat-obatan keras yang juga membunuh akar rambut, karena itu Aqila yang memutuskan sendiri untuk mencukur habis rambut panjangnya tak tersisa, karena besok kalau sudah selesai dengan semua ini, pasti tumbuh lagi kan? Itu kata-katanya


"Kondisinya lebih baik, ia berada di rumah sakit penanganan kanker terbaik didunia, dengan fasilitas terbaik dan tenaga medis profesional"


"Syukurlah kalau begitu" setidaknya rasa rindu Renata bisa sedikit terobati mendengar itu


"Tapi kenapa ia tidak bisa dihubungi lagi? Bahkan media sosialnya tak aktif?" tanya Renata lagi, Reyna pun kembali teringat ucapan Aqila seolah-olah Aqila memang tahu pertanyaan apa yang akan dikeluarkan oleh Renata


"Katakan pada Renata kalau kakak nggak bisa pegang hp terus dan saat bertemu atau bertukar kabar kakak bukannya bahagia tapi pengen pulang aja ketemu dia daripada menjalani pengobatan menyakitkan ini"


"Kak Aqila bilang kalau ia bertukar kabar sama Kak Renata ia lebih sakit lagi karena menahan rindu tak bisa bertemu dan pasti tak tahan dengan memilih pulang daripada menjalani pengobatan menyakitkan seperti itu" Renata mengangguk menggigit bibir bawahnya, mencoba mengerti dan memahami kondisi mereka, karena setidaknya ia tau sekarang kalau Aqila sudah lebih baik seperti yang dikatakan Reyna walau nyatanya tak begitu


.


***Maaf ya kalau alurnya berantakan, jujur author masih pemula dan belum mahir dalam menulis...🙏🙏🙏

__ADS_1


Banyak Typo...🙏🙏🙏***


__ADS_2