
"Ibu! Ayah! Ini tidak seperti yang kalian pikirkan!" Teriaknya, ia sudah bisa membaca arah pikiran orang tuanya
"Dasar laki-laki kurang ajar!"
BUGH
Pak Rudi memberikan bogeman pada Galang yang masih tidak tau apa-apa
"Ayah dia nggak salah" Renata berusaha menarik ayahnya karena Galang sudah meringis menahan sakit, kasihan laki-laki itu yang tidak tau apa-apa
"Nggak salah apanya!?, kalian sudah keluar berdua dari kamar itu!, lihat! Rambutnya bahkan masih sedikit basah" Pak Radit memegang rambut Galang yang sedikit basah, karena memang kebetulan laki-laki itu baru selesai keramas
"Ren, ibu nggak percaya ini" Ibu Fani menggelengkan kepalanya dan menutup mulut
"Kalian harus dinikahkan malam ini juga" Galang yang dari tadi berusaha mencerna apa yang terjadi, akhirnya berdiri setelah mendapat pukulan yang sangat menyakitkan untuknya. Bahkan lebih sakit dari pukulan yang ia dapat dari Rian dulu. Pukulan ayah Renata memang tidak bisa dianggap remeh
"Begini om, ini hanya salah paham saja, kami tidak melakukan apa-apa" ucap Galang berusaha menjelaskan walau suaranya agak sedikit meringis
"Benar apa yang dikatakan Galang ayah, kami tidak berbuat apa-apa"
"Ren, yang paling dirugikan disini adalah perempuan, kenapa kamu malah membela dia?" Kepala Renata rasanya ingin pecah, bingung ingin menjelaskan bagaimana
"Sekarang bawa kami menemui orang tuamu, kamu harus menjadi laki-laki yang bertanggung jawab" Galang yang tadi berusaha kerasa menolak akhirnya mengangguk dengan pasrah
"Lang, apa-apaan lo!" Renata tak percaya laki-laki itu akhirnya setuju
"Renata, kamu diam saja!, ini urusan ayah, kamu putri ayah satu-satunya, ayah ingin melihat baik atau tidaknya laki-laki yang menjadi pasangan kamu, ayah tidak ingin kamu menikah dengan laki-laki yang hanya memberi kata manis dan janji palsuc" Renata menutup mulutnya, ia terharu sekali mendengar ucapan ayahnya, berarti memang bukan Gempano yang Allah takdirkan untuknya
"Tapi dia bukan Gempano, kamu selingkuh Ren?" Renata sudah tak dapat menjelaskan apa-apa, orang tuanya terlalu cepat mengambil isi pikiran mereka sendiri
"Bu bukan, jadi..."
"Sudah-sudah bicarakan itu nanti saja saat kita sampai" Pak Rudi menyeret Galang masuk ke mobilnya, mungkin takut laki-laki itu akan lari dari tanggung jawab
Galang pasrah, ia menurut saja, sambil menunjukkan arah rumahnya
__ADS_1
Kedua orang tua Galang sama terkejutnya, telebih lagi Bu Maya yang melihat Renata, ia tak menyangka akan seperti ini. Walau Renata berusaha keras menjelaskan bagaimana yang sebenarnya tak ada yang mendengar, terlebih ayahnya justru senang bertemu dengan Ayah Galang, ternyata dua orang itu teman satu sekolah saat SMA
Mereka justru membahas hal-hal masa putih abu yang penuh kenangan, Renata sampai heran dengan ayahnya sendiri, padahal tadi dengan tegas ia menyeret Galang, sedangkan sekarang ia justru terlihat biasa bahkan bahagia sekali
"Begitulah ceritanya Darwin, anak-anak jaman sekarang memang kadang tidak mengerti batasan mereka dalam bergaul"
"Ayah bukan seperti itu" Renata masih berusaha membantah cerita ayahnya yang menuduh mereka berdua di hotel
"Tidak apa-apa nak, sebagai laki-laki Galang memang harus bertanggung jawab" Renata menoleh kearah Galang yang juga sedang menatap dirinya, apa laki-laki itu tidak protes? Renata tak habis pikir
"Bu, bukan seperti ini kejadiannya" Renata berusaha menjelaskan pada Bu Maya, ia yakin dosen killernya itu pasti lebih mengerti dari orang-orang disana
"Bukan seperti ini bagaimana? Kalian sudah terciduk berdua" Renata semakin gusar, hidupnya seperti sinetron, cocok sekali judulnya 'Dosen killer ku adalah mertuaku'
"Baiklah kita lakukan proses menuju hari bahagia ini dengan cara yang baik" Pak Darwin memulai pembicaraan dengan serius
"Galang kamu harus siap bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan"
"Saya siap" Renata sudah ingin menonjok wajah laki-laki itu, dan mengatakan 'GUE YANG BELUM SIAP NIKAH SAMA LO'
"Pinangan ini kami terima"
"Kalian sebaiknya merencanakan pernikahan dalam waktu dekat, agar tidak muncul gosip di masyarakat" Renata mengerti sekali maksud ayahnya itu, ia sudah pasrah dengan nasibnya, baru pagi ini ia mengakhiri hubungan dengan Gempano dan sekarang ia sudah bertunangan dengan laki-laki yang bahkan ia anggap sebagai musuh bebuyutan, dan lebih gilanya lagi, Galang tidak menolak, perlu diulangi sekali lagi kalau GALANG TIDAK MENOLAK, Renata sampai frustasi sendiri
"Saya butuh beberapa persiapan, juga perlu mengambil cuti, bagaimana kalau delapan hari lagi?" Tanya Galang
"Baik, kami setuju" balas Pak Rudi
"Tapi apa pekerjaan nak Galang?" Renata sudah ingin menangis, ayahnya menerima lamaran untuk putrinya begitu saja, tapi bahkan ia tak tau pekerjaan calon menantunya
"Saya punya beberapa usaha, dan sebagai salah satu anggota DPRD"
"Wah, Renata akan jadi ibu pejabat berarti" Bu Fani menyenggol lengan putrinya
"Malam sudah semakin larut, kami pulang dulu, kita akan mendiskusikan ini lagi besok" Pak Rudi sudah berdiri dari duduknya menjabat tangan Pak Darwin dan Galang mencium tangan calon mertuanya
__ADS_1
"Mohon maaf, atas kesalahan anak saya malam ini, anak muda kadang melewati batas mereka dalam pergaulan"
"Saya mengerti, karena itu saya ingin Renata secepatnya menemukan pendampingnya, saya tidak ingin putri saya satu-satunya terjerumus kedalam lingkaran bebas"
"Sekali lagi kami minta maaf untuk kelakuan Galang" ucap Bu Maya saat berjabat tangan dengan Bu Fani
"Dia laki-laki yang bertanggung jawab untuk perbuatannya, ini juga salah Renata"
"Maaf buk" Renata mencium tangan Bu Maya saat mereka pamit, sudahlah nikmati saja hidupnya sekarang, ia juga mencium tangan Pal Darwin yang mengelus kepalanya, saat lewat didepan Galang ia dengan sengaja menunduk dan berbisik pada laki-laki itu
"Awas lo" ia bahkan tak segan menginjak kaki laki-laki itu dengan keras, Galang masih berusaha mempertahankan senyumnya walau menahan sakit karena injakan Renata
Ia sedikit tersenyum mengingat hari ini, entahlah apa yang ia pikirkan sebenarnya sampai setuju, sejujurnya dalam hatinya ia senang?, Entahlah apa penyebabnya
Sepanjang perjalanan pulang, Renata masih berusaha mencerna apa yang terjadi, dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, seluruh hidupnya hampir berubah. Ditinggalkan Gempano dan tiba-tiba bertunangan dengan Galang
Ia memandang lampu-lampu jalan di malam hari, ada yang warna-warni, bersinar terang dan ada yang sedikit redup seperti suasana hatinya
"Bagaimana dengan Gempano? Apa kamu bisa memberitaunya dengan baik? Seingat ayah kamu mengatakan akan bertunangan dan segera menikah. Panggil dia datang besok, biar ayah yang bicara dan menjelaskan padanya" ucap Pak Rudi melirim wajah putrinya dari kaca depan, ia pikir Renata memikirkan itu
"Tidak perlu ayah, hubungan kami sudah berakhir"
"Kenapa?" Bu Fani menolehkan kepalanya ke belakang meminta jawaban Renata
"Orang tuanya seperti kurang menyukaiku, hingga belum memberi restu, dan tadi pagi dia menemuiku dan mengatakan kalau ia memilih pilihan ibunya" jawab Renata, suaranya tak lagi sedih seperti saat berbicara pada Aqila, tapi tetap saja itu meninggalkan luka untuknya
"Kurang ajar sekali dia! Untunglah kamu sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan dia"
"Ayah sepertinya perlu memberinga sedikit pelajaran"
"Jangan ayah!, Biarkan semuanya berjalan seperti ini, hatiku juga sudah tak menyimpan namanya lagi"
"Setidaknya jangan memberi harapan, jika dalam hatinya sendiri masih ada keraguan"
.
__ADS_1
Banyak Typo...🙏