
Darren masih terduduk di kursi tunggu depan ruang operasi dengan pakaian sholat lengkap, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, langit mulai gelap dengan gemerlap bintang sebagai hiasan, namun lampu indikator ruang operasi masih menyala, pertanda tindakan disana masih berlangsung. Sudah lima jam Aqila disana terbaring di ruangan dingin menjalani operasi yang menyakitkan dengan peralatan penunjang hidup yang terpasang ditubuhnya
"Makan dulu, jangan sampai sakit menunggu orang sakit" Darren menatap pemuda yang tadi sore menghampiri adiknya, menyodorkan roti dan sebotol air minum kepadanya
"Terima kasih" Darren menerimanya dengan sedikit senyum yang tertarik dari sudut bibirnya
"Saudaranya Aqila ya?" Darren membalas dengan anggukan singkat
"Kamu kenal dia dimana?" Darren menghabiskan potongan roti dalam mulutnya dan menatap laki-laki yang sepertinya memiliki hubungan cukup dekat dengan adiknya
"Ditengah jalan raya" Jawaban singkat yang diberikan Reynald cukup membuat Darren mengernyitkan alisnya
"Dia seperti orang gila yang ingin menabrakkan dirinya dengan sengaja ditengah lalu lalang kendaraan, saat itulah aku menariknya dan ia tersadar dari aksi gila itu" Darren terkejut mendengarnya, Aqila pernah ingin menyerah dengan hidupnya?
"Tapi ya saat mengetahui penyakitnya, sedikit tidak aku mengubah cara berfikirku kalau mungkin ia sudah lelah dengan rasa sakitnya selama ini" mengerti arti tatapan Darren padanya, Reynald kembali berbicara
"Ibuku salah satu perawat disini, dia terbilang cukup dekat dengan Aqila mungkin karena satu negara jadi mereka sering berbincang bersama, saat aku menunjukkan rumah yang kalian tempati padanya kemarin, ia memberitahuku kalau Aqila menderita penyakit itu"
"Terima kasih sudah mengkhawatirkannya"
"Kami adalah teman mulai dari empat jam yang lalu, jadi wajarkan aku khawatir pada temanku?" Darren terdiam sejenak menatap laki-laki itu, sebagai sesama laki-laki ia cukup tau mata laki-laki itu menatap adiknya dengan pandangan tak biasa
"Apa kau tak pulang? Ibumu pasti mengkhawatirkanmu" ucap Darren mengalihkan pembicaraan
"Ini Amerika, negara bebas, kalau aku pulang besokpun ibu tak akan menyuruhku menikah kalau ia tau aku bersenang bersama teman-temanku" Darren terdiam mendengarnya, siapapun tau itu kalau pergaulan negara ini begitu bebas, bermain perempuan dan alkohol adalah hal biasa dalam pergaulan mereka
"****!!!, aku lupa malam ini akan mengerjakan tugas praktik bersama temanku, kami harus segera menyelesaikannya sebelum libur musim panas"
__ADS_1
"Kalau begitu apa yang kau lakukan dengan diam disini?" Reynald melirik pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat, lampu indikator masih menyala tanda tindakan operasi masih berlangsung
"Aku yang menemaninya, lagipula dia tidak langsung sadar setelah operasi selesai" ucap Darren yang mengerti arah pikiran Reynald
"Maaf tak bisa menemanimu, aku akan berdo'a semoga dia bisa melewatinya"
"Terima kasih"
Darren melihat tubuh laki-laki bermata biru itu mulai menjauh, semuanya hening kembali, hanya sedikit orang yang lewat dari sana, jantungnya berdetak kencang melirik pintu yang masih tertutup rapat. Hingga sampai jam sebelas malam, tak ada tanda-tanda pintu ruangan itu akan terbuka, padahal operasi sudah berjalan tujuh jam lamanya. Darren tak bisa bayangkan sedingin apa disana selama itu, ia mengerjakan operasi paling lama dengan dokter senior lima jam, dan setelah keluar dari sana tubuhnya lemas seperti kehilangan tenaga
"Kakak yakin kamu kuat Aqila, berjuanglah sekali lagi, kebahagiaan sudah menantimu saat kau membuka mata" do'a tak pernah putus dari lisannya, memohon kepada pencipta, karena hanya ia yang bisa mengubah segalanya
Ting
Notifikasi pesan masuk dari handphone membuat dirinya cukup terkejut, ia pikir pintu ruangan dingin itu yang terbuka
"Aqila masih sedang berjuang" hanya kalimat itu yang mampu ia berikan sebagai jawaban untuk sekarang
.
Terik matahari tiba-tiba tertutup awan mendung siang itu, angin sepoi-sepoi berhembus perlahan meniup ujung daun pohon kelapa, hanya suara debur ombak yang terdengar memecah kesunyian
Sepulang wisuda dan rangkaian foto singkat yang ia lakukan bersama keluarganya, ia memilih tempat ini untuk menenangkan hatinya yang kecewa, karena bayangannya akan hari ini tak seindah itu
Ia mengatakan kepada teman-temannya hanya ingin sendiri untuk saat ini, syukurlah mereka mengerti, dan disinilah ia sekarang, dipantai tempat pertemuan terakhir mereka, saat ia dan Aqila masih mengingat satu sama lain
Naufal memandang sekeliling, suasana pantai itu cukup sepi, mungkin karena akses jalannya yang masih belum teraspal, hanya tanah kering yang dipenuhi debu
__ADS_1
Naufal menunduk, ia memukul pelan kepalanya, andaikan, andaikan hari itu ia lebih hati-hati berkendara, pasti ia sudah menikah dan hidup bersama Aqila, tapi tetap takdir tuhan yang berkehendak atas segalanya, manusia harus sabar menghadapi dan percaya akan ada hikmah yang indah dibaliknya
Naufal merogoh saku celananya, mengambil kertas berwarna biru muda yang dititipkan Rian untuknya dari orang yang memiliki tempat spesial dihatinya, gadis yang telah membuatnya merasakan cintak laki-laki kepada perempuan yang sebenarnya
"Assalamu'alaikum pelangiku,
Apa kabarmu disana? Kau pasti bahagiakan?"
Naufal menggelengkan kepala melihat kalimat paling atas yang tertulis dalam surat itu, bahagia bagaimana? Jika setiap saat bayangan Aqila seperti menghantuinya
"Maaf, maaf dan maaf untuk semuanya, aku pergi tanpa pamit, aku pergi saat kau terlelap dengan mimpimu, aku pergi saat kau sedang berjuang dengan penyakitmu, apa kau bisa memaafkan aku?
Aku senang saat Kak Darren, Kak Rian dan Reyna memberitahuku kau sudah sadar, tapi aku sedikit sakit saat tau ternyata kau tak memiliki ingatan tentangku saat itu, apa aku datang membawa dukaku untukmu atau kau menganggapku sebagai sesuatu yang menyakitimu sampai alam bawah sadarmu menghapus ingatan tentang diriku?"
Naufal lagi-lagi hanya bisa menggelengkan kepala, mencintai Aqila tak menyakitkan untuknya, tapi setiap melihat tetes air mata yang keluar dari mata indah gadis itu dan raut kesakitan diwajahnya kala menahan rasa sakit pada kepalanya, itu menyakitkan untuk Naufal, hatinya akan turut menangis melihat itu
"Maafkan aku, apa kau masih menyimpan rasa sukamu padaku? Tidakkah kau berniat menghapusnya? Kemoterapiku selama enam bulan disini gagal, dan aku harus melakukan operasi tepat hari ini, ya hari ini, hari dimana kau wisuda dan membaca surat ini"
Tangan Naufal bergetar membacanya, setitik air mata luruh membasahi kertas biru itu, mengenai setitik noda darah yang juga nampak kering disana, hati Naufal bagai diremas kuat sesuatu tak kasat mata
"Saat kau membaca surat ini, artinya aku sedang berjuang, berjuang diruangan dingin dan berjuang antara hidup dan mati"
"Jangan menangis, ini permintaanku, perbanyaklah do'a karena dengan do'a, sesuatu yang mustahil sekalipun bisa menjadi mungkin"
"Tapi jika memang takdir berkata lain, artinya kita tak ditakdirkan bersama didunia ini, jodoh yang lebih dulu mendatangiku adalah kematian yang selalu mengintai dan hari ini ia siap menjemput tanpa pemberitahuan apapun"
"Aku berharap kau bisa hidup dengan bahagia tanpa diriku, kau pernah memberitahuku kalau mimpi yang lain terasa mustahil maka kejar mimpi yang lain, dan hari ini aku mengatakan kalimat itu untukmu, kejar mimpimu yang lain pelangi, jangan hanya fokus pada awan kelabu ini"
__ADS_1
"Terakhir aku akan mengucapkan terima kasih, Naufal memang seperti pelangi untuk Aqila, penuh warna, membawa kebahagiaan dan hanya sementara, karena mungkin Aqila yang akan pergi"