
Aqila melihat sekeliling, pertama kalinya setelah lima tahun di negara asing ia menginjakkan kaki kembali ketanah kelahirannya, Indonesia. Negara dimana ia dilahirkan dan dibesarkan selama sembilan belas tahun, dan dimana ia mengenal sosok Naufal Pradana Al-Ghazali, laki-laki yang pernah berjanji menjadi pelangi selamanya
"Assalamu'alaikum Indonesia" ucapnya pelan begitu menampakkan kaki pertama kali turun dari pesawat, hembusan angin langsung menyapanya, seperti mengantar rindu
"Ayo, kenapa diam saja?" Mama Intan meraih sebelah tangan putrinya, saat itulah Aqila tersadar dari lamunannya
"Kita langsung pulang kerumah mah?"
"Memang Aqila mau kemana? Kita istirahat dulu, besok jalan-jalannya" Aqila mengangguk mengerti, perjalanan mereka adalah perjalanan yang melelahkan
"Aqila aku pulang dulu ya, besok kita ketemu lagi, aku ajak jalan-jalan" Kirana melambaikan tangannya, masuk ke mobil yang berbeda karena ia akan langsung pulang sendiri kerumahnya
"Pak Roni sudah datang, ayo masuk ke mobil" Aqila hanya mengangguk mengikuti saja, ia sudah seperti orang linglung, satu persatu ingatannya tentang negri ini semakin jelas, hanya saja belum sempurna
"Non Aqila gimana? Udah lebih baik?" Aqila sedikit mengernyit saat Pak Roni menyapanya, tapi ia tetap membalas dengan tersenyum
"Alhamdulillah"
"Syukurlah, kita semua rindu dengan non Aqila, tak ada lagi yang terlihat melukis ditaman rumah sejak non Aqila pergi" Aqila mengangguk saja karena jujur memorinya masih buram berantakan
Setelah menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit, mobil yang ditumpangi mereka masuk ke rumah mewah dengan pagar hitam tinggi yang menjadi pembatas, saat menginjakkan kaki pertama kali di halaman rumah besar itu, berbagai kenangan muncul begitu saja, perasaan hati yang bergejolak, seperti rasa rindu yang terobati
"Istirahat dulu nak, Aqila pasti capek"
"Reyna anterin Kak Aqila kekamarnya" seperti mengetahui pikiran putrinya, Mama Intan menyuruh Reyna mengantar Aqila karena ia yakin Aqila belum mengingat semua tentang rumah ini
"Ayo kak" Aqila mengangguk saja, berjalan menaiki anak tangga satu persatu, hingga tiba didepan pintu berwarna coklat tua
__ADS_1
"Ini kamar Kak Aqila disebelah kanannya kamar Kak Darren, disebelah kiri kamar Kak Rian, disebelah kamar Kak Darren kamar aku, terus disebelahnya lagi, kamar Kak Devano, tapi sekarang ia lebih milih tidur dikamar bawah, kamar mama papa ada di bawah yang pintu warna coklat muda"
"Terima kasih"
"Sama-sama, kalau Kak Aqila butuh sesuatu, jangan ragu minta tolong" Aqila tersenyum mengangguk
Dengan menarik nafas yang panjang, ia buka pintu coklat tua itu perlahan, warna putih dan biru terlihat mendominasi ruangan itu, ruangan ini terlihat bersih pasti sering dibersihkan kala ia tak ada, di pojok sebelah kanan ruangan ada canvas, kuas dan tempat cat, Aqila menyentuh salah satu lukisan yang ada disana, lukisan ia dan semua anggota keluarganya, lukisan itu adalah impiannya dulu yang sekarang bisa dikatakan terwujud
Selanjutnya ia beralih pada meja belajarnya, terlihat rapi dan banyak buku tentang seni disana. Aqila menarik kursi yang ada disana, pandangannya tertuju pada foto yang terbingkai didekat lampu belajar, foto dirinya dan... Renata, Aqila ingat namanya sekarang
Saat ia membuka buku bersampul biru yang terselip diantara buku yang lain, sesuatu terjatuh dari sana, Aqila menunduk mengambilnya, itu sebuah foto. Foto dua orang membelakangi cahaya senja di pantai dengan tulisan di belakang foto pelangiku, di lengkapi dengan tujuh warna pelangi yang ia gambar sendiri, mejikuhibiniu
deg
"Aakhhh" ingatan itu masuk begitu cepat dalam kepalanya, bayangan-bayangan Naufal sejak awal pertemuan mereka sampai terakhir mereka bertemu secara sadar di suasana senja tepi pantai
"Selanjutnya tunggu tiga hari lagi, aku akan menyebut namamu dihadapan Allah dan disaksikan banyak orang"
"Sekarang jarak diantara kita satu meter tapi nanti lebih dekat dari satu centi meter" ucap Naufal kemudian mereka berdua tersenyum menghadap kamera, membelakangi senja dengan semburat jingganya yang indah
Itulah percakapan terakhir mereka sebelum akhirnya Naufal terbaring koma di rumah sakit, sekaligus akhir pertemuan mereka kala itu
"Naufal, apa dihatimu masih ada namaku? Atau terganti yang lain?"
"Apa aku masih bisa menagih janjimu lima tahun lalu? Janji sebagai pelangi yang datang setelah badai berlalu? Apa kau menerima perjodohan itu? Atau justru masih menungguku? Bolehkah aku berharap kau masih menunggu?"
Aqila teringat semuanya, tentang Renata, Bu Maya, Galang, Gempano, Regan teman-teman kampusnya dan teman yang lain, termasuk tentang Fadila
__ADS_1
.
Keesokan harinya hujan menyambut pagi, mentari tertutup awan mendung, Aqila melihat kalender, bukankah seharusnya sedang musim panas?, padahal ia sudah berjanji bertemu Renata hari ini, Aqila sudah bayangkan bagaimana ekspresi gadis itu diseberang sana saat ia mengirim pesan ke nomor lama Renata, ternyata gadis itu tak pernah mengganti nomor telponnya. Setelah Aqila mengirim pesan dengan nomor telponnya yang baru langsung masuk panggilan telepon dari nomor Renata, sudah bisa dibayangkan bagaimana gembiranya gadis itu yang terdengar dari suara hebohnya
Mereka membuat janji temu pagi ini, tapi karena hujan mereka sepakat bertemu nanti sore ke salah satu taman yang dulu katanya sering mereka kunjungi
"Kenapa hujan?" Tanyanya pelan, ia duduk di sofa ruang tamu bersama dengan papanya yang membaca koran
Papa Arya sedikit mengernyit mendengar pertanyaan putrinya yang menurutnya sedikit aneh
"Kenapa hujan?" Papa Arya mengulangi pertanyaan yang Aqila lontarkan tadi
"Bukankah seharusnya bulan ini memasuki musim panas? Kenapa turun hujan?" Tanyanya lagi, Papa Arya tertawa mendengarnya begitupun dengan Mama Intan yang baru datang membawakan secangkir kopi untuk suaminya, Aqila jadi semakin mengernyit, apakah pertanyaanya salah?
"Di Indonesia memang ada dua musim, musim hujan dan musim panas, tapi kondisi cuacanya tak menentu dan tak dapat ditentukan berdasarkan bulan saja, kadang hujan tiba-tiba, atau kadang panas tiba-tiba" jelas Papa Arya
"Sepertinya tinggal di negara empat musim membuat Aqila lupa dengan negaranya" kekeh Mama Intan, Aqila mengusap tengkuknya dan terkekeh pelan
"Reyna mana?" Ia belum melihat kehadiran adiknya itu dari tadi pagi
"Reyna sudah pergi mengajar?"
"Mengajar?"
"Hmm, dia sebagai guru seni disalah satu sekolah" Jelas Mama Intan, Aqila mengangguk, ia lupa dulu adiknya mengambil kuliah jurusan sendratasik
"Aqila, Kak Devano minta tolong jemput Yusuf disekolahnya nanti, bisa? Dia bilang masih sibuk, Pak Roni tiba-tiba izin pulang tadi pagi, anaknya sakit"
__ADS_1
Aqila mengangguk saja, sekalian ia bisa berkeliling, tentang dimana sekolah Yusuf, gampang bisa dicari di google maps. Lagipula sekarang ia sudah bisa memakai mobil, jadi tidak harus mengenakan jas hujan