
Setiap pertemuan akan ada perpisahan, itulah kondisi yang tepat menggambarkan bagaimana malam ini, malam terakhir mereka di Rochester, kota di bagian Amerika Utara ini telah mengajarkan banyak hal untuk Aqila
Malam ini mereka mengadakan makan malam bersama dengan keluarga Reynald, usai makan malam Miss Hana dan Mr. Petter masih berbincang dengan keluarga Aqila yang lain, sedangkan Aqila, Rian dan Reynald memilih keluar. Zevan, Yusuf dan Zara sudah ada Kirana dan Reyna yang menjaga mereka
"Selamat tinggal" ucap Reynald, ia tersenyum manis kearah Aqila
"Dan terima kasih untuk lukisannya, tapi tetap yang nyata lebih indah" sambungnya, memang lipatan berpita merah yang diberikan Aqila kemarin adalah lukisan langit malam dan berbagai planet juga rasi bintang yang menghiasnya
"Tentu saja yang nyata lebih indah, tak akan ada yang bisa menyaingi ciptaan tuhan, itu hanya sebagai gambaran kalau kau tak bisa melihat mereka secara nyata saat langit mendung" jelas Aqila
Rian yang berada ditengah-tengah orang itu berdehem pelan karena tak mengerti sama sekali tentang pembahasan mereka
"Terima kasih untuk semua yang kau ajarkan, aku beruntung dipertemukan dengan orang sebaik dirimu di negara asing ini" ucap Aqila
"Justru aku yang berterima kasih, kau juga mengajarkan banyak hal padaku tentang Indonesia, negri yang indah dengan beragam budayanya"
"Kalau aku kesana berkunjung, apa kita bisa bertemu lagi?"
"Nggak!" Rian yang menjawab bukan Aqila, sepertinya laki-laki itu kesal karena tak diajak bicara sama sekali
"Kak Rian apaan sih" Aqila kesal sendiri dengan kakaknya itu, ia yang ditanya kenapa malah Rian yang menjawab
"Maaf Rey, kau sudah tau sendirikan dia bagaimana, tolong jangan dimasukkan kehati" ucap Aqila merasa tak enak
"Santai saja, hal itu tidak berpengaruh untukku" balas Reynald santai
"Jadi bolehkan?" Tanyanya lagi
"Tentu saja, kenapa tidak?"
"Kau juga harus mengundang saat pernikahanmu" membicarakan tentang pernikahan mendadak hati Aqila sakit, ia tak mampu membayangkan jika disana Naufal sudah mempunyai orang lain, entah kenapa perasaan itu datang begitu saja saat Rian memberitahunya semalam
"Pasti, aku akan mengundangmu"
"Kau juga jangan lupa mengundangku saat pernikahanmu, aku penasaran siapa wanita yang berhasil bersama dengan dokter gigi kaku ini" ucap Aqila sedikit terkekeh
__ADS_1
"Sepertinya aku akan menikah dalam jangka waktu yang panjang, entahlah"
"Menikah saja saat kau sudah tua" balas Rian, Aqila memutar bola matanya malas, apa kakaknya ini tidak mengerti kondisi?
"Memangnya kamu bagaimana? Akan segera menikah?" Tanya Reynald, jelas terselip nada mengejek dari suaranya
"Tentu saja, memangnya aku sepertimu?"
"Kak Rian udah punya pacar?" Setelah mengucap pertanyaan itu, Rian langsung memberikan tatapan mematikan kepadanya
"Pacaran itu haram, jadi lebih baik langsung halal saja" jawabnya penuh keyakinan
"Tapi Reyna pacaran" ucap Aqila
"Ya karena..."
"Aku baru sadar ternyata namaku mirip dengan adik kalian, jangan-jangan dia jodohku" Potong Reynald sedikit tertawa tapi selanjutnya dia mengaduh karena mendapat pukulan keras di lengannya, siapa lagi kalau bukan Rian yang melakukannya
"Reynald mendapatkan Reyna itu sulit, dia anak kesayangan dalam keluarga kami" ucap Aqila yang mengundang tatapan tak suka dari Rian
"Aqila kakak nggak suka kamu bilang gitu, nggak ada namanya anak kesayangan, semuanya kesayangan, ngerti?" Rian sampai menangkup pipi Aqila agar menghadap kearahnya
"Iya, cuma bercanda" jawab Aqila melepaskan tangan Rian, sejujurnya dalam hati ia bahagia karena perkataan Rian, karena hal seperti ini tak pernah ia dengar dulu
"Apa kau akan kembali lagi kesini Valisha?"
"Entahlah, mungkin aku akan berkunjung suatu hari nanti" jawab Aqila pelan
"Aku akan menunggumu"
.
Jauh ribuan kilometer jaraknya, sinar mentari tertutup awan mendung, rintik hujan berjatuhan membasahi tanah, angin kencang bertiup menerbangkan dedaunan pohon dan sampah-sampah yang tercecer
"Sekarang kan bukan musim hujan, kenapa turun hujan?" tanya Regan, ia menatap rintik hujan yang menciptakan bulir air pada kaca restoran
__ADS_1
"Kau seperti bukan orang Indonesia saja, cuaca seperti ini terjadi hampir sepanjang tahun, tiba-tiba panas, tiba-tiba hujan, angin, banjir" balas Gempano, ia meraih kopi dengan asap yang masih mengepul dan menyeruputnya perlahan
"Kenapa? Lo ada masalah?" Regan tak menatap kearah Naufal, tapi Naufal tau pasti pertanyaan Regan itu tertuju pada dirinya
"Aku tidak tau ingin mulai mengatakan dari mana, aku bingung dengan semua ini, aku bingung dengan hati dan perasaanku, aku bingung tentang rasa ini" pandangan Naufal masih tertuju pada rintik hujan diluar sana, ia meminta bertemu teman-temannya karena jujur ia butuh solusi untuk masalah ini, hanya Gempano dan Regan yang menyanggupi, sedangkan yang lain masih punya kegiatan lain
"Kenapa? Papa Arya ngomong apa?" Tanya Regan, ia sebenarnya tak tega melihat kondisi Naufal saat ini
"Bukan Papa Arya, tapi abi" lirihnya pelan
"Abi Umar kenapa?" tanya Regan lagi, ia sebenarnya ingin Naufal bercerita to the point saja, karena cukup melelahkan juga baginya terus bertanya tentang ini dan itu, tapi ia cukup memahami kondisi Naufal sekarang yang belum jelas bagaimana akhir kisah cintanya
"Sahabat abi, Kyai Husain ingin aku menjaga dan membimbing Fadila"
Brupppp
Gempano menyemburkan kopi yang baru saja ditelannya, ia paham maksud dari perkataan itu
"Bagaimana dengan Aqila?" tanyanya hampir serentak dengan Regan
"Aku tidak tau, aku tidak mengerti, hatiku masih terpaut untuknya, tapi aku juga tak ingin menjadi anak yang durhaka pada orang tua"
"Apanya yang durhaka? Itukan permintaan Kyai Husain bukan Abi Umar, kenapa lo merasa jadi durhaka?" Tanya Regan, ia masih belum terbiasa mendengar Naufal mengucap kata aku kamu saat berbicara
"Aku tidak tau kenapa, tapi aku merasa sulit sekali menolaknya" Gempano memegang pundak Naufal dan menepuknya pelan
"Gue tau masalahnya, antara Aqila dengan Fadila, lo merasa keduanya penting, dengan Aqila lo punya janji dan dengan Fadila lo merasa bertanggung jawab karena perkataan Kyai Husain"
"Bedakan hati dengan perasaan lo Fal, jangan sampai masa depan lo hancur hanya karena lo salah mengambil langkah, bedakan antara rasa cinta dengan kasihan, lo mungkin merasa kasihan dengan Fadila karena kondisinya sekarang, tapi perasaan lo sama Aqila itu rasa cinta yang sesungguhnya" ucap Regan
"Lo nggak mungkinkan hidup bersama dengan rasa kasihan? Apa yang mau diharapkan dari rumah tangga seperti itu?"
"Dengar Naufal, sejauh ini tuhan menguji kalian berdua, tapi lo mau nyerah gitu aja?, jangan merasa sendiri, tuhan tau yang terbaik, bukan cuma lo mungkin yang merasakan sakit, tapi Aqila juga pasti bisa merasakan disana. Lo nggak mikir bagaimana sakit hatinya dia? Lo udah janji buat dia bahagia, lo udah janji datang sebagai pelangi, tapi takdir tuhan saat itu masih belum mempersatukan kalian, lo terbaring koma dan ia harus pergi begitu jauh juga untuk sembuh dari penyakitnya, lo hilang ingatan sementara, nggak ingat apapun tentang dia sedangkan dia disana berjuang untuk sembuh juga karena lo yang udah berjanji buat dia bahagia terlepas dari bagaimana perlakuan keluarganya, dia udah percaya sama lo, dan nggak mungkinkan lo ngancurin kepercayaan itu? Bayangin betapa hancur dan sakit hatinya dia saat tau lo milih perempuan lain hanya karena sebatas rasa kasihan" ucap Regan mencoba menjelaskan semuanya
Naufal tersentak, ia sadar kalau ini bukan saatnya dirinya menyerah tapi justru perjuangan yang sesungguhnya dimulai hari ini, jika dulu ia menentang abi nya karena tak ingin selalu dibandingkan, maka kali ini pun ia pasti bisa menentang takdirnya demi janji dan rasa masa lalu yang kian besar, tentunya dengan melibatkan sang pencipta dalam setiap langkahnya dan mengadu dengan derai air mata di sujud yang panjang
__ADS_1